
Semua murid sudah masuk ke kelas mereka masing-masing. Syafi tengah bersiap mengajar murid-muridnya. Kedatangan Mayfa membuat konsentrasi mereka buyar. Mayfa terus masuk kedalam kelas, wajahnya di banjiri oleh air matanya sendiri. Tangisan Mayfa membuat yang mendengar ketakutan. tangannya yang berlumuran darah. “Miss Aurel …. Maafkan aku … huwaaaa.” Tangis palsu Mayfa.
“Miss May kenapa?” Syafi bingung.
“Aku kena azab, karena mengambil barang milik miss Aurel.” Mayfa terus menangis.
“Miss Aurel tidak tahu ‘kan, kalau aku mengambil barang milik miss. Tapi Tuhan melihat segalanya, huwaaa … maafkan aku.”
Syafi menoleh kearah trio centil yang suka menjaili Nadira. Di sudut sana tiga anak Nampak ketakutan. “Jangan menagis miss May … kembalikan saja barang milikku, Tuhan akan memaafkan kesalahan miss May. Satu lagi jangan berbuat jahat lagi, kamu temanku, sebagai teman kita harus saling menyayangi,” ucap Syafi.
Mayfa mendekati Syafi, posisinya saat ini membelakangi anak-anak. Perlahan Mayfa me-lap bagian tangannya yang dia olesi cairan merah. “Maafkan aku miss Aurel, aku janji tidak akan berbuat jahat lagi.” Syafi dan Mayfa berpelukan. Mayfa langsung menyembunyikan kain yang dia pakai untuk membersihkan pergelangan tangannya. Merasa cukup drama teletubies berpelukannya, Mayfa dan Syafi melepaskan pelukan mereka.
“Wah tangan miss May sembuh!” Salah satu murid menujuk tangan Mayfa.
“Yeay! Alhamdulillah tangan aku sembuh … untung aku minta
maaf dan mengembalikan barang yang bukan milikku, kalau tidak ku kemnbalikan, bisa-bisa tangan aku hilang,” oceh Mayfa.
“Jangan di ulangi lagi miss May,” tegur Syafi.
“Iya miss Aurel.”
“Anak-anak, ini pelajaran bagi kita, kita tidak boleh mengambil barang atau apapun itu jika bukan punya kita, anadai kita ingin meminjam pun, kita harus izin baik-baik. Bukan mengambil diam-diam maupun mengambil secara paksa. Mungkin orang lain tidak tahu, tapi Allah dan para malaikat melihat apa yang kita perbuat,” ucap Syafi.
“Miss Aurel, terima kasih sudah memaafkan saya, saya izin melanjutkan mengajar di kelas saya,” izin Mayfa. Mayfa langsung pergi meninggalkan kelas Syafi.
Setelah Mayfa pergi, Syafi melanjutkan kelasnya. Trio centil
itu tampaknya faham akan drama yang terjadi barusan, terlihat raut ketakutan di wajah ketiganya.
***
Bel tanda berakhirnya pelajaran hari ini kembali terdengar, perlahan satu per satu murid meninggalkan kelas. Kecuali trio centil. Mereka mendekati Nadira. Membuat anak itu diselimuti ketakutan.
Aresya dan Cordelia memberikan boneka beruang kecil milik
Nadira padanya.
“Nadira, maafkan aku, aku tidak mau bernasib seperti miss May,” ucap Aresya.
“Aku juga minta maaf Nadira,” ucap Cordelia.
__ADS_1
Mahza menangis, karena sandwich milik Nadira yang dia ambil sudah dia makan. “Aku tidak mau kehilangan tanganku. Aku tidak bisa
mengembalikan barang Nadira, karena sudah habis aku makan.” Mahza masih menangis.
Nadira tersenyum, dia mendekati Mahza. “Jangan menangis, aku
memaafkan kalian, ingat tangan miss May sembuh saat miss Aurel memaafkan dia,” ucap Nadira.
“Nadira maukah kamu jadi teman kami?”
“Tentu saja, asal kalian jadi anak baik dan manis.”
Keempat anak manis itu akur, mereka segera meninggalkan
kelas bersama-sama. Nadira sangat Bahagia akhirnya Pinky dan Pinn kembali padanya. Nadira tersenyum, setelah dekat dengan miss Aurel dia bisa mendapatkan teman.
*****
Hari kedua Syafi mengisi acara di lapangan ini, hari ini Mayfa tidak bisa ikut. Dia ada acara keluarga
di rumah bibinya, adik dari bundanya yang tinggal di kota ini. Sore ini hanya Syafi dan Athan. Selesai bernyanyi Syafi segera menuju stand yang menjual minuman kesukaannya. Memesan apa yang dia inginkan. Entah mengapa Syafi merasa tidak asing dengan pelayan yang mengenakan masker, topi dan kacamata itu. Tapi itu bukan urusannya, setelah menerima kembalian Syafi langsung menuju meja yang ada di depan stand itu. Menikmati segarnya minuman yang dia pesan.
“Minuman kesukaan kamu juga masih yang dulu Fiy, aku senang
minuman yang Athan pesan.
“Terima kasih,” ucap Athan.
Pelayan itu hanya mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya
yang tadi dia tinggalkan. Bukan melanjutkan pekerjaan, tapi ingin menguping pembicaraan Athan dan Syafi.
Athan segera menikmati minuman yang dia pesan sambil memandangi wajah Syafi. “Fiy, antara kamu dan Dirga tidak ada perasaan apa-apa,
bahkan diantara kalian juga sama-sama tidak menginginkan pernikahan ini bukan? Kenapa tidak kalian sudahi saja ikatan ini, setidaknya kalian akan sama-sama
merdeka.”
Hati Dirga sangat sakit mendengar perkataan Athan barusan,
rasanya ingin berteriak Fiy, aku Bahagia bisa menikahimu. Tapi nyali Dirga tidak sebesar itu. Dirga terus meneruskan pekerjaanya, ingin mengetahui apa jawaban Syafi.
__ADS_1
“Menyudahi atau tidak, semua itu ada pada tangan kak Dirga,” jawab Syafi.
“Kalau diantara kalian sama-sama tidak berani menyudahi, maka selamanya akan seperti ini. Jangan sia-siakan hidupmu hanya untuk bersama orang yang tidak mencintai kamu, Fiy.”
“Jika kak Dirga tidak melepasku, maka selamanya aku bersamanya.”
“Baiklah, kalau begitu aku sendiri yang akan datang padanya
untuk meminta dirimu, kamu berhak Bahagia, bukan sebatas pendamping saja. Aku tidak pernah bohong akan perasaan aku Fiy.”
“Jangan bodoh kamu kak! Aku ini wanita yang sudah menikah,
masih banyak wanita lain yang pantas kakak perjuangkan.”
“Fiy, dalam cinta itu seseorang bisa bertambah kepintarannya, juga bertambah kebodohannya. Aku orang yang semakin bodoh untuk
cinta. Aku hanya ingin membuatmu bahagia Fiy. Ingat suatu saat jika aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku, maka saat itu aku akan memintamu pada suamimu, ku rasa Dirga orang yang pintar, dia tidak akan menahanmu dalam sangkar emasnya.”
“Dan itu hanya mimpi bagimu, karena aku tidak mudah jatuh
cinta.” Syafi berdiri dan segera meninggalkan meja itu. Syafi memainkan handphonenya, dia segera meng-order ojek online untuk pulang.
Ada perasaan Bahagia juga sedih yang Dirga rasa mendengarkan
semua ini. Bahagia karena Athan tidak mudah mengambil Syafi darinya, sedihnya susah membuat Syafi jatuh cinta. Pekerjaan Dirga membersuhkan meja-meja itu
selesai, dia segera kembali ke stand.
Di area parkir keadaan Nampak ramai, mobil dan motor
sama-sama mengantre untuk keluar, hari mulai gelap, hampir semua pengunjung berbondong meninggalkan tempat itu.
Brukkk!
Seseorang menabrrak Syafi, membuat tubuh wanita itu jatuh ketanah.
“Makanya mbak, tolong jangan berdiri di jalur orang, ketabrak orang, mbak sendiri yang jatuh.” Ucap orang itu. Orang itu mengulurkan tangannya untuk membantu Syafi.
“Tidak usah kak, saya bisa sendiri.” Syafi bangkit sendiri.
“Saya berdiri di tempat yang khusus—” Syafi tidak bisa meneruskan kata-katanya saat matanya menangkap sosok yang membuatnya terjatuh.
__ADS_1
Sepasang mata itu beradu tatap, bukan tatapan penuh cinta,
melainkan tatapan tajam yang sulit diartikan.