Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bonchap 3


__ADS_3

Selesai acara pemberian nama dan aqiqah kedua bayinya, Syafi dan Dirga segera kembali ke kediaman mereka. Saat ini rumah terasa lebih ramai, karena ada tambahan dua orang babysitter yang menjaga Zhifa dan Asha.


Setelah memberi ciuman hangat kepada sepasang putri kembarnya, Syafi dan Dirga kembali ke kamar mereka.


"Kak, beneran Frans yang menanyakan Mayfa sebelumnya?" Syafi masih teringat bagaimana Frans memperhatikan Mayfa selama acara berlangsung.


"Bukan, Frans malah baru ketemu Mayfa tadi."


"Terus kata Kakak pas di Rumah Sakit kemaren itu?"


"Owh itu hanya candaanku aja, aku mau nakutin Athan, apakah dia siap jika suatu saat benar-benar ada orang yang melamar Mayfa."


"Mayfa dan Athan kelihatan saling terikat, tapi keduanya terlalu gengsi mengakui perasaan mereka." Syafi melamun memikirkan kedua sahabatnya itu.


"Menurut pandanganku, keduanya tidak menyadari bahawa kehadiran satu sama lain sangat berharga, karena keadaan ini, aku ingin membuat keduanya menyadari kehilangan atau jauh satu sama lain membuat hidup mereka hampa."


"Ih ... Suamiku pinter banget sih ...." Syafi mengusap lembut wajah Dirga.


"Tidak semua orang diberi keberanian untuk memperlihatkan perasaan mereka, aku contohnya, aku terlalu penakut mengatakan kalau aku jatuh cinta pada perempuan yang ada di depan mataku ini dulunya."


"Kalau ingat bagaimana kehidupanku sebelumnya, rasanya sulit dipercaya aku dicintai seorang laki-laki hebat seperti Kakak. Selama aku tinggal sama Paman, Paman selalu menceritakan tentang Kakak."


"Paman sangat mencintaiku, dan aku juga sangat mencintai mereka."


"Andai mereka masih ada, mereka pasti sangat bahagia melihat Zhifa dan Asha," ucap Syafi.


"Walau mereka tidak ada, aku yakin mereka juga bahagia melihat kebahagiaan kita." Dirga menarik Syafi kedalam pelukannya.


"Terima kasih ya Allah, engkau menghadirkan rasa cinta yang tertuju padaku di hati seorang laki-laki terbaik yang saat ini tengah memelukku."


"Kamu rehat dulu sana, Kakak mau salat magrib dulu."


Keduanya melepaskan pelukan mereka.


***


Di sisi kota lain.


Mayfa duduk melamun memandangi pantulan dirinya di cermin. Entah mengapa kemunculan Athan hari ini membuatnya begitu bahagia.


"Apa iya aku sudah jatuh cinta sama Athan?"


"Ah ... Tidak mungkin, kamu sama Athan hanya temenan! Titik!"


"Perasaan tadi bukan cinta, kamu hanya rindu padanya sebagai teman."


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


Suara ketukan itu membuat pikiran Mayfa buyar.


"Ah siapa sih yang datang menjelang magrib gini!" Mayfa berjalan kearah pintu.


Perlahan pintu dia buka, saat pintu terbuka lebar Mayfa sangat terkejut melihat 2 sosok yang ada di depan pintu.


"Ayah, Bunda?" Mayfa mengucek matanya, memastikan dia tidak salah lihat.


"Ini beneran kalian? Bukan halusinasi aku kan?"


"Apa kabar Fa? Bunda kangen kamu." Rosalina langsung memeluk putri keempatnya itu.


"Alhamdulillah bund, aku baik." Mayfa membalas pelukan sang bunda, rasanya tidak ingin melepaskan pelukan terhangat itu.


"Ehm! Sama Ayah nggak kangen Fa?" sela Pak Said.


Mayfa dan Rosalina melepaskan pelukan mereka.


"Kangen nggak ya? Aku mikir dulu," sahut Mayfa.


"Kamu ini Fa ...." Pak Said menggeleng melihat respon putrinya.


"Ayo masuk dulu, ini tempat tinggal aku selama di perantauan." Mayfa mengajak kedua orang tuanya untuk masuk.


"Lumayan luas Fa kontrakan kamu." Rosalina mengamati keadaan kontrakan putrinya.


"Owh pantesan langsung kedepan pintu, biasanya kalau ada tamu baru, anak kost di sini yang diminta keluar memastikan, terus diminta uang 50 ribu per orang jika menginap," sahut Mayfa.


"Tapi sayangnya kami tidak menginap di sini, kami sudah menyewa hotel, bahkan kedatangan kami ke sini mau jemput kamu," ucap Rosalina.


"Kok jemput aku? Nggak pengen honeymoon gitu?" goda Mayfa.


"Ish! Kamu! Kami sudah tua nggak doyan begitu!" Rosalina mencubit gemas hidung putrinya.


Pak Said masih memperhatikan kost-an Mayfa. "Ayah senang liatnya, karena selama ini kekhawatiran Ayah ya memikirkan bagaimana lingkungan kamu tinggal Fa."


"Sebagai orang tua, sebisa Ayah untuk membimbingmu menuju jalan Allah, ya bagaimana lingkunganmu saat jauh dari Ayah, ini sangat mempengaruhi perjalanan kamu, Fa."


Mayfa memahami ketakutan Ayahnya, dia bersandar di pundak Ayahnya. "Bibi juga sangat tahu apa yang Ayah pikirkan, makanya bibi memilih tempat ini."


"Selama kamu sama Ayah, Ayah bisa mengawasi langsung bagaimana pergaulan kamu, agama kamu. Karena kamu tinggal jauh, Ayah hanya bisa mengingatkanmu lewat telepon."


"Alhamdulillah Ayah, disini aku hidup begitu aman dan nyaman."


"Nanti dulu bicaranya, ayo kita salat magrib dulu!" sela Rosalina.


"Eh bibi mana?" tanya Mayfa.

__ADS_1


"Bibi mu langsung pulang, kan dia banyak acara Fa," sahut Rosalina.


"Oh iya, kenapa aku sampai lupa kalau sebentar lagi nikahan anak bibi."


"Iya, kata bibimu, kamu sibuk nemenin Syafi," ucap Rosalina.


"Iya bund, kemaren Dirga sibuk banget, karena perusahaan dia katanya ada proyek di kalimantan selatan, jadi saat Dirga pergi, aku yang menemani Syafi."


"Ayah senang dengarnya, kamu selalu membantu siapa saja, tidak pandang bulu dia siapa. Kamu selalu tulus memberi bantuan."


"Kamu tau, Ayah sangat bangga melihat kebaikan yang kamu tebar, memberi tanpa mengharap apapun, membantu tanpa pamrih, dan banyak lagi."


Mereka bertiga menunaikan salat magrib bergantian, karena keadaan kost-an Mayfa yang tidak terlalu luas. Selesai melakukan tugas magrib, Mayfa bersama kedua orang tuanya meninggalkan kost-an.


Melihat sebuah mobil terparkir di depan kost-an, Mayfa menoleh pada Ayahnya. "Mobil siapa Yah?"


"Taksi online lah, masa Ayah bawa mobil dari rumah."


"Kirain minjem punya bibi," ucap Mayfa.


"Ayah tidak hafal jalanan kota ini, mending diantar kan?"


"Ini kita langsung ke hotel, atau mengunjungi Syafi?" sela Rosalina.


"Kunjungi Syafi juga boleh, Ayah juga pengen lihat anaknya Syafi dan Dirga," ucap Pak Said.


Mobil taksi online mengantarkan keluarga Pak Said menuju kediaman Syafi dan Dirga. Sepanjang perjalanan hanya ada obrolan Rosalina dan Mayfa. Rosalina menyakan banyak hal, bagaimana perjuangan Mayfa hidup di perantauan.


"Pantes saja kamu betah di sini Fa, kadang pulang waktu libur pun kamu jarang. Bahagia di sini kamu rupanya," komentar Pak Said.


"Maaf yah, bukan aku bahagia di sini atau tidak merindukan kalian, hanya saja aku malas pulang karena setiap acara keluarga besar kita selalu ada pertanyaan kapan nikah!"


"Ya wajar ada pertanyaan itu, usiamu sudah 28 tahun, dan kamu tidak pernah mengenalkan seorang pemuda pada kami, dan pemuda yang ingin kami kenalkan padamu, malah kamu tolak," ucap Pak Said.


"Ayah kan tahu sendiri, perkara nikah bukan hal mudah, bukan suatu perlombaan yang harus sampai di garis finish secepatnya."


"Iya-iya, Ayah faham Fa."


"Ayah emang faham, tapi keluarga yang lain nggak faham."


Rosalina menarik Mayfa kedalam pelukannya, dia sangat memahami keadaan putrinya, belum menikah bukan karena tidak ada yang datang, memilih pasangan hidup tidak semudah membeli barang, dan dia memahami keinginan putrinya.


"Sejauh ini, apa sudah ada seorang pemuda yang menarik perhatian kamu?" goda Rosalina pada Mayfa.


Sejenak bayangan Athan melintas di benak Mayfa. Saat yang sama Mayfa merasakan wajahnya menghangat saat teringat Athan. "Belum ada bund. Bismillah ... saat ini Allah tengah mempersiapkan laki-laki terbaik untukku, dia tidak hanya memberiku kebahagiaan, tapi juga akan membahagiakan kalian."


"Aamiin." Ucap Pak Said dan istrinya bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2