Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 20 mengakui Perasaan


__ADS_3

Suasana yang tadi penuh kegembiraan seketika berubah duka. Ardhin langsung di bawa ke Rumah Sakit, sedang warga sekitar langsung mengurus jenadzah Kamal. Syafi perlahan mendekati jasad bibi yang selama ini dia panggil ‘mama’ berulang kali dia mengusap air matanya, agar air mata yang menetes tidak mengenai jasad bibinya. Sesomplak dan sekonyol apapun dirinya, Syafi juga pernah belajar Agama. Nasehat tentang jangan sampai air matamu mengenai mayyit, karena air mata itu bagai pisau\paku yang menyakiti roh yang meninggal. Merasa air matanya sudah kering, Syafi mendekati jasad bibinya, membuka kain yang menutup wajah bibinya tersebut. Perlahan mencium wajah yang penuh cinta, yang kini sudah tidak bernyawa lagi. Mata-mata yang melihat kejadian itu tidak mampu membendung air mata mereka.


 Syafi duduk dekat mayat bibinya. Bermacam pertanyaan berputar di kepalanya, kenapa Pamannya bisa terkena serangan jantung. Apakah karena bibinya yang meninggal tiba-tiba.


“Bagaimana, apakah bu Kamal di makamkan hari ini atau besok?” Pertanyaan itu menyadarkan Syafi yang tenggelam dalam pikiran kosongnya.


“Saya akan tanya keluarga bibi yang lain,” jawab Syafi.


Tamu yang tadi berkunjung untuk ikut berpesta, kini malah datang untuk berduka. Acara hiburan berakhir, berganti dengan suara kajian warga sekitar. Rapat keluarga juga sedang berlangsung, berunding kapan pemakaman Kamal dilaksanakan.


Keluarga yang tadinya datang untuk pernikahan, malah datang untuk acara kematian. Merasa keluarga akan terkumpul jam dua siang nanti, acara pemakaman pun akan di laksanakan jam 3 sore ini.


Syafi menoleh kearah Rosalina. “Bagaimana Paman?” tanyanya.


“Paman di jaga sama Ayah, kamu fokus di sini dulu,” ucap Rosalina.


Mayfa dan adik-adiknya membantu para wanita di dapur. Sedang Syafi masih duduk dekat jenadzah bibinya. Seorang warga memberikan ponsel yang dia temukan diatas lemari, takut ada tangan nakal yang memanfaatkan keadaan. Syafi menerima ponsel itu, melihat ponsel itu rekaman video masih menyala, Syafi langsung mematikan rekaman yang berlangsung dan menyimpan video itu. Syafi masih belum menyadari itu ponsel siapa, dia langsung menyimpan ponsel itu ke kamarnya. Selesai menyimpan benda itu, Syafi Kembali duduk di dekat jenadzah bibinya.


Di Rumah Sakit ada Dirga dan Pak Said yang membantu mengurus Ardhin yang belum sadarkan diri. Melihat keadaannya, dokter langsung membawa Ardhin ke ruangan khusus. Dirga dan Pak Said duduk berdampingan di ruang tunggu, menunggu tim dokter yang menangani Ardhin.


“Kenapa ini sampai terjadi, Pak?” tanya Dirga.


Pak Said mulai menceritakan kejadian saat Arnaff membatalkan pernikahan dengan Syafi. Rahang Dirga mengerat, menahan rasa marah pada Arnaaf. Mengingat saat ini Pamannya membutuhkan dirinya Dirga berusaha menahan kemarahannya. Ponsel Pak Said terus berdering, membuat Dirga faham, kalau laki-laki yang kini bersamanya di butuhkan orang-orang di sana.


“Bapak Kembali saja ke rumah Paman, biar saya yang menjaga paman di sini,” usul Dirga.

__ADS_1


Terlihat Pak Said menghela napas begitu dalam, bingung harus apa. Mengingat di Rumah Sakit ini dia hanya berdiam diri, beliau memutuskan untuk Kembali ke kediaman Ardhin, membantu mengurus pemakaman Kamal. Di Rumah Sakit, hanya Dirga yang menemani Ardhin. Dirga menelepon Arnaff menanyakan kepastian berita itu, benar saja. Arnaff pun meng-iyakan, bahkan dia sudah membatalkan semua bookingan pada hotel itu, bahkan sudah mengabari kedua orang tuanya, juga keluarga Sam tentang pembatalan pernikahannya. Namun belum membatalkan di kantor KUA.


Di kediaman Ardhin. Suasana sedikit lebih tenang, terlihat Syafi mulai lebih baik, walau kesedihan masih terpancar dari wajah cantik itu.


“Aku tidak bisa menikah dalam kondisi berduka seperti ini,” ucap Syafi.


“Tenang saja, kak. Kak Arnaff juga sebelumnya sudah membatalkan pernikahan kalian,” ucap Shofia, Mayfa langsung menyenggol lengan adiknya yang terlalu polos itu.


Pikiran kotor Syafi aktif, dia menduga hal ini bermula karena Arnaff membatalkan pernikahan. Saat ini dia ingin menyelesaikan pemakaman bibinya, dan berharap Pamannya bisa selamat.


Matahari seakan enggan menampakkan sinar cerahnya. Angin berhembus sendu, seakan turut berduka dengan keadaan di tempat itu, suasana begitu memilukan. Satu per satu keluarga Syafi dan keluarga Kamal berdatangan, kabar pembatalan pernikahan pun sudah tersebar. Semua orang maklum, karena sulit untuk menikah saat berduka seperti ini. Akhirnya pemakaman Kamal selesai.  Kediaman Ardhin Kembali sepi. Tinggal mempersiapkan untuk acara tiga hari kedepan, Syafi meminta keluarga Kamal untuk mengurus pengajian, dia ingin ke Rumah Sakit untuk menemani Pamannya.


Di Rumah Sakit.


Dirga di perbolehkan dokter untuk menemani Ardhin. Dirga segera masuk kedalam ruang perawatan Ardhin. Seakan ratusan pisau mengenai ulu hatinya, perih melihat sosok yang dia sayang terbaring tidak berdaya. Dirga duduk di kursi yang ada di ruangan itu. Sedang mata dan jemari tangannya sibuk dengan ponselnya, menjawab semua pertanyaan Sam kenapa dia tidak Kembali, padahal pernikahan Arnaff batal. Fokus Dirga terpecah saat mendengar suara dari arah tempat tidur.


Perlahan mata Ardhin terbuka, menatap sendu kearah Dirga. “A----ul.” Hanya nama itu yang sempat terucap. Ardhin Kembali menutup matanya. Dirga panik, dia segera menghubungi perawat dengan telepon yang terhubung dengan ruangan para perawat.


Tidak berselang lama, tim dokter masuk lagi ke ruangan memeriksa Ardhin. Dirga menceritakan apa yang dia lihat dan dia dengar.


“Anda siapanya pasien?” tanya dokter.


“Saya—” Dirga bingung menjawab siapa dirinya.


“Jika keluarga Pak Ardhin datang, tolong segera pinta mereka untuk menemui saya. Beberapa bulan lalu, kondisi jantung Pak Ardhin bermasalah.” Dokter mulai menerangkan keadaan Kesehatan Ardhin dengan Bahasa Medis. Selesai memeriksa Ardhin, dokter meninggalkan ruangan Ardhin.

__ADS_1


Dirga Kembali duduk di kursi, meraih tangan yang masih tidak berdaya itu.


“Paman, aku sangat Bahagia bisa menginjakkan kaki di sini. Paman … maafkan Arnaff, walau aku sendiri tidak bisa memaafkannya. Rasanya aku ingin sekali memberi perhitungan dengannya, Tapi saat ini bagiku Paman yang paling penting.” Dirga mengumpulkan keberaniannya. “Paman … aku tidak tahu harus apa. Satu sisi aku sedih melihat Paman dan bibi. Satu sisi aku sangat bahagia Syafi tidak jadi menikah. Aku jatuh cinta pada Syafi saat pertama kali melihatnya. Paman … jangan menuntut Syafi untuk berubah, biarlah dia jadi dirinya sendiri.”


Dirga terus menceritakan kekagumannya pada sosok Syafi. Sadar kalau lawan bicaranya tidak akan merespon ceritanya, rasanya lebih tenang mengakui perasaanya pada Paman Ardhin. Lelah berbicara sendiri, Dirga meraih ponselnya, duduk bersandar sambil membalas pesan Sam. Sam mengerti kondisi Dirga saat ini. Dia memberikan waktu lebih untuk Dirga. Dirga masih asyik dengan ponselnya, tidak menyadari jari-jemari Ardhin yang sedikit bergerak.


Di kediaman Ardhin keadaan mulai lengang, tamu-tamu yang datang melayat sudah pulang. Terlihat di depan rumah, Syafi Menyusun beberapa barang di motor pamannya.


“Bi, saya permisi, saya mau ke Rumah sakit,” pamit Syafi pada Uthe, adik dari Kamal.


Uthe ragu mengizinkan Syafi pergi sendiri, terlalu besar kesedihan anak itu, mau bagaimana lagi, dia juga sibuk mempersiapkan pengajian untuk malam ini. Syafi melajukan motornya menuju Rumah Sakit, perjalanannya lancar. Di depan Rumah Sakit, dia bertemu Mayfa dan Ayahnya. Mayfa langsung memeluk temannya itu.


“Sudah … aku baik-baik saja.” Syafi melepaskan dirinya dari pelukan Mayfa.


Mayfa bingung, dia terbiasa bercanda dan somplak dengan Syafi, saat keadaan sedih seperti ini, Mayfa bingung harus apa.


“Kita langsung ke dalam, kasihan Dirga sendirian,” Usul Pak Said.


Ketiganya berjalan memasuki Rumah sakit, menuju ruangan Ardhin. Sesampai di ruangan Ardhin, terlihat Dirga duduk di kursi yang ada di dekat ranjang tempat Ardhin tebaring. Mendengar suara salam Dirga menoleh kearah pintu sambil menjawab Salam. Menatap pada Syafi, sekilas ada yang padam dari sinar wajah itu, menurut Dirga.


Dirga segera menyadarkan diri dari penerawangannya. Mempersilakan Syafi untuk mendekati Pamannya.


***********


*Bersambung dulu yaaa

__ADS_1


Maafken, begadang malam ini cuma mampu ketik satu bab, sedang kalau siang otor agak sibuk. Mohon pengetiannya sobat.


__ADS_2