Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 55 Masih Bersegel


__ADS_3

Akhirnya pemeriksaan pada Syafi selesai, dokter mempersilakan Mayfa, Athan dan Dirga untuk mendekat. Setelah semua perawat pergi, Mayfa langsung duduk di tepi ranjang tempat Syafi terbaring.


“Jangan bilang, kemaren lu sengaja bunuh diri,” oceh Mayfa.


“Ya salam, bunuh diri ….” Suara Syafi masih terdengar lemah. “Aku masih punya iman May, walau tipis dan lemah, bunuh diri?” Syafi berusaha tersenyum, tapi senyuman itu sangat tipis, dirinya masih tidak berdaya. "Aku tidak sebodoh itu May, senakal-nakalnya aku, impianku masuk sorga."


Senyuman itu memang kecil. Tapi ada kebahagiaan yang begitu besar dalam diri Dirga saat melihat senyuman itu. Kebahagiaan itu juga memancar ke wajahnya, hingga kedua sudut bibirnya saling Tarik menarik, hingga mengukir


sebuah senyuman.


Syafi menoleh kearah Dirga, senyuman laki-laki itu sungguh permanen, tapi pandangan matanya entah tertuju kemana. Syafi mengalihkan pandangannya kearah Mayfa. “Bunuh diri itu dosa besar. Orang bunuh diri itu masuk neraka lewat jalan tol, mulus … tanpa hisab. Langsung nyemplung gitu, naudzu billahimin zdalik, aku gak mau May. Bukan Cuma itu. Laki-laki tampan seperti kak Dirga tidak aku jumpai di neraka, Arjuna seperti kak Dirga adanya di sorga, jadi tujuanku sorga, biar aku bisa bertemu dengannya.” Syafi tersenyum mendengar rayuannya sendiri yang dia arahkan untuk Dirga.


“Masih lemes juga, masih aja somplak, dasar!” oceh Mayfa.


Dirga juga mendekat, dia meraih kursi yang ada di dekat Syafi. “Kemana aja kamu? Kenapa baru kembali?” ucap Dirga.


“Apanya? Selama ini ‘kan, aku di hati kakak.” Suara itu terdengar sangat lemas, tapi Dirga bahagia mendengarnya.


Mayfa melangkah mendekati Athan, dia langsung menarik baju Athan. “Kita pulang sekarang, gua mual dengar bucinnya Syafi,” rengek Mayfa.


“May ….” Athan protes. Melihat sorot mata Mayfa, Athan mengalah.


“Kak Dirga, miss somplak, kami pulang dulu, isi dulu kak, tenaganya Syafi, biar ngebucin dia kuat.” Tanpa menunggu jawaban Syafi dan Dirga, Mafa meraih tasnya. Dia langsung menyeret Athan keluar dari ruangan itu.


Seperginya Mayfa dan Athan, Syafi dan Dirga juga sama-sama diam. Syafi memandang kearah lain, bagaimanapun dia menepis segala pikirannya, tentang ucapan Arnaff sore itu, tetap saja kata-kata itu tidak mau pergi.


“Fiy, niatku menikahi kamu yang lainnya, selain dari nasihat pernikahan yang Pak Said beri menjelang akad nikah kita, salah satunya … aku ingin membuat kamu bahagia. Kamu bahagia dengan aku, atau tanpa aku, yang penting kamu bahagia. Membahagiakan kamu, artinya aku juga membahagiakan paman dan bibi. Kamu tahu? Kebahagiaan mereka adalah kamu.” Dirga tetap berusaha tersenyum, bagaimanapun dia menguatkan dirinya, batinnya tetap hancur.

__ADS_1


“Fiy, apakah kamu bisa menerima pernikahan ini? Jawab dengan lisanmu Fiy, aku tidak mengerti bahasa hatimu. Tolong jawab dengan jujur, agar kita berdua bisa meraih kebahagiaan kita.”


Butiran krystal bening lolos dari ujung sudut mata Syafi, berulang kali wanita itu mencoba menggerakkan tangannya untuk mengusap air matanya, tapi tidak bisa, tangannya masih terasa kaku. Dirga meraih tisu yang ada di dekatnya, dia mengusap air mata Syafi.


“Pleas … jangan menangis lagi, aku rindu Syafi yang ceria. Ayo jawab pertanyaanku dengan jujur.” Dirga kembali duduk di kursinya.


“Maafkan aku kak, aku sudah berusaha menerima kakak, maaf … aku merasa tidak pantas. Ini dunia nyata kak. Bukan kisah dongeng, seorang Cinderella yang menikah dengan pangeran atau searah itu. Maaf kak, aku—” Syafi tidak bisa meneruskan ucapannya, saat jemari Dirga menempel di bibirnya.


“Cukup. Jangan diteruskan. Kalau kamu tidak bahagia, aku akan melepaskan kamu. Tapi tidak sekarang … kamu harus sehat dulu, dan aku akan mengantar kamu ke Kalimantan, saat kamu sehat nanti.”


“Maafkan aku kak. Kematian paman membuat kakak tersud—” Syafi tidak berani meneruskan ucapannya, saat melihat Dirga menempatkan jemari di depan bibirnya sendiri.


*


Sepanjang perjalanan Athan terus mengomel karena Mayfa menariknya pergi dari ruangan Syafi. Dia ingin melepas rindu pada pujaan hatinya, temannya ini malah membawanya pergi dari sana, tepatnya menyeretnya. “Kamu lihat sendiri May, Syafi tidak bahagia dengan Dirga,” gerutu Athan.


“Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka, kamu dengar sendiri bukan, kalau Dirga akan melepaskan Syafi, saat hubungan mereka benar-benar ber-akhir, silakan dekati Syafi, saat ini jangan. Dia masih istri orang.”


Athan terdiam. Dia meneruskan fokusnya pada jalanan di depan matanya, setidaknya kesempatan untuk memiliki Syafi terbuka, karena Dirga akan melepaskan wanita itu.


*****


Syafi memang sudah pulih, tapi dia belum bisa mengajar. Tiga hari setelah sadar, Syafi di izinkan dkter untuk pulang ke rumah. Di rumah Dirga, Syafi hanya bisa berdiam diri, tidak melakukan apa-apa, tubuhnya masih terasa lemah. Jahitan yang ada di sisi telinganya juga kadang terasa nyut-nyuttan. Sesekali Mayfa datang menemaninya dari pulang mengajar, hingga sore, karena temannya ini sebentar lagi pergi dari kota ini. Mayfa rela menghabiskan waktu sorenya bersama Syafi, sebelum mereka berpisah lagi. Pulang dari rumah Dirga, Mayfa diantar oleh Pak Ajah sopir Dirga.


Hari Syafi terasa lebih bewarna saat ada Mayfa, ada saja cerita Mayfa yang membuat Syafi tertawa. Bagi Syafi, jangankan cerita Mayfa, melihat emot Mayfa, yang Mayfa kirim dari aplikasi hijau saja sudah membuat Syafi tertawa, dirinya tidak bisa menjawab hal itu, entah kenapa walau hanya melihat Mayfa di layar handphone-nya, dia begitu bahagia.


Hari semakin gelap, seminggu mengurung diri di kamar sangat membosankan. Syafi keluar dari kamarnya, tujuannya langsung kearah dapur. Aroma masakan yang berasal dari dapur, membuat suara musik yang tak beraturan terdengar dari perutnya.

__ADS_1


“Sore bi Masri,” sapa Syafi. Seperti biasa, Syafi langsung meraih piring kecil untuk icip-icip masakan bi Masri. Mulutnya mengunyah makanan yang sudah masuk kedalam mulut. Melihat wajah Bi Masri, seketika makanan yang terasa lezat itu tidak lagi terasa kelezatannya. “Bi Masri pucat, bibi istirahat dulu. Bibi sakit?”


“Enggak Non, bibi baik-baik aja.” Wanita itu meneruskan pekerjaannya. Syafi langsung meninggalkan dapur, dia langsung menuju kamarnya untuk menelepon Dirga, mengatakan apa yang dia lihat barusan.


“Setelah pulang nanti, aku akan periksa keadaan bi Masri. Keadaan kamu bagaimana?”


“Aku baik, kak.”


“Baiklah, besok kakak akan mengantar kamu pulang, setelah mendaftarkan berkas perceraian kita, kakak harus kembali lagi, karena kakak benar-bena sibuk, sisanya akan di urus oleh pengacara. Sebelum kita melakukan perjalanan kakak hanya memastikan, apakah kamu benar-benar sehat?”


“Alhamdulillah kak, aku benar-benar sehat.”


“Baiklah, kalau begitu bawa seperlunya saja barang-barang kamu, sisanya nanti aku kirim.”


“Terima kasih kak.”


“Kakak sedang sibuk untuk perayaan peresmian nama perusahaan baru Sam. Jadi sore ini pulang mungkin sedikit terlambat ya ….”


“Iya kakak. Kak Dirga … bagaimana urusan mengajarku?”


“Tenang, untuk pengunduran diri akan aku bantu, andai kamu tetap di sini, aku juga tidak masalah, kita pulang ke Kalimantan hanya untuk mengurus perceraian kita, juga mengembalikan kamu secara baik-baik pada keluarga di sana.”


“Rasanya aku hanya ingin di Kalimantan saja kak.”


“Baiklah, secepatnya aku akan mengantar kamu.”


Panggilan telepon mereka berakhir, Syafi merasa lebih lepas, saat mengetahui dirinya akan lepas dari status sebagai seorang istri. “Gue Janda, tapi masih bersegel,” gumamnya. Syafi segera merebahkan dirinya di tempat tidur.

__ADS_1


__ADS_2