
Sepanjang perjalanan ada saja pembicaraan dua wanita itu, sesekali Dirga tersenyum mendengar candaan keduanya. Tidak terasa mobil Dirga sampai di depan kost Mayfa. Syafi dan Mayfa turun dari mobil Dirga.
“Nggak usah anterin aku sampai ke depan pintu juga keles ….”
“Hilih … siapa yang mau anterin kamu, aku mau pindah duduk, di samping pangeranku.” Syafi menjulurkan lidahnya mengejek Mayfa. Dia segera masuk mobil dan duduk di kursi depan. “Papai Mayfaku ….” Syafi melambaikan tangannya.
“Fiy, segel gimana?” goda Mayfa.
“Amblas May ….”
Mendengar jawaban Syafi, Mayfa langsung berlari kearah kost-an, sebelum temannya itu semakin loss. Syafi tertawa mengikikmelihat Mayfa yang pergi begitu saja. Syafi berusaha tertawa walau sulit, dia mwmandangi Dirga. “Kita pulang?”
“Kita tunaikan magrib dulu di masjid, terus kita makan malam sama-sama, setelah isya, kita langsung ke acara peresmian perusahaan Tuan Sam.”
“Jangan bercanda, kak. Aku tidak punya baju ganti.”
“Siapa yang bercanda, aku sudah memesan baju coupel buat kita nanti, selesai salat isya, nanti kita ketempat temanku.” Perlahan Dirga melajukan mobilnya meninggalkan kost-an Mayfa.
Mobil Dirga terus melaju di jalan raya, kumandang adzan magrib terdengar, perlahan Dirga menurunkan kecepatan laju mobilnya saat mendekati masjid. Dirga langsung memarkirkan mobilnya, saat mobil berhenti sempurna, keduanya turun dari mobil, berjalan bersama menuju masjid.
Waktu berlalu begitu saja, selesai menunaikan ibadah salat magrib, keduanya menikmati makan malam mereka di sebuah Restoran mewah. Syafi hanya bisa memandangi wajah laki-laki yang berada di depannya. Dalam mimpi ‘pun dia tidak berani bermimpi seperti ini. Di cintai begitu besar oleh sosok laki-laki yang baik hati seperti Dirga.
“Hei, makan yang benar!” tegur Dirga.
“Memandang kakak saja, aku sudah kenyang.” Syafi menundukkan pandangannya, entah kenapa sekarang hatinya berdebar begitu kuat jika menggobali suaminya sendiri.
“Aku tau, kalau kau hanya ingin memandangi wajahku, tapi kamu butuh tenaga, malam ini acara besar, mungkin kamu akan kelelahan, ayo makan, apa perlu aku suapi, tapi kalau aku yang menyuapi bukan pakai sendok.” Dirga menaik-turunkan alisnya.
“Pakai apa?”
Dirga memasukan satu potong kentang goreng ke mulutnya, tidak seluruh potongan masuk kedalam mulutnya. “Hem ….” Dirga meng-isyarat kalau dia ingin menyuapi Syafi.
__ADS_1
“Dasar ….” Syafi langsung meraih makanannya, dan memakan makanannya dengan perasaan kesal. Merasa malu dengan tingkah Dirga seperti ini di depan umum.
Selesai menikmati makan malam di Restoran itu, Dirga melajukan mobilnya menyusuri jalanan malam, hingga mobil itu berhenti lagi di sebuah masjid, untuk menjalankan kewajiban empat raka’at. Selesai dengan tugas yang satu itu, mobil Dirga kembali melaju menyusuri jalanan. Perlahan kecepatan mobil itu menurun, saat semakin mendekati di sebuah rumah mewah yang di batasi pagar yang menjulang tinggi. Salah satu Satpam penjaga gerbang langsung menyambutnya. Perlahan Dirga menurunkan kaca mobilnya.
“Pak Dirga, kata Nyonya, kalau Tuan datang langsung saja masuk,” sapa Satpam itu.
Dirga hanya menganggukkan kepalanya, dia segera melajukan mobilnya melewati gerbang yang menjulang tinggi tersebut. Syafi masih bingung dengan bagunan megah yang ada di depan matanya.
“Rumah siapa?” Syafi bertanya pada Dirga.
“Nanti juga kau tahu.”
Dirga terlihat santai, dia memarkirkan mobilnya, saat mobil berhenti sempurna, keduanya keluar dari mobil. “Ayoo.” Dirga membentangkan lengannya, agar wanita itu mau mendekat. Syafi langsung mendekat dan menyilangkan tangannya di pergelengan lengan Dirga.
“Kak … kakak tidak menjualku kan?” Raut ketakutan sangat jelas terpancar di wajah Syafi.
“Menjualmu? Walau separu kekayaan isi bumi ini diberikan padaku sebagai penukar dirimu, aku tidak akan pernah melepasmu.”
Dirga tersenyum, dia segera mengajak Syafi untuk memasuki rumah besar nan megah itu. Saat melewati pintu utama, dari arah dalam sana, terlihat dua anak kecil sedang main kejar-kejarran.
“Rumah Tuan Sam?” Syafi tidak menyangka Dirga membawanya kemari.
“Aku sudah janji pada Nyonya, kalau akan mengajakmu kemari saat kau benar-benar menjadi istriku.” Dua pasang mata itu saling tatap.
“Miss Aurel ….” Suara teriakan itu, memecah suasana romantis barusan.
“Hai dua jagoanku.” Syafi membungkuk, agar setara dengan dua jagoan itu. “Ini di rumah, manggilnya seperti dulu saja, kalau miss nanti saat di sekolah,” pinta Syafi.
Dua anak kecil itu setuju, mereka lanjut bermain, sedang Dirga dan Syafi langsung menuju ruang tamu. Saat sampai di ruang tamu. Terlihat tiga orang yang Syafi kenali. Sam, Resa, dan Nyonya Ramida.
“Hai Syafi, akhirnya kita bertemu lagi.” Resa langsung menyambut tamunya.
__ADS_1
“Hai kak Resa, halo semua,” sapa Syafi.
Syafi berkenalan dengan keluarga Resa, keluarga ini memang sangat ramah.
“Bagaimana kak Resa, apa masih morning sickness?” tanya Syafi.
“Satu minggu ini aku sudah merasa lebih baik. Sudah, ayo langsung sulap wanita itu, jangan lama-lama, waktu kita tidak lama lagi,” perintah Resa pada dua orang yang masih duduk santai di kursi tamu itu.
“Santai sebentar sayang, mama juga ingin berkenalan lebih banyak lagi dengan wanita yang beruntung, yang membuat Dirga jatuh hati,” ucap salah satu wanita paruh baya, yang Syafi ingat namanya Hayati, ibu kandung Resa.
“Mama, nanti ya, setelah Syafi dan aku selesai make up, kita masih punya banyak waktu untuk bicara, tapi di tempat acara.” Resa mengajak Syafi menuju salah satu ruangan.
“Para wanita sudah beraksi, ayo Dirga ikuti aku, setelan buatmu ada di kamar sana.” Sam menunjuk ke salah satu ruangan yang tidak jauh dari mereka. Dirga segera melangkahkan kakinya menuju ruangan itu.
Dirga dan Sam sudah rapi dengan setelan tuxedo-nya. Tapi, dua perempuan itu belum juga kembali. Saat pintu kamar yang di masuki Resa dan Syafi terbuka, terlihat dua wanita cantik. Resa Nampak memukau dengan gaun pestanya. Sedang Sayfi terlihat anggun dengan dress Muslimah modern yang sangat pas di tubuhnya. Warna yang senada dengan dengan *Tuxed*o yang Dirga kenakan.
“Mana istriku?” cerca Dirga.
“Idih, baru berapa menit, kakak sudah tidak mengenaliku.”
“Suaramu Syafi, tapi wujudmu lebih cantik dari bidadari,” puji Dirga.
“Sayang … aku juga pengen di rayu ….” Rengek Resa.
“Kalau kalian berbalas gombalan, kapan kita berangkat?” sela Ramida.
“Owh iyaa, aku lupa, ayo sayang, berikan lenganmu untukku, agar bisa ku gandeng,” rengek Resa.
Sam tersenyum, dia segera memberikan lengannya untuk Resa gandeng. Dirga ‘pun melakukan hal yang sama. Keluarga Sam dan juga Dirga serta Syafi berangkat bersama menuju tempat acara peresmian nama perusahaan baru Sam. Iring-iringan mobil mewah itu melaju ber iringan membelah jalanan malam.
Iring-iringan mobil mewah itu perlahan menurunkan kecepatan mobilnya, di depan sana terlihat banyak kerumunan. Tapi jalan terbuka untuk iring-iringan mobil itu. Hingga mobil-mobil itu bisa langsung parkir di tempat khusus. Di depan sana, mobil Sam terlebih dulu berhenti. Syafi kagum melihat sorot kamera yang terus mengabadikan Senyuman Resa dan Sam. Saat mobil Sam yang di bawa petugas parkir sudah melaju, sekarang giliran Dirga yang tersorot sorotan mata kamera dan di hujani cahaya bliz kamera. Mobil Dirga sudah di bawa oleh petugas parkir, Dengan bangga Dirga menggandeng Syafi melewati para wartawan yang terus menyambutnya dengan pertanyaan.
__ADS_1