Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 80 Memandang


__ADS_3

Lala memandangi mobil yang semakin menjauh dari pandangan matanya. Ternyata saat bertemu langsung dengan istri Sah Dirga, wanita itu terlihat berbeda, begitu cantik dan anggun dengan seragam guru yang membalut tubuh indahnya.


Dirga juga terlihat berbeda, laki-laki itu terlihat begitu ceria, wajahnya dipenuhi aura kebahagiaan saat bersama istrinya, berbeda jauh jika saat berada di rumahnya. Kusut, sering murung, kaku, pendiam, senyum pun sangat jarang.


"Tadi Tuan Dirga?"


Pertanyaan itu menyadarkan Lala.


Bi Jumi dan Fattah sudah berada di sampingnya.


"Iya, itu kak Dirga."


"Sama siapa dia?"


"Istri sahnya." Lala melanjutkan langkah kakinnya. "Kita pulang yuk bi." ajaknya.


Bi Jumi segera menyusul Lala. Napasnya memburu karena melangkah begitu cepat, agar posisinya sejajar dengan majikannya. "Jadi Tuan Dirga datang sebulan sekali hanya karena Nona istri muda?"


"Ceritanya panjang bi, intinya pernikahan dengan saya sama sekali tidak diinginkan suami saya. Tapi dia laki-laki yang baik, dia tetap bertanggung jawab, dan menafkahi kami."


"Selamanya Nona akan pasrah dengan keadaan ini?"


"Jangan bahas ini bi, saya belum siap."


"Baik Non."


Sepanjang perjalanan pulang, otak Lala terus bekerja, memikirkan dirinya dan Dirga.


Sampai kapanpun hubungan yang tidak sehat ini bertahan? Ini sangat salah, walau kak Dirga memegang teguh ucapannya.


Kak Romi, di mana kamu? Hadirlah kak, biar hubungan aku dan kak Dirga cepat berakhir.


Lala membayangkan bagaimana kehancuran seorang Aurelia Syafitri, kalau wanita itu mengetahui ada ikatan baru dalam pernikahan mereka. Rasanya Lala tidak rela kebahagiaan Dirga dan istrinya hancur begitu saja karena keberadaannya.


Di sisi lain, Dirga meneruskan perjalanan pulang mereka, sepanjang jalan Syafi kembali diam. Sesekali Dirga melirik kearah Syafi.


"Kenapa diam lagi yank?"


"Lagi mikir."


"Kamu bisa mikir sekarang?" ledek Dirga.


"Nggak bisa, makanya ini lagi mikirin gimana caranya buat mikir."


"Jangan terlalu serius yank, horor. Aku sangat bahagia dengan Syafi yang konyol dan penuh keceriaan."


"Ya ya ya."


Perlahan mobil yang Dirga kendarai memasuki parkiran rumah mereka. Keduanya segera turun dari mobil, dan melangkah bersama.


"Yank ...." Dirga melingkarkan tangannya di pinggang Syafi.


"Apa?"


"Jurus bucin kamu mana? Aku kagen dibucinin kamu." Dirga menyandarkan kepalanya di pundak Syafi. "Ajarin aku bucin lagi, aku lupa caranya bucin ...."


"Buat apa?"

__ADS_1


"Buat rayu kamu."


Syafi mendengus. Rasanya ingin memaki dan mencakar laki-laki yang ada di depannya. Namun bertindak kasar bukan gayanya. "Bilang aja mau latihan buat bucinin orang."


"Mana ada? Yang menghuni hati aku tuh cuma kamu. Rayu kakak dong dek ...."


"Maaf, gak bisa, karena bucin mukidi lagi aku gadai, aku barter sama ketegaran hati." Syafi melepaskan diri dari pelukan Dirga, dan melangkah cepat menuju kamarnya.


"Yank ...." Dirga segera menyusul Syafi.


Sosok wanita itu sudah menghilang dibalik pintu kamar mereka, perlahan Dirga membuka pintu kamarnya. Terlihat di dalam sana Syafi menuju kamar mandi.


"Yank, jangan pakai kejutan lagi, kalau didiemin sama kamu seperti ini, aku tersiksa."


Perkataan Dirga membuat langkah kaki Syafi terhenti. Syafi memandang kearah Dirga, dan memberikan senyum kaku untuk Dirga. "Aku mandi dulu yaaa."


"Yank ...." rengek Dirga.


Tetap saja wanita itu menghilang di balik pintu kamar mandi.


Sekitar 30 menit Syafi keluar dari kamar mandi dengan setelan rumahan. Wajahnya terlihat segar. Dirga langsung mendekati Syafi dan memeluknya erat.


"Yank ...." rengek Dirga.


"Apa?"


"Kangen ...." Dirga mendalami maksudnya, menunaikan hajat yang tadi malam tertunda. Sedang Syafi berusaha tegar melayani suaminya, seolah dirinya tidak tahu apapun.


***


Tidak ada rayuan yang bikin mual, tidak ada pembicaraan panjang menjelang tidur maupun pagi hari. Keadaan ini sangat menyiksa Dirga. Dirga memandangi wanita yang memakai kerudung merah muda yang ada di depannya, namun fokusnya entah kemana, matanya memandangi Syafi, tapi pikiranya terbang entah kemana.


"Kak aku berangkat ke sekolah."


Ucapan Syafi membuat Dirga tersadar dari lamunannya.


"Iya, hati-hati yank."


Syafi memberikan senyuman kecil, dia menyambar tas-nya dan segera melangkahkan kaki menuju pintu utama.


"Yank, sudah 10 hari kamu tidak salim lagi padaku. Sudah 10 hari pula kamu tidak memberi ciuman dipipiku sebelum pergi."


Langkah kaki Syafi terhenti, dia ingin menjawab, tapi tidak tahu harus menjawab apa. "Maaf."


Hanya kata itu yang bisa Syafi ucap. Dirinya kembali melanjutkan langkah kakinya.


Kedua bola mata Dirga masih memandangi kepergian Syafi.


***


Di kawasan Sekolah The Alvaro.


Syafi, Mayfa, dan Athan mengisi waktu istirahat mereka di taman sekolah itu. Syafi dan Mayfa duduk.di ayunan yang ada di taman, sedang Athan bersandar pada salah satu tiang ayunan, memandangi kedua temannya.


"Sudah 10 hari ini Fiy," ucap Mayfa.


"Aku bingung May, lebih baik ku jalani aktivitas harianku, pura-pura tidak tau akan rahasia itu."

__ADS_1


"Apa selamanya kamu bisa pura-pura seperti ini Fiy?" tanya Athan.


"Aku merasa kak Dirga masih mengutamakan diriku di atas segalanya, cintanya tidak berubah. Namun jika suatu saat nanti, aku melihat langsung, kalau wanita itu juga menjadi bagian penting bagi kak Dirga. Maka aku akan mundur. Aku tidak mau menyiksa kak Dirga dengan tuntutan adil."


"Kita bisa apa? Kita hanya bisa mendukung kamu Fiy," ucap Mayfa.


"Dukungan kalian lebih dari segalanya, terima kasih selama ini terus berada menguatkan hatiku." Syafi memandangi Athan dan Mayfa bergantian.


"Dirga akan hadir di acara sekolah nanti?" tanya Athan.


"Undangan acara sekolah ini saja belum aku berikan pada kak Dirga." gerutu Syafi.


"Idih ... acaranya pan besok. Kenapa kamu tidak berikan Fiy?" tanya Mayfa.


"Aku lupa!"


"Lupa apa sengaja?" ledek Athan.


"Beneran lupa, lebih baik aku telepon saja." Syafi mengambil handphone-nya, dan segera menghubungi nomer Dirga.


Di gedung TAG. Bermacam berkas terlihat menumpuk di meja kerja Dirga. Segiat apapun dirinya bekerja, pekerjaan kantor rasanya tidak ada ujungnya. Jam baru menunjukkan jam 11:15, tapi rasanya energi Dirga seakan tersedot habis.


Dretttttt!


Getaran handphone membuat mata Dirga tertuju pada benda pipih persegi panjang yang dia taruh diatas meja kerjanya. Seketika senyuman Dirga mengambang, kebahagiaan seketika meledak ketika melihat nama My Wife dari layar handphone-nya.


"Assalamu'alaikum, yank?"


Hati Dirga yang gersang, seketika terasa sejuk, Syafi bagaikan air hujan yang turun di tengah Gurun, dirindukan dan diinginkan setiap mahkluk yang berada di sana.


"Kak, maaf aku baru ingat sekarang."


"Iya, ada apa Yank?"


"Besok ada acara sekolah, kakak juga diundang, besok juga ada penghargaan pada guru-guru favorite di sekolah ini, kakak bisa datang untuk menemaniku?"


"Tentu bisa, akan aku usahakan buat datang diacara sekolahmu." Senyuman terukir permanen di wajahnya, Dirga sangat bahagia.


"Itu aja kak, selamat bekerja dan jangan lupa makan siang tepat waktu."


"Iya sayang."


"Ya sudah, aku tutup teleponnya.


"Hemm ...."


Tanpa buang waktu lagi, Syafi langsung memutuskan panggilannya setelah mendengar jawaban salam dari Dirga.


"Bagaimana?" tanya Mayfa.


"Dia akan datang."


"Semoga gue kuat gak nonjok tu orang pas ketemu!" omel Athan.


"Bahas yang lain aja, jangan bahas kak Dirga, jujur hatiku belum beneran tabah." sela Syafi.


Ketiga sahabat itu membahas hal lain, selain Dirga, kadang terselip tawa renyah dari ketiganya. Selama bersama sahabatnya, Syafi bisa tertawa lepas, bukan tawa yang dia paksakan untuk menutupi luka hatinya.

__ADS_1


__ADS_2