Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 39 Aku Akan Berubah


__ADS_3

Matahari mulai bersinar cerah, di halaman Gedung Sekolahan itu anak-anak ada yang berlarian, ada juga yang berjalan sambil melompat-lompat kecil, di iringi nyanyian asal-asallan mereka, yang mewakili perasaan gembira yang mereka rasa. Senyuman dan tawa tulus dari penerus generasi itu membuat Mayfa betah mengajar di sekolahan ini.


“Pagi miss May,” sapa anak-anak yang mengenali Mayfa.


“Pagi juga cantik ….” balas Mayfa.


Sebuah motor memasuki halaman parkiran sekolahan milik Sam. Hal itu menyita perhatian Mayfa. Seorang laki-laki itu segera turun dari motornya. Melepas helm dan jaketnya, senyum terus terukir di wajahnya. “Akhirnya … mimpiku tercapai untuk jadi bagian dari Sekolah ini.” Pandangan matanya memandangi bangunan yang berdiri megah di depan matanya.


“Kak Athan?” Panggilan itu membuat pandangan penuh kekaguman yang ter-arah pada bangunan sekolah, kini  tertuju kearah suara itu berasal.


“Mayfa ….” Senyuman Athan semakin lebar. Rasanya kebahagiaan pagi ini semakin bertambah.


“Ya ampun kak, aku tau kakak nge-fans sama aku, tapi jangan segininya juga kalii memburu aku kak,” goda Mayfa


“Ya salam … kamu ini—” Athan tidak mampu meneruskan kata-katanya, teringat Syafi yang biasa menggodanya.


“Teringat—”


“Sudah May, aku mau menemui kepala Sekolah dulu, impian aku untuk mengajar di sekolah ini terwujud May.” Athan sengaja memotong ucapan Mayfa. Athan tau kalau Mayfa akan menyebut nama Syafi.


“Selamat ya kak ….”


“Terima kasih May.”


“Mau diantarin ke ruangan Kepala Sekolah, nggak?” tawar Mayfa.


Athan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mereka berdua berjalan ber iringan memasuki area Sekolah.


Suasana di Gedung Ozage Crypton Group lebih ramai dari biasanya, Banyak pekerja yang mencopot logo nama OCG, singkatan dari Ozage Crypton Group. Gedung dan Perusahaan itu akan berubah nama menjadi The Alvaro Group. Jauh berbeda dengan keadaan di ruangan petinggi Perusahaan itu. Keadaan di ruangan Dirga maupun Sam terlihat sepi.


Dirga masih sibuk dengan berkas-berkas yang mengantre untuk dia sentuh. Suara pintu yang terbuka memecah fokusnya, terlihat Sam datang dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Sam terus melangkah mendekati Dirga, membuat yang Dirga semakin bingung.


“Kamu telepon Syafi, katakan kalau dia diterima di sekolahan Gavin dan Gilang,” ucap Sam.


“Serius?” Dirga memastikan kalau bos-nya ini tidak bercanda.


“Iya … serius! Syafi di minta menghadap Kepala sekolah siang ini, menjelang makan siang, lebih baik pulang, antar dia,” usul Sam.


Dirga mengangguk dengan semangat. Setelah Sam pergi, Dirga segera mengetik pesan pada Syafi, kalau lamarannya di terima, meminta Syafi bersiap untuk ke Sekolahan Gavin Gilang. Apa yang Dirga dapat dari jawaban pesan Syafi. Hanya kata ‘Iya’.

__ADS_1


Siang ini Dirga sengaja makan siang di rumah, mengikuti saran Sam. Agar makan siang di rumah, setelahnya mengantar Syafi menuju ke Sekolahan Gavin dan Gilang.  Setelah Syafi selesai bersiap, mereka segera menuju sekolahan Gavin dan Gilang. Sesampai di sana, keadaan sudah lengang, anak-anak TK sudah pulang. Hanya tinggal para guru-guru yang ada di lingkungan sekolah.


Dirga dan Syafi berjalan ber iringan menuju ruang kepala sekolah. Setelah bertemu Kepala Sekolah, tidak ada pembicaraan khusus. Hanya seputar pogram belajar mengajar dan beberapa hal lain. Syafi di minta untuk berhadir besok pagi, untuk berkenalan dengan Dewan guru yang lain, juga untuk beberapa urusan lain. Hanya sebentar di sana, Syafi dan Dirga harus pergi, karena Kepala Sekolah harus pegi, ada rapat yang harus beliau hadiri di tempat lain.


Syafi dan Dirga kembali berjalan ber-iringan menuju tempat parkir. Ada pemandangan yang menyita perhatian Syafi, saat dia melihat Athan berada di tempat parkir. Syafi lupa akan sosok Dirga yang berdiri di sampingnya, dia berlari begitu saja mengejar Athan.


“Kak, apakah kakak sudah memaafkan aku?” Syafi langsung melontarkan pertanyaannya.


“Belum!” Tidak perduli dengan kehadiran Syafi, Athan memasang helmnya, dan segera naik ke motornya.


Syafi menundukkan wajahnya. “Kakak di sini ada perlu apa?”


“Aku akan mengajar di sini.”


“Aku juga, kak …." Syafi menarik begitu dalam napasnya, menghembuskannya perlahan. "Kemaren aku sudah melakukan apa yang kakak minta.”


“Kemaren aku hanya meminta jaminan apakah kau sungguh-sungguh, sekarang aku percaya. Jika ingin maaf dariku, selama satu bulan, kau harus temani aku menyanyi, di mana tempatnya, itu rahasia.”


“Maaf … aku tidak bisa.”


Athan tidak menoleh lagi, dia segera melajukan motornya meninggalkan Syafi sendirian di sana. Hati Dirga menciut, melihat Syafi begitu perduli pada Athan. Dirga berusaha tegar, dia segera melangkahkan kakinya menyusul Syafi.


Syafi tidak menjawab, dia segera melangkahkan kakinya menuju mobil Dirga. Dirga segera melajukan mobilnya meninggalkan area Sekolahan.


******


Apakah jam yang terlalu cepat berputar, hingga waktu sehari habis begitu saja. Atau manusia-nya kebanyakan menyia-nyiakan waktu, hingga waktu habis begitu saja. Matahari mulai menampakkan sinarnya, pagi yang cerah, hari ini awal baru bagi Syafi. Biasanya hanya salim pada Dirga, tapi hari ini dia akan berangkat bersama Dirga. Dirga mengantar Syafi lebih dulu ke Sekolahan baru pergi ke kantor. Walau senyum keceriaan itu tidak terlihat, namun melihat Syafi saat ini, harapan Dirga wanita ini bisa bangkit secepatnya.


Mobil Dirga berhenti tidak jauh dari gerbang Sekolah. Keduanya masih diam, bingung harus memulai pembicaraan dari mana.


“Kak, mohon do’a-nya. Semoga saat mengajar di sana aku tidak mempermalukan kakak, atau membuat kakak malu.”


“Apa maksud kamu?” Dirga bingung dengan pertanyaan Syafi.


“Bawaan aku, maksud aku, kebiasaan aku ini hanya mempermalukan orang-orang yang bertanggung jawab atas diriku. Paman Ardhin, bi Kamal. Mereka di permalukan di akhir hayatnya karena kelakuanku, aku tidak rela kalau nanti kakak mendapat aib karena prilaku-ku.”


“Apakah Somplak suatu aib? Sehingga kau mengubur hidup-hidup sosok Syafi kesayangan Paman Ardhin.”


“Aku tidak mengubur Syafi yang lama, hanya saja kalau Syafi yang lama jadi pendamping kakak, yang ada kakak akan malu sendiri mempunyai pasangan seperti dia. Cukup kak, cukup Paman dan bibi yang menderita akibat perilaku Syafi yang lama.” Syafi mengulurkan tangannya pada Dirga. Dirga pun mengulurkan tangannya untuk di jabat Syafi, ciuman dari Syafi mendarat di punggung telapak tangan Dirga. Tanpa bicara lagi, dia langsung turun dari mobil Dirga. Memacu cepat langkah kakinya memasuki bangunan sekolah di depannya. Sedang Dirga melajukan mobilnya menuju kantor.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Dirga terbayang kata-kata Syafi barusan, juga kata-kata Athan malam itu. Kalau hubungan inilah yang membuat Syafi tidak bisa bangkit. Rasanya ingin sekali menabrakkan mobil yang melaju cepat ini ke pembatas jalan, untuk kesekian kalinya jatuh cinta, dia tidak bisa meraih cintanya. Menikahi perempuan yang ia cinta, tapi malah menyiksa gadis yang dia cinta atas ikatan ini.


“Arggggghht!” Dirga memukul kasar kendali mobilnya.


"Apa karena aku terlalu normal hingga Syafi merasa tidak pantas bersanding denganku?" Wajah Dirga sungguh kesal. "Baiklah Fiy, biar aku yang berubah buat kamu," tekat Dirga.


Di Sekolahan tempat Syafi mengajar.


Ada pemandangan yang membuat seluruh tubuh Syafi bergetar hebat. Melihat teman yang selama ini dia rindukan berada tepat di depan matanya, mengenakan seragam guru. Mayfa belum menyadari keberadaan Syafi. Syafi


merubah tujuannya, baru beberapa langkah, tepukkan tangan mendarat di bahunya.


“Nona Syafi?” orang itu memastikan.


“Iya, saya sendiri.”


“Nona sudah di tunggu di ruangan Guru, katanya Kepala Sekolah harus menghadiri pertemuan di tempat lain, jadi Nona segera ikut saya.”


Syafi melirik lagi kearah Mayfa. “Di sana itu, juga guru di sekolahan ini?” Syafi memastikan.


“Iya, lihat saja seragam yang dia kenakan, itu seragam guru di sekolahan ini.”


Syafi lega, walau tidak bisa menemui Mayfa sekarang, setidaknya dia bisa menemui Mayfa nanti. Syafi segera mengikuti wanita yang mengajaknya menemui Kepala Sekolah.


Setelah bertemu dengan Syafi, Kepala Sekolah segera pergi meninggalkan ruangannya. Sedang Syafi diajak guru yang lain berkeliling mengenali tiap sudut sekolah ini. Selesai menemani Syafi, guru yang lain menemani Syafi berkeliling tadi mengantar Syafi ke kantor, di mana di sana para guru berkumpul. Syafi duduk di tempat yang di khususkan untuknya. Syafi bosan berdiam diri di tempat ini, dia meminta izin pada guru yang lain yang ada di ruangan itu untuk ke luar. Syafi menjelajahi tiap lorong sekolah itu seorang diri.


Mayfa dan beberapa guru lain berada di taman sekolah, bermain bersama beberapa murid yang ada di sana. Perhatian Mayfa terfokus pada seorang laki-laki yang berjalan sangat terburu-buru. Mayfa meminta izin pada guru yang lain, agar menggantikan tugasnya sebentar. Mayfa berlari menyusul Athan.


“Kak Athan ….”


Terlihat laki-laki itu menghentikan langkah kakinya. “May?”


“Kak Athan mulai mengajar hari ini?”


“Tidak, tapi aku ingin mengundurkan diri.”


“Apa?! Mengundurkan diri? Bukankah mengajar di sini impian kakak?”


“Sudah May, aku ingin menemui kepala sekolah dulu.” Athan meninggalkan Mayfa begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2