Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 56 Kenapa?


__ADS_3

Penerbangan pagi jadi pilihan Dirga untuk mengantar Syafi, keduanya sepakat untuk untuk berangkat pagi. Keduanya tidak sarapan di rumah. Tiket sudah siap. Koper juga sudah masuk ke bagasi mobil, saatnya perjalannya dimulai. Dirga menuruni tangga, hanya membawa tas jinjing, karena Dirga tidak bisa menginap lama. Saat yang sama, Syafi juga baru keluar dari kamarnya.


“Sudah siap?” tanya Dirga.


“Bismillah kak, sudah.” Senyuman manis menghiasi wajah Syafi.


“Kamu pamit dulu sama Bi Masri, dari tadi pagi, dia belum keluar kamar karena nggak masak.” Dirga mengalihkan fokusnya, tidak mampu lagi memandangi senyuman itu.


“Iya kak.” Syafi segera melangkah menuju kamar bi Masri. Perlahan Syafi membuka pintu kamar yang di tempati bi Masri. “Bi—” Syafi tidak melanjutkan ucapannya, saat melihat wanita paruh baya itu terbaring diatas sajadahnya, masih mengenakan mukena solatnya. Syafi segera berlari menemui Dirga. “Kak Dirga, bi Masri sakit.”


Dirga dan Syafi berlari bersamaan menuju kamar bi Masri. Sesampai di kamar bi Masri Dirga segera menggendong wanita itu. Tapi dia tidak sekuat itu. “Panggil Pak Ajah, pinta dia bantu aku, kamu bukakan pintu mobilku, tunggu di sana.” Pinta Dirga.


Syafi segera berlari kearah luar, sesampai di teras rumah, dia segera meminta Pak Ajah membantu Dirga, sedang dirinya langsung membuka pintu mobil Dirga. Tidak lama, terlihat Pak Ajah dan Dirga keluar dari pintu, sama-sama menggendong bi Masri yang tidak sadarkan diri. Dengan susah payah akhirnya bisa merebahkan bi Masri di kursi depan.


Dirga dan Pak Ajah masih terlihat ngos-ngossan. Dirga menoleh kearah Syafi. “Fiy, kamu duluan pulang ke Kalimantan, Pak Ajah yang mengantar kamu ke Bandara, setelah bi Masri di urus sama keluarganya di Rumah Sakit, aku janji akan menyusul kamu ke Kalimantan,” ucap Dirga. Dirga segera masuk kedalam mobil, dan melajukan mobilnya meninggalkan rumahnya, menuju Rumah Sakit.


“Ayok Non, kita segera berangkat, nanti ketinggalan pesawat,” ucap Pak Ajah.


“Baik Pak, saya mau ambil roti dulu, perut saya perih, saya tidak bisa kalau makan di Restoran sendiri.” Syafi segera masuk kedalam rumah, sedang Pak Ajah kembali duduk di kursi yang ada di teras rumah Dirga, menunggu majikannya.


Di dapur Syafi seorang diri, tangannya sibuk mengoles selai pada lembaran roti yang dia pegang. Syafi melangkah menuju lemari es, saat tangannya meraih pintu kulkas itu, dia melihat kertas yang menempel di pintu itu.


Bi Masri, setelah saya dan Syafi pergi, tolong bersihkan kamar saya, saya lupa meninggalkan kunci kamar, akhir-akhir ini selalu saya bawa.


Syafi mengerutkan kedua alisnya, dia segera meraih botol air minuman yang ada dalam kulkas, sangat sulit bagi Syafi tidak minum air es, walau pagi, dia tetap minum air es sambil menikmati rotinya.

__ADS_1


Di Rumah Sakit.


Sesampai di depan UGD, para perawat langsung mengangkat bi Masri dari mobil dan merebahkan wanita itu di brankar. Bi Masri langsung di tangani tim medis. Dirga segera menelepon keluarga bi Masri, agar menemani wanita itu di Rumah Sakit. Keluarga Bi Masri tidak jauh dari rumah Dirga hanya butuh waktu sebentar, mereka sudah datang ke Rumah Sakit itu. Tapi Dirga masih ikut menunggu di Rumah Sakit. Memastikan pelayanan dan penanganan buat bi Masri maksimal.


Baru saja urusan bi Masri selesai, sekarang handphone Dirga yang terus berteriak. Dirga langsung mengangkat panggilan pada ponselnya. “Iya.”


“Kamu sudah di Kalimantan?”


“Belum Tuan.”


“Bagus, tolong kembali ke kantor, ada urusan darurat,” titah Sam.


Dirga langsung menyimpan handphonenya, karena yang meneleponnya sudah memutuskan panggilan lebih dulu. Dirga melirik arlojinya, jam sudah menunjukkan jam 11 siang, perkiraannya Syafi sudah mendarat di Kalimantan, Dirga melangkah menuju kantin Rumah Sakit, perutnya perih dari tadi pagi belum terisi, sambil menunggu pesanannya, Dirga menelepon Syafi. Berulang kali bunyi ‘tuttt’ terdengar, tapi yang dia telepon, tidak kunjung menjawab panggilannya.


“Kamu sudah sampai?”


“Aku sudah di rumah kak.”


“Alhamdulillah.”


“Kak, bagaimana bi Masri?”


“Dia sudah di tangani tim medis, keluarga bi Masri juga sudah menemani di ruang perawatan.”


“Alhamdulillah.”

__ADS_1


“Maaf, kakak tidak bisa menyusul kamu hari ini, kakak sangat banyak pekerjaan.”


“Iya kak.”


Dirga segera menyudahi panggilan teleponnya, pesanannya juga sudah tersaji diatas meja. Senang-sedihnya kehidupan ini, tubuhnya lemas karena dari pagi belum makan. Dirga segera menikmati sarapan paginya. Selesai menikmati sarapan, tujuan Dirga adalah kantor Sam yang akan berubah menjadi The Alvaro Group. Sesampai di sana, tumpukkan berkas merindukan sentuhan tangannya. Dirga fokus dengan semua pekerjaannya, sedikit membuatnya lebih tegar.


“Baiklah Fiy, setelah melepaskan kamu, aku hanya fokus dengan pekerjaan. Sibuk bekerja membuat aku lupa semuanya, dan ini baik untukku, aku kapok jatuh cinta,” gerutunya. Dirga kembali melanjutkan pekerjaannya.


Matahari terus meninggi, suasana semakin terik, tapi tidakdi ruangan ber-ac itu. Bajunya sudah kusut, rambutnya juga sudah tidak rapi lagi. Dirga terus berkutat dengan semua pekerjaannya. Begitu juga Sam, padahal dia ingin memberi semangat pada Dirga, tapi apa daya, tidak ada waktu untuk bicara santai saat ini.


Cahaya terang dari sang surya sudah berganti dengan cahaya terang dari listrik, semua Gedung-gedung dan lampu jalanan diterangi indahnya terangnya lampu-lampu. Akhirnya beberapa tugas penting selesai. Dirga mengangkat kedua tangannya ke udara. “Huuuh ….” Suara itu lepas dari mulutnya. Sangat lepas jika semua pekerjaan selesai. Dirga melirik Arloji-nya. Jam sudah menunjukkan jam 10 malam, menghela napas dalam dan menggeleng, rasanya jam 10 pagi baru saja berlalu, kini waktu sudah jam 10 malam saja. Dirga meraih hanphone dan kunci mobilnya, hari ini dia bekerja mengenakan kemeja biasa dan tidak membawa tas kerja. Dia memacu langkahnya meninggalkan ruang kerja dan langsung menuju tempat parkir. Tubuh dan hatinya penat dengan keadaan saat ini.


Sepanjang perjalanan pulang, Dirga di temani lagu menepi, entah kenapa dia sangat menyukai lagu itu. “Mencinta terkadang meng-ikhlaskan, meng-ikhlaskan kamu bahagia Fiy. Mudahnya aku mengucap.” Dirga menggerutu


sendiri. “Kamu hanya sebatas pendamping bagiku, tak apalah Fiy, tapi aku sudah bahagia bisa mencintaimu.” Menyemangati diri, berusaha untuk tegar.


Akhirnya perjalannya ber-akhir, kini mobil Dirga sudah terparkir di halaman rumahnya. Matanya memandangi keadaan rumah yang gelap gulita. “Ternyata … bukan Cuma hatiku yang gelap karena kepergian kamu, Fiy.


Tapi rumahku juga. Siapa kamu Fiy? Kenapa kamu menguasai hati dan pikiranku begitu mudah?” Dirga menghempas kasar napasnya. Segera turun dari mobil dan masuk kedalam rumahnya.


Keadaan rumah nampak rapi, padahal bi Masri sakit. Dirga memandang kearah kamar yang biasa di tempati Syafi, melangkahkan kaki mendekati pintu kamar itu. Perlahan tangannya memutar knop pintu. Pintu kamar terbuka, kamar yang sudah kosong tapi rapi. Dirga masuk kedalam kamar itu. Merebahkan dirinya di tempat tidur Syafi.


“Kamar ini lebih beruntung, dia ditinggal pemiliknya dalam keadaan rapi, sedang hatiku?” Dirga memeluk erat bantal yang ada di dekatnya. Rasanya Sayfi masih ada di rumah ini.


“Ya Tuhan … kenapa aku jatuh cinta? Kenapa cintaku sesakit ini?” Menenggelamkan wajahnya pada bantal yang dia peluk, aroma  parfume yang biasa Syafi pakai masih sangat jelas baunya.

__ADS_1


__ADS_2