Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 96


__ADS_3

Dirga masuk ke kamarnya, memeriksa lemari Syafi. Masih banyak baju-baju Syafi di sana. Tapi, surat-surat penting milik Syafi sudah tidak ada, buku nikah, ijazah, paspor, semua itu tidak ada lagi.


Dirga mengusap kasar wajahnya.


Sianida atau racun tikus mah gak sebanding, cukup dengan aku pergi dari kehidupan kak Dirga, maka itu lebih hebat dari racun manapun. Memang kak Dirga hidup, tapi batinnya, tersiksa.


Dada Dirga terasa begitu sesak mengingat ucapan Syafi tempo hari, kalau dirinya dimadu, maka akan pergi dari kehidupan Dirga.


Dirga terbayang akan kesedihan yang terpancar dari kedua bola mata Syafi, tapi wanita itu bungkam, dan menahan rasa sakit itu seorang diri. 


Argggghhh! 


Dirga membanting apa saja yang ada di depannya, mengutuki dirinya yang tidak pernah menyadari penyebab rasa sakit Syafi adalah dirinya sendiri.


Mencintaimu, adalah bagian terindah dihidupku, tak ku biarkan … kau tak bahagia ….


Nyanyian Syafi kembali terngiang di benaknya.


Kakak, tolong kakak cari Syafi sekarang, dia meminta aku agar aku membahagiakan kakak. 


Teringat ucapan Lala, semakin membuat Dirga tidak berdaya, Syafi benar-benar meninggalkannya. Dirga tersungkur di lantai kamarnya, hanya deraian air mata yang menemaninya.


"Fiy …." Pekiknya di sela tangisnya.


Merelakanmu aku merasa, bagai … bulan dikekang malam ….


Sepenggal lagu itu seakan terngiang kembali, lagu itu adalah salam perpisahan Syafi, wanita itu sudah memberi isyarat, kalau dia merelakan Dirga bersama Lala. Malam indah itu adalah hadiah perpisahan Syafi.


"Argggggghhh!"


Tangisan Dirga tidak mengeluarkan suara lagi.


"Kenapa aku bodoh akan cinta! Kenapa aku tidak pernah peka!"


Tlink!


Sebuah pesan masuk ke dalam handphone Dirga. Melihat nama Syafi tertera Dirga semangat. Dia mengusap air matanya dan segera membuka pesan yang masuk.


Sebuah video yang Syafi kirim padanya. Dirga segera membuka video tersebut.


...Ingin kusampaikan...


...Salam terakhir untukmu...


...Sebelum 'ku tutup cerita cinta ini...


Syafi tersenyum, tapi deraian air mata terus membasahi pipi mulusnya. Setiap tetes air mata Syafi yang Dirga lihat, lebih pedih dari tusukkan pedang yang menghunus jantungnya.


...Bila ku hanya kata...


...Denganmu bisa jadi kalimat...


...Menyusun semua perjalanan cinta kita...

__ADS_1


...Kamu biasa denganku...


...Kamu biasa ada aku...


...Namun hidup ini jangan berhenti hanya bila aku pergi...


Syafi menyudahi nyanyiannya. 


"Lanjutkan hidup kakak, semoga bahagia selalu kak."


"Inilah- Sorga Yang Ku-rindukan … memastikan kau baik-baik saja." Syafi tenggelam dalam tangisnya, dia tidak mampu meneruskan lagunya.


"Selamat kak, akhirnya kakak punya keluarga yang lengkap, bayi itu tampan, sayang tidak mirip kakak, andai mirip kaka, pasti dia lebih tampan lagi."


"Selama jadi istri kakak, maafkan aku, karena aku istri yang belum bisa buat kakak bahagia, dan terima kasih atas 3 tahun yang sangat indah ini."


"Maaf Nona, bisakan handphonenya dimatikan? Pesawat sebentar lagi berangkat."


"Maafin aku kak."


Video itu berakhir.


"Syafi--" Sangat berat rasanya menarik napas, menyadari kalau Syafi berada di pesawat.


Dengan tangan yang gemetaran, Dirga menelepon temannya yang bekerja di Bandara.


"Halo Dirga, lama sekali kamu tidak menghubungi aku." Sapaan di ujung telepon itu begitu ramah.


"Juber, bisa aku tau, pesawat menuju Banjarmasin, yang paling cepat jam berapa?"


Bibir Dirga bergetar, rasanya sulit mengucapkan kata-kata.


"Bi-bisa a-aku tau dad-daftar penumpang pesawat yang sudah berangkat." Susah payah Dirga mengucapkan kata-kata itu.


"Sebentar ya Dirga."


Dirga menunggu temannya memeriksa daftar penumpang yang ada di pesawat yang sudah berangkat.


"Demi kamu nih Dirga, padahal tidak boleh sembarangan aku kasih tau." Juber mulai membacakan nama-nama penumpang yang ada dalam pesawat itu.


"Lindia Triani, Alexa, Aurelia Syafitri--"


"Cukup, Jo, benar itu namanya Aurelia Syafitri?"


"Benar sekali. Mau ku ku fotokan?" Tawar Juber.


"Boleh." 


Dretttt! Sebuah pesan masuk ke dalam handphone Dirga, benar saja itu Syafi. "Terima kasih banyak Jo, ini saja, aku hanya memastikan."


"Sama-sama Dirga."


Dirga menyudahi panggilan teleponnya, Syafi benar-benar pergi dari rumahnya.

__ADS_1


Dirga masih tersungkur di lantai, menyesali kebodohannya, mengutuki dirinya, dan menangisi nasibnya.


Rasanya kehidupan ini seketika gelap, mentari yang senantiasa menyinari hidupnya, sekarang sudah tidak bersinar lagi.


Drettt! Drett! Drettt!


Handphone Dirga terus bergetar. Sangat malas menoleh benda itu, namun getarannya semakin membuat moodnya kian memburuk.


Terlihat nama Sam Tertera di layar handphone tesebut. Jemari Dirga rasanya tidak punya tenaga lagi untuk menggeser icon berwarna hijau, namun apa daya dia harus menerima panggilan itu.


"Iya Tuan." Suara Dirga sangat lemas.


"Cepat ke gedung T.A School, SEKARANG!" ucapan Sam sungguh penuh penekanan.


Kedua mata Dirga terpejam, kepalanya seakan pecah, perutnya seakan diobok-obok, sekarang dirinya diminta pergi, jangankan pergi, melangkah saja rasanya sangat tidak berdaya.


"Baik Tuan." Dirga menyudahi pembicaraan dia dengan Sam, berusaha bangkit mengumpulkan sisa senergi yang ada.


Melihat satu kelokan tangga, rasanya itu melihat satu gunung yang harus dia turuni, Dirga terus menyeret langkah kakinya menuruni anak tangga.


Sesampai di bawah, matanya malah melihat Adah membawa tas besar. "Mbak Adah mau kemana?"


"Saya tidak bisa bekerja di rumah ini, karena hanya ada Tuan di sini."


"Mbak Adah tetap di sini, seperti dulu, saya tidak akan pulang ke rumah ini, saya akan kembali ke Apartemen saya." Kedua mata Dirga sinarnya begitu redup. Seperti anak bayi yang tidak mampu lagi menahan rasa kantuknya.


"Dulu bi Masri juga bekerja hanya menjaga rumah saya, sekarang mbak Adah juga begitu, titip rumah bi." Dirga segera berjalan menuju mobilnya. Seperti permintaan Sam, dia mendatangi gedung T.A School.


Sesampai di gedung Sekolah, Dirga sudah tau dirinya harus ke mana, dia berjalan menuju ruangan milik Sam. Sesampai di sana, hanya ada sorot kemarahan dari mata setiap orang yang ada di sana


Dalam ruangan itu, ada Sam, Arnaff, Mayfa, dan Athan.


Ketika sepasang matanya menangkap sosok Dirga, Mayfa langsung berdiri dari posisi duduknya, dengan kemarahan yang masih menyala, dia terus mendekati Dirga.


Tidak berkata apa-apa, hanya sorot mata begitu tajam yang penuh kebencian tertuju pada Dirga.


Plakkkk!


Sebuah tamparan keras dari tangan mulus Mayfa mendarat telak di pipi Dirga. Setelah melayangkan ciuman cap 5 jari di wajah Dirga, Mayfa pergi begitu saja dari sana.


Sekarang Athan yang berada tepat di depannya. Tanpa permisi ….


Bought! Bougggghh!


Dua kali bogem mentah mendarat telak di rahang kiri dan kanan Dirga. Membuat laki-laki oleng dan terjatuh ke lantai.


Brukkkk!


Tendangan dari kaki Athan juga menerjang tubuh Dirga yang masih terkapar di lantai.


"Selama ini ingin gue lepas, tapi gue tahan demi Syafi!" Athan juga langsung pergi dari ruangan itu.


Dirga hanya diam, rasa sakit yang diterima tubuhnya, masih tidak sebanding dengan rasa sakit kehilangan Syafi.

__ADS_1


***


Hikss, aku jahara, maaf ya bang ...🤧


__ADS_2