
Syafi berusaha kuat, walau kedua kakinya serasa tidak berpijak di bumi lagi.
Suara bisa saja sama Fiy, ayo kuatkan dirimu.
Syafi berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Langkah kaki Syafi terus memasuki rumah wanita itu, hingga kedua bola mata Syafi bisa melihat jelas sosok yang duduk di sofa, laki-laki tampak asyik dengan laptopnya.
"Ayah ... aku memanggil petugas tv kabel, dari kemaren tv siarannya kurang bagus," ucap wanita itu.
"Hemm ...." hanya dehaman laki-laki itu saja yang terdengar.
Ayah?
Sekujur tubuh Syafi bergetar hebat saat menyadari wanita itu memanggil Dirga dengan panggilan 'Ayah.'
What? Ayah?
Mayfa begitu geram mendengar wanita itu memanggil Dirga dengan panggilan Ayah.
So Cool pula, asem banget ni orang!
Kedua tangan Mayfa mengepal, rasanya ingin sekali melayangkan bogeman mentah pada wajah Dirga yang bergaya sok dingin itu.
Gila! Beda banget Dirga yang selama ini ku kenal, seingat ku Dirga pribadi yang menyenangkan dan santai, tapi di sini, uwekkkk!
Rasanya isi perut Athan ingin keluar semua, melihat gaya Dirga yang dingin dan begitu cuek.
"Mbak, mas ... tv kabelnya di sini."
Suara wanita itu membuat Syafi, Athan, dan Mayfa tersadar dari geritik hati mereka.
"Iya, kami izin masuk." sela Athan.
Mayfa ikut merasakan bagimana sakitnya perasaan sahabatnya saat ini, dia berusaha membantu Syafi agar lebih kuat menerima kenyataan saat ini.
"Ayah ... aku ingin bikin minum buat petugas tv kabel, kalau Fattah bangun, tolong tenangin ya ...." pinta wanita itu.
"Iya." Perhatian Dirga sedikitpun tidak berubah, kedua mata itu hanya tertuju pada layar laptopnya. Dia juga tidak memerhatikan tiga orang yang memasuki kediamannya.
Sedang Syafi, menoleh kearah bok bayi, benar saja, ada seorang bayi mungil tengah menyelami alam mimpi di sana.
"May ...." jerit Syafi pelan. Syafi tidak bisa lagi menyembunyikan air matanya. Seketika air mata Syafi mengalir deras tidak bisa di tahan lagi.
Kedua tangan Athan mengepal, dirinya sangat sakit melihat Dirga berada di rumah ini dengan seroang wanita dan seorang bayi yang masih kecil. Tapi tugas mereka masuk ke dalam rumah ini untuk memeriksa saluran tv kabel. Bukan untuk menyerang laki-laki itu. Athan segera memeriksa tv kabel yang ada di rumah itu, sedang Mayfa pura pura mencatat sesuatu.
Mayfa menaruh buku catatan yang dia pegang di nakas yang ada di dekatnya, dia melingkarkan lengannya di bahu Syafi."Kamu kuat?" bisik Mayfa.
Syafi menganggukkan kepalanya, dia berusaha mengusap air mata yang tidak mau berhenti menetes.
"Bagaimana mas?" tanya wanita itu.
"Sepertinya ini serius, tenaga pemula seperti saya tidak bisa mengatasi, tapi tenang, saya panggil senior saya," ucap Athan. Athan meraih handphone-nya dan mengetik pesan di sana.
"Bayinya masih kecil, berapa bulan?" tanya Mayfa.
__ADS_1
"Baru 2 bulan," jawabnya.
Syafi sangat ingin tertawa, akhirnya Dirga bisa menimang bayi, tapi dari rahim wanita lain, dia ingin ikut bahagia, tapi rasa sakit juga menggerogoti hatinya.
Takdirku sangat indah, Tuhan ...
Akhirnya dia bisa sedikit tersenyum disela tangisnya. Tapi senyum dan tangisnya tidak dilihat oleh orang lain, karena wajahnya tertutup oleh masker, sedang bagian matanya tersamarkan oleh kacamata dan topi yang dia kenakan.
"Lepas aja masker dan kacamatanya mbak, mas. Silakan dinikmati seadanya." Wanita itu menyajikan minuman dan camilan.
"Maaf Nona, kami pemula memakai atribut lengkap di haruskan, dan tidak boleh dilepas saat bekerja." sela Athan.
Syafi masih tenggelam dalam kesedihannya.
Ternyata kamu sudah memiliki anak dari wanita lain kak. Kamu bilang--
Syafi merasa berat untuk menarik napasnya, penglihatannya juga kabur.
"Fiy!" jerit Mayfa, ketika melihat sahabatnya ambruk di lantai rumah itu.
Athan menyenggol lengan Mayfa, karena keceplosan memanggil nama Syafi.
Dirga yang sedari tadi hanya memerhatikan laptopnya, segera meninggalkan laptopnya dan berlari kearah petugas tv kabel yang pingsan.
"Angkat ke sofa mas," pinta Dirga pada rekan wanita yang pingsan itu.
"Ifi ...." jerit Mayfa.
"Buka maskernya, kasian dia kesulitan bernapas," sela wanita penghuni rumah itu.
"Tapi dia pingsan, masa kalian tetap mengutamakan protokol pekerjaan?" protes Dirga.
"Kami orang kecil Pak, kesalahan kecil bisa menjadi fatal untuk kehidupan kami, biar kami bawa ke mobil saja, di mobil kami bebas lepas masker," protes Mayfa.
Entah dari mana alasan konyol Athan dan Mayfa, Athan langsung menggendong Syafi dan membawanya menuju mobil.
"Maafkan atas kekacauan ini, hari ini hari terakhir teman saya bekerja, karena dia hamil," kilah Mayfa, dia segera berlari menyusul Athan.
5 menit setelah Athan menggendong Syafi keluar dari rumah itu, salah satu petugas tv kabel yang sebenarnya datang, dia langsung mengerjakan tugasnya. Sedang Athan dan Mayfa masih berusaha menyadarkan Syafi.
"Kamu pamit gih May, bilang aja mau anter rekan kita pulang," pinta Athan.
"Iya." Mayfa segera berlari kearah rumah tersebut, dia berpamitan pada Dirga dan wanitanya.
Sedang petugas tv kabel yang asli, yang benar-benar ahli, dia masih melakukan tugasnya di kediaman Dirga.
"Mas-nya nggak pakai masker, sedang tiga orang yang tadi tidak mau lepas masker, kenapa beda mas?" tanya Dirga.
"Wah ... saya mah pekerja lama, sedang mereka pekerja baru, saya tidak tau menahu dengan peraturan baru."
"Owh ...." Dirga kembali melanjutkan pekerjaannya.
*****
Dalam mobil Athan dan Mayfa melepaskan masker Syafi.
__ADS_1
"Kita bawa ke Rumah Sakit May," ucap Athan.
Mayfa hanya mengangguk, dia segera masuk menemani Syafi, sedang Athan segera menuju tempat kemudi. Perasaan Athan campur aduk, marah, sedih, kecewa, tapi saat ini kesehatan Syafi yang lebih utama. Athan berusaha tenang melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit terdekat di kota itu.
Sesampai di Rumah Sakit, Syafi ditangai oleh tenaga medis di sana. Selang infus pun sudah menancap di pergelangan tangannya.
"Saudari Syafi punya penyakit maag?" tanya seorang dokter.
"Iya dok, tidak berat, tapi kalau telat makan bisa sakit lama," sahut Mayfa.
"Sepertinya maag nya kambuh." Dokter itu terus memeriksa Syafi.
"Bagaimana teman kami dok?"
"Untuk saat ini tidak ada yang mengkhawatirkan, jika saudari Syafi sadar, dan dia merasa baikan, kalian boleh pulang," jawab sang dokter.
Setelah dokter itu pergi, Athan dan Mayfa masih setia menemani Syafi yang belum membuka matanya di ruang UGD tersebut. Beruntung keadaan UGD sepi, Mayfa dan Athan diberi izin menunggu Syafi di sana.
Athan menarik salah satu kursi yang ada di sana. Matanya menatap sendu kearah Syafi. Melihat Dirga dan Syafi, rasanya sangat mustahil kehadiran orang ketiga dipernikahan mereka. Tapi apa yang mereka lihat sebelumnya, mematahkan keyakinan itu.
"Bagaimana Syafi?" jerit Mayfa.
"Keputusan ada pada Syafi, sebagai teman, kita berusaha sekuatnya memberi dukungan padanya," sahut Athan.
20 menit berlalu, Athan dan Mayfa menikmati sepotong roti yang sebelumnya Athan beli untuk mengisi perut mereka yang kosong.
Sedang di tempat tidur UGD itu, seorang wanita mulai mengerjapkan matanya.
"Bee ...." rintihnya.
Mayfa dan Athan langsung melepaskan roti yang tengah mereka nikmati.
"Fiy, bagaimana perasaan lu?" tanya Mayfa.
"Alhamdulillah kamu sadar Fiy, ini kami," ucap Athan.
Syafi berusaha mengumpulkan sisa kesadarannya. Ternyata kejadian buruk sebelumnya memang nyata, Syafi berharap semua itu hanya mimpi. "Aku baik-baik aja." Syafi berusaha tersenyum.
"Yakin lu?" tanya Mayfa.
"Sorga itu memang aku rindukan, aku bisa apa? Selama ini aku sering meminta kak Dirga menikah lagi, tapi dia tolak."
Mayfa dan Athan saling pandang, dia tahu betul saat ini sahabat mereka sangat hancur.
"Aku bahagia May, akhirnya kak Dirga memiliki anak, walau bukan dari rahimku."
Athan bingung harus komentar apa. "Mau minum?" Athan menyodorkan sebotol air mineral. "Tapi gak manis sih, pan manisnya sudah sama kamu semua."
"Terima kasih May, Than, kalian sangat membantuku. Terima kasih banyak," ucap Syafi.
"Tapi--"
"Tidak ada tapi, apapun yang terjadi, aku berusaha bahagia."
Setelah dokter memeriksa keadaan Syafi, Syafi diizinkan untuk pulang. Athan dan Mayfa pun segera mengantar Syafi ke rumah Dirga.
__ADS_1