Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 16, Berarti Bagi Saya


__ADS_3

Rasanya Dirga ingin sekali membekukan waktu, agar keadaan berhenti di titik ini, tangan itu agar tetap selalu memegang tangannya. Syafi melepaskan tanagn mayfa dan tangan Dirga, sedang Dirga masih larut dalam khayalannya. Syafi dan Mayfa memandangi cicin yang ada dalam Etalase.


“Serasa mimpi, aku.” Pandangan mata Syafi fokus pada deretan cincin-cincin itu.


“Kak Dirga … minta bantuannya dong, cincin nikah itu bagusnya seperti apa?” ucap  Syafi. Tapi yang di panggil masih terhanyut dalam lamunannya.


“Kak ….” Masih tidak ada sahutan. “Kak ….” Syafi menyenggol lengan Dirga. Membuat yang punya diri tersadar.


Dirga melihat keadaan sekitar, ternyata mereka sudah berada di toko perhiasan. “Apa?” tanya Dirga.


“Aku tidak mengerti perhiasan kak, kak Dirga bisa bantu?” tanya Syafi.


Dirga mendekati penjualnya, dan mulai bertanya banyak hal, hingga pilihan Dirga jatuh pada sepasang cincin yang Nampak sederhana. “Bagaimana?” Dirga bertanya pada Syafi.


"Apa jer pian, inggih haja ulun ne."


[Apa kata kamu, aku setuju.]


"Apa?" Dirga tidak mengerti bahasa yang Syafi ucapkan.


“Apa saja, aku benar-benar tidak mengerti.” Syafi pasrah dengan apa yang Dirga pilih.


“Dicoba dulu silakan,” ucap penjaga toko.


“Syafi segera memasang cincinyang Dirga pilih di jari manisnya. “Pas!” Syafi memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya.


“Mas-nya, silahkan di coba,” usul penjaga toko.


Dirga segera mencoba cincin yang satunya, dan  pas di jari manisnya. Dirga hanya tersenyum sambil memperlihatkan cincin yang tersemat di jari manisnya pada penjaga toko. Tak bicara banyak hal, Dirga segera membayar cincin nikah untuk Syafi dan Arnaff. Cincin yang mereka beli langsung Dirga simpan, untuk diberikan pada Arnaff nanti.


“Ayo, kita belanja yang lain, waktu kita tidak banyak,” ajak Dirga.


Mereka bertiga menjelajahi Mall itu untuk membeli barang yang Syafi butuhkan untuk Hantaran nikah. Syafi tidak punya waktu, tinggal seminggu lagi acara akad nikah. DI dalam Mall waktu tidak terasa berlalu begitu saja, Mayfa melirik jam tangannya.


“Sebentar lagi ini magrib, kita magriban dulu, bagaimana?” tanya Mayfa.


 “Iya, ayo kita ke mushalla dulu” ajak Dirga.


Ketiganya berjalan bersama menuju mushalla, menunaikan kewajiban mereka. Tidak terasa, sinar matahari sudah tidak ada lagi, kini langit gelap dihiasi kemerlap bintang diatas sana. Sedang di depan mata suasana terang benderang karena lampu-lampu menyala terang.


“Kita makan dulu ya, aku lapar ….” Rengek Syafi.


“Iya, ayo kita cari tempat makan, lalu sambung belanja lagi,” jawab Dirga.

__ADS_1


Setelah berdebat bersama Mayfa ingin makan di mana, akhirnya tempat makan pilihan Dirga yang harus mereka setujui. Mereka bersama melangkah menuju tempat yang Dirga mau. Perut terisi tenaga pun full Kembali, saatnya menelusuri Mall untuk keperluan nikahan nanti.


Akhirya beberapa kebutuhan buat hantaran sudah di beli, berjalan ber iringan menuju tempat parkir, tangan Syafi dan tangan Mayfa di penuhi kantong belanjaan yang mereka tenteng.


"May, nginep di rumah bibi aku aja ya malam ini,” ajak  Syafi.


“Aku belum izin sama Ayah,” jawab Mayfa.


“Ayolah May … sebentar lagi aku akan meninggalkan tanah Kalimantan ini,” rengek Syafi.


“Bukan nggak mau, tapi beneran aku belum izin sama Ayah.” Mayfa berharap temannya ini mengerti.


“Lo nggak hidup di zaman batu, May … telepon sana Ayah kamu,” protes Syafi.


Mau tak mau, Mayfa mengalah, dia mengetik pesan di ponselnya, setelah membuka notif yang baru, senyuman terukir di wajah Mayfa. “Ayok pulang, Ayah izinin kalau menginap di rumah kamu,” seru Mayfa.


Entah kelelahan atau kehabisan bahan untuk debat, atau merasa canggung, selama perjalan ketiganya kompak diam. Hingga mobil Mayfa sampai di kediaman Ardhin. Melihat sebuah mobil memasuki halaman rumahnya, Ardhin tersenyum.


“Bagaimana?” Ardhin menyambut mereka dengan pertanyaan.


“Assalamu’alaikum, Abah,” sela Syafi.


Ardhin tersenyum, bukannya menyambut dengan salam, dia malah menyambut dengan pertanyaan. “Wa’alaikum salam,” jawab Ardhin.


“Alhamdulillah, Paman. Semuanya sudah,” jawab Dirga.


Terlihat Syafi dan Mayfa membawa banyak barang belanjaan, rasanya Syafi ingin sekali masuk kedalam rumah, entah kenapa rasanya sangat lelah. Setelah menyimpan barang-barang belajaan Syafi segera mengajak Mayfa untuk ke kamarnya. Setelah menunaikan kewajiban yang empat rakaat, keduanya berbaring di tempat tidur.


“Fiy, coba deh kurangin lebay, somplak dan gesreknya kamu, aku gak bisa minta berhenti. Tapi kurangin dulu, kamu tidak kenal sama calon suami kamu,” pinta Mayfa.


“Aku juga pengen ngurangin, May. Tapi semua itu meluncur begitu saja,” keluh Syafi.


“Belajar tahan diri, masa nanti pas bersanding kamu gelo kayak biasa, kasian laki lo, pasti malu dia sama tamu khusus nanti.”


“Entahlah aku bisa atau tidak.”


Kedua gadis manis itu uterus berbicara banyak hal, kadang suara gelak tawa keduanya terdengar sampai ruang tamu yang ada di rumah Ardhin. Membuat wajah pemuda yang sedang duduk santai dengan Ardhin, dihiasi senyuman.


“Tante Leti gak salah pilih ini, secara Arnaff pribadi yang pendiam, kehadiran Syafi dalam hidup Arnaaf pasti akan membuat Arnaff bisa lebih santai untuk menikmati hidup,” ucap Dirga.


“Semoga, nak.” Ardhin mengehela napas begitu dalam.


“Apalagi, Paman?”

__ADS_1


“Besok sidang keputusan untuk pemerkosa itu, semoga saja Rinda mendapat keadilan.”


“Rinda?” Dirga merasa asing dengan nama itu.


“Rinda, keponakan bibi Kamal yang mendapat pelecehan itu.”


“Semoga saja paman. Saya sudah meminta bantuan teman saya , untuk membantu kasus ini.”


“Terima kasih, Nak.”


“Pertama melihat Aul, saya tidak bisa berhenti tersenyum. Luar biasa keceriaan dia.”


“Tapi, paman pusing nak, sekarang lumayan dia nggak gangguin lagi pemuda atau laki-laki yang ada di sekitar dia, kalau biasanya ….” Ardhin menggeleng mengingat bagaimana Syafi merayu tetangganya. Walau dia tahu itu hanya candaan Syafi, tapi hal itu menakutkan baginya.


“Biarkan dia jadi dirinya sendiri Paman.”


“Iya ….”


Keduanya terdiam, hanya helaan napas keduanya yang terdengar. Malam sunyi hanya suara jangkrik yang bernyanyi bersahutan.


“Dirga, paman mau cerita.”


“silahkan, Paman.”


“Aul itu yatim piatu, kedua orang tuanya sudah tiada. Sebab itu nanti Aul harus menikah dengan wali hakim. Karena dari keluarga Ayahnya Aul sudah tidak ada lagi."


"Aku kira paman yang akan menikahkan."


"Paman saudaranya ibu Aul, paman tidak bisa, nanti wali hakim dari pihak KUA yang akan menikahkan."


"Apa saja Paman, yang penting sah di mata hukum Agama dan Negara."


"Aul itu dari kecil dia di rawat neneknya, ibu Paman. Aul memang seperti itu sejak kecil, ceria. Yaaa begitulah. Bahkan tetangga rumah ibu sering marah-marah karena nyanyian Aul.” Terlihat di wajah tua itu senyuman yang begitu manis, teringat akan masa kecil Aul.


“Karena kebutuhan Ekonomi, Paman  merantau, bekerja apa saja, hingga paman bekerja di keluarga Ozage, lalu bertemu dengan bibimu di sana, kami menikah. Menghabiskan banyak waktu di sana. Sesekali kami pulang saat dapat jatah libur, ternyata Bibi Kamal juga jatuh cinta dengan sosok Aul.”


“Paman sangat sayang pada Aul, pantas saja waktu itu paman langsung pulang saat mendengar kabar kalau orang tua Paman, meninggal. Paman pasti memikirkan Aul.”


Ardhin menceritakan bagaimana masa kecil Aul yang berjuang bersama neneknya. Walau ada biaya hidup darinya yang dia kirim setiap bulannya. “Benar sekali, paman hanya memikirkan Aul. Aul sangat berarti bagi Paman.”


“Dia juga sangat berarti bagi saya.”


“Apa?”

__ADS_1


Dirga tidak karuan Rasa, karena tidak sadar mengucapkan kata-kata barusan. “Apa yang berarti bagi Paman, hal itu juga sangat berarti bagi saya, karena saya sangat sayang pada Paman.” Dirga berusaha melindungi diri.


__ADS_2