
Flash back.
Acara Reuni belum dimulai, tapi para peserta Reuni yang datang lebih awal sangat heboh ikut bernyanyi dan bergoyang dengan Syafi.
Lets have fun together …
Lets have fun together …
Lets have fun together …
Keadaan meriah itu seketika berubah menjadi ketegangan saat Syafi jatuh pingsan. Beberapa temannya langsung membawa Syafi ke klinik kesehatan terdekat.
"Terima kasih banyak ya semua, atas bantuannya, untuk menjaga Syafi, biar aku saja sama Dinda," ucap Jana.
"Nggak apa-apa nih?" Teman yang lain memastikan.
"Kalau reuni kita gagal hanya karena Syafi pingsan, pasti di sangat merasa bersalah, kalau dia kembali siuman dan baik-baik aja, nanti kami akan kembali," ucap Dinda.
Di klinik kesehatan itu sekarang hanya ada Dinda dan Jana yang menemani Syafi.
Perlahan kedua mata Syafi terbuka.
"Aku di mana?" Syafi berusaha mengenali tempatnya berada saat ini.
"Klinik kesehatan, tadi kamu pingsan," terang Jana.
Dokter mulai menanyakan beberapa hal pada Syafi, namun wanita itu malah menyisir pandangannya.
"Kamu cari siapa Fiy?" tanya Dinda.
"Kalian bisa pastiin gak ada orang yang ikutin kita di luar? Soalnya dari tadi pagi, ada 3 atau 2 orang yang ngintilin aku."
Dinda berpura-pura menelepon, benar saja ada 2 orang yang berada di cafe sebelumnya malah ada di klinik ini mengikuti mereka.
Dinda terus berpura-pura seakan dirinya berbicara di telepon dengan orang lain.
"Iya, Syafi baik-baik aja, hanya stres saja, karena dia itu mabuk perjalanan, nah belum naik mobil dia sudah terbayang mabuk duluan."
Selesai dengan dramanya, Dinda kembali ke dalam ruangan.
"Benar kata kamu Fiy, ada orang yang di cafe ngikutin kita sampai sini."
"Biarin aja, yang penting apa kata dokter jangan sampai mereka tau."
Syafi kembali di periksa oleh dokter, dia menjawab semua pertanyaan dokter.
"Tanggal terakhir haid?" tanya dokter.
"Sepertinya tanggal 25 bulan lalu." Bagi Syafi terlambat haid biasa, siklus bulanannya kadang teratur kadang tidak, jadi dia tidak pernah berpikir lebih jauh.
"Untuk memastikan keadaan ibu, bagaimana kalau kita cek USG saja?"
Syafi menyetujui, hingga dirinya di periksa oleh dokter kandungan yang bekerja di klinik itu.
"Seperti perkiraan dokter Santhi benar, karena ada yang tengah tumbuh di dalam sana, sepertinya kembar, ada dua detak jantung di sana, dan kalau dihitung dari siklus terakhir Anda haid, janinnya diperkirakan berusia 2 minggu."
Dugggg!
Jantung Syafi seakan berhenti mengetahui kabar ini. Hal yang sangat dia impikan 3 tahun ini.
Air mata menetes dari pelupuk mata Syafi.
Aku berusaha merelakan kamu bahagia dengan istri barumu kak, aku ingin pergi darimu, ternyata kamu tidak bisa pergi dari mata, pikiran dan hatiku, dalam rahimku anak yang kita dambakan juga hadir.
Syafi berusaha menguatkan dirinya.
Mungkin ini hadiah dari Allah, aku bisa melepaskan makhluk yang paling aku cinta, bahkan rasa cintaku terlalu besar padamu kak Dirga.
Kamu bahagia dengan keluarga kecilmu, aku juga akan bahagia dengan anak kita, hanya kami--
Syafi teringat perkataan dokter sebelummya.
__ADS_1
Dua detak jantung?
Ralat, kami bertiga akan berjuang untuk kami, dan kami akan berusaha untuk bahagia walau tanpa kakak.
"Selamat Syafi, akhirnya …." Dua teman Syafi langsung memeluknya.
Apa yang ku rasa saat ini? Aku sangat sakit, tapi Tuhan memberiku kebahagiaan lain setelah rasa sakit ini.
Selesai pemeriksaan Syafi, ketiganya segera bersiap pergi.
"Kita balik ke cafe?" tanya Dinda.
"Kalian saja, aku mau jalan-jalan dulu, aku mau berbagi kebahagiaan dengan keluargaku di desa."
Kedua teman Syafi berat menyetujui kemau-an Syafi, tapi mereka juga tidak bisa melarang Syafi.
Syafi menutupi dukanya, bukan membohongi temannya, tekadnya derita ini cukup dia saja yang tahu.
"Ingat ya, keluarin nomer telepon suami aku, dan masukin nomor lama aku ke group." Ucap Syafi.
Saat taksi online dua teman Syafi datang, mereka pun berpisah. Sedang Syafi memilih naik ojek online menuju Siring Banjarmasin untuk menenangkan perasaannya saat ini.
Syafi merasa ada yang mengikutinya, namun berusaha santai dan berupaya bersangka baik, namun saat sampai di siring, sangat terasa beberapa orang itu memang mengikutinya.
Syafi dilema, dia memikirkan nasib Lala dan bayinya, dirinya tanpa anak saja Dirga terlalu mengutamakan dirinya, bagaimana kalau Dirga tau kalau dirinya saat ini mengandung buah cinta mereka.
"Aku nggak mau kakak tidak adil pada istri kedua kakak hanya demi aku." Syafi melepaskan tasnya di sisi sungai, dia berdiri di tepi sungai sambil melakukan panggilan video dengan Dirga.
Lebih baik aku mati kak, daripada ada wanita lain yang tersiksa.
Byurrr!
Syafi menerjunkan dirinya ke arus Sungai. Namun hanya beberapa detik, sudah ada yang menceburkan diri untuk menolong Syafi.
Astaghfirullah, apa yang aku lakukan? Aku makin gila ini!
Memaki dirinya sendiri karena bertindak bodoh.
Syafi berusaha menegarkan dirinya, dia berterima kasih kepada orang-orang yang menolong dirinya.
Setelah dirinya merasa lebih baik, Syafi mencari angkutan umum untuk kembali ke desanya. Kehidupan Syafi di desa pun di mulai.
Syafi menceritakan kehamilannya pada bibinya, dia meminta bibinya merahasiakan semua ini dari warga. Bibinya pun setuju.
Hari demi hari Syafi lewati sangat lancar, walau harus melakukan kebohongan demi membahagiakan bibinya.
Kedatangan Romi ke desanya membuat harinya berubah.
Syafi mendengari cerita Romi, namun pikiran kotornya mengira ini hanya drama.
"Maaf, aku tidak bisa memaafkan kebohongan Dirga, sebaiknya kamu pulang saja."
Romi pun pergi.
Setelah Romi pergi, Syafi merenung, dia tidak bisa memaafkan kebohongan Dirga, tapi dirinya sendiri berbohong pada bibinya.
Syafi segera masuk ke dalam rumah, dia seger menyimpan beberapa kertas yang dia terima dari Romi.
Plakkk!
Sebuah kartu nama terjatuh, jelas tertera nomor telepon dan nama Romi di sana.
Syafi memungutnya dan segera menghubungi Romi.
"Aku ikut pulang, namun dengan beberapa Syarat."
"Demi kebahagiaan sahabatku, aku setuju, temui aku di warung makan yang ada di hotel." Romi menyebutkan nama hotel tempat dia menginap.
Syafi segera memasukkan pakaiannya ke dalam tas, bersiap untuk kembali pada Dirga.
"Tuhan memberi telinga untuk mendengar, memberi mata untuk melihat, memberi otak untuk berpikir. Tapi aku tidak menggunakan semua itu untuk rumah tanggaku sendiri, maafkan aku kak Dirga, karena kebodohan, kebutaan, dan ketulianku, kita sama-sama tersiksa."
__ADS_1
"Jawab jujur sama bibi, Dirga kemana?"
Pertanyaan bibinya membuat Syafi kaget, dia menghentikan kegiatannya.
Syafi mulai menceritakan apa yang terjadi dan kenapa dia memilih pulang.
"Maafkan Dirga, dia menikah bukan untuk menyakitimu."
"Maaf bi, aku tidak bisa." Syafi menutup resleting tasnya, dan segera melangkahkan kakinya meninggalkan rumah penuh sejarah itu.
Beberapa langkah lagi Syafi sampai ke depan pintu, namun dia menghentikan langkah kakinya, dan melepaskan tasnya, dia memutar arah tubuhnya kearah bibi.
"Aku tidak bisa memaafkan dia bi, tapi aku yang akan datang padanya dan minta maaf padanya." Air mata membasahi pipi Syafi.
Syafi kembali mendekati bibinya.
"Maafkan aku, bukan maksudku pulang saat terluka dan pergi saat bahagia."
Bibinya memeluk Syafi. "Itu tidak benar, pulang lah kapan pun kamu mau, dan bagaimanapun perasaanmu." Bibi menepuk lembut pundak Syafi.
"Terima kasih bi atas waktu hampir 1 bulan ini."
"Bibi juga senang, walau sedih karena bibi tidak bisa melihat si kembar secara langsung." Bibi melepaskan pelukannya. "Beruntung kamu tidak mengalami morning sickness, jadi warga desa tidak mengetahui."
"Kak Syafi …."
Suara itu mengejutkan Syafi dan bibinya. Saat bersamaan tampak sosok gadis cantik yang bernama Vita.
"Ada tas, kak Syafi mau pergi?" Tanya Vita
"Iya, aku mau ke desa kakekku." Kilah Syafi.
"Owh, ya sudah aku pulang dulu." Vita langsung pergi dari sana.
"Pasti mau laporan sama Dirga," gerutu Bibi.
"Maksudnya?" Syafi tidak mengerti.
"Dirga membayar Vita untuk jadi cctv buatnya, setiap Vita video call dengan pacarnya, saat itu Dirga bisa melihat kamu, sedang apa kamu," terang bibi.
Syafi terharu, dia tidak menyangka Dirga tidak bisa berpisah dengannya. Air mata kembali merembes.
"Laki-laki itu sangat mencintai kamu, kembali padanya sayang," bujuk bibi.
Syafi mengusap air matanya, dan mulai menceritakan rencananya.
"Apa 5 bulan lagi?" Bibi kaget dengan rencana Syafi.
"Hukuman buat dia."
"Setelah kak Dirga tau, baru bibi boleh cerita sama tetangga tentang kehamilan aku."
Bibi hanya menggelengkan kepalanya mendengar rencana Syafi.
Handphone Syafi berdering, membuat dia harus menjeda pembicaraannya dengan bibi. Terlihat nama Romi di sana.
"Iya Romi."
"Kalau kamu ingin kasih kejutan, kamu harus punya alasan lain, karena ada mata Dirga di desamu," ucap Romi.
"Iya aku tau, aku sudah persiapkan rencana."
Syafi menyudahi obrolannya dengan Romi, dan melanjutkan berbicara pada bibinya. Setelah berbicara panjang lebar dengan bibinya, Syafi pamit pada warga desa, tidak enak kalau hanya pamit ke desa kakek, karena sebenarnya dia akan pulang. Namun Syafi beralasan sebelum kembali dia mau ke desa kakeknya dulu.
Setelah dari desanya, Syafi menyusul Romi. Mereka bertemu di sebuah warung makan.
Syafi memesan makanan kesukaannya, pentol kuah, sedang Romi memilih bakso. Makanan sudah tersaji, namun keduanya belum juga menyentuh makanan mereka.
"Syarat apa yang kamu mau?" tanya Romi.
"Aku ikut pulang bersamamu, tapi aku tidak mau Dirga menyadari kedatanganku. Aku akan menampakkan diri saat resepsi pernikahan kamu nanti."
__ADS_1
"Kenapa harus selama itu? Kamu tidak rindu pada Dirga?" Romi protes.