Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 46 Blue


__ADS_3

Setelah memberikan kado dan bunga pada Syafi, Pak Yudis langsung kembali pada tugasnya. Syafi melihat jam tangannya, memperkirakan waktu. Masih pagi, jam dimulai pelajaran masih lama. Syafi lebih menoleh kearah kiri, di bawah pohon ada bangku panjang, tempat yang nyaman untuk bersantai. Syafi memacu langkah kakinya menuju tempat itu.


Suara kicauan burung-burung yang bertengger di pohon itu menjadi nyanyian pagi yang indah. Syafi duduk di bangku Panjang itu, perlahan tangannya membuka kado, ukuran kado ini lebih besar dari kemaren. Saat bungkus kado terbuka, isinya dia keluarkan, satu surat, satu boneka beruang kecil warna biru muda, terlihat lucu, sangat bagus di pakai buat gantungan kunci atau tas, satu Mp3 Player dengan earphone, dan dua toples transparan ukuran persegi panjang, isinya sandwich sosis.


“Aneh ….” Syafi meletakkan isi kado yang lain ke sampingnya. Dia segera membuka lipatan kertas itu.


Ku kira malam itu akan jadi malam yang paling kelam. Karena saat itu di pastikan aku tidak melihat wajahmu sebelum aku memejamkan mataku. Ternyata … Tuhan memberi keajaiban padaku. Malam itu kamu berdiri di depan mataku. Tidak hanya itu, aku dapat keberuntungan lain. Aku melihatmu bernyanyi secara langsung untuk kali kedua, kau tau? Lagu ini sangat tepat mewakili perasaanku saat ini. Silakan dengarkan lagu itu, lagu ini ... aku nyanyikan langsung untukmu.


Syafi menoleh kearah Mp3 player itu, dia segera mendengarkan Mp3 player itu. Lagu Menepi, di nyanyikan oleh seorang laki-laki. Syafi tidak pernah mendengar suara laki-laki ini, jelas ini bukan Athan, nyanyiannya tidak jelek, hanya tidak sebagus Athan. Lagu menepi sudah selesai, Syafi segera menyimpan Mp3 player dan boneka beruang kecil itu kedalam tasnya. Syafi memunguti kertas pembungkus kado, segera melangkah menuju tong sampah, saat kembali ke bangku, Syafi mendengar suara tangisan.


Syafi mengambil tas dan dua toples yang berisi Sandwich, dia segera melangkahkan kakinya mencari suara isak tangis itu berasal. Di bawah pohon, terlihat seorang anak didiknya yang sangat pendiam dan sering murung, tengah menangis. Syafi segera mendekati anak kecil itu.


“Hai Nadira sayang ….” Syafi menyapanya dengan nada yang lembut.


“Miss pasti juga disuruh tante jahat untuk hukum aku, ya?” Tatapan kesedihan bercampur takut, Nampak jelas dari pancaran mata indah yang terus mengeluarkan air mata. Hidungnya yang putih terlihat kemerahan, sangat sedih perasaan Syafi melihat anak kecil yang berada di depannya.


“Miss nggak punya teman orang jahat, orang jahat itu dipandang saja enggak enak, coba lihat miss. Miss ini manis dan cantik.” Bergaya sok imut, kedua ujung telujuk tangannya menempel di kedua sisi pipinya, tersenyum manis berharap anak kecil ini percaya.


Syafi berhenti berpose sok manis dan imut, anak itu terlihat bingung. Syafi melihat boneka beruang kecil bewarna pink, yang menjuntai di tas Sekolah gadis kecil itu. Syafi teringat akan boneka beruang mini yang dia dapat dari hadiah laki-laki misterius itu. Syafi segera mencari boneka itu kedalam tasnya.


“Nadira anak manis, apa anak usil?”


“Rara anak manis, miss ….”


“Hem … miss percaya, karena sahabat kita sama.” Syafi memperlihatkan boneka beruang mini miliknya.


“Sahabat miss namanya siapa?”


Syafi tersenyum, berusaha tetap santai dan terus membuat otaknya bekerja. “Sahabat Rara siapa namanya?”


“Pinky ….”


Syafi terus berpikir, bagaimana dia memberi nama boneka mini miliknya, apakah harus dinamai blue karena warna biru. Otak Syafi terlalu kotor kalau teringat kata blue. Blue hanyalah biru, tapi otaknya traveling jika ingat kata itu. Dari kejauhan dia melihat Athan turun dari motornya. Seketika ide muncul di kepalanya, namun idenya terhambat oleh minimnya pengetahuannya, upin dan ipin menyukai warna kuning dan biru, dia tidak tau tokoh mana yang menyukai warna biru.


“Miss ….”


Panggilan Nadira membuat Syafi tersadar dari lamunannya. “Iya sayang ….”


“Sahabat miss siapa namanya siapa?”

__ADS_1


“Owh, Namanya Pinn!” Syafi tersenyum menaruh boneka mini tepat di samping wajahnya.


“Pin?” Nadira bingung dengan nama itu.


“Pinn, dengan dua N.” Syafi duduk di samping Nadira, terlihat anak itu mulai  bisa diajak bicara.


“Kenapa namanya Pinn, Miss?”


“Karena warnanya biru, ingat tokoh Upin dan Ipin?”


“Tau ….” Nadira terlihat semangat.


“Nah, sahabat miss Namanya Pinn, Nadira mau kenalan?” Syafi memberikan boneka mininya pada Nadira.


“Boleh miss?”


“Tentu boleh, kan kita sama-sama cantik, manis, dan baik hati.”


Nadira langsung menerima boneka dari Syafi. “Terus si Upin mana miss?”


“Ha ha haaaa.” Syafi berusaha tertawa. Menutupi buntu idenya, melihat Mayfa berjalan kearahnya, Syafi langsung berdiri.


“Jangan somplak, ada anak Sultan di sini,” tegur Syafi.


“Maaf thayank ….”


Syafi menoleh kearah Nadira. “Nadira mau tau mana upp-nya, nah ini upp-nya miss.” Syafi melingkarkan lengannya di bahu Mayfa.


“Upin dan ipin itu laki-laki miss, kalau miss May perempuan, terus tidak memakai warna kuning,” protes Nadira.


Mayfa tidak mengerti obrolan dua orang di depannya ini, dia diam berusaha memahami keadaan.


“Iya kalau upin dan ipin yang ada di tv, mereka kembar dan mereka laki-laki. Nah kalau temannya miss, tidak kembar, namanya upp dan pinn. Kenapa Upp tidak memakai warna kuning? Karena baju kuning dia belum kering,” kilah Syafi.


Nadira terlihat menerima alasan yang Syafi berikan. “Jadi mau berteman dengan miss Aurel, Miss pinn dan Upp?” Syafi berjongkok di depan Nadira.


Nadira mengulurkan tangannya pada Syafi. “Teman ….”


Syafi tersenyum, dia meraih uluran tangan Nadira. “Teman!” Keduanya tersenyum. Nadira melakukan hal yang sama pada Mayfa. Mayfa pun tersenyum, walau masih tidak mengerti, dia sedikit faham dengan keadaan ini.

__ADS_1


“Nadira kenapa sedih?” Syafi mencoba untuk lebih dekat.


“Mahza, Aresya, dan Cordelia, mengambil bekal aku. Setiap hari mereka jahil sama aku, boneka kesayanganku juga mereka ambil. Ini, nenek baru belikan lagi.” Kesedihan kembali menyelimuti wajah Nadira.


“Nadira harus kuat, jangan nangis, nanti kita beri pelajaran sama anak yang nakal, okey?” bujuk Syafi.


“Tidak okey miss, karena mereka selalu memojokkan Nadira,” ucap gadis kecil itu.


“Kali ini okey, karena Nadira punya tiga teman baru, miss Aurel, miss upp dan Pinn!” ucap Syafi.


Nadira masih terlihat muram, Syafi berusaha membuat otaknya bekerja lebih keras lagi. Teringat akan sandwich yang dia dapat, Syafi segera melangkahkan kakinya mendekati Nadira, karena toples itu dia letakkan tidak jauh dari posisi Nadira.


“Nadira suka sosis?” tanya Syafi.


“Suka miss.” Nadira terlihat bersemangat lagi.


“Karena Nadira anak manis, miss kasih buat Nadira, satu.” Syafi memberika satu wadah Sandwich pada Nadira.


“Terima kasih miss.” Anak itu menerima pemberian Syafi begitu semangat.


“Ya sudah, sana Nadira ke kelas duluan bareng pinky dan Pinn,” ucap Syafi.


“Siap miss, terima kasih miss ….” Nadira salim pada Mayfa. Nadira langsung berjalan menuju kelas, suasana hatinya lebih baik saat ini.


Syafi dan Mayfa terus memandangi punggung Nadira yang terus menjauh dari pandangan mata. “Susah banget deketin itu anak. Apalagi saat guru sebelumnya yang mengajar di kelas itu, Nadira sering dapat hukuman, entah apa kesalahan anak itu.” Pandangan mata Mayfa masih tertuju kearah Nadira.


“Nadira manis, ada yang terjadi pada anak itu, makanya aku berusaha mendekati dia May ….”


“Bagus, yang dideketin anaknya, tapi yang ihklas, inget lu punya laki, jangan ada niat terselubung baikin anaknya, soalnya ku dengar papinya duda,” ledek Mayfa.


“Kedalam yuk, aku serem di mari.” Syafi malas meladeni ke-isengan Mayfa.


“Di sini ada penunggunya Fiy?” Mayfa memandangi pohon besar yang ada di dekatnya.


“Iya ada.” Syafi meraih tas dan wadah sandwich. “Tapi bukan penunggunya yang aku takutin, tapi produksi limbah yang keluar dari penunggu pohon ini yang bikin aku takut.


“Maksud lo?”


“E’e burung ….” Syafi mempercepat langkah kakinya meninggalkan Mayfa.

__ADS_1


Melihat beberapa bercak putih yang ada di sekitarnya, membuat Mayfa bergidik, dia segera mengejar Syafi.


__ADS_2