Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 60 Kakak Menang


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Dirga sangat bahagia. Aul menyandarkan kepalanya di pundak Dirga, mobil sengaja Dirga lajukan secara perlahan. Agar membutuhkan waktu lama untuk sampai perjalanan.


“Kau hanya tersenyum … aku terpikat. Kau hanya berkedip, aku terpesona, saat kau bicara, aku tak mampu mendengar … suaramu ….” Dirga bernyanyi mengikuti lagu ‘Magic’ yang dia setel dari musik yang ada di mobilnya. Dirga menengok kearah spion yang ada di depannya yang sengaja dia arahkan kearah Syafi, agar sepanjang perjalanan bisa memandangi wajah itu.


Terlihat senyuman menghiasi wajah wanita pujaan hatinya itu, membuat bibir Dirga juga mengukir senyuman. “Kamu adalah keajaiban yang ada di dunia ini, yang Tuhan berikan padaku,” ucap Dirga.


“Kakak menang, aku tidak bisa membalas.”


“Hidupku sungguh indah, aku memohon pada Tuhan, agar DIA memberiku wanita seperti Syafi. Tapi DIA memberiku sosok Syafi yang meluluhkan hatiku.” Dirga meraih tangan Syafi dan mencium jemari wanita itu. “Sangat banyak keajaiban dan nikmat yang Tuhan beri padaku. Aku sangat takut kalau tidak bisa mensyukuri semua itu.”


Syafi menegakkan badannya, berhenti bersandar di bahu Dirga. “Kakak … sudah ….”


“Apanya yang sudah? Sudahi mencintaimu dan memujamu, itu tidak bisa, rasanya namamu selalu ada dalam setiap hembusan napasku.”


“Uwuuu, suamiku pandai ngebucin … rabah waluh!”


“Apaan rabah waluh?”


“Nggak apa-apa, istilahnya adik pengen guling-guling dengar rayuan kakak.”


Tidak terasa, akhirnya mobil Dirga sampai ditempat tujuan. Dirga segera memarkirkan mobilnya. Keduanya turun bersamaan saat mobil terparkir sempurna.


“Kamu ini nggak nunggu kakak bukain pintu mobil dulu, main turun aja.” Dirga protes, dia juga ingin Romantis seperti di film-film, membukakan pintu mobil untuk kekasihnya.


“Ah, pintu mobil doang, aku bisa sendiri. Yang aku tidak bisa itu membuka pintu hati kakak, agar hanya terbuka untukku.”


“Apanya yang perlu dibuka? Kamu sudah lama bertahta di dalam sana.” Dirga memberikan lengannya pada Syafi, agar wanita itu menggandengnya. Dengan senang hati Syafi menyilangkan tangannya di pergelangan Dirga. Keduanya berjalan bersama menuju tempat hiburan.


“Gue mau bilang bau mayang, tapi sayang mayangnya kan sudah busuk, secara kalian dah lama nikahnya.” Ucapan yang terdengar sontak membuat Syafi dan Dirga menoleh kearah suara itu berasal.


“May—” Syafi sengaja menghentikan ucapannya. “Maaf, aku sekarang istri solehah, jadi harus lembut dan kalem.”


“Kok gua rasanya pengen muntah,” balas Mayfa.


“Mayfa, teman somplakku, apa kabar thayank ….” Dengan suara lembutnya, bukan teriakan cempreng yang seperti biasanya.


“Nggak cocok kamu sok lembut gitu,” ledek Mayfa.

__ADS_1


“Hei, sudah … ayo kita nikmati pertunjukan sore ini.” Dirga langsung menyudahi pembicaraan Syafi dan Mayfa.


Mereka bertiga melangkah menuju stand yang menjual minuman dingin kesukaan Syafi dan Mayfa. Sesampai di  sana ketiganya langsung memesan minuman yang mereka inginkan. Mendapatkan pesanan mereka, ketiganya segera menuju kursi yang tersedia untuk menikmati minuman mereka. Sepasang mata milik penjual ice Coffe itu terlihat berkaca-kaca saat melihat laki-laki yang berjasa dalam hidupnya berhasil memperjuangkan cintanya. Wanita yang di cintai laki-laki itu terlihat nyaman duduk di samping sang pencinta itu. Dia mendekati laki-laki itu.


“Kak Dirga.” Bibirnya menyunggingkan senyuman, tapi air mata membasahi pipinya.


“Velo, mengapa kau menangis?” Dirga heran melihat sahabatnya menangis.


“Aku bahagia, akhirnya kakak bisa bersama kakak ipar,” ucap Velo. Velo menoleh kearah Syafi. “Hai kakak ipar, salam kenal.”


“Salam kenal juga.” Syafi hanya memberikan senyuman termanisnya.


“Hei jangan memandanginya terlalu lama, nanti kau juga jatuh cinta padanya,” tegur Dirga.


“Semua orang! Hari ini minuman ice coffe gratis! Untuk merayakan kebahagiaan kakakku, juga hari terakhir kami membuka stand di sini!” teriak Velo.


“Gratis? Kalau gitu aku mau lima!” teriak Mayfa.


“May ….” Tegur Syafi.


“Sesuatu yang gratis itu enak Fiy, sudah nikmati kebahagiaanmu, aku juga ingin menikmati kebahagiaanku bertemu dengan yang gratis!” Mayfa dengan semangat kembali melangkah menuju stand. Mayfa berbaris paling depan, dia mendapatkan 5 cup ice coffe. Mendapatkan apa yang dia inginkan, dia segera pergi dari kerumunan itu.


Athan mengetik pesan di handphonenya.


Fiy, kamu dan Dirga?


Tidak lama wanita itu memandangi layar ponselnya. Handphone Athan pun berdering, satu pesan Athan terima.


Kami meng-akhiri hubungan kami yang sebatas pendamping, dan memulai hubungan yang sesungguhnya.


Ada rasa nyeri dalam diri Athan, tapi dia juga bahagia melihat Syafi bahagia. Athan langsung menyimpan handphonenya dan mulai memaikan gitarnya.


🎶 Terus melangkah melupakanmu .... 🎶


Lagu menghapus jejakmu dari Ariel Noah, Athan nyanyikan. Keadaan semakin heboh karena para fans Athan ikut bernyanyi bersama idola mereka.


Selesai dengan beberapa buah lagu, Athan segera turun dari panggung, dia menghampiri Syafi, Mayfa, dan Dirga.

__ADS_1


“Aku sudah berjanji padamu, saat kau mencintai Dirga, maka aku akan mundur. Sekarang aku melihat langsung, bagaimana rasa cintamu yang begitu besar tertuju pada Dirga,” ucap Athan. Athan menoleh kearah Dirga. “Jaga wanita istimewa ini, kau beruntung bisa bersamanya.” Athan mengulurkan tangannya pada Dirga. Dirga pun menyambut uluran tangan Athan, keduanya berjabat tangan.


Athan memberi kode kearah panggung, musik pun kembali berdentum.


🎶🎶🎶


Ibu-ibu bapak-bapak siapa yang punya anak bilang aku, aku yang tengah malu, sama teman-temanku, karena cuma diriku yang tak laku-laku ….


🎶🎶🎶


Athan terus bernyanyi lagu 'Cari Jodoh' dari Group band Wali.


Keadaan semakin ceria dengan polah dan tingkah Athan. Mayfa, Syafi, dan Dirga juga menikmati lagu yang di nyanyikan Athan . Ketiganya masih fokus kearah Athan yang terus berlari kearah panggung.


"Tuh anak masih waras 'kan?" Mayfa memastikan.


"Sepertinya dia masih normal, May." jawab Syafi. "Athan jadi orang normal wajar, yang bahaya jadi orang normal itu kamu, May. Kamu kalau nggak somplak, keadaan seketika terasa horor," ledek Syafi.


"Hilih, yang horor itu saat lu jadi pendiem!" Mayfa menoleh kearab panggung. “Tuh anak baru patah sayap, tapi lihat dia bahagia banget.”


“Salah satu cara mencintai adalah, ikut bahagia saat melihat orang yang kita cinta bahagia,” sela Dirga.


“Hemz … yaa yayayaaa.” Mayfa kembali menyedot minumannya.


Sore yang indah berlalu begitu saja, dengan kebahagiaan masing-masing. Merasa hari semakin senja, Dirga mengajak Syafi dan Mayfa untuk meninggalkan tempat itu.


“May, nggak usah order ojek, sekalian aja kami antar kamu pulang,” tawar Dirga.


Mayfa ingin menolak, saat melihat raut wajah Syafi, Mayfa batal mengutarakan penolakannya. “Baiklah … kapan lagi gua jadi obat nyamuk.” Mayfa segera mengikuti langkah kaki Dirga dan Syafi.


Syafi duduk di kursi belakang di samping Mayfa.


Dirga tidak terima, dirinya sendirian di depan. “Aul ku, kok kakak rasanya jadi supir, kalau duduk di depan sendirian?” protes Dirga.


“Kakak, sesekali jadi supir wanita cantik, 'kan kakak sudah jadi supir di hati aku, hati aku itu kakak yang mengendalikan.” Syafi mengedipkan sebelah matanya.


“Ya … aku manis, aku ngalah.” Dirga segera menutup pintu mobil, dan perlahan melajukan meninggalkan area itu, tujuan awal mengantar Mayfa ke kost yang Mayfa tinggali.

__ADS_1


***


Update nya buru-buru, mohon maaf kalau typo masih bertebaran🙏


__ADS_2