
Kedua sahabat itu masih berpelukan.
"Lu serius akan pulang?" tanya Mayfa.
Syafi melepaskan pelukan sahabatnya, kedua bola matanya memandang wajah sahabatnya. "Lihat keadaan."
"Maksud lu?"
"Aku akan memberi kesempatan buat kak Dirga, apakah dia akan terbuka? Apakah dia akan menutupinya selamanya."
"Kalau Dirga menutupinya selamanya dari elu, bagaimana?"
"Kalau aku merasa kak Dirga perjuangin aku, aku akan setia di sampingnya, kalau kak Dirga memilih wanita itu, aku akan mundur perlahan."
"Kalau wanita itu yang penting bagi kak Dirga, aku akan pulang, buat apa aku di sini kalau hanya jadi benalu dalam kehidupan kak Dirga."
"Bagaimana mencari tau elu atau bini keduanya yang penting bagi kak Dirga?" tanya Mayfa.
"Biar waktu yang jawab May."
"Tapi otak kotor gua bilang, itu anak bukan anak Dirga."
"Nggak ada yang nggak mungkin May, hasil pemeriksaan yang dulu kami lakukan, kak Dirga maupun aku tidak ada masalah dengan kesuburan kami, kata dokter hanya belum rezeki saja, ikhtiar dan berdo'a, kami hanya dikasih vitamin, tapi keinginan kami belum dikabulkan Allah."
"Kita makan yuk, gua lapar. Nanti maag lu kumat lagi kalau belum sarapan."
"Yuk sarapan bareng, hatiku emang gak kuat, tapi fisikku harus kuat."
"Lu mau apa? Biar om Deliv kabulin." Mayfa mengetik pesan di layar handphonenya.
"Nggak usah, aku sudah bawa makanan dari rumah, kita bisa makan sama-sama." Syafi mengeluarkan kotak bekal yang dia bawa.
"Cukup buat berdua?" Mayfa nampak ragu.
"Cukuplah. Aku bawa porsi double."
"Masalahnya saat ini porsi makan elu gede, kelihatan kalau lu mau makan orang," ledek Mayfa.
"Hilih ...."
Mereka sarapan berdua, selesai mengisi perut, mereka segera bersiap menuju sekolahan tempat keduanya mengajar.
***
Di Gedung TAG.
Jam menunjukkan pukul 08:15. Seorang laki-laki yang paling berkuasa terus melangkahkan kakinya menuju lift khusus untuknya dan pegawai yang dekat dengannya. Mengacuhkan setiap pandangan mata yang melirik kearahnya. Dia adalah Sam, pemilik utama perusahaan TAG.
Seorang wanita bertubuh chuby mengejar berlari cepat mengejar atasannya itu. "Selamat pagi Tuan." Sapanya, dia berusaha mengatur napasnya yang mulai ngos-ngossan.
"Selamat pagi bu Miya."
Miya Ardelia adalah sekretaris Sam, yang hanya bertugas di kantor Sam.
"Tugas kemaren sudah saya selesaikan, apa Tuan mau mengeceknya setelah di ruangan Tuan nanti?"
"Siapkan saja bu."
"Baik Tuan." Miya segera undur diri, dia mencari lift yang lain, harapannya bisa sampai lebih dulu ke lantai atas sebelum atasannya sampai.
Wanita yang berumur 40 tahun itu terus berlari, beruntung ada lift umum yang langsung terbuka saat dirinya sampai.
"Sibuk banget bu Miya." sapa salah satu petugas kebersihan yang berada satu lift bersama Miya.
"Iya, akhir-akhir ini banyak pekerjaan. Makanya saya juga keteteran."
"Owh ... pantesan pagi-pagi Tuan Dirga sudah ngantor."
"Memang jam berapa Tuan Dirga masuk kantor?" Miya terkejut mendengar hal itu.
__ADS_1
"Kurang dari jam 7."
"Owh ...."
"Pamit bu, saya mau lanjut bersih-bersih di lantai ini." Petugas kebersihan itu keluar dari lift, sedang Miya meneruskan tujuannya.
Sesampai di lantai atas, seperti dugaan Miya, Sam belum sampai ke lantai atas, dia segera berlari menuju ruangannya mempersiapkan semua berkas. Semua berkas sudah dia siapkan, Sam juga terlihat memasuki ruangannya. Miya segera menyusul Sam ke ruangannya.
"Selamat pagi lagi Tuan." sapa Miya. Tanpa basa-basi lagi dia langsung menyerahkan berkas pada Sam.
Sam terlihat sangat serius meneliti detail pekerjaan Miya.
"Tuan sengaja ya buat Tuan Dirga sibuk, supaya dia terkejut saat kejutan ulang tahun dia nanti?" tanya Miya.
"Sibuk? Bahkan pekerjaan Dirga termasuk santai, karena dia selalu mengerjakan semua pekerjaan cepat dan tepat. Dia tidak pernah dikejae deadline apapun, karena dia melakukan pekerjaan di awal, makanya dia punya waktu luang sehari."
"Masa sih Tuan, tapi kata salah satu OB yang bekerja di lantai dasar, hari ini Tuan Dirga masuk pagi banget."
"Mungkin Syafi bikin ulah, tahu sendiri istri Dirga memang terlihat kalem, tapi aslinya usil dan penuh drama." Sam kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Kok sekarang saya yang o'on, benar juga, mungkin Nona Syafi tengah mengaduk emosi Tuan Dirga, supaya lebih aduhai saat pesta nanti."
"Pekerjaan kamu bagus bu Miya, sekarang ibu lanjutkan pekerjaan lain." Sam memberikan berkas yang ada pada tangannya ke bu Miya.
"Tuan, boleh saya tidak ikut saat pesta ulang tahun Tuan Dirga? Saya tidak terlalu mengenal keluarga Tuan, atau istri Tuan Dirga, nanti saya merasa asing di sana."
"Ajak saja orang terdekat bu Miya. Bu Miya adalah salah satu pekerja terbaik saya, saya ingin yang menghadiri pesta ulang tahun Dirga nanti adalah orang-orang dekat Dirga, dan pegawai TAG yang terbaik, salah satunya bu Miya."
"Aduh ... saya harus ajak siapa ya?"
"Terserah bu Miya, yang pasti biar orang itu membuat bu Miya nyaman saat berada di pesta ulang tahun Dirga."
"Siap Tuan."
"Selamat pagi ...."
"Sayang ...." Sam sangat bahagia melihat istri tercintanya datang ke kantornya. "Ghea sama siapa?"
"Ghea dijaga dua neneknya."
"Selamat pagi Nona Resa." sapa bu Miya.
"Selamat pagi juga bu."
"Pekerjaan saya sudah selesai, saya undur diri dulu, permisi Tuan, Nona."
"Iya bu," sahut Resa dan Sam bersamaan.
Bu Miya keluar dari ruangan Sam, setelah wanita itu menghilang dari balik pintu, Sam menepuk pahanya. "Sayang, sini." Meminta Resa duduk di pangkuannya.
"Huh ...." Resa hanya bisa menghempas kasar napasnya. Kalau hanya berdua seperti ini, maka Sam lebih cerewet dan banyak maunya. Resa segera mendekati Sam, menaruh tasnya diatas meja kerja Sam dan langsung duduk di pangkuan Sam. "Iya sayang ...." Resa melingkarkan sebelah lengannya di leher Sam.
"Tumben kamu sepagi ini sudah kangen?" goda Sam.
"Mana bisa berhenti kangen sama kamu." Resa menghujani wajah Sam dengan ciuman gemasnya.
"Kalau begini pasti ada maunya."
Resa tersenyum kaku, memperlihatkan deretan gigi-giginya yang putih.
"Katakan, mau apa?" Rasanya Sam sudah hafal.
"Aku izin menemui Syafi, ingin mengatur rencana lanjutan bday party buat Dirga."
"Kau sangat perhatian pada Dirga, suamimu Dirga apa aku?"
"Mana ada? Kau itu adalah duniaku, mana bisa aku perhatian pada selain dirimu."
"Ulang tahunku, mana kau siapkan party untukku."
__ADS_1
"Lebih baik aku siapkan diriku untukmu daripada party."
"Ternyata aku tidak istimewa." Sam mendengus memperlihatkan kekesalannya.
"Owh, kau lebih suka dirayakan bersama banyak orang daripada hanya berdua denganku?" Wajah Resa terlihat kesal.
"Setelah kelahiran Gavin, setiap tahunnya aku mempersiapkan diriku untukmu, memikirkan tempat khusus untuk kita berdua, hari itu, 24 jam hanya ada aku dan kamu, ternyata ...."
Resa kesal, dia turun dari pangkuan Sam, namun gerakkannya terhenti, karena Sam menahannya.
"Maafkan aku sayang, aku hanya cemburu, aku tidak rela orang lain mendapatkan perhatianmu walau hanya seperti sayap nyamuk, karena aku sangat cinta padamu."
"Maafkan aku." Sam merasa sangat bersalah.
"Boleh aku menemui Syafi?" tanya Resa.
"Boleh, tapi booster tenagaku dulu."
"Huhh ...." lagi-lagi hempasan napas yang begitu kasar yang Resa hembuskan. Sam meminta itu artinya harus berada lama dalam pangkuan laki-laki itu.
Ruangan itu hening, hanya terdengar suara kecil yang hanya didengar oleh mereka.
Ceklakkk!
Pintu ruangan Sam terbuka.
"Selamat Pa--" Dirga mematung melihat pemandangan romantis yang ada di depan matanya, beruntung posisi Resa membelakangi pintu. Dirga langsung menutup pintunya.
Sedang dalam ruangan itu, Resa segera memperbaiki posisi pakaiannya yang tidak pada mestinya karena ulah Sam.
"Dirga lagi Dirga lagi!" Gerutu Sam.
"Bukan Dirga yang salah, tapi kamu!" protes Resa.
"Sudah kamu perbaiki?" Sam mengkode sesuatu.
"Sudah!"
"Masuk Dirga!" teriak Sam.
Mendengar suara Sam, Dirga segera membuka pintu itu kembali. Dia berusaha santai, dan masa bodoh dengan apa yang dia lihat sebelumnya.
"Maaf, karena saya mengganggu kehangatan barusan," sesal Dirga.
"Sudah biasa kamu menggangguku," sela Sam.
"Saya benar-benar tidak tahu kalau Nona datang." Dirga membela diri.
"Sudah-sudah. Ada apa nih? Bukannya pekerjaan kamu beres?" tanya Sam.
"Saya mengerjakan pekerjaan lain di pulau X." Dirga memberikan hasil pekerjaannya.
"Kamu gabut atau apa? Semua pekerjaan kamu selesaikan begitu cepat." tanya Sam.
"Mungkin, karena nggak ada kerjaan, tapi Syafi malah sibuk, daripada pusing lebih baik isi waktu dengan bekerja."
"Syafi kacangin kamu?" tanya Resa.
"Kacangin sepertinya tidak, tapi rasanya dia juga rada menghindar, pagi tadi aja pergi nggak salim sama saya, biasanya dia selalu pamit sambil cium tangan saya."
"Miss drama beraksi demi kejutan yang dia rancang--"
"Papa!" Tegur Resa.
Apa daya, Sam terlanjur bocor.
"Papa ngeselin! Kejutan ini sudah Syafi rancang lama, malah papa bocorin!" Resa kesal dan pergi begitu saja dari ruangan Sam.
"Ya ampun ...." Sam mengutuki dirinya sendiri.
__ADS_1