Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 64 Siapa Lagi


__ADS_3

Rapat dadakan yang sama sekali tidak ada dalam Agenda hari ini akhirnya berjalan lancar, segala rencana pun di setujui semua pihak. Semua orang yang menghadiri rapat itu satu per satu mengundurkan diri dari tempat itu. Kini hanya tersisa Sam dan Dirga.


Sejak rapat selesai, Sam memesan menu yang membuat air liurnya seakan menetes, entah kenapa semenjak Resa hamil, melihat foto makanan rasanya Sam ingin memakan apa yang dia lihat.


Meja yang tadi di pakai untuk rapat, kini di penuhi makanan pesanan Sam. Sudah dua menu makanan masuk kedalam perut Sam, kini Sam ber-alih pada menu makanan yang ketiga. Sambil menikmati makanannya, mata Sam terus memandangi Dirga yang sangat asyik dengan layar handphonenya, terkadang senyuman terukir di wajahnya, sedang jemarinya sibuk berselancar di atas layar ponselnya. Sam ikut tersenyum memandangi sahabatnya itu.


“Syafi?”


Pertanyaan Sam membuat pandangan mata Dirga yang sedari tadi hanya tertuju pada layar handphonenya, kini ter-alih menatap kearah Sam. “Siapa lagi yang bisa mengalihkan duniaku, masa Resa.” Dirga kembali memandangi layar handphonenya.


“Hemm … ada yang sulit untuk berpisah juga rupanya. Baiklah, setelah makananku habis, kita segera kembali ke kantor, sudah 45 menit kita meninggalkan Syafi.” Sam kembali melanjutkan makan siangnya.


Arnaff juga berada di Restoran yang sama, hanya saja dirinya tidak mengikuti rapat. Rapat itu hanya di hadiri para petinggi perusahaan, Arnaff hanya membawa berkas yang di minta, sedang dirinya menunggu di ruang rapat, saat atasannya pergi Arnaff segera bersiap untuk pergi, saat sampai di tempat parkir, mata Arnaff melihat mobil Sam masih terparkir di parkiran Restoran itu. “Mumpung ada kesempatan, aku harus menemui Sam,” tekad Arnaff.


Dia segera kembali ke dalam Restoran, menuju ruangan khusus yang di pakai untuk Rapat para petinggi perusahaan sebelumnya. Arnaff tersenyum, samar mendengar suara Sam dan Dirga tengah bercanda. Pintu itu sedikit terbuka, Arnaff meyakinkan dirinya untuk masuk.


“Tuan, Syafi meminta agar Tuan juga memaafkan Arnaff.”


Seketika Arnaff membatalkan untuk membuka pintu itu, saat mendengar ucapan Dirga barusan, Arnaff lebih memilih mematung di depan pintu itu.


“Memaafkan Arnaff?” Sam memastikan kalau dia tidak salah dengar.


“Syafi bilang, persahabatan kita diatas segalanya, antara dirinya dan Arnaff hanyalah ujian hidup, andai Arnaff tidak bertindak bodoh waktu itu, apakah aku bisa sebahagia hari ini? Kebodohan Arnaff adalah berkah buatku,” ungkap Dirga.


Sam terdiam mencerna kata-kata Dirga. “Tapi Arnaff sangat kelewatan, rekaman video waktu itu sungguh sangat melukai hatiku.”


“Tuan, Syafi yang sangat dirugikan atas perlakuan Arnaff, dia saja bisa memaafkan, kenapa kita tidak? Selain itu, kasian Om Rinto, tidak mudah Tuan untuk menujuk orang untuk meneruskan kepemimpinan Perusahaan.”


“Kita beruntung Dirga, karena mendapatkan pendamping yang mempunyai hati yang baik dan tidak pendendam. Baiklah, aku akan mengabulkan permintaan Syafi.” Sam segera mengambil handphone-nya, jemarinya berselancar diatas layar handphone itu. “Halo om Rinto, om … sudahi saja hukuman buat Arnaff, semoga hukuman ini membuat Arnaff lebih pandai menghormati orang lain.


“Nak Sam serius?”


“Sangat om. Maafkan aku, karena beberapa minggu ini aku membuat om Lelah karena kembali bekerja, padahal om sudah lama memutuskan untuk berhenti.”

__ADS_1


Pembicaraan Sam dan Rinto terus berlanjut, Dirga turut bahagia, Sam juga mau memaafkan Arnaff.


"Resepsi pernikahan Arnaff, bagaimana? Anda mau hadir 'kan? Syafi saja mau mendampingiku nanti."


"Ya ... yayaaa, baiklah, aku juga akan berhadir bersama keluargaku." Sam melanjutkan menikmati makanannya.


Arnaff membatalkan niatnya untuk menemui Sam dan Dirga, hatinya terasa nyeri mendengar Sam mau memaafkan dirinya karena Syafi. Arnaff segera meninggalkan Restoran itu. Dia segera kembali ke kantor tempat dia bekerja. Sesampainya di kantor keadaan terlihat ramai, banyak awak media yang berkerumun di sana. Arnaff takut salah satu awak media mengenali dirinya, dia lebih memilih masuk ke kantor lewat pintu samping. Arnaff lega, akhirnya dia bisa masuk ke dalam area kantor tanpa harus tersorot mata kamera wartawan.


Brukkkk!


Arnaff tidak sengaja menabrak seseorang.


“Mas! Mata di taruh di mana!” bentak orang itu.


“Maaf mbak—” Arnaff tidak meneruskan ucapannya saat menyadari siapa wanita yang dia tabrak. “Sayang, kenapa kamu ada di sini?”


Alvi kaget melihat penampilan calon suaminya. Dia memandangi keadaan Arnaff dari ujung kaki sampai ujung kepala. “Ini kamu sayang?” Alvi masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


“Nona Al, akhirnya Anda datang, Pak Geovan sudah menunggu Anda.” Ucapan Sekretaris Geovan menyadarkan Alvi yang masih menganggap ini mimpi.


“Iya bu Chika.” Arnaff langsung memberikan berkas yang dia pegang.


“Maaf, dia siapa?” Jemari Alvi menunjuk kearah Arnaff.


“Dia Arnaff, pegawai baru di perusahaan ini, kerjanya lumayan juga, handal dan sangat professional,” puji Chika, sekretaris Geovan.


“Pegawai?” Alvi nampak putus asa mengetahui Arnaff hanyalah seorang karyawan biasa.


“Iya, Anda saling mengenal?” tanya Chika.


“Tidak!” potong Alvi cepat.


Seketika lidah Arnaff kelu, melihat Alvi yang seolah tidak mengenali dirinya. Arnaff berusaha santai, tetap berdiri tegap diantara dua wanita cantik itu, walau hatinya sakit.

__ADS_1


“Kami tidak saling kenal, tadi dia menabrak saya.” Ucapan Alvi sungguh penuh penekanan.


“Lain kali hati-hati, Arnaff. Nona Alvi adalah sahabat Bos kita,” terang Chika. “Ayok Nona, ikut saya, Pak Geovan sudah menunggu kita,” ajak Chika.


Dua wanita itu pergi menuju lift, meninggalkan Arnaff berdiri seorang diri. “Alvi ….” Rintih Arnaff.


Deringan suara handphone membuat Arnaff tersadar dari keterpurukannya, karena calon istrinya pura-pura tidak mengenali dirinya. Arnaff meraih benda pipih persegi Panjang itu, menggeser icon bewarna hijau, dan langsung mendekatkannya ke sisi telinganya. “Iya pah ….”


“Arnaff, kapan kau kembali pada posisimu? Sam memperbolehkan kamu menduduki jabatan kamu sebelumnya.”


“Apakah papa masih bisa bekerja untuk beberapa waktu kedepan? Aku ingin tau, apakah Alvi tetap menerimaku jika aku hanya seorang buruh biasa.”


“Jika itu perlu, papa siap.”


“Terima kasih papa.”


Arnaff menyudahi pembicaraan dengan papanya, dia segera menyimpan handphone-nya kedalam saku. Kembali melanjutkan pekerjaannya. Pikirannya terus terbang entah kemana, teringat kejadian barusan, di mana Alvi seolah tidak mengenalinya. Belum hilang kegundahannya tentang Alvi, bayangan tentang Syafi juga terlintas di benaknya. “Apa semua kesialan ini karena aku menyakiti wanita itu? Wanita itu justru memohon agar Sam mengembalikan segalanya padaku.”


Arnaff mengetik pesan di handphone-nya untuk dia kirim pada Alvi, meminta Alvi segera menemuinya nanti. Arnaff berusaha melakukan pekerjaanya, Tapi, tidak bisa menyelesaikan semuanya, pikirannya begitu kusut. Arnaff meminta izin pada penanggung jawabnya untuk pulang, dengan alasan sakit.


Sesampai di rumah kedua orang tuanya, saat melihat putri semata wayangnya bermain bersama pengasuhnya, seketika lelah dan stres Arnaff lenyap.


“Papaaa!” Anak kecil itu melompat-lompat kegirangan saat melihat papanya datang.


Arnaff langsung menggendong putri kesayangannya. “Ada apa sayang? Anak papa bahagia banget.”


“Papa, aku tadi foto bareng sama miss Aurel, guru kesayangan aku pah.” Nadira begitu antusias bercerita.


“Mana fotonya? Sini papa lihat?”


Nadira meminta Arnaff segera menurunkan dirinya dari gendongan, dengan senang hati Arnaff menurunkan putri kecilnya. Nadira langsung berlari kearah pengasuhnya. “Mbak … mana foto aku sama miss Aurel, kasih lihat sama papa,” rengek Nadira.


Pengasuh Nadira langsung memberikan handphone-nya pada Arnaff, Arnaff dengan senang hati menerima benda pipih persegi Panjang itu.

__ADS_1


Degggggg!


Rasanya Jantung Arnaff seakan berhenti berdetak, saat melihat sosok wanita cantik yang mengenakan kerudung di foto itu bersama Nadira.


__ADS_2