
Arnaff sungguh kecewa menyadari siapa wanita yang bersikap buruk pada anak kesayangannya, ternyata dia adalah Alvi. Arnaff tidak bisa berbuat apa-apa, seketika lidahnya kelu tidak bisa untuk berkata. Dia terus memandangi Nadira yang masih asyik mencoret-coret foto Alvi.
“Rara sayang, apa yang Rara lakukan?”
Pertanyaan barusan menyadarkan Arnaff dari lamunannya. Dia menoleh kearah suara itu bersumber, terlihat mamanya berjalan kearahnya.
“Arnaff foto prewed kalian kenapa disimpan di sini? Ini bagaimana wajah Alvi di coret Nadira,” ucap Leti.
“Itu nenek sihir, biar saja wajahnya hitam, nek.” oceh Nadira.
“Nenek sihir?” Leti tidak percaya dengan apa yang Nadira katakan. “Jadi wanita itu miss jahat yang sering marahin Nadira?” Leti memastikan.
“Iya nenek, untung nenek sihir ini sudah tidak mengajar lagi, kalau dia masih mengajar di kelas Rara, pasti teman-teman Rara masih jahat sama Rara.” Nadira terus menceritakan kalau wanita yang ada di foto itu terus menyuruh tiga temannya untuk jahat padanya. “Semenjak Rara bertemu miss Aurel, teman-teman Rara berubah baik, mereka takut jahat, nanti kena azab, seperti miss upp yang tangannya berdarah karena mencuri barang milik miss Aurel.” Bibir mungil itu terus bercerita tentang miss Aurel.
“Bagaimana ini Arnaff, wanita yang kamu cinta adalah wanita yang tidak menyukai anakmu sendiri.” Leti terlihat frustrasi.
“Kedepannya akan aku pikirkan setelah pernikahan ini, mana mungkin aku membatalkan pernikahan di detik-detik terakhir seperti ini.” Arnaff menghembuskan napasnya begitu kasar, sangat sesak mengetahui bagaimana perbuatan Alvi pada Nadira.
“Terus, apa alasan kamu membatalkan pernikahan dengan Syafi dulu? Kamu meninggalkan dia sehari sebelum akad nikah?” Leti menatap tajam putranya. “Kalau kamu tetap meneruskan pernikahan ini, Nadira tetap bersama kami, selama kami hidup, Nadira hanya bersama kami!”
“Ma, Nadira anakku.”
“Cukup ibunya yang tidak sempat aku sayangi karena egoku, putrinya akan ku limpahi dengan kasih sayangku, selama aku masih bernapas, tidak aku izinkan wanita seperti Alvi menekan cucuku lagi, atau siapapun! Tidak akan aku izinkan menyakiti cucuku.” Nada ucapan Leti penuh penekanan.
Arnaff mengempaskan kasar tubuhnya diatas sofa empuk. “Kenapa aku baru mengetahui hal ini di detik-detik terakhir seperti ini?” Arnaff mengacak-acak rambutnya, kecewa juga marah menyadari keadaan ini.
Di luar tamu mulai berdatangan, perlahan ruang tempat acara akad berlangsung mulai di penuhi tamu undangan. Berulang kali Rinto mengintip arlojinya, Arnaff belum juga keluar dari ruang istirahat. Rinto undur diri pada tamu yang berada di sekelilingnya. Rinto langsung menuju ruangan yang Arnaff tempati. Sesampai di sana, Arnaff masih belum mengenakan jas, dia masih mengenakan kemeja dan celana Panjang.
“Ada apa ini? Kenapa kalian masih belum siap? Semua tamu sudah berdatangan,” tegur Rinto.
__ADS_1
“Alvi kan bisa menjamu mereka, pah. Biar Alvi menikmati waktu bersama tamu-tamu, lagian yang banyak hadir tamu Alvi.” Arnaff masih memijat kedua alisnya.
“Tamu Alvi? Justru yang ada di sana kebanyakan tamu kita, papa hampir mengenali mereka semua.”
Arnaff terkejut mendengar penjelasan papanya. Seingatnya undangan banyak dari kenalan Alvi. “Ma, pah, Aku mau menemui Alvi dulu.” Arnaff langsung berlari kearah tempat acara terlebih dahulu, memastikan kalau ucapan papanya benar. Sesampai di ruang akad, benar saja, Sebagian besar tamu yang ada adalah keluarganya sendiri. “Di mana para tamu yang di undang Alvi?” Arnaff masih memandangi keadaan sekitar. Arnaff segera berlari menuju ruangan yang di tempati Alvi, untuk menanyakan kejanggalan ini.
Sedang di luar Gedung, Resa, Sam, dan kedua putra mereka berjalan ber iringan memasuki Gedung itu. Mata Resa menangkap sepasang sosok suami istri yang mengenakan busana couple. “Syafi ….” Sapa Resa. Tangannya melambai kearah wanita yang dia sapa.
Syafi dan Dirga juga mempercepat langkah mereka untuk menghampiri Sam dan Resa. “Baru datang juga kak?” tanya Syafi.
“Iya, untung saja aku merasa lebih baik, jadi bisa mendampingi Arjunaku.” Resa menyandarkan kepalanya di bahu Sam.
“Hai jagoan.” Dirga menyapa Gavin dan Gilang.
“Hai juga, om.” Sahut keduanya serentak.
Dirga menghentikan langkah kakinya, saat melihat seorang wanita yang dirasa tidak asing, tengah memohon pada petugas keamanan.
“Ada apa, Dirga?” tanya Sam.
“Ku rasa, itu teman Alvi.” Dirga masih memandangi kearah wanita yang terlihat masih memohon itu.
“Kalau iya, cepat bantu dia,” usul Sam.
Dirga menoleh kearah Syafi. “Sayang, temani aku,” pinta Dirga.
Syafi menganggukkan kepalanya, dia dan Dirga segera mendekati wanita yang masih berbicara dengan petugas keamanan yang menjaga pintu.
“Ada apa, Pak?” tanya Dirga pada petugas keamanan itu.
__ADS_1
“Ini Tuan, Nona ini tidak membawa undangan, nama dia juga tidak ada dalam list tamu undangan.” Terang petugas keamanan.
Wanita itu menoleh kearah Dirga, dia tersenyum melihat ada yang bisa menolongnya. “Pak Dirga, tolong saya, ini mengenai Alvi, saya harus menemui Pak Arnaff secepatnya.” Wanita itu memohon pada Dirga.
“Bantu saja, kak. Siapa tahu sangat penting,” usul Syafi.
“Pak, Nona ini temannya mempelai wanita, izinkan dia masuk. Kalau terjadi apa-apa, ini tanggung jawab kami,” ucap Dirga.
Mengenal siapa Dirga, petugas keamanan itu mengizinkan wanita itu masuk. “Silakan Tuan.”
“Tapi biar dia masuk bersama kami di jalur khusus, karena dia tanggungan kami,” usul Dirga.
Wanita itu segera mengikuti Syafi dan Dirga. Mata wanita itu membulat sempurna saat dia bisa sedekat ini dengan istri pemilik The Alvaro Group. Dia segera menyadarkan dirinya, tujuannya kemari bukan Resa. “Maaf Tuan dan Nona, saya Ryehna, panggil Rye. Saya kemari untuk memberi tahu Arnaff tentang kabar penting.”
“Kalau penting, cepatlah kalian masuk, aku tidak bisa berjalan cepat, ada sesuatu yang harus aku jaga.” Resa mengusap perutnya yang masih rata.
“Kalau begitu, ayok kita segera masuk,” usul Syafi.
Dirga, Syafi, dan Rye mempercepat langkah kaki mereka memasuki Gedung tersebut. Sesampai di dalam Gedung, tepat di ruangan yang di pakai untuk akad nikah pagi ini, ketiganya menyisiri pandangan mata mereka mencari sosok Arnaff. Tapi mereka sama-sama tidak menemukan sosok yang mereka cari.
“Bagaimana ini? Aku harus secepatnya menemui Arnaff,” rintih Rye.
Dirga berulang kali menelepon nomer Arnaff, tapi hanya jawaban ‘Maaf nomer yang Anda tuju sedang sibuk.’ Tanpa pikir Panjang, Dirga langsung berlari mendekati Rinto, menanyakan di mana Arnaff berada. Mengetahui di mana Arnaff, Dirga segera mengajak Syafi dan Rye menuju ruangan yang Rinto maksud. Melihat tiga orang berlari kearah Ruangan Alvi, Rinto juga mengajak Leti untuk mengikuti Dirga dan dua wanita itu.
Sesampai di ruangan yang mereka tuju, Dirga langsung membuka pintu ruangan itu. Terilhat Arnaff begitu kebingungan, dia berulang kali mendekatkan handphone-nya ke sisi telinganya.
“Kenapa dia tidak mengangkat teleponku!” jerit Arnaff.
“Dia tidak akan datang ke sini, dan dia tidak akan mengangkat panggilan telepon Anda!” seru Rye.
__ADS_1