
Athan turut merasakan bagaimana hancur dan kacaunya perasaan seorang Syafi, mengetahui sedikit kebenaran ini saja hati Athan menjadi tidak karuan. Dirinya memang pernah mencintai Syafi, tapi saat ini Syafi baginya hanya seorang adik yang ingin dia lindungi.
Athan masih berdiam diatas motornya, dia mengetik banyak pesan yang dia kirim kepada temannya. Athan meminta tolong pada temannya agar melacak posisi keberadaan pemilik nomer telepon yang dia kirim.
Bukan hal sulit bagi teman Athan, dia hanya diminta menunggu, temannya akan mengirim lokasi terkini pemilik nomer telepon tersebut.
Athan menarik napasnya begitu dalam, dan membuangnya dengan sekali hempasan. "Semoga kekhawatiran Syafi tidak terbukti," harapannya.
Athan mengumpulkan segala keberaniannya, dia segera menghidupkan mesin motornya, dan melajukan motor yang dia naiki menuju restoran.
Sesampai di sebuah restoran, terlihat dua orang wanita yang masih berpelukan duduk di pojokan restoran itu, Athan pun mendekati dua wanita itu.
"Huh ...." Athan menghempas kasar napasnya, sambil menarik salah satu kursi dan duduk di sana.
"Bagaimana?"
Mayfa dan Syafi sama-sama memberikan pertanyaan yang sama pada Athan.
"Aku tidak tahu harus mulai dari mana, yang jelas, jika perkiraan Syafi benar, apakah kalian kuat?" Athan memastikan.
"Bagaimanapun aku harus kuat," ucap Syafi.
"Baiklah, kejutan pertama, Pada tanggal ini, Dirga bukan bekerja ke luar kota, tapi pada tanggal ini adalah waktu libur Dirga."
Dugggg!
Seketika tubuh Syafi terasa lemas mendengar kenyataan ini.
"Jangan bercanda kamu Than!" tegur Mayfa.
"Aku tau hal ini dari Tuan Sam langsung, bahkan Tuan Sam juga menjadikan tanggal ini untuk liburan bersama keluarganya."
"Te-terus, Dirga di mana?" Suara Syafi bergetar, dia berusaha menahan tangisnya.
"Makanya, kalian harus kuat, aku sudah meminta bantuan pada temanku, untuk melacak keberadaan Dirga."
Tlink!
Suara handphone Athan serasa bagai sirine darurat yang menggetarkan jiwa Syafi. Jujur dirinya belum siap mengetahui kenyataan ini, tapi tidak mencari tahu hanya menyiksa dirinya dengan segala prasangka buruk.
Athan segera membuka handphonenya, banyak screen shot layar yang masuk dalam pesannya. Athan kembali membuang napasnya begitu kasar, saat menyadari di mana keberadaan Dirga saat ini.
"Dirga pamit padamu kalau pergi ke luar kota?" tanya Athan pada Syafi"
"Iya, dia sendiri yang bilang begitu, sudah ku ceritakan bukan, kalau 6 bulan ini dia selalu pergi."
"Dirga masih ada di kota ini."
Doarrrr!
Ada yang meledak dalam diri Syafi mengetahui kenyataan itu.
"Di-di kota ini?"
Perasaan Syafi semakin kacau.
Athan memberikan hanphone-nya pada Syafi. "Keberadaan Dirga di komplek perumahan ini."
__ADS_1
Syafi semakin merasa kesulitan bernapas, rasanya oksigen di tempat ini tidak ada lagi.
"Minum dulu." Mayfa berusaha menguatkan sahabatnya, walau dia tau apa yang dia lakukan tidak mengurangi sedikitpun beban Syafi.
"Ini tidak jauh, bisa kita ke sana?" pinta Syafi.
Kedua bola mata Syafi terlihat berkaca-kaca.
"Baik, tapi kita butuh penyamaran," usul Athan.
"Sebentar, wilayah ini biasanya sering di datangi sepupu gue untuk pelayanan tv kabel, sepertinya kita bisa minta tolong mas Agus," sela Mayfa.
"Kalau begitu, cepat telepon Agus, kita pinjam mobil dan seragam kerjaan dia," sela Athan.
"Ayok, kita ke rumah mas Agus sekarang," ajak Mayfa.
Syafi meninggalkan beberapa lembar uang di bawah gelas minumannya, dia, Mayfa, dan Athan, segera menuju kediaman Agus. Untuk melanjutkan rencana berikutnya.
***
Sesampai di rumah Agus sepupu Mayfa, Mayfa menceritakan rencanyanya dan teman-temannya.
"Mas ... tolong ya, kali ini saja. Demi ketenagan jiwa dan masa depan sahabat aku." Mayfa terus memohon.
"Kalian yakin tidak akan menyalah gunakan seragam ini?"
"Kami janji mas, kami hanya melakukan pengintaian saja, kami juga butuh seorang tenaga ahli, andai ada warga langganan mas minta tolong, kami tidak kelabakan," Athan menambahi.
Agus mengalah, dia memberikan tiga setel seragam pekerja tv kabel, Mayfa dan Syafi mengganti pakaian mereka di kamar Agus, sedang Athan mengganti pakaiannya ditempat itu juga.
Ketiganya mengenakan seragan tv kabel, lengkap dengan topi serta masker, juga kelengkapan keamanan bekerja yang lain.
Ketiganya segera menempelkan alat kecil itu di bagian leher dekat posisi dengan pita suara mereka.
"Terima kasih banyak mas." Mayfa sangat bahagia.
"Cepat sana, setelah sampai di perumahan sana, nanti ada temanku yang temani kalian," ucap Agus.
Hari semakin siang, ketiganya segera menuju perumahan yang Athan maksud, mereka menaiki mobil kerja milik Agus, untuk berputar-putar dikawasan perumahan tersebut.
Mata Athan sesekali menoleh kearah layar handphonenya, memastikan di mana titik terdekat keberadaan Dirga. Hingga mobil yang Athan kendarai berhenti tidak jauh dari rumah yang ber cat putih, dan dikelilingi pagar minimalis.
"Dugaanku, Dirga berada di rumah itu." Athan menunjuk ke rumah yang ada di depan mereka.
"Itu mobil Dirga?" Mayfa menunjuk kearah mobil yang terparkir di halaman itu.
"Semoga bukan Dirga, tapi hanya pegawai yang meminjam mobilnya," sela Athan.
"Biar semakin jelas, aku lepas alat pengecoh suara dulu, aku ingin menelepon kak Dirga." Syafi melepaskan alat yang terpasang di bagian lehernya, dia segera menghubungi nomer Dirga.
"Assalamu alaikum, Fiy ...."
Panggilan telepon Syafi langsung terhubung.
"Bee, kangen ...." rengek Syafi.
"Aku juga, tapi seperti biasa, sore ini aku pulang, dan malam sepertinya aku sudah sampai rumah, aku juga kangen sama kamu," ucap Dirga.
__ADS_1
"Bee, tadi malam aku mimpi buruk."
"Kamu pasti lupa baca do'a dan ayat empat sebelum tidur," sela Dirga.
"Bee, aku mimpi kamu nikah lagi, andaipun itu jadi nyata, setidaknya kamu izin dulu ya ke aku ya ..., karena aku pasti kasih izin bee, jangan nikah dibelakang aku, itu sakit banget bee."
Hening, tidak ada jawaban dari Dirga.
Diamnya Dirga membuat Syafi semakin sakit.
"Kalau kamu nikah dibelakang aku, aku sakit banget Bee, kamu tahu kan, kalau aku mengizinkan kamu menikah lagi, tapi dengan syarat cerita dulu ke aku, aku ingin memastikan istri keduanmu bisa membahagiakan dirimu." Syafi berusaha menahan tangisnya.
"Ngebayangin aja aku sakit Bee, gimana kejadian beneran ya, aku takut aku bisa langsung mati bee."
"Kamu kenapa berpikir sejauh itu, sayang?" Suara Dirga terdengar parau.
"Ah biasa bee, ini karena aku terlalu sayang sama kamu."
"Aku juga sayang kamu, Fiy."
"Fiy ...." panggil Dirga.
"Maukah kamu hanya percaya padaku?"
"Percaya itu hanya sama Allah dan rukun iman yang 6 bee, kalau percaya sama kamu, jatuhnya syirik, Assalamu alaikum Bee, aku harus lanjut ngajar."
Syafi tidak mampu lagi berpura-pura tegar, tanpa menunggu jawaban salam dari Dirga, dia menyudahi panggilan telepon mereka.
Mayfa dan Athan hanya diam mendengari percakapan Syafi dan Dirga via telepon.
"Pakai masker kamu Fiy, ada yang mendekat." Athan melihat seorang perempuan cantik berjalan kearah mobil mereka.
Tok! Tok! Tok!
Wanita itu mengetuk kaca mobil yang Athan, Mayfa, dan Syafi tumpangi. Perlahan Athan menurunkan kaca mobilnya. "Selamat pagi Nona, ada yang bisa kami bantu?" Athan berusaha ramah pada perempuan yang berdiri dekat mobilnya.
"Ada gangguan tv kabel di rumah saya, bisa kalian cari tau masalahnya?" pinta wanita itu.
"Kami cek dulu ya Nona," ucap Mayfa.
"Wah petugas tv kabelnya ada perempuan, saya jadi lega jika suami saya lagi di luar lalu memanggil kalian, karena ada perempuan." Wanita itu terlihat begitu sumringah.
"Bisa kami cek sekarang?" tanya Athan. Athan sungguh tidak sabar ingin masuk ke rumah yang ada di seberangnya itu.
"Oh tentu saja, ayo ikuti saya." Wanita itu berjalan lebih dulu menuju rumahnya.
"Fiy, kamu siap?" tanya Athan.
"Sejauh ini, rencana kita berjalan mulus. Bismillah ...." Syafi mantap melangkahkan kakinya menuju rumah target mereka.
"Assalamu'Alaikum, Ayah ...." Suara wanita itu begitu lantang, Syafi, Athan dan Mayfa yang berada di belakang mereka sangat jelas mendengar suara wanita itu.
"La, suara kamu tuh bisa bangunin Fattah."
Duggg!
Seketika mata Syafi bocor saat mendengar suara itu, dia hafal betul, suara siapa itu.
__ADS_1
"May ...." jerit Syafi.