
Dirga sudah izin tidak masuk kantor, selesai menikmati sarapan pagi bersama, keduanya terlihat begitu mesra. Tangan Dirga tidak lepas dari pinggang Syafi. Keduanya menaiki anak tangga tanpa melepas gandengan tangannya.
Sesampai di kamar, Syafi segera membantu Dirga mengenakan setelan jasnya Selesai membantu Dirga, dia segera meraih pakaian yang sudah dia siapkan sebelumnya.
Hari ini Syafi tidak mengenakan seragam sekolah, tubuh indahnya dibalut kebaya modern, berwarna merah muda, dan bawahan batik yang begitu kontras dengan kebayanya. Sedang Dirga mengenakan setelan jas yang biasa dia kenakan untuk bekerja.
Mata Dirga masih memandangi Syafi yang masih sibuk memoles make up di wajahnya.
Syafi menghentikan kegiatannya, karena Dirga terus memandanginya tanpa berkedip. "Kenapa kak?"
"Tidak apa-apa, aku hanya tidak bisa berhenti untuk memandangi dirimu, bahkan layar utama komputer kantor adalah foto kita."
Syafi tersenyum kecil, hatinya masih berpegang teguh Dirga sangat mencintainya, pernikahan itu pasti ada hal darurat yang membuat Dirga terjebak di sana.
"Aku sudah selesai. Kita berangkat," ajak Syafi.
"Tapi ...." Dirga segera melangkah mendekati Syafi.
"Tapi apa?"
"Aku ingin menikmati ini semua." Tanpa permisi Dirga menghujani permukaan wajah Syafi dengan ciumannya, hingga ciuman cepat dan kilat itu seketika berhenti dan mendalami kegiatan di sana, ketika kedua bibir itu bertemu.
Syafi menepuk lembut bagian dada Dirga. Hingga membuat laki-laki itu menghentikan kegiatannya.
"Sudah, ini sudah jam 9."
"Terima kasih telah menjadi pelangi dalam hidupku."
Tidak membuang waktu lama lagi, Dirga dan Syafi segera berangkat menuju T.A School.
Sesampai di sana, keadaan lebih ramai dari biasanya Banyak mobil-mobil terparkir, lalu lalang manusia juga kebih ramai. Karena orang tua siswa di sekolah itu juga berhadir.
Syafi melingkarkan tangannya di pergelangan lengan Dirga, senyuman terus terukir di wajahnya ketika beberapa orang yang berpapasan dengannya menyapa.
Di kejauhan ....
Dua pasang mata itu terus memandangi kearah Syafi dan Dirga.
"Gue nggak tau, gimana caranya tu anak bersikap bodo amat," gerutu Mayfa.
"Entahlah ...." Athan hanya bisa memandangi sahabatnya dari kejauhan.
"Kita masuk yukk, sebentar lagi acara mulai," ajak Mayfa.
Athan dan Mayfa berjalan bersama menuju tempat acara berlangsung.
Di dalam ruangan tempat berlangsungnya acara, tamu undangan, semua murid T.A School, orang tua, murid dan dewan guru T.A School juga pengurus sekolah itu menempati tempat mereka masing-masing.
Di depan sana, pasangan suami istri yang selalu menjadi sorotan publik, tampil begitu mesra. Mereka adalah Sam dan Resa.
Athan mendekatkan wajahnya kearah Mayfa. "Beruntung tempat duduk kita jauh sama Syafi, kalau dekat, gue nggak tau apa bisa nahan diri sampai acara selesai," bisiknya.
"Lupain hal itu, kita fokus acara dulu," ucap Mayfa
Acara tahunan sekolah itu pun berlangsung. Di buka oleh penampilan anak-anak PAUD dan TK, gemuruh tepukkan tangan pun menggema di ruangan itu.
Sedang di sisi yang lain ....
__ADS_1
Seperti keseharian Lala sebelumnya, wanita itu berjemur di depan rumahnya bersama putra kesayangannya.
"Selamat pagi."
Salam seseorang menyita perhatian Lala. "Pagi juga," sahutnya. Seorang perempuan cantik yang seumuran dengannya berdiri di luar pagar rumahnya. Lala segera menghampiri wanita itu.
"Ada apa ya?" tanya Lala.
"Anda Wayla?" wanita itu balik bertanya.
"Iya saya Wayla."
"Saya Ayu, sahabat Romi."
Dugggggg!
Mendengar nama Romi sekujur tubuh Lala bergetar hebat, dia meng-eratkan tangannya memegang bayinya, takut bayi itu terlpas dari gendongannya.
"Bi Jumi ...." panggil Lala.
Dari arah belakang Lala bi Jumi berlari menghampiri majikannya. Iya Non."
"Bukakan pintu pagar bi," pinta Lala.
"Baik Non." Bi Jumi segera membukakan pintu pagar dan mempersilakan wanita itu masuk.
"Bi Jumi, tolong jaga Fattah, saya mau temani tamu saya." Lala tidak sanggup lagi menggendong Fattah.
Bi Jumi segera mengambil bayi manis itu, dan segera pergi dari sana.
"Mari masuk mbak Ayu," ajak Lala.
Lala kembali menemui tamunya. Dengan membawa nampan yang berisi minuman dan cemilan. "Silakan mbak." Lala meletakkan gelas minuman diatas meja tamu tepat di depan tamunya.
"Kamu tahu di mana Romi berada sekarang?"
Mendengar nama Romi saja perasaan Lala seketika kacau. Lala menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Ayu.
"Aku baru tau di mana Romi, itu pun aku tau 3 bulan yang lalu."
Duggggg!
Jantung Lala seakan berhenti berdetak, mendengar ucapan Ayu.
"3 bulan sebelum aku mengetahui keadaan Romi, aku masih berada di luar negri, saat aku kembali ... aku terkejut mengetahui keadaan Romi."
"Romi di-di-di mana?" Lala terbata.
"Di Rumah Sakit."
Doar!
Perasaan Lala semakin kacau. "Rumah Sakit?"
"Aku menghabiskan waktu 3 bulan ini menemani Romi, semoga kamu orang yang tepat untuk aku percaya."
"Apa yang terjadi pada Romi?"
__ADS_1
"6 bulan yang lalu, dia di keroyok orang asing, dan berakhir di Rumah Sakit."
Lala tidak mampu berkata lagi, rasanya ternggorokkannya tercekik mengetahui keadaan Romi.
"Kata tante Karla, mama Romi. Malam itu Romi pamit pada keluarga besar ingin menjemput calon istrinya yang sudah hamil 5 bulan, tapi sepertinya dalam perjalanan dia di cegat oleh sekelompok orang, dan mereka memukuli Romi. Ini dari keterangan saksi yang menyelamatkan Romi dan membawa Romi ke Rumah Sakit."
Lala mematung mendengari cerita Ayu.
"Aku baru tahu tentang dirimu, saat aku membersihkan kamarku, aku menemukan surat lama, dari Romi. Kata pembantuku, dia menemukan surat itu malam hari, tepat 6 bulan yang lalu."
Ayu menarik napasnya begitu dalam, menguatkan dirinya untuk melanjutkan ceritanya. "Saat ku buka surat itu, ada foto dirimu dan Romi, juga alamatmu."
"Aku ke rumahmu sebulan yang lalu, lalu ibumu memberiku alamat ini. Aku terus mengintai kehidupanmu. Saat aku tau kau menikah dengan Dirga, pikiranku saatnya membawamu kehadapan Romi sebagi istri Dirga, demi keselamatan dirimu dan bayimu."
"Harapanku Romi akan terbangun mendengar suaramu dan ceritamu nanti."
"Kenapa aku harus datang denga status istri kak Dirga, apapun statusku tidak berpengaruh bukan?" tanya Lala.
"Aku yakin orang-orang yang mencelakai Romi masih mengintai Romi dan berharap ada wanita asing yang membawa bayi menjenguk laki-laki itu. Hingga mereka tau target mereka."
"Romi adalah pewaris tunggal keluarga Sabir, dan sepertinya orang yang melukai Romi mengincar dirimu dan bayimu. Romi tidak datang malam itu, dia semata ingin melindungi dirimu."
Air mata Lala seketika merembes membasahi pipinya. Selama ini dia berpikir Romi sengaja meninggalkannya dan mengirim orang asing agar dia lepas dari tanggung jawab.
"Hari ini alat bantu Romi akan di lepas, karena sudah 6 bulan tidak ada perubahan. Aku mengajakmu ke sana, apa kamu mau?" tanya Ayu.
"Sebentar, aku ingin memastikan stok ASI buat bayiku." Sekujur tubuh Lala masih menggigil, dia melangkah menuju lemari es tempatnya menyimpan ASI buat Fattah.
Ayu mengangguk, setelah Lala pergi, Ayu memandangi foto-foto yang menempel pada dinding rumah itu, di sana ada satu foto yang menyita perhatian Ayu, foto akad nikah Lala dan Dirga.
Lala kembali menemui Ayu, dia tercengang saat melihat Ayu sangat memperhatikan foto dirinya dan Dirga. "Malam itu Dirga dan aku terjebak, hingga kami di desak warga untuk menikah."
Ayu tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya.
"Malam itu keluargaku taunya ayah dari bayiku akan datang menjemputku, ternyata yang datang Dirga, dan kami di desak menikah."
"Kata kak Dirga, dia datang malam itu karena Romi yang meminta tolong padanya." Lala menyambung ceritanya.
"Aku percaya pada Dirga, dia sahabat Romi. Aku yakin, andai Romi bisa bangun lagi, dia akan sangat berterima kasih pada Dirga, karena melindungi anak dan calon istrinya," ucap Ayu.
"Kapan aku bisa pergi denganmu?" ucap Lala.
"Kau datang dengan Dirga, jangan denganku, orang dekat Romi tahu kalau Dirga sahabat Romi. Tapi ... ku mohon secepatnya ya, jam 4 sore semua alat bantu Romi akan dilepas."
"Baik, aku secepatnya menghubungi kak Dirga."
"Semoga dengan kehadiranmu, Romi bisa bangun lagi, semoga rasa cinta Romi padamu bisa menguatkannya."
Ayu hanya sebentar di rumah Lala, dia segera pergi dari sana.
****
Hayooo yg tebakkannya mendekati alur Author, selamat🥳 Love you ahhh 😁
Seneng aku, tak balap ketik hadiah buat yang bikin author bahagia 🥰
Bikin aku bahagia mah simpel, cukup like bab aku, kalau gak keberatan komen aja, pas aku oll, aku baca komenen yang ada, dan itu bagai pemacu tenaga aku.
__ADS_1
Tapi signalku belum stabil, susah bgt masuk kolom naskah, jadi kalau libur update artinya author lagi gelud sama tower.