Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 92


__ADS_3

Setiap malam Syafi bersamanya, setiap pagi Syafi mewarnai


paginya. Entah kenapa pagi ini terasa sangat berbeda. Syafi benar-benar mempersiapkan


semuanya, baju ganti dan keperluan Dirga yang lain ada di kamar hotel itu. Selesai melakukan tugas subuh mereka, Dirga kembali menarik Syafi ke singgasana mereka di hotel ini. Menghangatkan diri bersama dibalik selimut tebal. Setelah petualangan pagi yang Panjang, keduanya memejamkan mata mereka begitu rapat, seolah mengisi kembali tenaga yang terkuras habis.


Drettt! Drettt ….


Geteran handphone Dirga mengusik kenyamanan Syafi menyelami


alam mimpinya. “Kak … handphone kakak ada yang memamnggil tuh ….” Suara Syafi terdengar serak. Tapi yang dia panggil tidak jua menyahut. “Kak ….” Syafi menepuk lengan Dirga yang melingkar di perutnya. Tetap tidak ada jawaban. Perlahan tangannya meraba nakas yang ada di sampingnya, dan mengambil benda pipih persegi Panjang sumber pengusik tidurnya. Syafi membuka sedikit matanya, terlihat nama ‘Samuel’ tertera di layar handphone Dirga.


“Kak, Tuan Sam menelepon kakak.” Syafi menggoncang tubuh Dirga, tetap saja Dirga masih begitu lelap menyelami alam bawah sadarnya.


Syafi ingat, kalau Dirga selalu memintanya segera mengangkat


panggilan Sam, jika dia ketiduran atau saat berada di kamar mandi. Syafi segera menggeser icon berwarna hijau dan menempelkan benda pipih persegi Panjang itu


pada sisi telinganya.


“Iya Tuan Sam?” sapa Syafi.


“Fiy, bisa bangunkan Dirga? Aku sangat butuh dia.”


“Baik Tuan, setelah dia bangun dia akan segera menghubungi.Anda.”


“Terima kasih Fiy.” Sam segera menyudahi panggilan teleponnya.


Syafi segera membangunkan Dirga.


“Kakak … bangun, Tuan Sam mencari kakak.” Tidak ada jawaban. Syafi menggoyangkan tubuh Dirga terus menerus, hingga membuat laki-laki itu harus membuka sedikit matanya.


“Kenapa Fiy … aku masih ngantuk.” Dirga sangat malas membuka matanya.


“Tuan Sam menelepon, katanya butuh kakak, cepat hubungi dia.”


Mendengar nama Sam, mau tak mau Dirga bangun, dia segera menelepon Sam. Panggilannya pun langsung diangkat Sam.


“Iya Tuan ….” Sapa Dirga.


“Dirga, klien dari luar negri hari ini datang, sebenarnya aku tidak ingin mengganggumu, karena kalian pasti ingin menghabiskan waktu bersama. Tapi mau bagaimana lagi? Ini proyek impianku, andai kita memenangkan


proyek ini, kamu bukan lagi anak buahku, melainkan partner bisnisku, seperti janjiku satu tahun lalu, kalau aku memenangkan proyek ini, aku akan memberimu 1 perusahaan.”


Wajah Dirga terlihat sedih, dia tidak mau mengecewakan Syafi, tapi dirinya juga tidak bisa menolak panggilan kerja. Dirga hanya menjawab ‘Iya’ setiap perkataan Sam. Pembicaraan Dirga dan Sam selesai, dia menaruh handphonenya,dan menatap sayu sepasang mata Syafi yang sedari tadi


tidak berhenti memandanginya. “Maafkan aku, pekerjaanku membuat rencana kita kacau.” Wajah Dirga dipenuhi rasa penyesalan.


Syafi tidak bereaksi apapun, dia hanya diam.


“Aku janji, jika pekerjaan sudah selesai, aku akan kembali.” Dirga langsung beranjak dari tempat tidur dan melangkah cepat menuju kamar mandi.


Syafi ingin melanjutkan tidurnya lagi, namun getaran handphone Dirga menghentikan niatnya. Syafi meraih handphone Dirga dan langsung mengintip pesan yang masuk yang mengambang diatas layar handphone itu, Syafi


bisa membaca jelas tanpa harus membuka pesan itu.


Tuan Dirga, semoga Anda sempat membaca pesan saya, Nona Lala ingin pergi dari rumah.


Syafi terdiam membaca pesan yang masuk, mendengar pintu kamar mandi terbuka, Syafi segera menaruh handphone Dirga, dan segera merebahkan dirinya dan pura-pura tidur.

__ADS_1


Dirga keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah, satu handuk melingkar di pinggangnya, satu handuk di kepalanya, senyuman terukir di wajahnya saat melihat Syafi kembali menyelami alam mimpi. Dirga segera mengenakan setelan kerjanya, setelah selesai dia mengambil kunci dan handphonenya. Saat jemarinya membuka layar handphone, Dirga terkejut melihat pesan masuk dari bi Jumi.


Dirga bingung, mendatangi Sam lebih dulu, atau mendatangi


Lala. “Sayang ….” Dirga menepuk lembut bahu Syafi.


“Hmmm.” Hanya dehaman yang Dirga dengar.


“Aku pergi dulu, aku janji, sebelum jam makan siang, aku akan kembali ke sini.”


“Hmm ….”


Dirga segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar hotel. Kakinya


terus melangkah menyusuri Lorong hotel, tapi pikirannya juga terus berputar. Sam dulu atau Lala lebih dulu. Dirga mengetik pesan di handphone-nya, menanyakan jam berapa pertemuan mereka pada Sam.


Dreet ….


Pesan dari Sam masuk. Dirga segera membaca pesan itu.


Jam 9:30


Dirga melirik arloji yang melingkar di tangannya. “Masih jam 7. Masih sempat aku ke rumah Lala.” Dirga semakin memacu cepat langkahnya, agar sampai di rumah Lala lebih cepat.


Sedang di kamarnya. Setelah Dirga pergi, Syafi segera meraih handphone-nya. Ingatan Syafi Cuma satu, Athan. Syafi segera melakukan panggilan telepon ke nomer Athan.


“Halo ….”


“Than, aku boleh minta tolong?”


“Apa Fiy?”


“Kamu bisa ke rumah istri simpanan Dirga? Aku hanya memastikan saja.”


“Sekarang lah, masa tahun depan!”


“Kalau gue lihat Dirga di sana, lu mau gue apain tuh Dirga asem!”


“Nggak usah di apa-apain, cukup kasih tau aku, apakah dia ada di sana atau tidak.”


“Oke.” Tanpa menunggu persetuan Syafi, Athan langsung memutus panggilan telepon mereka.


Setelah menyimpan handphone-nya, Athan segera melajukan motornya menuju kediaman Lala. Sedang Syafi, dia segera membersihkan dirinya.


Selesai mandi, Syafi memanggil petugas hotel, meminta bantuan


mereka untuk mengemas barang-barangnya, selesai dengan mengemas barang-barang miliknya dan Dirga, Syafi segera pergi dari hotel itu menuju kediaman Dirga. Syafi mempersiapkan diri untuk kemungkinan yang paling pahit, yang mungkin akan terjadi.


Mobil taksi yang berhenti di depan rumah, membuat Adah tercengang.


Saat dirinya mengenali sosok yang turun dari mobil taksi itu, Adah segera berlari membantu Syafi membawa koper yang baru diturunkan oleh supir taksi.


“Liburannya Cuma sebentar Non?” tanya Adah.


“Kak Dirga harus kerja, daripada aku sendirian di hotel, mendingan pulang.”


Adah dan Syafi sama-sama masuk ke dalam rumah.


“Mbak, langsung cuci saja baju-bajunya, aku mau ke kamar

__ADS_1


dulu.” Syafi berlalu begitu saja menuju kamarnya. Sedang Adah langsung membawa koper it uke belakang.


Dretttt ….


Handphone Syafi bergetar, secepat kilat dia menyambar handphone itu.


Sayang, jangan lupa sarapan. Nanti kamu sakit.


Drettt ...


Satu pesan lagi masuk.


Saat pertemuan di mulai nanti, kemungkinan aku tidak bisa mengangkat panggilan, ataupun membalas pesan, jadi tahan kangennya ya ….


Dentuman irama jantung Syafi yang sebelumnya meninggi perlahan


lebih tenang, ternyata itu pesan dari Dirga.


Dretttt ….


Dentuman irama jantungnya kembali tenang, Syafi pikir itu


pesan dari Dirga lagi, dengan santai dia membuka pesan yang masuk. Namun …..


Doar!


Pesan itu dari Athan, Athan mengirimi dia foto bagian halaman depan rumah Lala. Jelas terlihat mobil Dirga terparkir di sana. Habis


sudah kesabaran dan ketegaran Syafi.


Syafi menahan segala rasa yang meledak-ledak dalam dirinya, jemarinya sibuk menari diatas layar handphone, untuk mengetik pesan yang akan dia kirim buat Athan.


Terima kasih Than, kamu langsung pulang saja. Tidak ada yang bisa aku ucapkan lagi, hanya ribuan terima kasih untukmu, dan Mayfa.


Selesai mengirim pesan pada Athan, Syafi tidak mampu lagi untuk pura-pura tegar. Tangannya mengambil hiasan meja yang terbuat dari besi, dan melemparnya dengan sekuat tenaga kearah foti pernikahan dirinya dengan Dirga yang berukuran besar.


Prankkk!


Bunyi pecahan menggelegar di kamar Syafi. Pecahan kaca itupun terbang kesegala penjuru.


Syafi tidak mampu menangis lagi, rasanya air matanya sudah habis. Dia mempercepat mengemasi barang-barangnya, dan membawa beberapa berkas penting dirinya.


Di bawah ….


Mendengar bunyi pecahan kaca yang menggelegar, Adah menghentikan kegiatannya, dia berlari cepat menaiki anak tangga. “Ada apa Non?” Adah mematung, ketika melihat nasib figura besar itu. Pecahan kaca juga berserakan di keramik lantai kamar Syafi dan Dirga.


"Ada apa Non ...." tanya Adah lembut.


Syafi tidak menanggapi pertanyaan Adah, dia fokus pada urusannya. Semua keperluannya sudah masuk tas, taksi online juga sudah dia pesan.


“Non ….” Adah sangat cemas melihat Syafi sibuk mengisi tas jinjingnya.


“Selama bersama saya, jika ada kelakuan saya yang menyakiti mbak


Adah, mohon maafkan saya mbak, saya pamit.”


Syafi menutup resleting tas-nya, dan segera meyambar tas itu. Dia berjalan mendekati Adah dan memeluk Wanita itu.


“Non, jangan bercanda!” Syafi tidak menjawab lagi, dia melepaskan pelukannya pada Adah, dan segera pergi dari rumah itu.

__ADS_1


****


Maaf ya, tenaga habis buat di RL.🙈🙈


__ADS_2