
Dirga menjalani rutinitasnya seperti biasa, mendengar suara deringan khusus, Dirga langsung menyambar handphone-nya. Itu adalah pesan dari cctv Dirga yang tinggal di desa Syafi.
Sebuah pesan gambar masuk, Dirga membuka isi pesan itu, sangat jelas itu foto Romi.
"Romi?"
Tlink!
Pagi ini, laki-laki itu datang ke gubuk Syafi, mereka berbicara lumayan lama di teras, namun Syafi terlihat sangat marah, dan laki-laki itu juga langsung pergi.
Terima kasih.
Dirga hanya membalas pesan dengan kata itu. Andai handphonenya seperti kertas, handphone itu akan berubah jadi bola kertas, karena pemilik tangan itu me-re-mas handphonenya begitu kuat.
Dirga sangat kesal dengan tindakkan Romi, 2 minggu ini dia sudah bisa bahagia, karena bisa memantau kegiatan Syafi lewat video call dirinya dengan tetangga Syafi, semua kebahagiaan kecil yang Dirga rasa terancam sirna kembali.
Dirga langsung menghubungi Romi.
"Romi! Kenapa kamu mengganggu Syafi?! Siapapun yang mendatanginya tidak akan mendapat apapun, yang ada kemarahan Syafi padaku kian besar!" Makian Dirga seketika lepas kala panggilannya terhubung.
"Dari mana kamu tahu kalau aku menemui istrimu?"
"Kamu kira aku bisa menjalani hidup dengan mudah tanpa melihat dia? 2 minggu ini aku menemukan orang yang mau bekerja untukku, dia tetangga Syafi yang mau jadi cctv bernyawa buatku."
"What?" Romi kaget dengan pengakuan Dirga.
"Setiap pagi, kala Syafi drama berpura-pura seolah berbicara di telepon denganku, aku menikmati itu. Tetangga Syafi berpura-pura video call dengan kekasihnya di teras rumahnya, padahal dia menghidupkan kamera belakang agar aku bisa melihat Syafi sedang apa."
"Karena kedatangan kamu! Syafi mulai berkemas! Aku tidak tau dia mau pergi kemana!"
"Darimana kamu dapat sukarelawan cctv berjalan?" tanya Romi.
"Dari Adian, dia salah satu pekerja TAG yang ada di sana, dia cukup hafal dengan desa Syafi, dan dia punya sepupu yang tinggal di seberang rumah Syafi."
"Maafkan aku Dirga, aku hanya berusaha membantu agar Syafi mau kembali kepelukan kamu," sesal Romi.
"Sam sudah ku tegur agar jangan mendatangkan utusannya untuk mendekati Syafi, karena wanita itu waspadanya sangat tinggi jika ada orang asing di sekitarnya."
"Maafkan aku, karena aku gagal membujuknya, dan aku malah membuatnya pergi dari sana dan kamu tidak punya cara lagi untuk melihatnya."
"Kapan kamu kembali?" tanya Dirga.
"Besok pagi, karena aku masih lelah, jadi aku kembali besok saja, sekarang aku dalam taksi menuju Banjarbaru."
"Besok aku akan ke Bandara menjemputmu, kamu masih fase pemulihan malah melakukan perjalanan jauh."
"Demi kamu."
__ADS_1
"Syafi berbeda, mendekatinya susah, ini salahku biarkan aku menanggungnya sendiri."
Dirga dan Romi menyudahi panggilan telepon mereka.
Konsentrasi Dirga untuk bekerja buyar karena laporan cctv-nya.
Tlink!
Sebuah pesan masuk.
Saya barusan tanya, Syafi mau pergi ke mana, katanya mau ke desa kakeknya, desa itu di pelosok, bahkan signal akan sangat susah di dapat.
Pupus sudah harapan Dirga melihat Syafi di setiap paginya. Dirga membuang kasar napasnya. Niatnya mencari Syafi 3 atau 5 bulan kedepan pun menjadi samar, karena dirinya tidak tahu rencana apa yang akan dia susun untuk mendatangi Syafi.
***
Di Desa Syafi
Seorang anak kecil umur 9 tahun bersenandung sambil berlari-lqri kecil, dia begitu semangat mendekati bibi Syafi yang masih asyik dengan kegiatannya.
"Mama Nura …." Panggilnya.
"Syeila …." Sapanya, ketika melihat teman anaknya itu mendekat.
"Mama Nura, aku mau cerita, tapi rahasia ya, karena kata kak Vita ini rahasia." Anak kecil itu menekan suaranya.
"Kak Vita itu tiap pagi video call-an sama suami kak Syafi, pas aku tanya kenapa, kata kakak, kak Syafi sama suaminya berantem." Anak kecil itu begitu polos menceritakan keseharian kakak perempuannya pada bibi Syafi.
"Suami kak Syafi minta kak Vita rekamin kegiatan kak Syafi jika di luar rumah, dan kakak banyak dapat upah. Kemaren aku di beliin baju baru."
Bibi Syafi hanya diam mendengar cerita itu.
"Mama Nura janji ya rahasia."
"Iya mama Nura janji rahasiain ini."
Anak kecil itu berlalu begitu saja setelah membagi rahasia kakak perempuannya.
Bibi Syafi segera menyelesaikan kegiatannya, selesai mengukirkan mata pahat di setiap batang pohon karet, dia segera pulang dan mandi.
Dalam rumahnya, Syafi masih memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas jinjingnya.
"Jawab jujur sama bibi, Dirga ke mana?"
Syafi terkejut tiba-tiba bibinya ada di rumah ini.
"Dia kerja."
__ADS_1
"Kerja apa kerja?"
Syafi diam.
"Selama ini kamu bohongin bibi? Kamu pulang karena ada masalah sama Dirga bukan? Bukan karena Dirga dinas ke luar kota dan alasan adanya si kecil itu?"
Syafi masih betah dengan kebisuannya.
"Tadi adiknya Vita datang, cerita semuanya, kalau Vita mendapat pekerjaan menjadi mata Dirga, Dirga sangat merindukan istrinya, sampai membayar tetangga istrinya hanya untuk mengetahui kabar terbaru istrinya."
"Ceritakan semuanya pada bibi!"
Syafi mulai membuka mulutnya, menceritakan pernikahan Dirga dan Lala. Juga menceritakan apa urusan tamu laki-laki yang datang tadi pagi.
"Maafkan Dirga, dia menikah bukan untuk menyakitimu."
"Maaf bi, aku tidak bisa." Syafi menutup resleting tasnya, dan segera melangkahkan kakinya meninggalkan rumah penuh sejarah itu.
"Terima kasih bi, karena banyak membantu Syafi hampir satu bulan ini."
Bibinya hanya diam, dan memandangi punggung Syafi yang kian menjauh dari pandangan matanya. Sedang Syafi di luar rumah berpamitan pada tetangganya.
"Nggak sempat 1 bulan, sudah mau pulang lagi aja."
Syafi hanya tersenyum, alasan Syafi pada para tetangganya dia harus kembali ke kota suaminya.
"Kak Syafi, mau kemana?"
Terlihat tetangga Syafi yang bernama Vita mendekat.
"Mau pulang, kasian kak Dirga kangen sama aku, tapi sebelum pulang, aku mau ke desa kakek aku dulu."
Vita hanya diam mendengar cerita Syafi. Setelah bersalaman dan memeluk Syafi, Vita segera mengirim pesan pada Dirga.
"Syafi bilang sama warga desa kalau dia akan pulang, entah benar atau tidak, yang jelas katanya sebelum pulang dia mau ke desa kakeknya dulu.
Syafi pun meninggalkan desanya naik ojek yang menjemputnya.
Dirga sudah berada di ruangannya, rasanya ide untuk pekerjaannya menguap begitu saja, tidak satu pun berkas yang dia sentuh, pikirannya hanya Syafi.
"Syafi tidak pernah bercerita pada keluarganya atau tetangganya tentang masalah kami, dia selalu berusaha tampak bahagia, aku yakin itu hanya alasan Syafi saja, dia masih tidak memaafkan aku, bagaimana mungkin dia mau kembali ke sini."
"Tapi aku akan meminta orang Sam untuk memantau bandara, siapa tahu Syafi memahami kesulitanku lewat cerita Romi."
Dirga menceritakan semuanya pada Sam, kalau Syafi pergi dari desa, dan berpamitan pada tetangga juga keluarganya kalau akan kembali ke kota ini.
"Aku akan mengutus orangku, untuk memantau di Bandara, siapa tahu Syafi benar-benar mau kembali padamu."
__ADS_1