
Dua minggu berlalu.
Hari Mayfa 4 minggu terakhir terasa berat, namun 2 minggu terakhir ujian semakin berat, karena Syafi tidak bisa lagi di hubungi. Mayfa berusaha memahami keadaan temannya.
Namun hidup harus selalu berjalan, bukan Mayfa namanya jika dirinya bergelut dengan kesedihan berlama-lama, sedih pasti. Tapi, berusaha tetap bahagia itu perlu.
Seminggu terakhir partner bernyanyi Athan 11-11 sama Syafi, namanya Rena, melihat Rena bernyanyi rasanya kerinduan pada Syafi terobati.
Hari semakin sore, seperti kegiatannya pada semingu terakhir, Mayfa berada di tepi jalan menanti kuda besi online yang akan menjemputnya. Jemarinya terus memainkan handphone-nya, bukan memeriksa di mana posisi ojeknya, namun dia masih berharap sepersekian detik Syafi khilaf lalu meng-aktifkan selulernya.
Mayfa terus berusaha menghubungi nomor telepon Syafi, tetap saja, jawaban dari operator yang menyapa pendengarannya.
Mayfa hanya bisa memandangi layar handphone-nya. "Lu mau pergi dari hidup Dirga, masa lu juga pergi dari hidup gue?"
Plakkk!
Mayfa terkejut, sebuah gulungan kertas mengenai tubuhnya.
"Asem woy! Nggak lihat apa kalau ada anak perawan yang manis berdiri di sini." Mayfa menoleh kearah gulung kertas yang membuatnya kaget.
"Ditimpuk pakai kertas pula, coba kalau pakai duit segepok, gue ikhlas lahir batin!"
Mata Mayfa tertuju pada gulungan kertas yang mengenai tubuhnya, jiwa kepo Mayfa bangkit, membuatnya ingin tahu apa isi dari gulungan kertas itu.
"Nggak mungkin kan orang nimpuk gue gitu aja tanpa ada maksud, apa ini lamaran dari artis korea buat gue ya?" Dengan santai Mayfa memungut dan perlahan membuka gulungan kertas tersebut.
Kedua mata Mayfa membulat sempurna, kala melihat isi dari kertas itu.
Laporan DNA Fatttah dan Romi, di sana tertulis jelas kalau Romi adalah ayah biologis Fattah. Mayfa membuka kertas selanjutnnya. Mayfa masih ingat, kalau bayi yang bernama Fattah adalah anak dari istri kedua Dirga.
Plakkk!
Beberapa foto terjatuh dari kertas itu. Mayfa memungutnya. Rasa terkejutnya kian meledak, melihat Lala dan laki-laki lain terlihat begitu mesra.
Dalam foto itu, laki-laki yang bersama lala adalah Romi, sahabat Dirga. Malam itu Dirga hanya terjebak, niatnya hanya menolong Romi, malah dirinya harus menikahi Lala.
Dirga tidak pernah bahagia atas pernikahan keduanya, selama menikah justru dia tersiksa. Tersiksa karena merahasiakan, juga tersiksa jika harus mengatakan pada Syafi kalau dia menikah lagi.
Tindakkan Dirga tidak bisa dibenarkan, karena mengkhianati Syafi. Tapi Dirga hanya mencintai Syafi, pernikahan itu hanyalah demi menyelamatkan wanita yang dicintai sahabat Dirga.
Kamu sangat susah didekati May, maafkan aku karena harus mendekatimu dengan cara ini. 2 minggu ini kami sudah berusaha mencari Syafi, tapi usaha kami tidak membuahkan hasil. Bayangkan berapa desa di Kabupaten Hulu Sungai Tengah kami sisir hanya untuk mencari Syafi.
Melihat Dirga saat ini, aku semakin sakit May. Mayfa … aku yakin Syafi pun tersiksa jauh dari Dirga.
Mayfa, aku memohon dengan sangat padamu, mari kita kerjasama mengakhiri kesalahpahaman ini.
__ADS_1
Bantu kami membawa Syafi ke pelukan Dirga.
Ttd : Resa.
Mayfa mematung, dia sangat bingung harus apa. Dirinya saja sampai saat ini belum bisa menghubungi Syafi.
Mayfa menekan nomor telepon Resa, dan menghubungi wanita itu.
"Saya harus bantu apa Nona?" tanya Mayfa.
Mendengar Mayfa menawarkan bantuan, Resa sangat bahagia.
"Kamu mau bantu kami menjemput Syafi?"
"Saya harus izin lagi pada sekolah, dan saya malas kalau kena nyinyir ibu kepala Sekolah yang bilang …." Mayfa menghela napasnya begitu dalam.
"Mentang-mentang kalian orang dekat Tuan Samuel dan istrinya, kalian semaunya dan seenak jidad kalian mau masuk mengajar atau libur!" Mayfa menirukan gaya bicara kepala Sekolah.
"Saya ingin jadi guru yang berprestasi karena kualitas saya, bukan prestasi karena dekat dengan penguasa negeri ini."
Resa hanya diam mendengari keluhan Mayfa.
"Cukup di tempat tinggal saya orang-orang menghormati saya karena logo yang tertera pada nama saya."
"Logo?" Resa bingung.
Resa tersenyum mendengar candaan Mayfa. "Saya faham, susah berada di lingkup orang-orang yang ada maunya." Resa sangat mengerti jiwa bebas Mayfa, yang hanya ingin mempunyai teman yang menerima dirinya apa adanya bukan karena yang ada pada dirinya.
"Jadi maaf Nona, saya tidak bisa cuti hanya untuk mengantar orang suruhan Nona ke desa Syafi. Walau Nona memberi saya izin, tapi nantinya di mata guru yang lain, prestasi saya cemerlang karena Nona, saya tidak mau itu terjadi."
"Aku faham, May. Tapi … kamu kan bisa bantu yang lain, misal kasih tau aku, di mana tepatnya desa Syafi?"
Mayfa menyebutkan alamat lengkap Syafi, bahkan menyebutkan bagaimana supaya mencari Syafi lebih mudah, dengan menyebut nama almarhum kakek Syafi.
"Terima kasih banyak May," ucap Resa.
Mayfa menyudahi sambungan teleponnya. Namun ojeknya juga belum tiba. Sebuah mobil yang sangat Mayfa kenali berhenti tepat di depan Mayfa. Perlahan kaca mobil itu terbuka. Tampak sosok yang tampan, tapi kehilangan cahayanya.
"Dirga?" Mayfa seakan tidak percaya dengan yang dia lihat.
"Tumben May kamu tidak kabur saat melihat saya." Senyuman yang menghiasi wajah tampan itu terlihat sangat lemah. "Biasanya kamu baru lihat mobil saya saja sudah kabur duluan."
"Hahahaaa!" Mayfa hanya tertawa kaku.
"Mau saya anter May?" Tawar Dirga.
__ADS_1
"Tidak terima kasih, saya masih mau nama saya baik-baik saja."
Saat yang sama ojek online orderan Mayfa tiba. Tanpa basa-basi, Mayfa langsung menaiki ojeknya. Saat ojek itu melintas di samping mobil Dirga, Mayfa meminta pengemudi ojek berhenti. "Baik boleh, menolong boleh, kalau bisa menyakiti jangan. Kebohongan adalah hal yang sangat menyakitkan. Memang ada kata-kata, 'Berbohonglah jika itu demi kebaikan.' Coba pikir sedikit, kalau Syafi tau alasan kakak menikah lagi karena terjebak, dan kakak jelaskan semua dari awal, semua ini tidak akan menjadi luka seperih ini bagi Syafi."
Dirga terkejut Mayfa mengetahui sebab pernikahan rahasianya.
Pantas saja kebencian dari Mayfa lenyap, ternyata dia sudah tau.
Dirga berusaha mempertahankan senyumannya. "Aku tidak ingin menyakitinya May, tanpa aku sadari caraku bukan hanya menyakiti dia, tapi menyiksa. Sampai detik ini aku tidak berani datang ke Kalimantan, karena terbayang akan kebodohanku."
"Selamat berbahagia dengan keluarga baru kakak," ucap Mayfa.
"Aku dan Lala sudah bercerai, karena urusan Romi ayah biologis dari bayi itu sudah kami temukan."
" I don't care!" Mayfa menepuk bahu pengemudi ojek itu, motor itu pun melaju dari sana.
Dirga menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil, hidup tanpa Syafi, berat, mencoba mengejar Syafi sulit, terus mengejar hanya menyiksa wanita itu. Jangankan berbicara dengannya, Dirga bisa merasakan bagaimana rasa sakit Syafi jika sepasang mata wanita itu melihat dirinya.
"Aku diam bukan tidak mau memperjuangkan kamu Fiy, saat ini menyusulmu hanya membuatmu semakin sakit. Aku berjanji Fiy, setelah proyek kerja sama ini selesai, aku akan menyusulmu, bahkan aku siap jika harus ikut tinggal denganmu di sana." Tekad Dirga.
****
Di desa Syafi.
Kehidupan Syafi berjalan seperti itu saja, tidak ada yang istimewa. Hanya saja harus ada drama yang dia lakoni setiap paginya. Syafi mengintip kearah bibinya yang tengah menyadap karet. Saat bibinya hampir sampai di pohon karet dekat rumah yang dia tinggali, saatnya miss drama beraksi.
"Ayank, jangan lupa makan ya …."
Syafi berpura-pura berbicara di telepon, seolah berbicara pada Dirga.
"Iya, aku sudah makan, tahan kangennya ya, kabarin kalau kakak sudah pulang, aku juga segera pulang."
Bibi Syafi tersenyum mendengar sepotong percakapan Syafi di telepon.
"Cil, handak bapandir lawan Dirga, kah?"
(Bi, mau bicara sama kak Dirga?)
"Kada handak, kam haja."
(Tidak, kamu saja.)
Syafi tersenyum, bibinya memang tidak mau berbicara dengan Dirga, karena lidah yang keseleo kalau harus komunikasi menggunakan bahasa indonesia.
Senyuman Syafi lenyap, saat melihat orang yang baru dia lihat tengah berbincang dengan beberapa tetangga seberang rumahnya. Otak kotornya mengatakan itu utusan Dirga.
__ADS_1
Melihat salah satu warga menunjuk kearahnya, Syafi semakin yakin kalau orang itu mencari dirinya.