Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 70


__ADS_3

Siap lanjut dengan Season 2 Sebatas Pendamping?


Kalau siap kesel silakan lanjut baca, kalau gak siap nahan diri mau jambak Authornya, mendingan skip aja 🤭🤭🤭


Hayukk lanjut, maafkan Author Fiy ...


***


Bab 70


Tidak terasa, pernikahan Syafi dan Dirga memasuki tahun ketiga. Walau sampai saat ini pernikahan mereka tidak sempurna, tapi kebahagiaan mereka tidak berkurang sedikitpun. Keduanya pasangan yang sangat romantis, membuat tetangga komplek perumahan Dirga merasa iri akan keromantisan mereka.


Dua bulan yang lalu, pembantu lama Dirga berhenti, karena faktor usia yang sudah tak muda lagi, kini keponakan bi Masri yang bekerja di rumah Dirga, namanya Adah, usianya terpaut tidak terlalu jauh dengan Syafi.


Adah sangat kagum akan pasangan ini, kedua majikannya ini selalu terlihat bahagia, tidak pernah cekcok atau apapun itu, bekerja di rumah ini begitu damai, pantas saja bibinya Masri betah bekerja lama di sini.


"Pagi mbak ...." sapa Syafi.


Kekaguman Adah akan kedua majikannya buyar. "Pagi Nyonya, tumben Nyonya turun sendirian." Mata Adah tertuju kearah tangga, biasanya kedua majikannya selalu bersama.


"Kak Dirga habis sholat subuh tadi laangsung pergi, ada tugas kantor di luar kota." Senyuman terus menghiasi wajah Syafi. "Temani saya sarapan ya ...." pinta Syafi.


"Iya Non." Adah segera menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


"Apa setiap satu bulan, Tuan Dirga selalu pergi ke luar kota?" Adah ingat, awal dia bekerja di rumah ini Dirga pernah pergi ke luar kota selama tiga hari pada tanggal yang sama pula.


"Iya, 6 bulan terakhir kak Dirga mendapat tugas rutin ke luar kota."


"Semoga saja benar tugas kantor." Adah langsung menutup mulutnya. "Maaf Nona, saya lancang, mana mungkin Tuan Dirga seperti mantan suami saya." Adah sangat menyesal keceplosan bicara.


"Mantan suami mbak Adah kenapa?"


"Suami saya menikah lagi, karena saya tidak bisa memberikan dia anak."


Dugggg!


Perasaan Syafi langsung tidak enak, dia memiliki masalah yang sama.


"Bermacam usaha sudah kami lakukan, di tahun kelima pernikahan kami, dia menikah lagi, sebelum saya mengetahui hal itu, awalnya dia hanya pergi sekali sebulan, lama-lama dia malah pulang sebulan sekali ketempat saya. Saya yakin Tuan Dirga berbeda, maafkan saya Nona," sesal Adah.


Syafi berusaha tersenyum, walau 6 bulan terakhir dia merasakan firasat yang tidak enak.


"Nona ... saya mohon, Anda jangan memikirkan yang tidak-tidak tentang Tuan Dirga, maafkan saya." Adah merasa sangat bersalah.


"Saya cuma kepikiran, kenapa sekarang kak Dirga belum menelepon." Syafi memberikan senyumannya, meyakinkan Adah kalau dirinya baik-baik saja.


"Kita sarapan yuk Non." Adah memberikan piring yang berisi nasi dan lauknya pada Syafi.


Syafi menerima piring yang Adah berikan padanya. Saat yang sama, handphone Syafi berdering.


"Nah, itu kak Dirga, aku angkat telepon dulu, mbak Adah silakan makan duluan." Syafi langsung mengambil handphonenya dan menggeser icon bewarna hijau.


"Assalamu alaikum, bee."

__ADS_1


"Wa alaikum salam, sayang. Sudah makan?"


"Ini baru mau makan."


"Ya sudah makan dulu sana, nanti kakak telepon lagi."


"Hiks ... Hikssss .... Aaa ...."


Syafi mendengar begitu jelas suara tangisan bayi dari ujung telepon sana.


"Aku mau lanjut kerja dulu ya sayang," pamit Dirga.


"Suara bayi siapa itu bee?" Syafi sangat khawatir.


"Bayi? itu nada dering handphone rekan kerjaku, sudah dulu ya." Dirga langsung memutuskan panggilan telepon mereka.


Hati Syafi diselimuti rasa takut, walau dia sering meminta Dirga menikah lagi, tapi andai itu diwujudkan Dirga, dirinya belum siap. Dirga bukan sosok yang pandai berbohong, Syafi yakin ada sesuatu di sana.


"Ada apa Non?" tanya Adah.


"Tidak ada apa-apa, oh ya mbak Adah makan duluan, aku ada rapat dewan guru di sekolahan." Syafi langsung meninggalkan meja makan.


"Makanan Non, mbak masukin ke kotak bekal ya Non."


"Iya ...." Tapi wanita itu terus berlari kearah kamarnya.


Setelah mengenakan seragam guru, Syafi segera bersiap untuk pergi menuju sekolahan T.A School. T.A singkatan dari The Alvaro, nama perusahaan Sam yang baru.


"Ini Non bekal Nona, di depan ada supir baru yang sudah menunggu Nona." Adah memberikan tas yang berisi bekal sarapan Syafi.


"Iya, nggak apa-apa Non, Non hati-hati."


Syafi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia melangkahkan kakinya begitu cepat menuju mobil yang sudah menunggunya di depan.


"Selamat pagi Nona Syafi, saya Dhani, supir pribadi Nona yang baru."


"Selamat pagi, Pak. Kita langsung ke T.A School dulu ya, saya ada rapat."


"Oh iya."


Supir itu terlambat membukan pintu mobil, karena Syafi membuka sendiri, setelah dia masuk, dia menutup pintu mobil itu sendiri pula.


Dhani faham, kalau majikannya tengah buru-buru, dia segera berlari menuju tempat kemudi, tidak berbicara lagi, setelah memastikan majikannya siap melalui spion yang ada di depannya, Dhani segera melajukan mobil menuju gedung sekolah tempat majikannya mengajar.


Perlahan Dhani menurunkan laju mobil yang dia kendarai, karena gedung sekolah semakin dekat. "Pak, Bapak langsung saja ke kantor Kak Dirga, tidak usah bukain saya pintu mobil."


Saat mobil itu berhenti sempurna, Syafi segera turun dan kembali menutup pintu mobil itu. Tujuan Syafi saat ini adalah dua sahabatnya, Mayfa dan Athan.


Setelah mobil itu menjauh, Syafi berlari kearah pos satpam, dia memberikan tiga pucuk surat izin tidak mengajar hari ini, setelah memberikan surat tersebut Syafi mengirim pesan pada Athan dan Mayfa.


Gaes aku butuh bantuan kalian, kalian tidak usah mengajar hari ini, ini penting, surat izin kalian sudah aku serahkan. 15 menit lagi, kita bertemu di kost-an Mayfa.


Syafi mengirim pesan yang sama pada Athan dan Mayfa. Selesai mengirim pesan, Syafi langsung meng-order ojek online untuk menuju kost-an Mayfa.

__ADS_1


Dentuman irama jantung Syafi sangat tidak beraturan, mengingat suara tangisan bayi dari ujung telepon tadi sungguh merusak pertahanan hatinya, sekujur tubuh Syafi gemetar menahan segala kekacauan yang mulai memporak-porandakan hatinya.


"Nona Aurelia Syafitri?" Sebuah motor berhenti di dekat Syafi.


"Iya, langsung saja ya Pak." Syafi menerima helm yang pengemudi ojek berikan padanya, setelah Syafi menaiki motor tersebut, pengemudi ojek segera melajukan motornya menuju alamat yang Syafi tuju.


Sedang di belahan lain.


Flas back.


Dirga tenggelam dalam lamunannya, sudah 6 bulan ini dia menikahi wanita asing yang bernama Wayla, Wayla dia nikahi saat wanita itu hamil 5 bulan. Pernikahan dadakan yang sama-sama tidak diinginkan oleh keduanya.


"Kak Dirga, boleh titip Fattah?"


Pertanyaan Wayla membuat lamunan Dirga buyar.


Wajah Wayla tampak menahan sesuatu. "Aku mules ...." ringisnya.


"Oh, baik." Dirga segera mengambil Fattah yang masih berada dalam gendongan Wayla.


Fattah, bayi mungil yang berusia 2 bulan itu kini berada dalam gendongan Dirga.


Dirga tidak tahu harus apa, dia dan Wayla sama-sama terjebak oleh ikatan pernikahan ini, Dirga memandangi wajah mungil yang tak berdosa itu, melihat Fattah yang mulai memejamkan kedua matanya, membuat Dirga lebih santai, dia kembali duduk di sofa, kini sebelah tangannya meraih handphone. Sumpah demi apapun selama 6 bulan ini dirinya tidak tenang. Dia merasa sangat bersalah pada Syafi.


Walau dirinya dan Wayla tidak memiliki perasaan apapun, ikatannya dengan Wayla adalah suatu pengkhianatan kepada Syafi. Dirga merasakan sakit yang teramat dalam didalam dirinya, mengkhianati wanita yang sangat dia cintai adalah hal yang paling menyakitkan, dan rasa sakit itu tak bisa Dirga perumpamakan.


Rasa cinta yang besar, rasa rindu yang teramat, juga rasa sakit menjadi satu dalam hati Dirga.


Padahal baru beberap jam dirinya berpisah dengan Syafi, dia sudah sangat merindukan wanita itu. Dirga memandangi Fattah, bayi mungil itu masih tidur, Dirga pun menggisi waktu kosongnya untuk menelepon Syafi. Tidak berselang lama, panggilan Dirga langsung terhubung.


"Assalamu alaikum, bee."


Mendengar suara Syafi, mood Dirga seketika membaik.


"Wa alaikum salam, sayang. Sudah makan?"


"Ini baru mau makan."


Fattah mulai menggeliat, Dirga pun panik. "Ya sudah makan dulu sana, nanti kakak telepon lagi." Dia berharap menyudahi panggilan teleponnya dengan Syafi.


"Hiks ... Hikssss .... Aaa ...."


Terlambat, bayi mungil itu mengeluarkan suaranya.


"Aku mau lanjut kerja dulu ya sayang," pamit Dirga.


"Suara bayi, bayi siapa itu kak?" Syafi sangat khawatir.


Duggg! Dirga semakin panik."Bayi? itu nada dering handphone rekan kerjaku, sudah dulu ya." Dirga berusaha mengelak dan langsung memutuskan panggilan telepon mereka.


"Maafkan aku sayang ...." sesal Dirga, Dirga menaruh handphone-nya dan berusaha menenangkan Fattah.


***

__ADS_1


Update tidak rutin, masih sibuk, hanya saja kangen dengan kegiatan menulis 🤭🤭🤭


__ADS_2