
Setelah menerima pesan dari Syafi, Mayfa sangat cemas, dia bisa merasakan kalau ada yang tidak menyenangkan bagi Syafi. Mayfa menunggu kedatangan dua sahabat di tempat khusus anak kost di sini menerima tamu.
Tidak berselang lama, seorang laki-laki tampan memasuki area parkiran kost yang Mayfa tempati. Dia melempar senyum kearah Mayfa, sedang kedua tangannya meletakkan helm pada spion kaca motornya. Tanpa membuang waktu lagi, dia melangkahkan kakinya begitu cepat menghampiri Mayfa.
"Ada apa Fa, kok Syafi meminta kita berkumpul di sini?"
"Entahlah Than, aku merasakan Syafi mengalami masalah."
"Nah itu anaknya." Athan menunjuk kearah ojek online yang menurunkan penumpang di depan kost-an Mayfa.
Benar saja itu Syafi.
Mayfa semakin cemas, saat melihat gurat kesedihan pada wajah sahabatnya itu. Dia langsung berlari kearah Syafi dan memeluk wanita itu.
"Ada apa Fiy?"
Syafi melepaskan pelukan Mayfa. "Bisa kita bicara di sana saja?" Syafi menunjuk kearah di mana Athan berada.
"Oke."
Mayfa dan Syafi pun melangkahkan kaki mendekati Athan. Mereka duduk mengelilingi sebuah meja kecil.
"Katakan ada apa?" Mayfa sangat penasaran.
"Ingat lagu dua kursi?" tanya Syafi.
"Kalau ada makanan di meja
Mangga legleg ku sia
Teroret, teroret, teroret ...." Athan bernyanyi dengan gaya konyolnya.
"Bukan parodinya!" Syafi terlihat kesal.
"Athan, miss somplak kita udah tobat karena sering anu--"
"Jangan bercanda pleas!" sela Syafi.
"Iya yang mana dong?" protes Athan.
"Satu kali kau salah melangkah, bibir mulai berdusta, bila tingkah lakumu berubah, aku pasti curiga."
"Dirga jatuh di mana?" sela Mayfa.
"Mayfa! Ini serius!" tegur Athan.
Athan mulai bisa menangkap apa yang Syafi rasakan saat ini. "Dirga berubah?" tanyanya.
"Berubah belum, hanya saja aku merasakan--" Syafi sangat berat mengatakan hal yang dia rasa.
"Merasa apa?" tanya Mayfa lembut.
"Merasakan, kalau dia menjalin hubungan baru dibelakangku." Seketika air mata Syafi mengalir deras setelah mengatakan apa yang hatinya rasakan.
__ADS_1
"Aku butuh bahu May ...." rengek Syafi.
"Sini bahuku selalu siap untukmu, mau sebelah kanan apa kiri?"
"Yang lebih lebar sebelah mana?"
"Yang lebih lebar bahuku," sela Athan.
Mayfa tidak mampu lagi berusaha menbuat wanita itu tersenyun dengan candaannya. Dia menarik Syafi kedalam pelukannya, berharap bisa menguatkan sahabatnya ini. "Itu hanya ketakutan kamu saja, Dirga tidak akan melakukan hal itu, dia sangat mencintai kamu."
"Ada yang mengganjal?" tanya Athan.
"Secara mencolok tidak ada, tapi 6 bulan terakhir, dia sering keluar kota pada tanggal yang sama, dan itu hanya sehari."
"Kamu sudah tanya kantor Dirga?" tanya Mayfa.
"Bagaimana aku bertanya May?"
"Nanti aku bantu," sela Athan.
"Terus apalagi yang membuat kamu bisa berpikir sejauh ini?" tanya Mayfa.
"Suara bayi, tadi pagi saat aku menelepon, aku mendengar suara tangisan bayi dari sana."
"Mungkin saja itu tangisan anak pengunjung restoran tempat Dirga sarapan." Mayfa berusaha membuat Syafi berpikir lebih positif.
"Kata kak Dirga itu nada dering handphone rekan kerja yang lain, tapi hatiku mengatakan, itu tangisan bayi yang ada dalam--" Syafi sungguh hancur, dia tidak bisa meneruskan ucapannya. Hanya isak tangis yang berusaha Syafi tahan terlepas dari mulutnya.
Athan meminta Mayfa tenang, dengan isyarat gerak tangannya.
Syafi terus menumpahkan tangisannya di dalam pelukan Mayfa. "Bagaimana kalau itu anak kak Dirga dengan istri barunya?"
Duggggg!
Andai itu benar, Mayfa pun merasa sesak. "Tenang Fiy, tenang ... kita cari tau sama-sama ya ...." bujuk Mayfa.
"Bagaimana mencari taunya May?" rengek Syafi.
"Ini zaman modern Fiy, hanya memasukkan nomer handphone Dirga, kita bisa melacak di mana saat ini Dirga berada," sela Athan.
"Makanya kamu tenang, setelah kamu tenang, kita cari tahu dari kantornya dulu, bagaimana?" tanya Mayfa.
Syafi berusaha menguatkan hatinya, jika dia bisa tenang, penyelidikan bisa di mulai lebih cepat.
"Kalian berdua naik taksi saja, tunggu aku di restoran yang tidak jauh dari gedung TAG, (The Alvaro Group.)" pinta Athan.
"Aku akan mencari tau apa pekerjaan Dirga pada tanggal ini di setiap bulannya," sambung Athan.
Ketiga sahabat itu memulai rencana mereka, setelah Syafi dan Mayfa menaiki taksi online, Athan pun segera melajukan motornya menuju gedung TAG.
Sesampai di gedung TAG, Athan harus menjalani prusedur yang berlaku untuk menemui pemimpin perusahaan tersebut, beruntung dirinya bertemu Tuan muda TAG, Gavin dan Gilang.
"Pak Guru tampan, kenapa Bapak ada di kantor papa kami?" tanya Gavin.
__ADS_1
"Oh, Bapak ada urusan sedikit sama papa kalian, biasa urusan orang dewasa," jawab Athan
"Ya sudah, ayok ikut kami saja," ajak Gavin.
Athan memadang kearah wanita cantik yang menggendong seorang anak perempuan yang berusia kisaran dua tahunan. "Boleh Nona?"
"Tentu boleh Athan, kau itu adalah sahabat Syafi dan guru kedua putraku." Resa hanya tersenyum melihat Athan besikap begitu formal.
"Terima kasih Tuan muda, dan Nona Resa," ucap Athan.
"Silakan ikuti kami," ucap salah satu bodyguard yang menjaga Resa dan ketiga anaknya.
Athan merasa beruntung, jalannya menemui Sam di permudah.
Setelah melewati beberapa lantai dengan menaiki lift khusus, akhirnya mereka sampai di ruangan Sam.
Setelah pintu ruang kerja Sam terbuka, Sam sangat bahagia melihat beberapa orang yang paling penting dalam hidupnya. "Sayang ...." Sam langsung menyambut kedua putranya, memeluk Gavin dan Gilang bergantian, lalu mencium putri kecilnya, tidak lupa satu ciuman khusus mendarat diantara kedua alis Resa.
Acara romatis itu selesai.
"Oh ya, ini ada Athan, katanya ada urusan sama papa." Resa menunjuk kearah Athan.
"Selamat pagi Tuan." sapa Athan, Athan merasa kaku melihat keromantisan keluarga TAG barusan.
"Hai Athan." Sam langsung menyalami tamunya.
"Anak-anak, main ke kamar papa dulu, biar Pak Guru bicara sama papa kalian dulu ya." pinta Resa pada kedua putranya.
Kedua anak yang begitu aktif itu pun berlari kecil menuju kamar khusus yang ada di ruangan Sam, bersama ibu mereka.
"Ayo langsung saja Than, soalnya aku hari ini ingin berlibur bersama keluargaku." Sam mengajak Athan masuk kedalam ruangannya.
"Kalau Tuan sibuk, saya akan datang lain waktu saja." Athan merasa bersalah, karena datang bukan pada waktu yang tepat.
"Tidak, ayo ... katakan, biar kita sama-sama bantu."
Sam duduk di salah satu Sofa, dia pun meminta Athan agar duduk di salah satu sofa yang ada.
"Dirga, kan pada tanggal ini dia--"
"Owh, aku tau. Kalian pasti juga ingin merencanakan liburan bulanan, Dirga sudah mengatur pada setiap bulan untuk tanggal ini, dia libur bekerja." potong Sam cepat.
"Libur?" Athan sungguh terkejut dengan perkataan Sam.
"Iya, Dirga meminta libur sehari pada tanggal ini, daripada Dirga saja yang libur, jadi aku juga memakai tanggal ini untuk membawa keluargaku berlibur, walau hanya sehari." Wajah Sam dipenuhi keceriaan.
"Oh terima kasih Tuan, jadi saya tidak merasa bersalah, jika ikut berlibur bersama pasangan suami istri itu, hanya itu yang ingin saya tanya, bertanya pada Dirga, saya tidak enak."
"Tenang saja, aku tidak akan cerita kalau sahabatnya menanyakan kenapa liburan mereka selalu tanggal ini, aku senang ternyata Dirga juga mengajak sahabat istrinya berlibur bersama."
"Selamat berlibur juga Tuan, saya harus pergi, teman saya Mayfa juga menunggu." kilah Athan.
Setelah mendapat jawaban atas pertanyaannya, Athan segera meninggalkan gedung TAG. Dia melajukan motornya menuju restoran yang dia janjikan pada Mayfa dan Syafi.
__ADS_1