
The way you Are … The way you are …
Girl you’re amazing … Just the way you are …
Improv lagu Just The Way You Are yang di bawakan Athan di akhir lagu.
Seketika gemuruh tepukkan tangan terdengar heboh, semua orang suka dengan penampilan Athan barusan. Senyuman Athan mendadak hilang saat melihat murka-nya wajah Syafi. Athan meminta rekannya yang lain untuk melanjutkan acara, sedang dia mendekati Syafi.
“Puas bikin aku malu?” cerca Syafi.
“Bikin malu apanya?” Athan bingung.
“Barusan, kamu menyatakan cinta pada wanita yang sudah bersuami!”
“Bersuami? Apakah benar?”
“Benar ataupun tidak itu bukan hak mu!”
“Aku hanya ingin memperjuangkan cintaku, aku jatuh cinta padamu sejak lama! Semua rayuanmu, aku terbuai dan aku bahagia, walau aku tahu kau hanya bercanda.”
“Hari ini adalah hari terakhir aku datang menemui kamu. Maaf aku tidak bisa menerima kamu.” Syafi langsung pergi meninggalkan lapangan itu.
Dari kejauhan Dirga tersenyum, tidak ada yang tau dia sedang tersenyum, wajahnya tertutup masker. “Lihat May, jangan takut, Athan tidak bisa meluluhkan hati Syafi, karena Syafi menjunjung tinggi pernikahan kami.
Mayfa merasakan firasat aneh, melihat Athan mengejar Syafi, Mayfa juga ikut mengejar Syafi. Mayfa jauh tertinggal di belakang, dari kejauhan terlihat Syafi berhenti di bawah pohon, tempat biasa mereka menunggu ojek online. Mayfa terus mempercepat langkahnya.
Di bawah pohon itu Syafi terus memandangi layar handphone-nya. Berharap ojek online yang dia order cepat datang.
“Fiy ….” Athan terlihat ngos-ngossan karena berlari.
“Kak, tolong cari wanita lain, jangan jatuh cinta padaku, aku tidak bisa kak.”
“Kenapa tidak bisa?” Suara yang bersumber dari arah belakang menyita perhatian Syafi dan Athan.
Terlihat Arnaff bergandengan dengan wanita cantik yang sangat menyebalkan bagi Syafi.
“Nggak bisa, sayang. Karena cowok itu bukan orang berada seperti kamu, mana mau dia.” Alvi meledek Syafi.
“Kalian! Mulut di jaga! Syafiku bukan wanita seperti itu!” bentak Athan.
__ADS_1
“Memang … dia wanita seperti apa?” Alvi memandangi Syafi dengan pandangan yang menghinakan. “Dengari baik-baik, wanita di samping kamu itu hanya penghancur sebuah hubungan!” tekan Alvi.
“Ada apa ini?” Mayfa langsung berdiri di samping Syafi.
“Waw, si penghancur ini banyak yang sayang,” ucap Arnaff sinis.
“Penghancur? Yang penghancur itu Anda Tuan Arnaff!” balas Mayfa.
“Jaga mulut Anda Nona!” balas Alvi. “Wanita yang berada di samping Anda itu, penghancur! Buktinya … persahabatan Sam, Dirga, dan Arnaff sudah terjalin sejak mereka kecil hingga sekarang. Ups … tepatnya sebelum wanita itu datang ke sini. Sekarang Dirga dan Sam memutus persahabatan dengan Arnaff, semata membela sii penghancur!” Alvi memandangi Syafi begitu tajam.
“Kalau tidak percaya, tanyakan saja pada sahabat Anda, Nona. Dia saksi, perusahaan saya hancur karena Sam benci saya, Sam membenci saya karena wanita itu.” Arnaff menambahi.
“Dia sangat terobsesi pengen jadi orang kaya, tapi sayang ….” Alvi terus memandangi Syafi dengan tatapan yang merendahkan.
“Kalau kau ingin di terima cintamu, jadi CEO dulu.” Arnaff menepuk pundak Athan. Athan langsung menepis tangan Arnaff.
“Jangan-jangan Syafi menolak pemuda ini, karena dia mengincar Dirga, yank ….” Ledek Alvi.
“Ohoooo, tidak pantas Nona ….” Arnaff tertawa lepas. “Kalau Dirga mau ‘pun pasti karena kepepet,” ledek Arnaff.
“Kamu benar sayang, dia miss drama. Pasti mudah baginya mempermainkan perasaan Dirga.” Alvi menambahi.
Mayfa masih adu mulut dengan Alvi, tidak segan wanita itu menarik rambut Alvi, membuat Arnaff dan Athan harus melerai keduanya.
Paappppppp!
Brukkkk!
Suara klakson yang kencang dan bunyi ambruknya sesuatu menyita perhatian semua orang, saat Mayfa menoleh ke belakangnya, hatinya nyeri melihat Syafi terkapar di jalanan. “Syafiiii!” Teriak Mayfa.
Athan pun langsung menoleh, seketika dia berlari menuju Syafi. “Siapa saja tolong telepon ambulan!” Teriak Athan.
Seketika kerumunan manusia terkumpul di sana. Alvi dan Arnaff memandang sinis kearah Syafi, padahal keadaan Syafi tampak memprihatinkan. Kerudung biru yang dia kenakan mulai di basahi cairan berwarna merah.
“Kita pergi sayang, rasanya kita menonton serial azab di tv ikan terbang.” Alvi dan Anaff langsung pergi dari sana.
Di tempat yang sama, sudut yang berbeda, Dirga melajukan pelan mobilnya, perlahan mulai keluar dari kerumunan. Handphone-nya berdering, terlihat nama Mayfa yang memanggilnya. “Iya May?”
“Kakak di mana?”
__ADS_1
“Aku masih di anuuu”
“Syafi ketabrak bus, ini aku di ambulan, menuju Rumah Sakit.” Mayfa bertanya Rumah Sakit mana tujuan Ambulan ini, dia segera menyebutkan nama Rumah sakit yang akan mereka tuju. Rasanya tubuh Dirga lemas mengetahu Syafi kecelakaan. Dirga menekan keras klakson mobilnya, seketika jalan terbuka, Dirga segera memacu kecepatan mobilnya menuju Rumah Sakit.
Sesampai di Rumah Sakit, Dirga langsung bertanya di mana korban kecelakaan barusan. Mengetahui di mana Syafi di tangani, Dirga segera berlari menuju ruangan itu. Terlihat Athan dan Mayfa berada di depan ruangan itu, baju yang mereka kenakan terlihat ken noda merah. Dipastikan itu darah Syafi.
“Bagaimana keadaan dia?” Dirga langsung bertanya pada Mayfa.
“Belum tahu, kak.”
“Kenapa bisa kejadian?” Wajah Dirga terlihat hancur.
“Semua ini karena kamu, Arn—”
“Kak Athan!” tegur Mayfa. “Kak, ini Rumah Sakit, pleas kita damai dulu,” pinta Mayfa.
Ketiganya kompak diam. Samar terdengar suara adzan magrib terus berkumandang. Mayfa memandangi bajunya, dia tidak bisa salat karena bajunya kena darah Syafi. Athan juga demikian.
“Kalian berdua pulang saja, setelah ba’da isya, kalian kembali lagi. Aku tidak mengusir hanya mengusul,” ucap Dirga.
Mau tak mau, Mayfa dan Athan harus kembali ke kost mereka. Ada Dirga yang menjaga Syafi saat ini.
Waktu terus berjalan. Tim dokter keluar masuk dari ruangan itu, berulang kali Dirga mengejar dokter yang menangani Syafi, tapi dia belum dapat jawaban yang memuaskan. Sekembalinya Dirga dari Mushalla yang ada di
Rumah Sakit itu. Terlihat salah satu dokter keluar dari ruangan Syafi.
“Ada perkembangan dok?” Dirga langsung betanya pada dokter.
Dokter melepas masker wajahnya. “Luka di kepalanya tidak serius, memang dia kehilangan banyak darah, tapi semua sudah stabil. Yang bikin kami heran, sepertinya pasien memang enggan untuk sadar. Entah depresi atau apa, sehingga tidak ada semangat dari pasien untuk sadar. Kami bingung. Tapi kami akan terus bekerja sebisa kami.”
Dirga terdiam mendengari penjelasan dokter. Dokter itu juga langsung pergi. Dirga menyandarkan tubuhnya di tembok Rumah Sakit itu, kedua telapak tangannya mengusap kasar wajahnya. “Apakah alam bawah sadarmu lebih indah dari alam nyata ini Fiy? Sehingga kamu enggan untuk sadar.”
***
Bersambung,
Maaf, aku gak bisa ngetik banyak, makasih semua yang dukung aku 🤗🤗🤗🤗
Izin libur gak up lagi beberapa hari kedepan ya, kalau aku ada waktu, aku pasti up lagi, makasih sudah menemani Syafi dan Dirga hingga detik ini.
__ADS_1