
Setelah dari Rumah Sakit, mobil yang dipenuhi bermacam sticker iklan tv kabel itu melaju menuju rumah Agus. Mereka mengembalikan semua barang milik Agus.
"Bagaimana?" tanya Agus.
"Alhamdulillah kak, kami menemukan jawaban," sahut Syafi.
"Terima kasih banyak mas, berkat bantuan mas, kami bisa menemukan semua jawaban yang jelas," sela Athan.
"Saya juga senang bisa membantu kalian. Oh ya, kata rekanku, salah satu dari kalian pingsan." ucap Agus.
"Ah, hanya kelelahan, stres, dan lupa makan, tadi sudah diperiksa dokter," sahut Syafi.
"Terima kasih banyak mas, kami pamit. Syafi juga butuh istirahat," sela Mayfa.
Mereka bertiga pun pamit dan pergi dari rumah Agus. Athan mengendarai motornya menuju rumah Dirga, sedang Mayfa dan Syafi menumpangi taksi online.
Sesampai di kediaman Dirga, Athan sudah lebih dulu sampai di sana. Mobil taksi pun berhenti di depan rumah sederhana itu. Mayfa dan Syafi masih betah di dalam mobil taksi itu.
"Malam ini Dirga kan pulang, kamu kuat lihat wajah dia?" Mayfa memastikan.
"Insya Allah aku kuat May."
"Kalau nggak kuat bilang, gue akan datang, gue nggak bisa bantu apa-apa, tapi ... jika ada gue, setidaknya bahu gue masih mampu buat tempat lu bersandar."
"Aku masih kuat, percaya ama aku."
"Ogah! Percaya ama elu syirik! Percaya itu sama Tuhan aja."
Terukir senyuman di wajah Syafi. "Terima kasih banyak May. Kamu tau, perjumpaan kita anugerah bagi aku Sebelumnya hidupku kosong, hampa tanpa tujuan, mengenal kamu, duniaku menjadi lebih berwarna." Syafi langsung memeluk Mayfa.
"Warna kuning maksud lu?"
Tawa keduanya lepas. "Setidaknya ada warna, gak gelap maupun burem." protes Syafi.
Mereka segera bersiap turun. Syafi memberikan ongkos lebih pada supir taksi online yang mengantar mereka. Setelah turun dari taksi, keduanya langsung mendekati Athan.
"Yakin kamu Fiy pulang ke rumah ini?" mata Athan memandang kearah rumah Dirga.
"Yakin, sudah kalian boleh pulang. Terima kasih banyak atas segalanya," ucap Syafi.
"Kami juga senang bisa bantu kamu," balas Athan.
"Kalau ada sesuatu apapun itu, kabari gue," pinta Mayfa.
"Iya."
Syafi memang terlihat tegar, membuat Athan dan Mayfa lega meninggalkan wanita itu.
Syafi melambaikan tangannya melepaskan kepergian dua sahabatnya. Mayfa pulang bersama Athan, menaiki motor Athan.
"Pulangnya siang banget Non ...."
Sapaan itu membuyarkan perhatian Syafi pada punggung dia sahabatnya yang semakin menjauh dari pandangan matanya.
"Aku lagi kumpul sama teman mbak." kilah Syafi.
__ADS_1
"Ya sudah, istirahat atuh Non, malam ini kan, Tuan pulang."
"Iya mbak."
Syafi dan Adah masuk kedalam rumah bersama-sama.
******
Di kediaman Lala.
Dirga memasukkan koper ke dalam bagasinya. Seperti biasa, jika tanggal ini, dirinya hanya datang pagi, dan pulang saat sore.
"La."
"Iya kak."
"Kalau ada orang yang hanya datang sesekali, maksudku bukan tetangga atau keluargamu, panggil aku dengan namaku saja."
"Maaf kak, aku--" Lala bingung sendiri, jujur hatinya senang memanggil Dirga dengan panggilan Ayah.
"Lain kali cukup panggilan itu di tengah keluargamu, di tengah orang asing yang tidak mengenal kita, tidak perlu. Ya susah La, aku permisi," pamit Dirga.
"Hati-hati di jalan kak." Lala sambil menggendong Fattah melepaskan kepergian Dirga.
Laki-laki itu hanya tersenyum sedikit, dan segera masuk kedalam mobilnya.
Lala hanya bisa memandangi kepergian Dirga. Mobil Dirga sudah hilang dari pandangan matanya, tapi tetap saja Lala memandang kearah mobil itu melaju.
Kak Dirga ... kenapa dalam hatimu cuma ada Syafi? Lihat aku sedikit saja kak, aku juga bisa menjadi istri yang baik jika kakak mengizinkan.
Dirinya dan Dirga sepakat, kalau hubungan mereka hanya sebatas pendamping saja, tapi rasa nyaman yang timbul menumbuhkan perasaan lain. Perasaan yang muncul siapa yang bisa mencegah, bahkan dirinya pun tidak mampu.
"Non, Non nggak sedih gitu ditinggal sebulan, datangnya cuma sehari?"
Pertanyaan Jumi membuyarkan segala khayalan Lala.
"Namanya juga kerja bi, demi masa depan kami." Lala berusaha tersenyum.
*
Dirga terus fokus pada jalanan yang dia lalui, 6 bulan ini mencari Romi, dia belum juga menemukan laki-laki itu. Tujuan Dirga saat ini adalah gedung TAG, dia ingin menemui supir baru yang bertugas mengantar jemput Syafi mengajar.
Sesampai di gedung The Alvaro Group, Dirga langsung mendekati Dhani. Terlihat laki-laki itu sibuk membersihkan mobil yang dia pakai mengantar jemput istri majikannya. Tugas Dhani, selain jadi supir Syafi, dia juga bekerja sebagai pengantar bermacam barang di perusahaan Sam.
"Sore mas Dhani," sapa Dirga.
"Tuan ...." Dhani segera menghentikan pekerjaanya. Setelah membersihkan tangannya Dhani segera menghadap Dirga.
"Ada apa Tuan?"
"Bagaimana kegiatan istri saya hari ini?"
"Saya hanya mengantar Nona, pulang dari sekolah, Nona katanya pergi bersama dua temannya, Mayfa dan Athan."
"Kamu memastikan kalau istri saya pergi bertiga?"
__ADS_1
"Maaf Tuan, saya tidak mendatangi Nona lagi."
"Lain kali, tetap datang, dan pastikan mereka pergi bersama."
"Iya Tuan." Dhani tidak menyangka kalau sikap percayanya membuat dirinya mendapat teguran dari Tuannya.
"Oh ya Tuan, dalam mobil saya menemukan kotak bekal, sepertinya kotak bekal milik Nona, maaf ... saya menemukannya baru saja." Dhani sangat takut kalau kena tegur lagi.
"Lain kali, kalau istri saya buru-buru, biarkan saja, tapi setelah dia turun pastikan keadaan mobil, andai ada barang dia yang ketinggalan, kamu bisa secepatnya memberikan barang yang tertinggal padanya."
"Iya Tuan, maaf."
Dirga segera meninggalkan supir itu, dia melangkahkan kakinya menuju ruangannya, lebih baik dia menunggu waktu gelap, sambil menyelesaikan semua pekerjaan di kantornya.
**
Di kediaman Dirga.
Selesai melakukan tugas magribnya, Syafi segera melangkahkan kakinya menuju dapur.
"Mbak Adah ...." panggilnya.
"Iya Nona." Adah berlari menghampiri Syafi, dia masih mengenakan mukena dan memegang al-qur'an di tangannya.
"Oh mbak masih sibuk ngaji, lanjut saja mbak ngajinya, saya cuma mau makan duluan, saya kurang enak badan." Syafi langsung membuka tudung saji dan mengambil beberapa makanan di sana.
"Tidak menunggu Tuan?" tanya Adah.
"Saya sakit, saya harus cepat minum obat." Syafi memperlihatkan beberapa macam obat yang dia terima dari dokter yang menanganinya di UGD tadi siang.
"Saya temani ya," tawar Adah.
"Tidak usah mbak, mbak lanjut ngaji aja, oh ya ... sekalian bukain pintu nanti ya, kemungkinan saya bisa sudah tidur."
"Baik Non." Adah pun meninggalkan Syafi seorang diri di meja makan tersebut.
Saat Adah selesai dengan kajian magribnya, dia melihat Syafi sudah selesai menghabiskan makan malamnya. Terlihat majikannya itu meminum obat yang ada di atas meja.
"Penyakit maag Nona kambuh?" sela Adah.
"Biasa mbak, keasyikan main sama anak-anak, membuat saya lupa sarapan," kilah Syafi.
"Nona baik-baik aja?"
"Saya baik."
"Owh, tapi mata Nona terlihat sayu dan rada bengkak, kayak orang yang habis nangis lama, wajah Nona juga pucat." Adah memandangi wajah Syafi. Ada perbedaan di sana, keceriaan yang selalu terpancar seakan redup.
"Namanya juga sakit mbak."
"Ya sudah, setelah sholat isya, Nona langsung tidur saja. Biar saya yang siapin makan malam buat Tuan."
"Maaf ya mbak, saya jadi ngerepotin," sesal Syafi.
"Ngerepotin dari mana? Ini memang tugas saya. Selamat istirahat Nona."
__ADS_1
Syafi hanya memberikan senyuman kecil, dia segera melangkahkan kaki menuju kamarnya.