
Aktivitas pagi Syafi, berjalan seperti biasa, tidak ada yang berubah. Setelah Dirga pergi ke kantor, Syafi segera bersiap untuk memulai petualangannya mencari temannya yang bernama Athan. Pak Ajah sudah menunggunya di depan rumah. Syafi mempercepat langkahnya, rasa bersalah karena memberi salam lima jari pada wajah Athan, membuat hatinya tidak tenang. Pak Ajah tersenyum saat melihat Syafi baru keluar dari pintu itu.
“Kita ke mana Non?” tanya Pak Ajah, sembari membukakan pintu mobil untuk Syafi.
Syafi menyebutkan alamat yang dia tuju. Berbekal info dari media sosial, Syafi berharap bisa bertemu Athan di tempat itu. Sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Dari info yang Syafi dapat, Athan mengisi acara di sana. Setelah Syafi memasuki mobil, Pak Ajah langsung menutup pintu mobil. Segera masuk kedalam mobil dan mulai melajukan mobil yang dia kendarai menuju tempat yang Syafi sebutkan.
Di Gedung Ozage Crypton Group.
Hari masih pagi, entah kenapa mood Dirga mendadak memburuk, semua yang dia kerjakan tidak ada yang benar. Membuat Sam ikut kesal, semua berkas harus selesai selesai secepatnya, agar semakin cepat juga urusan ini selesai. Dirga masih memandangi berkas yang dia pegang, rasanya berkas ini seperti makanan basi yang enggan dia sentuh.
Sam mendengus kesal melihat Dirga seperti orang yang tidak makan seminggu. “Roman, kamu selesaikan perkerjaan lain, biar aku dan Dirga yang menyelesaikan berkas di sini.”
“Baik, Tuan.” Roman segera pergi meninggalkan ruangan Sam.
Kini di ruangan itu tinggal Sam dan Dirga. “Ada apa, Dirga? Kenapa kau sekacau ini?”
Dirga melepaskan berkas yang dia pegang. Mulai menceritakan siapa Athan dan rencana Syafi mencari Athan. “Athan sama sepertiku, jatuh cinta pada Syafi, dan sama-sama tidak berani mengungkapkan. Bedanya, dia akan berjuang sedang aku hanya diam saja.” Dirga mengusap kasar wajahnya.
“Kalau begitu, kejar Syafi seperti Athan mengejarnya.” Sam memberi semangat.
“Aku tidak bisa, aku tidak punya keberanian seperti Athan."
"Kau manusia kan?"
"Tuan lihat aku ini apaan?"
"Kalau kau manusia, artinya kau sama dengan Athan. Ayo maju perjuangkan cintamu!"
"Selain aku tidak berani, aku juga tidak bisa, semua pekerjaan harus segera selessai.” Dirga kembali meraih berkas-berkas yang berserakkan di atas meja.
Sam mengambil berkas yang ada di tangan Dirga. “Pergi kejar cintamu, urusan perusahaan hanya semakin kacau jika kau seperti ini. Ahlinya untuk urusan ini banyak, tapi untuk hatimu, hanya kamu sendiri yang bisa. Ayo sana berjuang. Untukmu, aku selalu memberi keistimewaan, karena kau istimewa."
Dirga segera berdiri, dia harus memperjuangkan cintanya. Dia segera pergi dari ruangan Sam. Jemarinya sibuk mengusap benda pipih persegi panjang itu. Mendapat balasan di mana Syafi berada, Dirga semakin mempercepat langkahnya.
Suasana tempat perbelanjaan sangat ramai, Syafi duduk di salah satu Restoran yang dekat dengan panggung tempat Athan pentas hari ini. Lumayan lama menunggu, akhirnya dia melihat laki-laki yang ingin dia temui. Terlihat Athan menyanyikan sebuah lagu ‘Tanpa Batas Waktu’. Seketika Syafi teringat kebersamaannya bernyayi bersama Athan saat masih berada di sudut pulau Kalimantan.
Bernyanyi adalah sebagian jiwa Syafi, saat sennag mau pun sedih, Syafi selalu mencurahkan dengan nyanyian. Kehancuran waktu itu melunturkan segalanya, bahkan melunturkan kesenangannya dalam bernyanyi, dulu dengan bernyanyi dia merasa mendapat tenaga extra, saat ini tidak ada kebahagiaan itu di dalam dirinya. Suara gemuruh tepuk tangan menyadarkan Syafi dari lamunannya.
Lagu lainnya mulai dinyanyikan oleh Athan. Suara Athan memang merdu, permainan gitar Athan juga bagus. Melihat Athan akan meninggalkan panggung, Syafi segera memacu langkah kakinya menyusul Athan.
__ADS_1
Senyuman di wajah Athan tiba-tiba lenyap, saat kedua bola matanya melihat Syafi. Athan berusaha menghindari wanita yang berdiri tepat di depannya ini.
“Kak … maafkan aku,” Syafi berusaha menahan langkah Athan.
Athan menghentikan Langkah kakinya, berbalik kearah Syafi. “Maaf?” Senyuman kaku terukir di wajah Athan. “Tamparanmu tidak sakit, tapi rasa malu itu yang susah bagiku untuk bisa lupa.” Athan Kembali melanjutkan langkah kakinya.
“Kakak ….” Syafi sangat berharap Athan mau memberi maaf padanya.
Athan Kembali menghentikan Langkah kakinya. “Aku akan memberi maaf, dengan beberapa Syarat.”
“Apa?”
“Syarat pertama, bernyanyi untukku sekarang, aku ingin kau bernyanyi ‘Mungkin hari ini Esok atau Nanti’ Sekarang! Di panggung itu.” Jari telunjuk Athan mengarah kerah panggung.
“Maaf kak, Syafi yang lama sudah mati, yang ada hanya Syafi yang baru. Syafi di depan Kakak ini tidak punya jiwa untuk bernyanyi. Bukan hanya Nyanyian, semua yang ada pada Syafi lama, tidak ada lagi dalam diri Syafi yang berdiri di depan Kakak saat ini.
Tanpa di sadari keduanya, ada sosok laki-laki yang mendengar semua ucapan Syafi. Syafi dan Athan sama-sama tidak menyadari kalau laki-laki dengan jaket hodie dan menggunakan masker itu adalah Dirga.
“Maafku hanya bisa aku berikan pada Syafi yang lama, dia adalah temanku, sedang Syafi yang sekarang bukan temanku, dan aku tidak mengenalnya.” Athan melanjutkan lagi Langkah kakinya, menjauhi Syafi.
Melihat tanggapan Athan seperti itu, Syafi semakin merasa bersalah. Syafi melangkah menuju panggung, tindakan Syafi membuat Dirga temanga, apakah Syafi lama akan kembali.
(Ku hampiri … jalan yang kita lewati, Setiap hari kita di sini.)
Mendengar suara yang sangat dia kenali, Athan Kembali menghentikan Langkah kakinya, dia berbalik memastikan kalau itu Syafi. Benar saja, gadis itu terlihat berdiri diatas panggung memandang kearahnya. Athan tersenyum, dia segera kembali keatas panggung. Dia berdiri di samping Syafi. Suara Syafi terdengar gemetar. Athan terus mengukir senyuman di wajahnya.
(Ku menanti hadirmu ‘tuk Kembali. Hanya kenangan yang tersisa di sini ….)
(Namun sekarang kau ‘tlah pergi, dan ku yakini kau tak ‘kan kembali)
(Mungkin hari ini … hari esok atau nanti, berjuta memori yang terpatri dalam hati ini)
(Mungkin hari ini … hari esok atau nanti tak lagi saling menyapa meski ku masih harapkanmu ....)
Seketika kenangan indah bersama Paman dan bibinya berputar di kepala Syafi. Senyuman manis Paman dan bibinya, yang selalu menyambutnya saat dia kembali, pelukan hangat dari pamannya juga kemarahan bibinya saat dia usil terlihat begitu jelas.
(Ku menanti … hadirmu ‘tuk Kembali. Hanya kenangan yang tersisa di sini …)
Syafi mulai kehilangan kontrol atas suaranya, isak tangisnya membuat nyanyiannya kacau. Syafi berusaha menahan tangisan, tapi kerinduan dan rasa penyesalan mengikat hatinya, membuat air mata mengalir deras tak bisa di tahan.
__ADS_1
(Namun sekarang kau ‘tlah pergi dan ku yakini, kau tak ‘kan kembali ….)
Syafi semakin tenggelam dalam tangisnya, Dirga du bawah panggung juga merasakan kepedigan yang Syafi rasa saat ini, membuat cairan bening terlepas dari ujung mata Dirga.
(Mungkin hari ini ….) Nyanyian tidak berlanjut, Syafi semakin kehilangan kontrol atas dirinya.
Syafi merasa tidak bisa lagi meneruskan nyanyiannya. Saat yang sama dia kembali terbayang akan makian Arnaff, tangisan Paman dan bibinya. Syafi memberikan mic pada pemain musik yang lain, dan pergi begitu saja meninggalkan panggung.
Dirga menyaksikan semua itu sangat geram, sakit melihat Syafi menangis seperti itu. Nyanyian Syafi di lanjutkan oleh vokalis lain. Ingin rasanya menggantikan tugas malaikat pencabut nyawa untuk mengambil nyawa Arnaff. Kehancuran Syafi karena Arnaff.
Athan langsung turun dari panggung ingin menyusul Syafi, namun langkahnya di cegat oleh seseorang.
“Jangan buat Syafi ku menangis!” gertaknya.
"Dirga?"
"Syafiku baik-baik saja, karenamu dia kembali tenggelam dalam duka!" maki Dirga.
“Aku hanya ingin bantu dia bangkit!" balas Athan.
"Saat ini Syafi tidak baik-baik saja, dalam diamnya dia masih tenggelam dalam dukanya, aku tidak akan membiarkannya tenggelam dalam duka terus menerus!” Athan melepaskan cengkraman tangan Dirga pada lengannya, dan langsung menyusul Syafi.
Ahan terus berlari mencari Syafi, tapi dia terlambat, Syafi tidak terlihat lagi di area Mall itu. Athan kembali ke area panggung, di sana masih ada Dirga Athan berjalan mendekat kearah Dirga. “Saat ini aku gagal membuatnya bangkit, tapi aku tidak akan menyerah, ditambah keberuntungan berpihak padaku, saat ini dia yangmencariku, bukan aku yang mencarinya.” Athan meninggalkan Dirga begitu saja.
Dirga teeingat Syafi yang pergi dalam keadaan terluka. Dirga menyusuri tempat perbelanjaan itu, seperti anak kecil yang terpisah dengan orang tua, berlari kesana-kemari berharap bisa menemukan Syafi. Kemana saja dia berlari, diabtidak menemukan Syafi. Handphone-nya berdering, terlihat pesan dari Pak Ajah, kalau Syafi sudah pulang. Dirga merasa lega. Dirga segera meninggalkan mall itu.
Dirga segera pulang ke rumah, memastikan keadaan Syafi. Sesampai di rumah, Syafi yang dia lihat bukan Syafi yang tampak membaik beberapa waktu lalu. Rasanya ingin sekali mencekik leher Athan, yang membuat Syafi kembali tenggelam dalam duka.
Wanita itu berdiri di samping jendela kaca, memandangi pemandangan di luar rumah.
“Fiy, seminggu ini aku libur. Selama di kota ini, kamu belum pernah jalan-jalan, bagaimana kalau kita jalan-jalan sekarang? Mumpung aku libur?”
Syafi menganggukkan kepalanya. Dia meraih tas kecilnya. Dirga tersenyum, setidaknya Syafi mau dia ajak jalan-jalan.
Dirga membawa Syafi menjelejahi tempat wisata yang ada di kota ini. Rasanya percuma, tidak ada tanggapan dari wanita ini. Dia mengikuti kemanapun Dirga membawanya. Tapi pikiran, hati dan jiwanya entah di mana.
Selama seminggu terakhir Dirga membawa Syafi keliling kota, tapi dari hari pertama hingga saat ini tidak ada perbedaan.
Seminggu berlalu, perjuangan Dirga seminggu ini membawa Syafi jalan-jalan ke berbagai tempat tidak menghasilkan apa-apa. Jangankan senyuman, jawaban dari lisannya saja tidak dia dapat. Hanya anggukkan kepala dan gelengan, sebagai jawaban Syafi atas segala pertanyaannya.
__ADS_1
Kesedihan bukan hanya menyelimuti hati Dirga. Tapi juga Rinto, Ayah Arnaff. Kesedihan Rinto, karena sampai sekarang Sam belum juga bisa menemuinya. Sedang kesedihan Dirga karena perjuangannya membuat Syafi bangkit belum berhasil. Jangankan membuat Syafi bangkit, membuat wanita itu mau bicara saja susah.