
Di sudut lain, Alvi dan Geovan sudah selesai melangsungkan akad nikah, setelah dari KUA, keduanya langsung menghabiskan waktu di villa Geovan, menikmati waktu pertama mereka. Gelak tawa keduanya terus terdengar. Geovan menggendong Alvi saat turun sampai ke dalam villa. Kegilaan terus mereka lakukan di sana, dunia serasa milik mereka berdua.
“Kau menguras tenagamu, ini masih siang, sayang ….” ringis Alvi.
“Jangan bilang kamu tidak kuat sayang?” tantang Geovan.
“Bukan, aku hanya ingin kamu irit tenaga, malam ini Resepsi kita sayang.”
“Aku masih kuat, tenang saja."
Di Gedung tempat akad nikah yang batal itu, Leti dan Rinto sudah berdiri di samping tempat akad. Mata-mata tamu undangan hanya tertuju pada mereka. Rinto segera meraih mic yang di berikan salah satu panitia WO.
“Mohon maaf semuanya, atas segala keterlambatan ini. Karena ada miss komunikasi diantara kami semua.” Rinto mulai membuka kertas yang dia pegang. Rinto berulang kali menarik napasnya begitu dalam, berusaha mengumpulkan sisa tenaganya untuk memulai drama penyelamatan harga dirinya. “Di sini, saya ingin meluruskan banyak kekeliruan, di surat undangan ada nama anak saya Arnaff. Salah saya sendiri, saya mengatakan pernikahan anak saya, orang-orang tahunya anak saya hanya Arnaff, padahal akad nikah ini, kami tujukan untuk seseorang yang saya anggap anak, bagi keluarga saya dan keluarga Ozage Dirga adalah anak kami, Dirga bagian dari kami.”
Seketika para tamu saling beradu argument mereka, karena di undangan jelas tertera nama Arnaff dan Alvi.
“Kekeliruan yang kedua, Dirga sudah menikah, kami mengira belum, tadinya ini akad nikah dia dan Aurel, tapi karena keduanya sudah menikah, maka acara saat ini, adalah acara perkenalan keluarga, kalau nanti sore adalah acara Resepsi Dirga dan Syafi. Ini dia Dirga dan Aurelia Syafitri.” Tangan Rinto menunjuk kearah di mana Dirga dan Syafi.
Syafi dan Dirga berjalan berdampingan sambil bergandengan tangan, di tangan Dirga dan Syafi yang lain, mereka sama-sama memegang mic. Irama musik dari lagu 'Jodohku' Dari Anang dan Ashanty terdengar.
Syafi dan Dirga kompak menghentikan langkah kaki mereka, keduanya saling berhadapan. Dua pasang bola mata itu saling beradu tatap. Syafi mendekatkan mic ke mulutnya.
🎶🎶🎶🎶
Syafi : Ku nafas di jiwamu kau pantai di lautku
Terpaut hati ini cinta yang suci
Dirga: Niatku sampai matimu
Mencintai hanya dirimu
Haus jiwaku padamu kucinta
Jodohku maunyaku dirimu
Hingga mati ku ingin bersamamu
Aku dan kamu satu, saling mencinta ...
__ADS_1
🎶🎶🎶🎶
Semua tamu yang hadir ikut larut dalam kebahagiaan Syafi dan Dirga. Lagu baru saja selesai, anak kecil yang sedari tadi dalam gendongan pengasuhnya terus meronta minta di turunkan. Sang pengasuh menyerah, karena dua orang itu sudah selesai dengan nyanyian mereka, akhirnya dia menurunkan anak kecil itu.
“Miss Aurel ….” Teriaknya, dia terus berlari menuju Syafi.
Syafi langsung menoleh kearah suara itu. “Rara ….” Syafi berjongkok membuka tangannya menyambut Nadira yang berlari menghambur kearahnya.
“Miss, Rara senang bisa bertemu dengan miss di sini.”
“Miss juga senang ….” Syafi mendaratkan ciumannya di pipi kanan Nadira. “Rara sudah kenal om ini?” Syafi menunjuk kearah Dirga.
“Kenal, dia teman papa. Om Dirga,” celoteh Nadira.
"Dia anak Arnaff," terang Dirga.
Syafi terkejut menyadari Nadira anak Arnaff. Tapi siapapun Nadira, Syafi terlanjur menyayangi anak itu, Syafi membawa Nadira kemanapun dia dan Dirga melangkah, pemandangan itu seakan Nadira putri mereka.
Arnaff berusaha tidak memerhatikan kearah Syafi, hatinya terasa sesak melihat pemandangan itu. Melihat Sam dan Istrinya duduk santai di salah satu meja yang tersedia, Arnaff langsung mendekati Sam.
“Bisa ceritakan apa yang terjadi?” Sam langsung menyambut Arnaff dengan pertanyaan yang sedari tadi berputar di kepalanya.
Dengan senang hati Arnaff menceritakan semuanya, dari Alvi yang meninggalkan akad nikah ini, sampai ide Syafi menyelamatkan harga dirinya dan harga diri kedua orang tuanya.
“Akan menjadi resepsi pernikahan Syafi dan Dirga,” jawab Arrnaff.
“Sayang, tentunya gaun Resepsi nanti, kalau pilihan Alvi tidak sesuai dengan gaya Syafi, lebih baik kita pesan gaun untuk Syafi dan Dirga, untuk di pakai resepsi mereka nanti sore,” usul Resa.
“Tentu sayang.” Sam langsung mengeluarkan titahnya lewat handphone-nya.
Semakin siang, Gedung yang harusnya di pakai Alvi dan Arnaff untuk menikah itu semakin ramai. Sangat banyak tamu undangan yang hadir. Tapi bukan untuk pernikahan Arnaff dan Alvi, tapi untuk Resepsi Syafi dan Dirga.
“Bi Masriiii” Teriakan lantang itu membuat orang-orang menoleh kearah wanita itu. Tapi yang menjadi perhatian masa bodoh dengan tatapan mata yang tertuju kearahnya. Dia tetap berlari kearah wanita yang dia panggil bi Masri.
“Non Mayfa ….” Bi Masri menggeleng melihat kelakuan teman majikannya ini.
“Bi, sudah sehat?”
“Alhamdulillah, sudah lebih baik Non.”
__ADS_1
“Alhamdulillah, ayok bii kita masuk sama-sama.” Mayfa menyilangkan tangannya di pergelangan tangan Bi Masri.
“Ya ampun Non Mayfa, kok malah gandeng bibi ….”
“Daripada jomblo bii, huhuuu.”
“Ya salam, tetap bahagia Non.”
“Iya bi, aku tetap bahagia kok.”
“Harusnya aku yang di sana ….” Seseorang bersenandung dan berdiri di samping Mayfa dan bi Masri.
“Nah, itu ada cowok ganteng, gandeng dia aja Non May,” usul bi Masri.
“Idih … ogah!” Jawab Athan dan Mayfa bersamaan.
“Tuh kan! Belum apa-apa—” perkataan yang sama keluar dari mulut Athan dan Mayfa.
“Ayuk bii, mending kita masuk!” Mayfa langsung mengajak bi Masri masuk ke dalam Gedung.
Hanya ada senyuman kebahagiaan, kadang di warnai tangis haru karena tidak mampu menahan luapan kebahagiaan yang di rasa. Resepsi Dirga dan Syafi juga di liput salah satu televisi swasta. Semua tamu bergantian memberi ucapan selamat pada mempelai dadakan itu, Syafi dan Dirga hanya bisa membalas segala do’a-do’a yang tertuju pada mereka dengan senyuman dan sahutan ‘Amiin”
Keluarga besar Sam juga lengkap berhadir di acara Resepsi Dirga dan Syafi. Kadang tiga anak kecil itu berlarian kearah pelaminan di mana Syafi dan Dirga bersanding. Semua orang larut dengan kebahagiaan mereka masing-masing. Mayfa hanya memandangi temannya itu dari tempat duduknya, berulang kali Mayfa mengusap butiran crystal yang terlajur lolos dari ujung matanya.
“Akhirnya si miss somplak benar-benar bahagia,” ucap Athan.
“Hooh, gua terharu lihat semua ini, Bang.”
“Hem, sekarang giliran kita mencari tulang rusuk yang belum ketemu, gua Cuma berharap, tulang rusuk gua yang hilang bukan elu!”
“Sana nyanyi bang, jangan gangguin gua, gua mau menikmati pemandangan indah ini,” usir Mayfa.
Athan 'pun segera menuju panggung, untuk bernyanyi di hari special wanita yang pernah special di hatinya.
Dirga dan Syafi masih saling berpegangan tangan. Para tamu yang bersalaman sudah tidak ada lagi. “Sayang … kenapa kamu memanggilku Bee?” tanya Dirga.
“Abi, artinya Ayah, Bee … artinya lebah. Aku pengen manggil kamu Abi, tapi aku belum siap kamu panggil umi, aku pengen panggil kamu beb, rasanya sudah banyak. Aku ingat tentang lebah, kalau lebah itu mempruduksi madu lebih banyak daripada kebutuhan makan mereka, hingga bisa memberi manfaat pada yang lain. Cintamu luar biasa, lebih banyak dan lebih besar dari apa yang aku perkirakan. Bee, abi ..., dan beb. Perpaduan dari 3 itu.” Syafi memberikan senyuman manisnya.
Dirga tersenyum, dia menarik Syafi kedalam pelukannya, mendaratkan ciuman di pucuk kepala wanita itu.
__ADS_1
“Huuuuh ….” Suara riuh teriakan menyadarkan Dirga, kalau dirinya berada di tengah umum. Seketika wajah dirga memerah menahan malu, karena melakukan demikian di tengah umum.
Tamat.