Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 82


__ADS_3

Acara di Gedung T.A School terus berlanjut, beberapa penghargaan untuk para guru yang mengabdi di sana juga terus belanjut. Di depan sana pembawa acara menyebutkan penerima penghargaan guru favorite dari tingkat PAUD.


“Guru terfavorite tahun ini di berikan kepada—” pembawa acara menggantung ucapannya. “Selamat kepada miss Aurel.”


Seketika tepuk  tangan menggemuruh memberi semangat pada Syafi yang mendapat penghargaan.


“Selamat sayang,” ucap Dirga. Dirga memeluk erat Syafi dan mendaratkan ciuman diantara kedua alis Syafi.


Syafi masih mematung, sangat tidak percaya kalau mendapat penghargaan tahun ini.


“Miss Aurelia Syafitri, silakan terima tropy penghargaan Anda.”


Suara pembawa acara itu membuat Syafi harus meng-akhiri rasa tidak percayanya. Dia segera melangkahkan kakinya menuju pentas dan menerima tropy penghargaanya.


“Silakan berikan sepatah dua patah kata untuk mengungkapkan rasa terima kasih Anda.”


Syafi memperbaiki posisi mik, agar berada tepat di depan mulutnya. “Terima kasih kepada seluruh dewan guru dan penanggung jawab sekolah juga yang terlibat dalam acara ini. Terima kasih semua pada murid-muridku.” Mata Syafi menangkap sosok gadis kecil yang begitu semangat melambaikan tangan kearahnya. “Hai Rara, Syafi membalas lambaian tangan gadis kecil itu.


Dia adalah Nadhira putri Arnaff. Gadis kecil itu sudah besar, usianya sebentar lagi 8 tahun, dia sudah duduk di bangku Sekolah Dasar.


“Nadhira, Gavin, Gilang, dan beberapa murid lain, adalah murid pertama saya saat mengajar di sekolah ini, terima kasih anak-anakku.” Syafi melemparkan ciuman ke udara buat para murid-muridnya yang kini sudah besar. “Terima kasih pada teman-temanku." Syafi memandang kearah rekannya sesama guru di sekolah itu. "Terima kasih pada sahabatku ...." Syafi memandang kearah Mayfa dan Athan.


Kini mata Syafi memandang sendu kearah laki-laki yang menguasai hatinya. "Terima kasih juga pada suamiku, yang selalu sabar mengajariku banyak hal.”


Di tempat duduknya, Dirga tersenyum dan melempar ciuman kearah Syafi.


Syafi begitu tegang, dia tidak bisa mengutarakan kata-kata lagi, dia pun menyudahi sambutannya. Tepuk tangan kembali menggemuruh kala Syafi menyudahi sambutannya.


Ketika turun dari panggung, beberapa rekan guru memberi ucapan selamat padanya, hingga Syafi tertahan di sisi panggung tersebut. Sedang acara kembali berlanjut dengan acara yang lain.


Dirga tidak bisa berhenti tersenyum, sejak Syafi naik keatas pentas hingga sekarang, matanya terus memerhatikan Syafi. Sangat bahagia melihat Wanita yang paling dia cinta di selimuti oleh kebahagiaan.


Dreeettttt ….

__ADS_1


Getaran handphone membuat mata Dirga menilik pada benda pipih yang dia simpan di balik saku jasnya. Seketika senyuman Dirga hilang saat melihat nama yang tertera di sana. Lafata, nama Lala dia save dengan nama itu.


Dirga menghempas kasar napasnya sambil menggeser icon bewarna hijau. “Ada apa? Bukankah perjanjian kita tidak ada komunikasi apapun jika di luar tanggal tersebut?”


Bukan jawaban yang Dirga dengar, melainkan isak tangis Lala yang menyapa indera pendengarannya.


Dirga merasa bersalah, dia menoleh kearah Syafi, terlihat Wanita itu masih berbincang dengan rekan gurunya. “Sebentar La, aku cari tempat aman dulu.” Dirga memutuskan panggilan telepon mereka, dan dia segera beranjak pergi dari tempatnya.


Saat yang sama, Mayfa dan Athan berada tepat di belakang Dirga, mereka bisa mendengar jelas, Dirga menyebut nama Lala. Sebelum Dirga menyadari keberadaan mereka, keduanya segera pergi dari sana.


Dirga meninggalkan tempatnya saat ini, perlahan punggung Dirga menghilang dari pintu utama, melihat hal itu Athan langsung mengambil handphone-nya, jemarinya terus berselancar di sana. Sedang Mayfa dia berlari mendekati Syafi, setelah berada di samping Syafi, Mayfa berbisik. Mendengar bisikkan Mayfa seketika senyuman yang sedari tadi menghiasi wajah Syafi luntur.


“Kemana dia?” tanya Syafi.


“Entah,” jawab Mayfa.


Syafi dan Mayfa izin undur diri pada teman-teman mereka. Keduanya melangkahkan kaki mereka begitu cepat meninggalkan tempat acara. Melihat kedua temannya pergi, Athan pun segera menyusul. Syafi dan Mayfa memeriksa beberapa pojokan terdekat untuk mencari keberadaan Dirga.


“Tenang La, aku akan segera menjemput kamu,tapi kamu yang tenang ya.”


Tidak jauh dari tempat Dirga berada, tiga pasang kaki itu seketika menghentikan langkah kaki mereka, saat mendengar Dirga mengucapkan hal barusan.


“Kamu bersiap saja La, aku segera ke sana.” Dirga menyudahi panggilannya. “Ya Tuhan ….” Keluh Dirga. Dirga segera mengetikkan pesan di handphone-nya.


Sayang, aku izin pergi, ada hal darurat, kalau acara masih lama aku usahakan untuk menjemputmu, kalau acara cuma sebentar, kamu pulang bareng Mayfa ya, jangan sendiri.


Dreettttt ….


Handphone Syafi bergetar, dia membaca pesan masuk dari Dirga dan memperlihatkan pesan itu pada kedua temannya.


Melihat Dirga mulai berjalan kearah mereka, Mayfa menarik dua temannya agar bersembunyi. Dirga sudah pergi dari sana, ketiganya pun keluar dari persembunyian mereka.


“Ternyata Wanita itu penting bagi kak Dirga.” Syafi tidak bisa menyembunyikan kehancurannya.

__ADS_1


“Cepat kita ikuti si breng-sek itu!” maki Athan.


“Pakai apa?Terbang? Gue lupa bawa pembalut bersayap, kalau ingat kita bisa pakai tu sayapnya buat terbang!" omel Mayfa.


"Ya naik mobil lah, masa ngesot!" balas Athan.


"Lu lupa kalau kita kemari naik taksi?” omel Mayfa.


“Gua sudah pesan taksi, dari tadi itu taksi sudah nunggu di depan,” sahun Athan.


“Kepo emang bikin umur nggak panjang, tapi tersiksa oleh rasa penasaran bikin susah napas, hayukkk.” Mayfa menarik kedua sahabatnya meninggalkan tempat itu.


Ketiga sahabat itu memasuki mobil taksi yang sedari tadi menunggu mereka. Athan menyebutkan alamat tujuan mereka. Tujuan pertama mereka adalah rumah Lala.


Perkiraan mereka benar, pastinya Dirga akan menjemput Wanita itu di kediamannya. Mobil taksi yang mereka tumpangi parkir tidak jauh dari rumah Wanita itu. Saat mobil Dirga keluar dari pagar rumah itu, Athan segera meminta sang supir mengikuti mobil yang mereka maksud. Taksi itu pun mengikuti mobil Dirga dengan jarak aman. Hingga mobil Dirga memasuki Area sebuah Rumah Sakit.


Saat Dirga dan Wanita itu turun dari mobil, mereka di sambut beberapa orang, terlihat kecemasan di wajah setiap orang yang ada di sana, mereka hanya mengobrol sebentar, mereka semua masuk ke dalam Gedung Rumah Sakit tersebut.


“Pakaian kalian terlalu mencolok, kalian tunggu di sini, biar aku yang masuk mengikuti mereka,” ucap Athan. Dia melepaskan jas dan melemparnya ke wajah Mayfa. “Bawain ntar, kalau hilang gue bisa ganti rugi, itu aku nyewa.” Athan memakai maskernya, dan segera turun dari mobil.


Mayfa dan Syafi hanya bisa memandangi Athan yang belari memasuki Gedung Rumah Sakit tersebut.


Di dalam area Rumah Sakit.


Athan merasa lega, dia bisa mengikuti Dirga dan rombongan, beruntung Dirga tidak menyadari keberadaanya, padahal Athan berada 1 lift dengan mereka. Dirga dan rombongan keluar dari lift, sedang Athan tetap berdiam diri di lift itu, Athan keluar pada lantai berikutnya, kemudian dia turun menuju lantai di mana Dirga dan rombongan berada, melewati tangga.


Setelah Athan sampai di ruangan itu, Athan menyusuri Lorong-lorongnya, hingga langkah kakinya terhenti, saat melihat laki-laki yang selalu membuat kemarahannya meledak tengah bersandar di tembok Rumah Sakit itu, menghadap kearah ruangan yang berada tepat di ujung Lorong itu.


*****


Gak bisa nulis ungkapan terima kasih lagi yang gimana, makasih semua dukungannya 🥰


Rehat dulu untuk hari ini, jaringan minta di puk-puk kayanya 🤣

__ADS_1


__ADS_2