
Menit demi menit yang berlalu saat ini begitu indah, walau hanya sekedar obrolan ringan, namun bisa bertemu dengan mereka yang menjadi sebagian dari perjalanan hidup, sangat bermakna. Apalagi keluarga Mayfa menjadi bagian dari awal kisah Syafi dan Dirga.
"Sudah malam, kami mau pamit ke hotel dulu," ucap Pak Said.
"Kenapa nggak nginap di sini saja Pak? Jarang-jarang loh kita bisa bertemu," ucap Dirga.
"Biar ketempat acara dekat, makanya kami memilih menginap di hotel," ucap Rosalina.
Setelah berpamitan, Pak Said dan keluarga segera menuju hotel. Sepanjang jalan menuju hotel, Mayfa kembali membisu. Pikirannya berputar-putar memikirkan apa tujuan kehidupan ini.
"Selama seminggu kedepan, kita tidur sekamar, Fa." ucap Rosalina.
"Yakin bund?" goda Mayfa.
"Yakin lah, kami sudah menyewa 1 kamar dengan 3 tempat tidur," ucap Pak Said.
***
Selama 1 minggu ini, Mayfa dan keluarganya menghabiskan waktu di rumah saudara Pak Said yang akan melangsungkan pernikahan. Bermacam acara mereka jalani, kadang sempat kembali ke hotel, kadang langsung tidur berdesakan di rumah itu bersama keluarga yang lain.
Mayfa sangat sibuk dengan aktivitasnya, jangankan bertemu Athan, bertemu Syafi juga tidak sempat.
Tidak terasa, hari bahagia untuk sepupu Mayfa pun tiba. Semua anggota sudah ada di balroom sebuah hotel tempat berlangsungnya resepsi pernikahan sepupu Mayfa.
Mayf terlihat sibuk mengatur sovenir untuk para tamu undangan nanti, sedang kedua orang tua Mayfa terlihat asyik berbincang dengan anggota keluarga lain.
Namun 1 orang yang menarik perhatian Mayfa, dia sangat mengenali sosok pemuda itu, dan pemuda itu terlihat sangat asyik berbincang dengan Ayahnya. Mayfa menghentikan langkahnya, dia bersandar di sisi tembok, berusaha menangkan dirinya.
Apa dia pemuda yang Ayah maksud? Batin Mayfa.
Saat Mayfa kembali menoleh kearah Ayahnya, pemuda itu sudah tidak ada lagi.
"Hayo loh, mode CCTV siapa kamu!"
Suara itu membuat Mayfa terkejut.
"Ya ampun Athan!"
"Mantau siapa kamu?" goda Athan.
"Kepo luh!" sahut Mayfa.
"Ya sudah, aku nggak akan nanya lagi." Athan bersiap pergi meninggalkan Mayfa.
"Eh tunggu dulu!" Di luar kesadarannya, Mayfa memegang pergelangan tangan Athan.
"Jangan pegang-pegang gue napa!" Athan menepis tangan Mayfa.
"Iya maaf, nggak sengaja."
"Cepetan ada apa?" desak Athan.
"Eh, gue cuma ngundang Syafi ma Dirga, kok iso yo kau ada di sini?"
"Kan aku penyanyi." Athan membenarkan krah kemejanya.
"Iya tau, tapi bibiku sewa musik gambus gitu, jadi yang dinyanyiin lagu arab gitu."
"Kamu lupa kalau aku adalah penyanyi serba bisa?" Athan menyombongkan diri.
__ADS_1
"Oke, gue percaya ama bakat lu."
Mayfa melihat keadaan sekitar." Untuk saat ini gue minta bantuan lu, keluargaku taunya Mayfa seorang anak gadis yang pendiam, imut, kalem, dan polos, jadi jaga rahasia ya, andai nanti kita ketemu di tengah keluargaku," pinta Mayfa.
"Kok aku jadi mual ya dengar kamu polos lugu?"
"Pleas kerjasama napa Than ...."
"Iya-iya, aku taunya kamu gadis pendiam." Athan segera pergi meninggalkan Mayfa.
Mayfa ingin kembali menyusul Ayahnya, ingin menanyakan sosok yang berbicara dengan Ayahnya sebelumnya. Namun keinginan itu harus dia urungkan, karena sepupu yang lain membutuhkan bantuannya.
Setelah berjalan ke beberapa sisi ruangan itu, akhirnya Mayfa bisa kembali duduk di kursi yang di sediakan untuk keluarganya.
"Ayah ...."
"Iya Fa."
"Laki-laki yang sebelumnya bicara sama Ayah siapa?"
"Kamu sudah lihat?" Pak Said malah balik bertanya.
"Hilih Yah, ini aku nanya malah nanya balik."
"Dia pemuda yang datang bersama Dirga yang ingin melamarmu, apa perlu Ayah jelaskan secara detail?"
Sejenak pandangan Mayfa tertuju pada Frans. "Nggak usah Yah."
"Bagaimana? Apa jawabanmu atas lamaran itu?"
"Aku ingin mengenal lebih jauh lagi Yah."
"Bukankah kamu sudah kenal?"
"Ya sudah, kenalan langsung sana, atau perlu Ayah panggil ke sini dan duduk di sini, soalnya meja dia jauh dari kita, itu di dekat panggung."
Mayfa kembali menoleh kearah panggung, dia melihat sosok Athan berada di sebelah Frans.
"Yang--"
"Assalamu'alaikum Ayah, bunda ..., maaf kami telat."
Pak Said tidak bisa meneruskan kata-katanya, kedatangan Syafi dan Dirga membuat fokusnya pecah.
"Fiy, mana bayimu?" tanya Rosalina.
"Di rumah, Bunda. Masih terlalu kecil untuk dibawa ke acara umum," sahut Syafi.
"Assalamu'alaikum semua tamu undangan, maaf lagu pertama saya berbeda dulu ya dari lagu yang seharusnya dibawakan, karena ini lagu melintas di kepala saya, saat saya bertemu dengan seorang gadis pendiam," ucap Athan diatas panggung, pandangan Athan sesaat tertuju pada Mayfa.
Di bagian lain.
Syafi tersenyum melihat Athan akan bernyanyi diatas panggung. "Wah Athan ya salah satu artisnya."
"Kamu kenal Fiy?" tanya Pak Said.
"Ya kenal Ayah, selain penyanyi serba bisa, dia juga salah satu guru di Sekolah Mayfa mengajar."
Bila ingin melihat ikan, di dalam kolam. Tenangkan dulu airnya sebening kaca. Bila mata tertuju pada gadis pendiam ...
__ADS_1
Kala Athan menyebutkan lirik 'Pada gadis pendiam, saat yang sama pandangan matanya tertuju pada Mayfa.
Caranya Tak sama menggoda dara lincah ....
Suara musik seketika membuat suasana lebih ramai, beberapa penari laki-laki yang mengenakan gamis pun mulai menunjukan kebolehan mereka.
Mayfa terus memandang kearah panggung, dan tatapan matanya beradu tatap dengan Athan. Sesekali Athan melempar senyum padanya, membuat perasaan Mayfa seketika mencair. Kala pandangan Mayfa melirik kearah lain, dia beradu tatap dengan Frans yang juga menatapnya.
"Kamu terpesona dengan laki-laki yang meminangmu?" bisik Rosalina.
Berarti memang Frans yang datang melamarku bersama Dirga? Batin Mayfa.
Karena tidak mendapat jawaban dari putrinya, Rosalina menyenggol pelan pundak Mayfa.
Jangan-jangan dulu, janganlah diganggu, biarkan saja, biar duduk dengan tenang. Senyum-senyum dulu, senyum dari jauh, kalau dia senyum tandanya hatinya mau. Nyanyian Athan.
Bagi Mayfa lagu Athan seperti meledeknya, karena dia meminta Athan memandangnya sebagai gadis pendiam, sedang Athan sangat tahu siapa dirinya.
Kala Mayfa menoleh kearah lain, tatapannya kembali beradu tatap dengan Frans. Mayfa dan Frans saling melempar senyum. Saat yang sama Athan menyaksikan hal itu.
Sambil bernyanyi, Athan terus terbayang pertanyaan Dirga, apakah dirinya siap, jika Mayfa dilamar oleh laki-laki lain. Posisi sulit bagi Athan, hatinya tersiksa melihat Mayfa memiliki ikatan dengan laki-laki lain, namun lagu yang dia nyanyikan saat ini adalah lagu ceria.
*
Setelah selesai bernyanyi beberapa lagu, Athan berjalan menuju meja prasmanan, dia mengambil beberapa menu yang menarik perhatiannya.
"Apam Barenda."
Perkataan itu menyita perhatian Athan.
Athan tersenyum melihat Syafi berdiri di sampingnya. "Yup, kue yang sempat viral di kampung halamanmu bukan?" ucap Athan.
"Kuat Than?" tanya Syafi.
"Emang aku ngapain?"
"Ya, aku nanya, kuat kamu lihat Mayfa dekat dengan teman Dirga?"
"Hal wajar itu Fiy, aku malah bahagia akhirnya ada seseorang yang membuat kang ngomel itu terpesona." Pandangan Athan kembali tertuju kearah Mayfa. Di sana Mayfa, Ayah Said, Rosalina, Dirga, dan Frans, tampak asyik berbicara. Hanya saja, di sana Mayfa benar-benar terlihat seperti gadis pendiam seperti dalam lagu ikan dalam kolam yang dia nyanyikan.
Sedang di sana, Mayfa merasa bosan. Karena Ayahnya, Dirga, dan Frans sangat asyik membicarakan bisnis mereka.
Mayfa memberi isyarat pada ibunya, kalau dia ingin pergi. Setelah mendapat izin dari ibunya, Mayfa segera berjalan cepat menyusul Syafi dan Athan.
"Napa lu!" ledek Syafi.
"Mata gue sama hati gue berbunga-bunga melihat calon imam masa depan, tapi otak gue berasap dengar pembahasan bapak gue, laki lu, juga imam idaman itu," keluh Mayfa.
Syafi tertawa, dia sudah tahu apa yang akan jadi topik pembicaraan di sana, sebab itu dia pergi.
"Bahagia bener lu!" omel Mayfa.
"Bahagia lah, masa sudah diberi banyak berkah dalam hidup, gue masih bersedih," balas Syafi.
"Aje gilee, berhasil lu May menjelma jadi gadis lugu dan pendiam," ledek Athan.
"Kalau gue lepas kayak biasa, gue takut jantung Bapak gue ikutan lepas lihat kelakuanku," oceh Mayfa.
"Ku kira kau kalem demi imam idaman," ledek Athan.
__ADS_1
"Masalah Frans, budu mamat! Mau dia terpesona atau ilfeel, bomad!" Mayfa ikut mengambil kudapan manis yang ada di depan matanya yang disebut apam barenda. Kue yang dimasak diatas teflon dan disiram dengan gula merah cair. MIrip serabi, hanya saja di Kalimantan Selatan dikenal dengan sebutan apam barenda.
Mereka bertiga membawa makanan menuju meja lain, dan mulai memanjakan lidah. Hanya saja saat ini ada perasaan aneh, yang seolah menjadi dinding diantara mereka. Padahal mereka sering bertiga, entah mengapa saat ini terasa berbeda, sebelumnya Mayfa merasa bebas, saat ini ada hal yang dia tahan kala berada di dekat Athan, setelah pertanyaan dari Sam itu muncul.