Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 97


__ADS_3

Jam mengajar Mayfa dan Athan hari ini sudah selesai sebelum mereka menghadap Sam, tidak ada lagi kegiatan mereka di sekolah ini. Selesai urusan dengan Sam, keduanya memutuskan untuk langsung pulang.


Setelah pergi dari ruangan Sam, keduanya langsung menuju parkiran.


Wajah Mayfa terlihat menahan rasa sakit, telapak tangannya pun terus dia pijat.


"Kenapa lu May?" Athan heran, sedari tadi Mayfa terus memijat telapak tangannya dengan tangan yang satu.


"Perih …." Mayfa memperlihatkan telapak tangannya yang memerah karena menampar Dirga begitu kuat.


"Baru kerasa sakitnya?" Athan berusaha tertawa.


"Tadi gue kesel, marah, kecewa, nampar dia nggak berasa, sakitnya baru berasa sekarang." Mayfa sesekali mengibaskan telapak tangannya yang sakit.


"Sini gue tiupin."


"Ogah, yang ada infeksi tangan gue kena kuman elu."


"Kalian ini selalu bersama, melihat kalian itu serasa melihat Romeo dan Juliet, mesra … banget."


Tiba-tiba Resa ada di dekat Mayfa dan Athan.


"Eh ada Nona, selamat siang Nona," sapa Athan.


"Tanpa mengurangi hormat saya, saya sama Athan selamanya hanya sebatas teman," ucap Mayfa.


"Ya sudah, saya permisi dulu, saya lihat ada mobil Dirga, mobil papanya anak-anak, juga mobil Arnaff." Mata Resa memandangi kearah mobil-mobil itu terparkir. "Jangan-jangan mereka pesta di sini lagi."


Mayfa dan Athan saling pandang, mendengar kata pesta.


Resa segera memacu langkah kakinya menuju ruangan Sam.


"Pesta tinju yang ada," gerutu Athan. Dia langsung naik keatas motornya. "May, pulang yukk!"


Mayfa pun segera meraih helm yang biasa dia pakai jika nebeng sama Athan. Setelah Mayfa naik ke bagian belakang motor Athan. Motor itu melaju meninggalkan  area Sekolah.


*


Di dalam ruangan khusus milik Sam.


Sam dan Arnaff membantu Dirga untuk bangkit. Arnaff berdiri di sisi kanan Dirga, dan Sam di sisi kiri.


"Aku kecewa Dirga, kenapa kamu menikah diam-diam di belakang Syafi, dan di belakang kami semua!" Maki Sam.


"Mana yang kamu bilang, kamu mencintai Syafi lebih dari apapun, walau dia tidak bisa memberimu keturunan."


Hati Dirga hancur, rasanya tidak punya harapan atau semangat untuk bertahan hidup. Dia hanya diam mendengari makian Sam.


"Kalau kamu tidak mencintai Syafi, atau tidak menginginkan dia, kembalikan dia baik-baik, bukan kamu sakiti dia dengan pernikahan rahasia kamu dengan wanita lain!" 

__ADS_1


Bouggghht! Arnaff tidak kuat lagi menahan kekecewaannya.


"Kau tidak anggap aku teman lagi? Kenapa hal yang seperti ini kau rahasiakan dariku?!" Suara Sam menggema di ruangan itu.


Bougghht!


Boughhht!


Bogeman mentah yang meluncur dari genggaman tangan Sam dan Arnaff terus menghujani wajah Dirga. Sedang laki-laki itu pasrah menerima semua pukulan yang mendarat di wajahnya. Wajah tampan itu penuh warna, sisi bibir Dirga mengeluarkan darah, pelipisnya pun mulai berdarah. Warna biru sudah menghiasi wajahnya.


"STOPP!!" Teriakkan Resa menggema di ruangan itu. Wajah Resa terlihat syok melihat kejadian yang terjadi di depan matanya. 3 laki-laki yang Resa tau mereka seperti saudara, malah memukul salah satunya membabi buta.


Saat Sam dan Arnaff berhenti melayangkan pukulan mereka, seketika Dirga ambruk di lantai. Senyuman terukir di wajahnya, saat ini rasanya dia lebih bahagia jika hidupnya berakhir, daripada melanjutkan hidup tanpa Syafi di sampingnya.


"Kenapa kalian memukuli Dirga! Apa salah Dirga!" Getaran teriakkan Resa seakan terasa sampai ke ginjal yang mendengar.


"Dirga menyakiti istrinya, dengan menikah diam-diam di belakang kita semua," ucap Sam lemas.


"Kita kecewa, kenapa Dirga menyakiti Syafi sekejam ini, bahkan dia sudah memiliki anak di pernikahan keduanya," sela Arnaff.


"Kalau kalian sebelumnya tidak pernah menyakiti wanita, kalian boleh lanjut pukulin Dirga."


Sam dan Arnaff saling pandang.


Mata Resa berkaca-kaca menatap Sam dengan tatapan yang sulit diartikan  "Kau Tuan Sam! Kau juga pernah menikah diam-diam di belakang istrimu! Harusnya kau pukuli dirimu dulu!"


"Andai Vania sakit hati, orang tidak perduli dengan apa alasan kamu menikah lagi!"


"Tapi diantara kalian, ada yang bertanya pada Dirga, apa alasan Dirga menikah lagi tanpa memberitahu kalian!?" Resa berteriak semampu yang dia bisa.


"Aku pernah jadi yang kedua, kalian pikir aku mau jadi yang kedua?! Kalian pikir aku bahagia?!"


"Aku SAKITT!!"


"Tapi aku di dengar, alasanku menjadi yang kedua tidak disalahkan. Sekarang … sebagai saudara Dirga, tanya dia, apa dia yang menginginkan pernikahan ini?"


Resa menatap tajam lagi kearah Sam. "Hai Tuan! Kamu lupa posisimu dulu? Kau tidak bahagia menikahiku, kau tersiksa saat bersamaku, coba pikir, jika saat ini Dirga berada di posisi yang sama denganmu kala itu."


"Sebagai saudara, sahabat, dan teman yang paling dekat, harusnya kalian membantu, bukan ikut menghakimi!"


Tangis Resa pecah. "Bahkan saat aku melihat wajahku di cermin, aku sakit … walau Vania pergi dengan rasa bahagia, tetap saja caraku menjadi istri seorang Samuel, salah!"


"Apapun alasan Dirga menikah lagi salah! Tapi sebagai sahabat, kalian harus bantu dia keluar dari masalah ini."


Sam dan Arnaff membisu.


Resa duduk leseh di lantai, mendekati Dirga. Mengusap pundak laki-laki yang masih terkapar di lantai, Dirga terlihat begitu rapuh.


"Dirga, ku mohon jawab pertanyaanku."

__ADS_1


Dirga hanya mengangguk pelan.


"Apa kamu menginginkan pernikahan keduamu?" tanya Resa.


Dirga menggelengkan kepalanya.


"Apa kamu mencintai istri keduamu?"


Jawaban yang sama Resa terima, hanya gelengan kepala Dirga.


"Apa anak itu anak kalian?"


Dirga kembali menggelengkan kepalanya.


Resa kembali memandangi dua laki-laki yang lain yang ada di dekatnya.


"Sampai kapanpun, pengkhianatan adalah pengkhianatan, tidak ada toleransi bagi mereka yang telah berkhianat. Tapi saat ini posisi Dirga persis seperti Anda, 9 tahun yang lalu, Tuan Sam!" 


Sorot kedua mata milik laki-laki yang terkapar itu perlahan meredup, kedua mata itu terpejam rapat.


"Dirga!" Resa panik, dia berusaha mengguncang tubuh itu. "Dirga!!" 


Tetap saja sepasang mata Dirga terus terpejam.


"Cepat bawa dia ke Rumah Sakit!"


*****


Flash Back Syafi.


Syafi sudah berada dalam pesawat, setelah merekam dirinya sendiri, dia mengirim video itu untuk Dirga.


"Sebelum ada kamu ada di kehidupanku, aku pernah bahagia, kenapa setelah pergi darimu aku tidak bisa bahagia?" Syafi berbicara pada foto Dirga yang ada dalam dompetnya.


"Aku akan berusaha bahagia kak, walau sulit." Syafi merobek foto Dirga, robekkan itu dia masukkan dalam kantong muntah yang ada di depannya.


Pesawat mulai lepas landas, tekanan yang Syafi rasa, juga getaran yang terasa membuat penyakit lama Syafi menampakkan hilalnya, Yaitu mabuk perjalanan.


"Dasar udikkk kenapa mabuknya gan di pending dulu!" 


Rasanya Syafi berada diatas perahu, terombang-ambing karena gelombang air yang menyapa perahunya.


Baru beberapa menit pesawat itu terbang ke udara, isi perut Syafi juga terbang, dan mendarat dalam kantung muntah.


"Asem … harga diri gue!" Gumam Syafi.


Sakit enggak, tapi malunya ini loh! 


Syafi sangat putus asa, karena baru saja pesawat lepas landas, dia juga melepas semua isi perutnya.

__ADS_1


****


Besok nggak janji bisa update, kepala masih pusing, maaf juga, bab ini aku belum sempat edit, jd typo masih beterbaran di mana-mana.


__ADS_2