Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 67 Impas


__ADS_3

Balasan Tuhan untuk orang yang menyakitimu itu pasti ada, mau di dunia dan pasti di Akherat. Jika Tuhan membalas di dunia, saat masa itu datang tergantung keberuntunganmu. Jika keberuntungan berpihak padamu, maka pada saat balasan itu datang, kamu di beri Tuhan kesempatan untuk melihat langsung saat balasan itu datang pada orang yang menyakitimu.


☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘


Arnaff menoleh ke-arah suara itu berasal. Arnaff merasa tidak asing dengan wanita yang datang bersama Dirga dan Syafi.


“Saya Rye, teman Alvi. Alvi sudah menikah dengan Pak Geovan, tadi pagi di KUA,” ucap Rye.


“Apa!” Arrnaff sama sekali tidak percaya dengan ucapan Rye. “Geovan?” Arnaff merasa tidak asing dengan nama itu.


“Geovan adalah adik Edweil, tempat perusahaan kamu bekerja.”


Arnaff menoleh lagi kearah suara itu bersumber, terlihat papa dan mamanya yang datang. “Alvi meninggalkan aku?” Arnaff bingung harus sedih atau bahagia.


“Apa? Alvi meninggalkan pernikahan ini?” Leti terlihat sangat kecewa.


“Aku senang Alvi batal menjadi istrimu, tapi siapa yang bisa menyelamatkan kita dari rasa malu? Lihat di luar sana, keluarga kita sudah berkumpul.” Rinto melonggarkan dasinya, membayangkan harga dirinya tercoreng sungguh menyesakkan dadanya.


Handphone Arnaff berdering, terlihat nama pemanggil adalah Alvi. “Vi. Kenapa kamu ngelakuin ini ke aku?” bentak Arnaff.


“Kamu sudah tau? Hem … baguslah,” jawaban dari ujung telepon sana.


“Vi, beberapa hari lalu aku sudah tawarkan, apakah kamu ingin mundur? Kamu malah bilang ingin teruskan. Sudah seperti ini kamu malah pergi. Apa salah aku, Vi?” Arrnaff tidak bisa lagi mengutarakan betapa kecewanya dia, terlebih melihat raut kesedihan di wajah kedua orang tuanya.


“Salah kamu, karena kamu bukan pemimpin perusahaan, maaf Arnaff aku mencintai kamu karena apa yang ada pada kamu, sebagai gantinya, aku sudah mengembalikan 75% dari biaya pernikahan yang kamu keluarkan, 25% nya, itu yang ada di Gedung itu. Impas ya ….”


“Ada yang tidak bisa di selamatkan walau dengan uang berapapun!” teriak Arnaff.


Tuttt tut tuttt!


Alvi langsung memutuskan panggilan teleponnya.


Arnaff terdiam, dia menatap wajah kedua orang tuanya, raut wajah itu menampakkan kekecewaan dan keputus asa’an. Arnaff memandangi satu per satu wajah-wajah yang berada di ruangan itu, hingga pandangan matanya terhenti pada sosok wanita yang mengenakan kerudung. Sekelebat bayangan saat dia memaki-maki Ardhin terbayang di benak Arnaff. Dada Arnaff terasa sesak, saat ini dia berada di posisi Syafi waktu itu.


Lebih baik saya kehilangan uang ratusan juta, karena membiayai pernikahan yang batal ini. Daripada saya kehilangan harga diri saya karena punya istri macam wanita seperti dia! Arnaff terbayang segala makian dan hina’annya pada Syafi, Ardhin dan Kamal dulu.


Uang? Kenapa aku lupa kalau uang bukan segalanya? Jerit hati Arnaff.


Arnaff tidak sedih dengan batalnya menikahi Alvi, tapi hancur dengan pembatalan seperti ini membuat wajah kedua orang tuanya tercoreng. Arnaff terus memandangi Syafi, dia faham wanita itu tidak sedih karena batal menikah dengannya, tapi sedih karena kehilangan paman dan bibinya


Brukkk!


“Papa! Teriak Leti.

__ADS_1


Arnaff mematung, melihat keadaan ini. “Ya Tuhan, maafkan aku, tolong jangan ambil papaku dengan jalan seperti ini.” Jerit Arnaff.


Dirga sengaja tidak mau membantu Rinto, melihat cara Arnaff memandangi Syafi, membuat Dirga tidak mampu melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Syafi.


“Arnaff!” Teriak Leti.


Arnaff segera membantu mengangkat tubuh papanya menuju sofa. “Papa ….” Arnaff juga merasa hancur.


Syafi bingung melihat kejadian seperti ini, dia hanya bisa mematung, terlebih Dirga begitu erat memegang pinggangnya.


“Mama harus gimana? Mama tidak sanggup menerima semua ini!” Leti menghempaskan kasar tubuhnya di sofa yang lain.


Syafi terbayang saat kematian Paman dan bibinya, berada di posisi itu sangat menyakitkan. Syafi menyenggol bagian tubuh Dirga, membuat laki-laki itu menoleh kepadanya.


“Apa?” tanya Dirga.


Syafi meminta Dirga mendekatkan telinganya dengan isyarat tangannya, Dirga mengerti, dia ‘pun segera membungkuk, mendekatkan daun telinganya ke wajah Syafi, Syafi langsung berbisik.


Senyuman terukir di wajah Dirga setelah mendengar ide dari Syafi. “Kamu yakin kita cukup seperti ini?” Dirga memastikan.


“Aku cantik, kamu ganteng, pakai karung goni ‘pun kita adalah pasangan serasi,” ucap Syafi.


Dirga segera mendekati Rinto dan Leti, terlihat Rinto perlahan membuka matanya.


“Om, tante … bisakah kalian kembali ke luar? Untuk pernikahan, biar aku dan Syafi yang menggantikan,” ucap Dirga.


“Jangan buang waktu lagi om, urusan lain, biar aku dan Syafi yang mengatur,” usul Dirga.


“Ada kertas dan pulpen?” sela Syafi.


“Ada!” Arnaff langsung berjalan menuju rak kecil yang ada di dekatnya. Arnaff segera melangkah untuk mendekati Syafi.


“Tunggu! Berikan padaku, biar aku saja yang memberikannya pada ISTRIKU!” ucapan Dirga penuh penekanan.


Arnaff langsung memberikan kertas dan pulpen pada Dirga, sedang Dirga langsung memberikan dua benda itu pada Syafi. “Ini sayang,” ucapnya.


Syafi tersenyum, dia segera menerima barang yang dia minta.” Terima kasih, Bee.” Ucapnya.


“Bee?” Dirga mengulangi ucapan Syafi.


“Nanti penjelasannya.” Syafi langsung menulis kata-kata yang ada dalam pikirannya, selesai mengukir kata-kata di atas kertas kosong itu, Syafi memberikan kertas itu pada Leti. “Semoga Tante mengerti tulisan saya, yang bagai ilalang di terpa angin,” ucapnya.


Leti menerima kertas yang Syafi berikan. Setelah membaca tulisan itu, air mata Leti mengalir di pipinya. Dia memberikan kertas itu pada suaminya, Leti langsung menarik Syafi ke dalam pelukannya. “Kamu wanita yang luar biasa, sayang.” Ucapan Leti bercampur dengan isak tangisnya.

__ADS_1


Rinto juga membaca tulisan yang Syafi coretkan di kertas itu. Hatinya sangat lega, setidaknya dia selamat dari rasa malu, karena puteranya gagal menikah.


Rinto menoleh kearah Arnaff. “Arnaff, kau benar-benar orang yang Rugi, karena gagal memiliki wanita seperti Syafi untuk jadi pendampingmu.” Tatapan mata Rinto ber-alih tertuju pada Dirga. “Nak, kamu sangat beruntung, maukah kamu memelukku?”


Dirga tersenyum, dia langsung berjalan mendekati Rinto dan langsung memeluknya. Arnaff terdiam melihat pemandangan seperti ini, penyesalan selalu datang di akhir. Tidak bisa dia ungkap betapa menyesalnya dirinya karena menyakiti Syafi, ternyata wanita itu di luar perkiraannya, dia sudah menyakiti wanita itu, tapi wanita itu mengembalikan kedudukkannya, juga menyelamatkan wajahnya dan wajah kedua orang tuanya dari rasa malu.


Tanpa Arrnaff sadari, air matanya mengalir bagai anak sungai di pipinya. Arnaff langsung mengusap air matanya, dia berjalan mendekati mamanya yang masih berpelukan dengan Syafi. “Maafkan aku ….” Arnaff menangkup kedua telapak tangannya di depan dadanya.


Merasa ada suara, Syafi melepaskan pelukannya pada Leti. Terlihat Arnaff ada di dekatnya. “Aku sudah lama memaafkan Anda, Tuan.”


Dirga tidak terima Arnaff sedekat itu dengan istrinya, dia juga melepaskan pelukannya pada Rinto. “Ayo om, tante, kalian keluar lebih dulu, nanti aku dan Syafi menyusul.


“Terus aku gimana?” sela Rye.


“Kamu adalah tamuku, dan selesai acara ini, aku akan kasih hadiah padamu,” ucap Arnaff.


“Yeay!” Rye mengangkat kedua tangannya ke udara karena bahagia.


Tok tok tok!


Suara ketukkan pintu membuyarkan keadaan sebelumnya. Arnaff segera membukakan pintu. Terlihat salah satu panitia WO di depan pintu. “Ada apa?”


“Tuan. Katanya Penghulunya sudah menikahkan mempelai di kantor, terus bagaimana akad di sini?”


“Tenang saja, ada perubahan rencana,” ucap Arnaff.


“Baik Tuan.” Panitia itu segera pergi dari tempat itu.


Flash back Alvi.


Setelah Arnaff pergi, Alvi sungguh hancur mengetahui Arnaff bukan lagi seorang Ceo. Air mata membasahi pipi mulus Alvi, membayangkan kalau suaminya hanyalah pegawai biasa.


“Jangan menangis cantik, hatiku sakit melihat kau menangis seperti ini.”


Ucapan orang itu sontak membuat Alvi segera menghapus air matanya, dan menoleh kearah suara itu berasal. “Geovan?” Alvi sangat terkejut melihat laki-laki yang sangat terobsesi padanya ada di depan matanya.


“Kenapa menangis, cantik?”


Alvi ragu menceritakan keadaannya, karena Geovan terus mendesaknya, Akhirnya Alvi menceritakan semua kekecewaannya.


“Menikah saja denganku.”


Alvi terkejut dengan ucapan Geovan. Tapi tidak bisa dia pungkiri, tawaran Geovan menggiurkan. Alvi menerima tawaran Geovan, dan segera mengatur rencana pernikahannya dengan Geovan.

__ADS_1


Siang harinya, Alvi Menyusun rencana pernikahannya dengan Geovan, memindahkan beberapa tamu undangan kenalannya ketempat lain, juga memindahkan pengantaran makanan dari beberapa catering yang harusnya ke Gedung pernikahan dia dan Arnaff, justru menuju Gedung pernikahan dia dengan Geovan. Selesai mengurus catering dan undangan, Alvi langsung mengurus perubahan data di KUA. Serta memutuskan akan menikah di KUA saja dengan Geovan.


Flash back off


__ADS_2