Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 79


__ADS_3

Dirga tersenyum, ternyata perubahan Syafi karena ingin memberikannya kejutan. "Syafi mempersiapkan bday party buat saya?" tanya Dirga.


"Maafkan kebocoranku," gerutu Sam.


Dirga hanya tersenyum. Dia memberikan berkasnya pada Sam. "Saya senang, tapi juga sedih. Senang karena tau Syafi seperti ini untuk memberi kebahagiaan pada saya, tapi sedih kerja keras dia gagal."


"Moodku seketika hancur. Keluar kau!" usir Sam.


Dirga keluar dari ruangan Sam dengan senyuman yang terus menghiasi wajahnya. Dia segera melakukan pekerjaan yang lain, agar saat ulang tahunnya tiba, dirinya tidak disibukkan oleh pekerjaan.


Sedang di bagian lain.


Resa mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju sekolahan milik suaminya, di mana Syafi mengajar di sana. Setelah sampai di gedung T.A School, banyak yang menyambut istri pemilik sekolah ini.


"Bisa panggil Syafi, Mayfa, dan Athan ke ruangan khusus? Saya ingin rapat dengan mereka." Perintah Resa pada salah satu pengurus sekolah itu.


Resa berjalan cepat menuju ruangan tempat suaminya jika Sam datang ke sekolahan ini. Hanya berselang beberapa menit, Syafi, Mayfa, dan Athan sampai di ruangan yang Resa maksud.


"Anda memanggil kami?" tanya Mayfa.


"Iya, ada hal penting dengan kejutan bday Party buat Dirga," ucap Resa.


Ketiga sahabat itu saling pandang saat mendengar nama Dirga disebut. Saat ini nama itu paling malas untuk mereka ingat.


"Aku lupa ...." Isyarat gerak bibir Syafi pada Mayfa.


"Dirga sudah tau tentang kejutan pesta ulang tahun buatnya, karena kecerobohan suamiku," sesal Resa.


Mayfa, Syafi, dan Athan saling pandang, mereka sendiri lupa akan rencana yang sebelumnya mereka susun.


"Bagaimana? Pestanya sudah bukan lagi kejutan, mau lanjut apa batalin?" Resa memberi pilihan buat mereka bertiga.


"Semua terserah kalian, kalau mau lanjut aku dukung, kalau batal aku juga tidak masalah."


"Tidak apa-apa Nona, lanjutkan saja, pestanya bisa kita ganti bday party biasa," sahut Mayfa.


"Kalian tidak kecewa?" tanya Resa.


Syafi, Mayfa, dan Athan kompak menggelengkan kepala mereka.


"Maafkan Sam," sesal Resa.


"Tidak apa-apa Nona, lagian kami juga kehilangan ide," sela Syafi.


"Tadi Dirga seperti sedih gitu, merasa Syafi berubah, akhirnya Sam keceplosan."


"Jalankan pesta seperti rencana awal saja, jangan batal. Kan ini sudah kita rancang dari sebulan yang lalu," sela Athan.


"Beneran kalian nggak kecewa?" Resa mengulangi pertanyaannya.


"Tidak sama sekali," jawab ketiganya kompak.


"Baiklah, rencana pesta seperti di awal."


"Baik Nona." sahut Syafi, Mayfa, dan Athan, kompak.


"Maafkan aku, karena mengganggu jam mengajar kalian, kalian boleh lanjut."


Syafi, Mayfa, dan Athan pun izin undur diri dari hadapan Resa. Mereka bertiga berjalan bersama menyusuri lorong sekolah.


"5 menit lagi istirahat, nanggung juga balik kelas, kan sudah ada yang gantiin kita tadi saat istri sultan manggil kita," oceh Mayfa.


"Kita ke kantin yukk," ajak Athan.


"Boleh," sahut Syafi.


Ketiganya menuju kantin sekolah, memesan makanan dan minuman yang mereka inginkan. Hanya beberapa saat, meja itu terisi dengan pesanan mereka.


"Bagaimana ini Fiy?" tanya Athan.


"Nggak gimana-gimana, kita lanjutkan rencana semula, mengadakan bday Party dengan tema putih, dan sususan acara seperti sebelumnya."


"Hati lu kuat berusaha tegar saat lu tau pengkhianatan Dirga?" Mayfa berbicara dengan setengah berbisik, agar tidak ada orang lain yang mendengarnya.


"Lu raguin gue?" Syafi balik bertanya.


"Kita tau elu miss drama, tapi ini bukan drama ku menangis, tapi ku menangis beneran," sela Athan.

__ADS_1


"Aku akan berusaha untuk tegar, percaya deh."


Ketiga sahabat itu menikmati makanan mereka, untuk balik ke kelas juga tanggung.


***


Jam menunjukkan jam 14:00.


Dirga membereskan meja kerjanya, semua pekerjaannya selesai dia ingin menjemput Syafi dari tugas mengajarnya. Dengan semangat dia melajukan mobil menuju sekolahan Syafi mengajar. Dirinya tepat waktu, saat mobilnya berhenti di depan gerbang sekolah, di sana terlihat dua wanita cantik berdiri di samping seorang laki-laki yang duduk diatas motor. Siapa lagi, itu Syafi, Mayfa, dan Athan.


Dirga segera memarkirkan mobilnya. Setelah mobil terparkir sempurna, tanpa buang waktu lagi, dia memacu langkahnya menghampiri istri dan kedua teman istrinya.


Sedang di sana.


"Ya Tuhan ... beri aku kekuatan," ringis Syafi, ketika melihat Dirga berlari kearahnya.


"Asem! Ngapain tu orang kemari," dumel Mayfa.


"Gue yang harusnya kalian kuatin, kalian tau, saat ini gua mau nonjok tu orang," omel Athan.


Senyuman manis menghiasi wajah tampan Dirga. "Selamat siang semua," sapa Dirga.


"Siang kak," sahut Syafi.


"Athan sama Mayfa kenapa? Wajah mereka terlihat begitu kesal," tanya Dirga.


"Biasa, surprise party gagal, kan mereka yang rancang," sahut Syafi.


"Owh, maafkan aku," ucap Dirga.


"Tidak akan gue maafkan!" omel Mayfa.


"May ...." rayu Syafi.


"Than, pulang yukk ah, gue kesel!" Mayfa tiba-tiba naik keatas motor Athan.


"Kami duluan," Athan memberikan helm pada Mayfa, lalu menghidupkan mesin motornya, tanpa bicara sepatah kata pun, keduanya pergi begitu saja dari sana.


"Walau bukan kejutan lagi, tapi aku tetap bahagia loh." Dirga menarik Syafi dan menggandeng wanita itu.


"Terima kasih atas rencana indahnya, walau gagal eksekusinya."


Syafi berusaha tersenyum, walau hatinya sangat tersiksa melihat wajah Dirga. Wajah yang sebelumnya selalu dia rindukan, kini menjadi wajah yang selalu mengingatkannya pada rasa sakit. Sakit oleh pengkhianatan Dirga.


"Kita pulang yuk, aku kangen banget sama kamu," ajak Dirga.


Syafi hanya tersenyum kecil, dan menganggukkan kepalanya. Mereka berdua segera melangkahkan kaki menuju mobil Dirga.


Selama perjalanan tidak ada pembicaraan apapun antara Syafi dan Dirga, Dirga fokus pada jalanan yang dia lalui, sedang Syafi men-otak atik setelan musik di mobil Dirga.


"Yank ... dari tadi lagu galau melulu, mana Syafi ku yang ceria yang sering nyanyi dan heboh sendiri?" protes Dirga.


Syafi tidak memerdulikan pertanyaan Dirga, dia masih mencari lagu galau yang lain.


Ku menangis ... membayangkan-


"Nah lagu ikan terbang." gumamnya Syafi pun menyetel lagu itu dari awal dan ikut mengingi nyanyian itu.


"Jangan pernah kau katakan bahwa, cintamu hanyalah untukku, karena kini kau telah membaginya." Syafi memandang tajam kearah Dirga, pandangan mata mereka pun bertemu sebentar, karena Dirga kembali fokus pada jalanan yang ada di depannya.


"Maafkan jika memang kini


Harus ku tinggalkan dirimu


Karena hatiku kini tengah terluka." Syafi sengaja mengubah lirik lagunya.


"Tak ada lagi yang bisa ku lakukan tanpamu, Ku hanya bisa mengatakan apa yang ku rasa."


"Fiy ... jangan lagi galau yank ...." protes Dirga


"Ku menangis ...


Membayangkan. Betapa kejamnya dirimu atas diriku. Kau duakan cinta ini. Kau pergi bersamanya ...


Ku menangis ...."


"Ukhukkk!" Syafi batuk, karena tidak sanggup mengikuti nada tinggi penyanyi aslinya.

__ADS_1


"Ganti lagu yank ...."


Syafi meraih botol minuman yang ada di dekatnya, dan segera menegak isinya. Selesai menegak air dalam botol tersebut, lerlahan Syafi menutup botol itu kembali. "Kenapa nggak ganti bini aja sekalian?"


"Ha haaaa ...." Dirga tertawa kaku.


"Hilih, malah ketawa. Mau yank?" tawar Syafi.


"Enggak, cukup kamu."


"Owh ya udah kalau gak mau minum, aku simpan lagi botolnya." Syafi segera menyimpan botol minuman yang dia pegang.


"Ha?" Dirga pikir Syafi menawarkan dirinya untuk menikah lagi.


"Jangan berpikir aku nawarin kakak mau nikah lagi," tebak Syafi.


"Ah enggak, aku hanya heran gimana aku minum kalau sambil nyetir gini, padahal seger banget tuh apalagi bekas bibirmu."


"Awas! Ada orang di depan!" teriak Syafi.


Shutttttttt!


Dirga mengerem mobilnya tiba-tiba, membuat wajah Syafi mencium bagian depan mobil Dirga.


"Kamu nggak apa-apa yank?" Dirga panik. "Maafkan aku yank."


"Lain kali menyetir hati-hati, cepat periksa dulu keadaan orang di depan sana."


"Keadaan kamu dulu, kalau sakit kita ke dokter, tadi malam kamu juga kesakitan, sekalian kita cek semua." Dirga memeriksa keadaan Syafi.


"Aku tidak apa-apa, cepat turun sana."


"Baik." Dirga segera turun untuk memastikan keadaan orang yang hampir dia tabrak.


"Mbak nya gak apa--" Dirga mematung melihat siapa yang hampir dia tabrak.


"Maaf mbak, suami saya ceroboh, mbak ada yang luka?" tanya Syafi.


Wanita itu menoleh kearah Syafi.


Doarrrrr!


Syafi sangat terkejut melihat siapa yang ada di depan matanya.


"Saya tidak apa-apa mbak, maaf, tadi saya buru-buru mau menyeberang, karena anak saya nangis di sana." Wanita itu menunjuk kearah sisi jalan yang lain.


Syafi memandang kearah Dirga. Laki-laki itu terlihat biasa saja. Syafi kembali fokus pada wanita yang ada di depannya. "Ada yang luka mbak?"


Wanita itu menggelengkan kepalanya.


"Hati-hati ya mbak, maafkan kami," ucap Syafi.


Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya.


"Beneran mbak nggak apa-apa? Biar kami bawa ke dokter?" tawar Syafi.


"Beneran mbak, maafkan saya juga. Silakan mas sama Mbaknya mau melanjutkan perjalanan." ucap wanita itu.


"Sayang .... yukk pulang," ajak Syafi.


Dirga segera meyadarkan dirinya. "Iya, ayo kita pulang."


"Kami permisi mbak," pamit Syafi.


Wanita itu tersenyum dan segera melangkah menuju sisi jalan. Matanya terus memerhatikan pasangan suami istri itu.


"Aku tau di hati, di mata, dan di otak kamu cuma aku, tapi kalau seperti ini hati-hati!" Syafi mencubit gemas kedua pipi Dirga.


Dirga tersenyum, akhirnya Syafi bersikap manis padanya. "Maafkan aku, kamu terluka?" Dirga kembali memeriksa area pelipis Syafi.


"Fisik aku nggak terluka, yang terluka hatiku. Bleeee!" Syafi menjulurkan lidahnya mengejek Dirga. Dia berlari kecil menuju mobil.


"Dasar!" Dirga segera menyusul Syafi.


Dirga tidak memang tidak memiliki perasaan apapun pada Lala, walau dia melihat Lala, baginya itu biasa saja.


Syafi menurunkan kaca samping mobil Dirga, memberikan senyuman untuk Lala, mobil itupun terus melaju dan semakin menjauh dari sana.

__ADS_1


__ADS_2