
Banyak hal yang menjadi bahasan Dirga, Frans, dan Pak Said. Pembahasan itu berhenti kala mereka melihat Syafi, Mayfa, dan salah satu pemuda berada disatu meja.
"Dirga, ku lihat mereka bertiga sangat dekat." Frans masih menatap kearah Mayfa, Athan, dan Syafi.
"Iya, bisa dibilang mereka bertiga sahabat. Awal-awal pernikahanku dengan Syafi, aku sempat cemburu, karena istriku terlihat sangat dekat, namun seiring berjalannya waktu, aku diyakinkan oleh cinta Syafi, kalau aku dan Athan berbeda. Aku cintanya, dan Athan temannya."
"Tapi pandangan masyarakat +62 tidak semuanya luas, sebagian besar tidak menerima ikatan teman antara laki-laki dan perempuan. Kalau ada yang dekat ... pasti dituduh pacaran, selingkuhan, dan sejenis itu," ucap Rosalina.
"Syafi tidak peduli dengan pemikiran orang, bunda. Dia masa bodoh dianggap pacaran sama Athan, dia nggak kasih klarifikasi juga, katanya biar waktu yang menjawab, tidak semua pertemanan itu mengarah pada pacaran."
"Jadi ... mereka bertiga guru di Sekolah Swasta milik bos kamu, Dirga?" sela Pak Said.
"Iya Ayah, mereka bertiga guru, tapi Syafi sudah berhenti mengajar saat hamil kemaren."
Pandangan mata Frans tertuju pada Athan. Sepertinya aku harus dekati pemuda itu saja, agar bisa lebih tau tentang Mayfa, batin Frans.
Di sana Athan mulai beranjak dari posisinya, dia terlihat berjalan menuju meja minuman. Melihat hal itu, Frans merasa ini kesempatan untuknya mendekati Athan.
"Pak Said, bu Said, Dirga, aku permisi dulu ya, aku ingin olah raga mulut dulu," pamit Frans.
Athan terlihat kesulitan untuk membawa 3 gelas, karena tidak tersedia nampan di sana.
"Mau aku bantu Nggak?" tawar Frans.
"Oh boleh, minta bawain satu gelas ya." Athan menunjuk minuman berwarna orange.
"Siap." Frans segera mengambil satu gelas yang Athan maksud. Dia segera melangkah mengikuti Athan.
"Hai semua," sapa Frans, sesaat pandangan Frans tertuju pada Mayfa.
"Hai juga Frans. Sudah selesai bahasan bisnisnya?" tanya Syafi.
"Untuk saat ini sudah, aku dan Dirga punya proyek di Kalimantan Selatan, sebab itu selagi ketemu di sini sama rekan bisnis di sana, ya bahas aja sedikit," sahut Frans.
"Pernah ke Kalimantan?" tanya Syafi.
"Pernah, bahkan baru-baru ini aku sama Dirga ke sana, untuk urusan bisnis." Mengucapkan kata bisnis, pandangan Frans kembali tertuju pada Mayfa.
Athan membisu, lidahnya terasa kaku, bahkan minuman yang saat ini dia kecap tidak berasa apa-apa.
"Than, nyanyi kamu keren," puji Frans.
"Ha?" Athan terkejut merasa namanya disebut.
__ADS_1
"Nyanyi kamu keren, dari nyanyi lagu arab, dan lagu pertama tadi keren abis," puji Frans.
"Alhamdulillah kalau bro suka," sahut Athan.
"Boleh minta nomor handphone kamu nggak?" tanya Frans pada Athan.
"Kok minta nomor Athan? Kamu ngajak belok ya?" goda Syafi.
"Yah ... Kalau minta nomor kamu, adanya aku di cekik Dirga Fiy."
"Tapi kalau minta nomor adek nggak ada yang cekek kok," sambung Mayfa.
"Emang boleh?" Frans mendalami.
"Hilih May ... katanya perempuan pendiam dan polos, mana ada perempuan pendiam polos nawarin kayak elu!" protes Athan.
"Sory, gue lupa kalau mode kalem sekarang," sahut Mayfa.
"Jadilah dirimu sendiri May ... tidak perlu merubah diri untuk menarik perhatian seseorang atau membuat orang suka padamu, biarkan mereka suka padamu apa adanya May, suka pada dirimu yang sebenarnya," ucap Frans.
"Aku tidak merubah diri supaya mase suka sama aku, tanpa aku rubah pun mase dah terpesona sama aku," goda Mayfa pada Frans.
Frans seketika kehilangan kata-kata.
"Fiy ... kok gue kayak lihat lu saat somplak ya ...." ucap Athan.
"Kekocakan kamu itu bikin hatiku Nggak karuan May, diam kamu di sini, malah buat hati aku terpesona," ucap Frans.
"Fiy ... tabok gue Fiy! Ini serasa mimpi," ucap Mayfa.
"Nomor gue bro." Athan memberikan kartu namanya pada Frans.
"Maseh mau nomor aku apa nomor Bapak aku?" goda Mayfa.
"Gagal luh jadi cewek pendiam!" omel Athan.
"Ya maaf ... khilaf ini," Mayfa berusaha menahan tawanya.
Athan meraih tisu dan menuliskan nomor Mayfa di sana. "Ini nomor cewek aneh di sebelah gue bro." Athan memberi nomor Mayfa pada Frans.
Melihat hal itu Mayfa kesal, dia menedang kaki Athan. Hal itu membuat Athan menoleh padanya.
Kenapa?
__ADS_1
Bahasa isyarat Athan pada Mayfa.
Mayfa hanya memperlihatkan kekesalannya pada Athan. Rasa kesal yang melebihi batas, membuat Mayfa refleks menarik Athan pergi dari meja itu. Dia terus menarik Athan hingga sampai di tempat yang dia mau.
"Kenapa lu bagi nomor gue tanpa izin gue!" maki Mayfa.
"Kan kamu sendiri yang nawarin nomor kamu sama Frans."
"Lu baru kenal gue sehari dua hari Than!" maki Mayfa.
"Lu lupa kalau oleng gue emang genit ganjen kayak Syafi? Lu lupa gue rayu orang pun sekedar mencairkan suasana?!" Mayfa sangat marah, hingga matanya tampak berkaca-kaca.
Athan membisu, entah mengapa sejak perasaan aneh itu muncul membuat Athan cemburu dan merasa Mayfa menyukai orang itu.
"Maaf ...." sesal Athan.
"Kecewa gue ma lu!" Mayfa pergi begitu saja, dia tidak kembali lagi ke meja sebelumnya, dia memilih pergi ke meja di mana para sepupunya berkumpul.
Athan sangat terpuruk, entah mengapa rasa cemburu itu membuat otaknya tidak bekerja. Athan menegakan pandangannya kearah meja di mana mereka berkumpul, di sana hanya ada Frans sendirian. Mau tak mau Athan kembali ke sana.
"Bini Dirga mana Bro?" Athan berusaha basa basi.
"Sudah pergi, katanya nggak enak cuma berdua sama aku," sahut Frans.
"Mayfa sendiri mana?" tanya Frans.
"Dia tadi bahas undangan manggung di temen dia, mungkin bahas lanjutan itu sama yang lain." Athan mengisyarat kearah Mayfa berada.
"Kata Dirga, kalian bertiga itu seperti sahabatan," ucap Frans.
"Yah ... bisa dibilang gitu bro. Kalau sama May, aku kenal dia sejak dia dekat sama Syafi. Kalau sama Syafi ya ... lumayan dekat."
"Pernah jatuh cinta sama dia?"
"Pernah bro, Syafi sebelum ketemu Dirga ah ...." Athan tidak bisa mengungkapkan bagaimana tingkah Syafi. "Dia rayu siapa aja termasuk aku, hingga aku baper sama rayuan dia, dan akhirnya aku sendiri harus move on, dia itu bilang cinta tapi nggak ada rasa, seperti orang chat wkwkwkkk tapi dia sendiri nggak ketawa."
"Mirip seperti Mayfa ya?"
"Lebih parah Syafi, bro. Beruntung kau ketemu dia pas udah nikah, kalau ketemu dia saat dia masih single, nggak aman mah kamu, pasti jadi korban rayuan mukidi dia."
"Kamu manggung jam berapa?"
"Habis ngajar bro, kadang sore, kadang malam aja. Kalau manggung kayak sekarang, ya nunggu waktu libur sekolah."
__ADS_1
"Nanti aku hubungi ya untuk bahasan manggung."
"Siap bro."