Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 54 Fiy ... Bangun


__ADS_3

Seminggu sudah wanita itu tidak sadarkan diri, tim dokter kehabisan cara untuk menangani Syafi. Seminggu ini pula Athan dan Mayfa bolak-balik ke Rumah Sakit menjenguk Syafi. Tapi tidak ada juga perkembangannya. Athan, Mayfa, dan Dirga berdiam diri tidak jauh dari ranjang tempat Syafi terbaring. Menunggu tim dokter yang tengah menangani Syafi.


Dokter berjalan mendekati Dirga. “Kami tidak tahu harus bagaimana lagi, kami tidak tau dilema atau depresi pasien, sehingga dia begitu terpuruk, hanya semangat dari kalian yang bisa menyadarkan dia. Entah apa itu, andaikan ada hal yang membuatnya bingung atau apa, tolong bantu dia untuk keluar dari masalahnya, tentunya itu pasti berat baginya.” Dokter itu menepuk bahu Dirga, dan segera meninggalkan ruangan itu.


Beberapa perawat masih berada di dekat Syafi, entah apa yang mereka lakukan, satu sibuk memantau layar, yang satu sibuk mencatat.


“Apa yang terjadi sebelum kecelakaan?” Pertanyaan Dirga membuat Mayfa dan Athan berhenti memandang kearah Syafi.


“Kalau cerita di sini, aku takut Syafi mendengar,” ucap Mayfa.


“Kita bicara di luar, lagian perawat masih sibuk di sana,” usul Athan.


Mereka bertiga segera melangkah menuju pintu, ketiganya  berdiri di samping pintu ruangan tempat Syafi di rawat.


“Aku tidak tau awal mulanya apa, saat aku mendekat, terlihat Arnaff dan—” Mayfa menahan ucapannya.


“Waktu itu Syafi menolak cintaku, lalu ada laki-laki yang Mayfa panggil Tuan Arnaff, orang itu mengatakan kalau Syafi tidak mau menerimaku, karena aku bukan orang berada, aku tidak tahu siapa laki-laki dan perempuan itu, entah kenapa mereka berdua begitu membenci Syafi,” tambah Athan.


“Arnaff lagi!” Dirga terlihat geram.


Athan mulai menceritakan segala perkataan Arnaff pada Syafi. “Perkataan terakhir laki-laki itu, sepertinya membuat Syafi begitu terpuruk. Katanya, Syafi tidak pantas buat kamu.” Athan memandang tajam kearah Dirga. “Kata orang itu, andai Dirga mau menikahi dia, pasti hanya karena kepepet. Bayangkan bagaimana perasaan Syafi, sedang saat ini dirinya berstatus sebagai istri kamu, Dirga.”


Dirga menghempaskan kasar tubuhnya ke kursi yang ada di dekatnya. “Aku harus apa ….” Dirga mengusap kasar wajahnya.


“Setiap wanita ingin dinikahi karena cinta, tapi pernikahan kalian?” Athan memandang sayu kearah Dirga. “Syafi terpuruk, karena dia merasa Anda menikahinya karena amanah dan keadaan. Lepaskan dia, maka dia akan tenang. Aku meminta Anda melepaskan dia, bukan karena aku menginginkan dia. Tapi membuat dia bangun itu yang utama saat ini.”

__ADS_1


Kedua bola mata Mayfa membulat sempurna saat mendengar perkataan Athan barusan. Melihat Dirga langsung berdiri dan melangkah cepat menuju ruangan Syafi. Membuat fokus Mayfa buyar. Menegur Athan atau mengejar Dirga. Melihat Dirga sudah masuk kedalam ruangan, Mayfa langsung menarik Athan.


“Kamu bicara apa? Asal kamu tahu, Dirga jatuh cinta pada Syafi!” tegur Mayfa.


“Cinta Dirga dan ikatan yang Dirga beri hanya membuat Syafi semakin tersiksa May. Lihat dia May … dia tersiksa dengan keadaan saat ini. Aku tidak menjanjikan Syafi bahagia dengan cintaku, setidaknya aku memberi pilihan pada Syafi.”


“Apa tidak ada wanita lain selain Syafi?”


“Aku jatuh cinta pada Syafi, maka dia yang aku perjuangkan,” balas Athan.


“Kakak juga salah satu penyebab Syafi malas untuk bangun!” Mayfa langsung pergi meninggalkan Athan.


Melihat Mayfa berjalan cepat menuju ruangan Syafi, Athan juga segera melangkahkan kakinya mengikuti Mayfa. Mayfa dan Athan sama-sama terdiam, saat melihat Dirga duduk di kursi sambil memegangi tangan Syafi. Terlihat di sana beberapa perawat masih memantau perkembangan Syafi.


“Ada respon, Tuan. Silakan lanjutkan,” pinta perawat itu.


Dirga melepaskan tangan Syafi yang sedari tadi dia genggam. Jantung Dirga seakan berhenti berdetak, menyadari kalau benar ikatan inilah yang membuat Syafi tidak mau untuk kembali. Berulang kali Dirga mengatur napasnya. Sakit rasanya, seakan batu besar menghantam dadanya begitu keras.


“Tuan, bisa Anda lanjutkan?” Pertanyaan perawat itu, memecah lamunan Dirga.


Dirga kembali meraih tangan Syafi. “Fiy, jika kamu tidak bahagia menjadi pendampingku, kita masih bisa jadi saudara, bukan? Sebelum kita menjadi saudara lagi, ku mohon bangun … bagaimana aku bisa mengembalikan kamu kalau kamu belum sadar.” Dirga mengusap buliran crystal yang terlanjur lepas dari sudut matanya.


Mayfa di ujung sana ikut menangis, membayangkan bagaimana sakitnya perasaan Dirga saat ini, mencintai dalam diam wanita yang menjadi istrinya, belum terungkap rasa cinta itu, Dirga harus melepas wanita itu.


“Apa kamu masih ingin Syafi menderita?” tanya Athan.

__ADS_1


Mayfa menggelengkan kepalanya, mendengar Syafi merespon setelah mendengar ucapan Dirga, Mayfa tidak bisa berbuat apa-apa. Syafi tidak bahagia dengan pernikahannya, dan laki-laki yang memegangi tangan Syafi terlalu lamban mengutarakan perasaannya.


“Fiy, bangun … aku akan antar kamu ke Kalimantan, jika kau ingin lepas dari ikatan ini.” Dirga mencium tangan yang masih tidak berdaya itu begitu dalam. “Mencintai dalam sepi—” Dirga tidak mampu melanjutkan nyanyiannya.


“Fiy, bangun … apalagi yang kamu tunggu, aku juga tidak sakit hati kalau kamu menolak cintaku.”


Dirga terkejut, dia tidak menyadari kalau Athan dan Mayfa sudah berada di dekat Syafi, dan Athan memegang tangan Syafi yang satunya. Dirga perlahan melepaskan tangan Syafi. “Mencintai dalam sepi, dan rasa sabar manalagi, yang harus 'ku pendam dalam mengagumi dirimu, melihatmu genggam tangannya, nyaman di dalam pelukannya, yang mampu membuatku tersadar … dan sedikit menepi.” Nyayian Dirga, dia segera menjauh dari tempat itu. Menghempaskan tubuhnya di sofa yang empuk yang tidak jauh dari ranjang Syafi.


Mayfa dan Athan masih setia berdiri di dekat ranjang Syafi, melihat apa yang dilakukan tiga perawat itu. Hanya bunyi alat-alat Kesehatan dan helaan napas yang terdengar di ruangan itu. Mayfa menyerah, dia melangkah menuju sofa dan duduk di sana.


Dalam alam bawah sadar Syafi, rasanya Syafi malas untuk bangun, menyadari Paman dan bibinya tidak bersamanya lagi, Syafi duduk di tepi tempat tidur yang dia tempati, samar dia mendengar nyanyian yang terputus-putus, bukan nyanyiannya yang menyita perhatian Syafi, tapi suara itu, suara yang membuatnya penasaran. Syafi bangun dari tempat berbaringnya, untuk mencari sumber suara itu, saat dia melangkah, tiba-tiba dia terpeleset. “Akkkk!” Tapi jeritannya tidak mengeluarkan suara. Syafi tidak mengerti dia terus terus tergelincir tanpa tau sampai mana ujungnya.


Para perawat heboh saat melihat ada kemajuan dari layar monitor, mereka langsung memanggil dokter, seketika keadaan yang tadi hening menjadi tegang. Para perawat dan dokter langsung melakukan Tindakan medis untuk menangani pasien mereka.


Dirga rasanya sulit untuk bernapas melihat Tindakan medis yang dokter lakukan. Mayfa juga terlihat panik, dia menggigiti ujung kukunya. Bingung harus apa. Hanya berharap Syafi sadar kembali.


“Fiy, ayo kembali, aku akan melepaskan kamu Fiy ….” Gumam Dirga.


Di ranjang Rumah Sakit itu, hembusan napas yang begitu panjang terlepas dari mulut seorang pasien yang seminggu ini betah menutup matanya.


“Alhamdulillah ….” Dokter yang menangani Syafi sangat bahagia akhirnya pasien yang dia tangani siuman.


Di sudut sana, air mata Mayfa mengalir deras, segala puji syukur selalu terlepas dari mulutnya, penantiannya menanti temannya sadar kembali akhirnya terkabul. Mereka masih tidak bisa mendekat, tim dokter masih menangani Syafi.


Syafi memandangi ruangan tempatnya berbaring, pandangannya terhenti saat matanya menangkap sosok tiga orang yang juga memandang kearahnya. Terlihat Mayfa berusaha memberikan senyumannya, walau air mata masih membasahi pipi mulusnya.

__ADS_1


__ADS_2