Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 102


__ADS_3

Dirga panik melihat Syafi pingsan di tengah acara reuni yang belum dimulai, siaran langsung igeh pribadi Syafi pun di hentikan.


"Ada apa Tuan?" Bi Jumi kaget melihat Dirga tiba-tiba panik dan ketakutan.


"Tidak apa-apa bi."


Dirga langsung menghubungi Sam, meminta Sam untuk menarik mata-mata yang Sam kirim untuk mengawasi Syafi. Dirga menceritakan ancaman Syafi, kalau masih ada orang-orang TAG yang mengawasi dirinya.


"Kamu itu terlalu penakut, kau takut hati istrimu kena jarum, tapi hatinya malah ketusuk tombak, berani sedikit Dirga."


"Aku hidup dengan Syafi, aku sangat mengenal wanita itu, makanya aku mohon Tuan, tarik mata-mata Anda, aku tidak mau Syafi mencelakai dirinya sendiri." Dirga memohon.


"Aku tarik yang itu, aku akan kirim 5 orang yang baru, dan begitu seterusnya, sampai Syafi mau kembali ke pelukanmu."


"Tuan, saya mohon dengarkan saya."


"Lihat rencanaku lebih mulus dari rencanamu!"


Dirga pasrah, Sam bersikeras tidak mau menarik anak buahnya di sana.


15 menit kemudian handphone Dirga berdering, terlihat pesan dari nomor yang tidak dikenali. Dirga membuka isi pesan yang masuk.


Tuan, Nona tidak apa-apa, menurut yang saya dengar, Nona hanya kecapek-an, dan tertekan saja. Sekilas saya dengar pengakuan Nona, kata dia, dia kepikiran bagaimana keadaan dia nanti untuk melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman, sedang waktu yang di tempuh kurang lebih 4 jam. Disimpulkan Nona stres memikirkan perjalanan panjangnya sedang dia mudah mabuk dalam perjalanan.


Tlink!


Sebuah pesan gambar masuk, terlihat foto Syafi meninggalkan klinik kesehatan yang menanganinya bersama dua temannya, namun kedua teman Syafi kembali ke cafe, sedang Syafi menuju tempat lain.


"Syukurlah kamu tidak apa-apa Fiy."


Tlink! Pesan masuk lagi.


Nona Syafi naik ojek online, sepertinya menuju siring Banjarmasin.


Membaca pesan itu Dirga kembali cemas. Dirga mencari tau lewat jendela Om Go, tentang 'Siring Banjarmasin.'


Mata Dirga begitu jeli melihat foto-foto area itu. Perasaan Dirga semakin tidak tenang, kalau tempat yang di tuju Syafi adalah rekreasi tepi sungai. Dirga langsung menelepon anak buah Sam. Hanya hitungan detik panggilan Dirga terhubung.


"Apa istri saya menyadari keberadaan kalian?" tanya Dirga.


"Sepertinya tidak."


"Sepertinya!?" Dirga sangat putus asa. Dia memutuskan sepihak panggilan teleponnya. Dirga kembali menghubungi Sam.


"Tuan saya mohon dengan sangat, tolong tarik semua anak buah Anda! Saya tidak mau Syafi melukai dirinya sendiri!"


"Dia tidak akan sadar Dirga, aku akan mengganti anak buah jika tempat yang Syafi kunjungi berbeda."


"Saat ini Syafi menuju siring, aku takut! Karena Syafi tidak bisa berenang."


"Kenapa kamu berpikir Syafi akan ke sungai? Kan bisa saja dia rindu tempat itu."


"Feeling saya mengatakan ada yang tidak beres, saya mohon tarik semua anak buah Anda."


"Kalau benar seperti dugaanmu, aku akan menarik semua anak buahku dari misi mereka mengawasi Syafi, dan aku tidak akan membantu kamu untuk mendekati Syafi lagi."


Dirga dan Sam menyudahi panggilan telepon mereka.

__ADS_1


20 menit berlalu, banyak pesan gambar yang masuk, hasil jepretan anak buah Sam yang mengawasi Syafi. Foto terakhir Syafi berdiri di tepi sungai, keadaan di sana tampak sepi.


Dirga buru-buru mengetik pesan di handphonenya, meminta anak buah Sam mundur.


Konsentrasi Dirga buyar saat handphonenya menerima panggilan Video dari Syafi. Dengan jemari yang gemetaran Dirga mengangkat panggilan Video dari Syafi, hingga keduanya bisa saling pandang lewat layar handohone mereka.


Syafi tersenyum kecut. "Kakak nakal, kakak tidak merelakan aku bahagia."


"Aku relakan apa saja yank asal kamu bahagia."


"Bohong! Buktinya kakak mengingkari janji kakak LAGI!" Syafi merubah arah kamera, agar Dirga bisa melihat sisi yang Syafi mau.


Dirga terkejut melihat orang-orang Sam darinlayar handphone-nya. "Sayang ... itu Tuan Sam yang mengutus mereka bukan aku, aku akan telepon Tuan Sam, agar mereka berhenti mengikuti kamu."


"Terlambat!" Syafi terus melangkah menuju sungai.


Byurrr!


Syafi tiba-tiba menceburkan dirinya ke sungai.


Sekilas Dirga melihat Syafi tenggelam dalam air, tidak lama panggilan mereka terputus. "Arggggtttt!" Di sana Dirga sangat putus asa. Syafi benar-benar melakukan apa yang dia ucapkan.


"Aku mohon selamatkan Syafi ku, aku rela melepas dia asal dia bahagia dan selamat."


Dengan kemarahan yang menyelimuti hatinya, Dirga langsung menelepon Sam.


"Sudah aku bilang! Jangan mengikuti Dia!" Dirga berteriak sekuat yang dia bisa.


Dirinya sangat frustasi melihat detik terakhir panggilan video dia bersama Syafi.


Sam bingung harus apa, laporan kalau Syafi terjun ke sungai membuat nyalinya seketika ciut. "Tenang Dirga, Syafi selamat, ada yang langsung menyelamatkan dia."


"Tapi kamu juga tersiksa tanpa dia."


"Aku mohon Tuan, sekarang aku tidak punya akses lagi untuk menghubungi Syafi, sudah pasti handphone Syafi terjatuh di sungai itu."


Sam terdiam, kejadian barusan memang sangat menakutkan, Syafi rela menyakiti dirinya sendiri jika dibujuk untuk mamafkan Dirga. Jangankan membujuk, mendekati saja susah.


"Iya, mulai sekarang aku tidak membantu urusanmu dengan Syafi, tapi aku tetap membantu urusanmu dengan Lala."


***


Di Kalimantan


Siring yang tadi sepi mendadak ramai, karena proses penyelamatan seorang wanita yang tercebur ke sungai, tidak ada yang memperhatikan kejadian sebelumnya, hanya saja suara tercebur menyita perhatian beberapa orang yang ada di sana. Mereka pun langsung menceburkan diri menyelamatkan wanita yang jatuh ke dalam air.


"Terima kasih banyak, maafkan saya, saya tadi ceroboh," sesal Syafi.


"Lain kali kalau foto-foto, hati-hati mbak."


Syafi meyakinkan orang-orang di sekitarnya kalau dirinya baik-baik saja. Perlahan mereka semua membubarkan diri.


"Ini tas mbak, lain kali hati-hati mbak." Seorang perempuan memberikan tas Syafi yang tergeletak di tepi sungai.


"Terima kasih banyak," ucap Syafi.


Kini hanya ada dirinya seorang di sana. Yang lainnya sudah asyik dengan urusan mereka masing-masing.

__ADS_1


Syafi menyisir pandangannya ke area itu, anak buah TAG sudah tidak membuntuti dirinya lagi. Merasa aman dirinya segera meninggalkan area itu, dia mencari toko Handphone terdekat di sana, handphone-nya sudah menyelam di dasar sungai itu.


Setelah semua yang Syafi cari dia dapat, Syafi memutuskan pulang hari ini juga, sebelum utusan TAG yang baru datang lagi dan lagi. Syafi kembali ke hotel dengan angkutan umum antar kota, Syafi men-carter mobil itu, sang supir hanya mengantar dirinya saja sampai ke desa Syafi.


"Hadang satumat paman, ulun ma ambil tas di kamar." Syafi segera masuk ke hotel. Dia menyelesaikan semua urusannya, dan segera pergi dari sana.


(Tunggu sebentar paman, saya mau ambil tas di kamar.")


****


Di belahan bumi Lain, Sam sangat frustrasi, kehabisan akal untuk membujuk Syafi, bagaimana membujuk mendekati saja susah, dirinya juga sudah berjanji tidak akan ikut campur urusan Syafi dan Dirga lagi. Tapi membiarkan seperti ini, sama saja membiarkan Dirga mati perlahan.


"Kenapa papa?" Resa heran, sampai siang ini Sam masih berada di rumah. "Papa sakit?" Resa menaruh punggung telapak tangannya diatas kedua alis Sam.


"Papa tidak tau harus apa untuk membuat Syafi kembali pada pelukan Dirga, sedang Dirga terlalu takut dengan ancaman Syafi."


"Biar mama yang bicara, siapa tau Syafi mau dengar kalau mama yang ngomong."


Resa mencari kontak Syafi, dan melakukan panggilan ke nomor itu.


Nomor yang Anda tuju tidak bisa menerima panggilan.


Resa mematung.


"Kenapa ma?" tanya Sam.


"Handphone Syafi tidak aktif.


"Sepertinya aku harus pakai cara kasar supaya Syafi mau mendengarkan kita." Sam mengetik pesan, mengirimnya pada anak buahnya yang pertama kali mengikuti Syafi.


Kalau ketemu, paksa dia agar ikut kalian!


20 menit kemudian Sam mendapat pesan dari anak buahnya.


Maaf Tuan, wanita yang bernama Syafi, kata petugas hotel sudah pergi dengan angkutan umum, katanya dia pergi menumpangi taksi Tanjung.


Sam mengusap kasar wajahnya. Sam mengirim pesan lagi.


Bisa kalian cegat taksi yang wanita itu tumpangi?


Tlink!


Mustahil Tuan, kita sudah ketinggalan jauh, kami juga tidak tau mobilnya yang mana. Tapi jika Tuan mau, akan kami usahakan.


Sam merenung, berusaha mengejar Syafi, atau menyisir kota apam untuk mencari wanita itu. Sam hanya tau Kabupaten wanita itu tinggal, tapi tepatnya tidak tau.


Tlink!


Pesan baru kembali masuk.


*Saya akan pergi bekerja setelah wajah saya tidak terlalu memar lagi, saya akan memulai hidup saya walau tanpa Syafi.


Tlink!


Saya harap Anda memegang janji Anda, berhenti mengikuti Syafi*.


Membaca pesan dari Dirga, Sam membuang kasar napasnya, dia memberikan handphone-nya pada Resa, memperlihatkan pesan Dirga yang barusan masuk.

__ADS_1


"Ini sangat tidak adil bagi Dirga pa."


__ADS_2