Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 28 Masih Berduka


__ADS_3

Sejak menginjakkan kakinya ke rumah Dirga, sampai malam menjelang, Syafi tidak juga keluar dari kamar itu. Membuat Dirga khawatir melihat keadaan ini. Dia memberanikan diri untuk menghampiri wanita itu.


Tok tok tok!


Tidak juga ada jawaban dari dalam kamar itu, berulang kali Dirga mengetuk pintu kamar itu, sama saja, tidak ada jawaban sama sekali. Sedang di kamar itu, seorang gadis masih betah menangis mengenang kebersamaan bersama paman dan bibinya. Mengingat Kembali bagaimana momen terindah sepanjang bersama paman dan bibinya, sama sekali tidak mendengari ketukkan pintu yang terus berulang.


Dirga membuang kasar napasnya, wanita dalam kamar itu benar-benar tidak mau membukakan pintu untuknya. Terpaksa meninggalkan pintu kamar itu, menyeret kakinya yang lemas, menuju ruang makan. Di ruang makan terlihat bi Masri, pelayan setia Dirga sedang menyiapkan makan malam.


“Selamat malam Tuan,” sapanya.


“Selamat malam, bi. Oh ya bi, siapkan makan malam untuk Syafi, antarkan ke kamar dia ya bi,” pinta Dirga.


Bi Masri segera mempersiapkan makanan untuk wanita yang baru datang itu, setelah menegtuk pintu, namun tidak juga di bukakan, bi Masri membuka pintu kamar itu dengan kunci cadangan, saat pintu terbuka, terlihat seorang gadis yang entah memandangi apa, air matanya terus becucuran.


“Maaf, Nona … ayok makan malam dulu, nangis juga butuh tenaga,” ucap bi Masri.


Syafi segera mengusap air matanya, saat menyadari ada orang yang masuk ke dalam kamarnya. Bi Masri hanya tersenyum, dia meletakkan nampan yang berisi makan malam buat Syafi, dia segera pergi dari kamar itu.


Dirga batal menyuap makanannya saat melihat bi Masri berjalan kearahnya. “Bagaimana, bi?”


“Entah Tuan, gadis itu sepertinya sangat terluka,” ucap bi Masri.


Dirga hanya bisa melanjutkan makan malamnya, berharap punya rencana, untuk membantu wanita itu bangkit kembali.


Hari baru bagi Dirga, setelah sekian lama meninggalkan tugasnya  di Perusahaan Ozage Crypton Group, akhirnya hari ini dia memulai Kembali rutinitasnya yang satu ini. Dirga mengenakan setelan jas lengkap, begitu semangat menuruni satu per satu anak tangga. “Selamat pagi, bi.” Segera menarik salah satu kursi, duduk di sana meraih beberapa lembar roti yang sudah di siapkan bi Masri.


“Tadi malam, hanya sedikit saja makanan yang dimakan Nona, apa makanan saya tidak enak, ya Tuan?”


“Tidak bi, dia masih berduka, bagaimana dia bisa ceria, dalam waktu yang berdekatan Paman dan bibinya meninggal,” terang Dirga. Dirga menceritakan duka yang Syafi alami.

__ADS_1


"Semoga dia bisa bangkit, ya Tuan."


"Itu harapan saya juga bi."


Dirga meneruskan sarapannya. Berusaha mengukir senyuman di wajahnya walau sulit, Langkah kakinya begitu semangat melangkah menuju kamar Syafi. Mengetukkan punggung telapak tangannya di pintu kamar itu. “Fiy ….” Panggilnya. Sama seperti sebelumnya, pintu itu tidak terbuka.  “Fiy, kakak pergi kerja, kalau kamu perlu sesuatu minta sama bi Masri, jangan sungkan, atau langsung telepon saja kakak,” ucapnya lagi. Pintu tetap tidak terbuka, Dirga segera meninggalkan tempat itu, meneruskan Langkah kakinya, untuk berangkat menuju kantor.


Dua minggu sudah Syafi tinggal seatap bersama Dirga, tidak ada perubahan sama sekali, masih betah mengurung diri dalam kamar itu. Hari-hari yang di lewati Dirga sama saja saat pertama kali Syafi datang ke rumah ini, lebih untung saat berada di rumah Ardhin, setidaknya saat di sana dia bisa melihat Syafi setiap hari saat menuju kamar mandi, karena di rumah Ardhin kamar mandi Cuma satu. Selama di rumahnya sendiri Dirga tidak pernah lagi melihat batang hidung Syafi.


Setiap hari hanya memandangi pintu kamar itu, berharap ada keajaiban agar bisa membuat wanita yang mengurung diri di kamar itu mau menampakkan diri. Dirga tetap optimis, suatu saat nanti dia bisa mengembalikan bagian dari Syafi yang hilang, meski itu tentunya bukan perkara yang mudah.


Keadaan di lantai tertinggi Gedung Ozage Crypton Group terlihat tampak berbeda dari biasanya, Dirga menyoroti tiap sudut keadaan ruangan ini, perasaannya sungguh tidak enak, mempercepat Langkah kakinya menuju ruangan Sam, di ruangan sekretaris, dua sekretaris Sam juga tidak ada di sana. Perasaan Dirga semakin tidak nyaman, dia berlari menuju ruangan Sam, tanpa mengetuk pintu terlebuh dahulu, Dirga langsung masuk.


Boughh!


Sebuah hantaman bogem mentah mendarat di rahang Dirga, seketika dia tersungkur di lantai. Terlihat wajah Sam memerah menahan amarahnya. Dirga memegangi rahangnya yang nyeri karena ciuman dari kepalan tangan Sam.


Dirga berusaha bangkit, dia masih tidak menyadari  keadaan ini. “Apa maksudmu? Aku sungguh tidak mengerti.


Boughht!


Sekali lagi bogem mentah itu mendarat di pipi Dirga. “Kau menikah diam-diam, tanpa memberitahuku! Kau tidak menganggap aku saudara!” Lagi-lagi teriakkan itu menggema. "Aku kecewa! Kenapa aku tahu pernikahanmu dari orang lain!"


“Bagaimana aku mau cerita, aku saja bingung dengan keadaanku.” Dirga membela diri.


Sam menarik Dirga kedalam pelukannya. “Selamat atas pernikahanmu, maafkan aku, hantamanku masih belum seberapa, harusnya aku memutilasimu dulu, tapi kalau kau aku mutilasi kasihan istrimu nanti jadi janda.” Menepuk punggung Dirga. Sam Bahagia, akhirnya Dirga menemukan jodohnya. “Ibu dan Resa sedang menuju rumahmu, beberapa karyawan juga menuju ke sana, kita adakan acara kecil-kecillan untuk memperkenalkan istrimu.”


Seketika tubuh Dirga bergoncang hebat, bagaimana mungkin Syafi bisa memperkenalkan diri. “Kenapa Anda melakukan itu? Ya Tuhan ….” Dirga tampak frustasi.


“’Kan … kamu juga sepertiku, tidak rela orang lain melihat wanita yang sangat kita cinta.”

__ADS_1


Dirga mengusap kasar wajahnya. “ Bukan seperti itu, Tuan ….” Wajah Dirga sangat hancur. Dia mulai menceritakan duka Syafi yang di tinggal Arnaff sehari sebelum akad nikah, menceritakan kematian Paman dan bibi Syafi. Hingga kesepakatan pernikahan dia dan Sayfi. Menjelaskan tanpa bukti yang nyata, susah untuk membuat Sam percaya pada ceritanya, Dirga memperlihatkan rekaman video detik-detik terakhir kehidupan Kamal, pada Sam. Sama seperti Dirga, seketika kemarahan Sam memuncak setelah selesai menonton video itu. "Aku akan buat perhitungan dengan Arnaff."


“Untuk pertama kali aku benar-benar jatuh cinta, maaf walau dulu aku pernah mengagumi istrimu, tapi perasaan yang aku rasa buat Syafi berbeda, aku benar-benar jatuh cinta padanya. Dia sekarang menjadi istriku, tapi—” Rasanya sangat sulit meng-ibaratkan hubungan dia dan Syafi saat ini. “Aku mencintai istriku, dia tidak tau kalau aku dari awal jatuh cinta padanya, katanya dia mau menjadi istriku, saat dia bisa mengubur Syafi yang lama, aku tidak ingin Syafi yang baru, aku ingin Syafi yang lama.” Dirga terus menceritakan kehidupannya selama dua minggu ini bersama Syafi.


Sam langsung menarik Dirga ke dalam pelukannya. “Maafkan aku, ternyata ujian cintamu—” Sam turut besedih.


“Syafi ….” Dirga teringat Syafi.


“Maafkan aku, aku kira pernikahan kamu Bahagia, makanya aku mengadakan kejutan pesta untukmu.” Tampak raut penyesalan di wajah Sam.


“Suruh semua pegawai yang menuju rumahku Kembali, kita adakan party setelah Syafi setuju untuk tampil di tengah umum,” pinta Dirga.


Sam langsung mengeluarkan titahnya lewat telepon, beruntung para pegawainya belum sampai rumah Dirga. Sam langsung memindahkan acara makan-makan ke sebuah Restoran tanpa kehadiran dirinya dan Dirga. Para Karyawan hanya bisa patuh, mereka langsung putar arah. Wajah Sam tampak cemas setelah selesai menelpon Resa.


“Ada apa?” Dirga panik melihat reaksi wajah Sam.


“Ibuku dan Resa sudah berada di rumahmu.”


Dirga membuang kasar napasnya, wajahanya Nampak putus asa.


Dia langsung berlari meninggalkan ruangan Sam.


***


Bersambung yaa.


Maaf baru keburu setornya.


Hukuman apa ya yang Sam beri buat Arnaff nanti? 🤔🤔🤔🤔

__ADS_1


__ADS_2