
Intro musik dari lagu mencintaimu slamanya yang di populerkan oleh Krisdayanti mulai bermain, Syafi segera mendekatkan mic pada mulutnya.
🎶🎶🎶🎶
Lama sudah ku bersama, menemani dirimu,
Berbagi cinta dan berbagi rasa, semakin kita melangkah semakin kita dalam,
Semakin terlihat jauh berbeda … tapi ku tak sangka secepat ini, harus ber akhir kisah cinta kita ..
Ku akan selalu mencintaimu, walau kita tak mungkin bersama.
Meski berat … melepasmu, tapi kamu akan slalu, di hatiku slamanya ….
🎶🎶🎶
Dari kejauhan ada yang sangat bahagia bisa melihat wanita itu bernyanyi. Bahagia, tapi juga sedih, karena Athan berdiri di samping Syafisambil memainkan gitarnya. Selesai satu lagu yang Syafi nyanyikan, terlihat Syafi langsung turun dari panggung. Tepukkan tangan mendarat di Pundak Dirga, membuat tubuh itu sedikit tersentak.
“Kalau pertunjukkan kakak ipar selesai, lebih baik kak Dirga pulang saja.”
“Terima kasih.” Dirga menepuk Pundak pemuda itu, repot sedikit tidak mengapa menyamar jadi pelayan, asal bisa menyaksikan Syafi bernyanyi.
Acara di tempat itu terus berlangsung, terlihat dari kejauhan Syafi dan Mayfa sama-sama meninggalkan tempat itu menaiki ojek online. Dirga juga meninggalkan tempat itu, tapi dia menuju kantornya, menyelesaikan
beberapa pekerjaannya.
Matahari kian condong kearah barat, cahaya kuning keemasan yang tadi mewarnai langit sore, perlahan meredup. Lampu-lampu mulai menerangi bumi bagian itu. Mobil Dirga melaju di jalan raya, pekerjaan selesai, saatnya kembali ke rumah, pekerjaan tidak terlalu berat, Dirga bisa pulang lebih cepat. Mobil yang dia kendarai perlahan memasuki halaman rumahnya, saat dia keluar dari mobil terlihat pintu rumah terbuka, sosok wanita cantik menyambutnya dengan senyuman. Penat yang bertumpu di pundaknya seketika lenyap.
Dirga bingung harus apa, dia segera menutup pintu mobilnya, dan memacu langkah kakinya menghampiri Syafi. Syafi menyambutnya dengan memberi salam, Dirga tersenyum sambil menjawab salam dari Syafi. Seperti biasa, wanita itu meraih tangan Dirga dan mencium punggung telapak tangan itu. Dirga tidak punya nyali, mendapat perlakuan demikian dari Syafi seketika dia mematung.
“Kakak mau langsung makan atau apa?” Pertanyaan Syafi bagai roh yang kembali masuk kedalam tubuh Dirga, membuat tubuh itu kembali bisa bergerak.
“Kita langsung makan malam saja, tapi aku ganti baju dulu.”
Mereka berdua sama-sama melangkahkan kaki memasuki rumah itu.
***
Selesai mengganti bajunya dengan baju santai, Dirga segera menyusul ke ruang makan. Tidak banyak bicara mereka bertiga langsung menikmati makan malam mereka. Wajah itu benar-benar ceria, Sesekali Dirga curi-curi pandang, menatap wanita cantik yang ada di depan matanya. Dirga langsung membuang arah pandangannya saat Syafi menoleh kearahnya.
Kini di meja makan itu hanya tinggal mereka berdua, bi Masri sudah meninggalkan meja makan, seperti biasa perempuan yang lama mengurus rumah Dirga ini, setelah makan malam, dia langsung masuk ke dalam kamarnya. Syafi terus memandangi Dirga, membuat Dirga tidak karuan rasa.
__ADS_1
“Kakak tidak mau bertanya apa saja aktivitasku sepanjang sore tadi?” Syafi membuka pembicaraan mereka.
“Hemm … aku harus bertanya apa?” Apa yang harus aku tanyakan Fiy, aku melihatmu sepanjang sore tadi, senyumanmu ya salam … aku ingin senyuman itu selalu menghiasi wajah cantikmu.
“Kak ….” Panggilan Syafi membuat Dirga tersadar dari kekagumannya.
“Iya.”
“Aku bahagia kak, akhirya kak Athan mau memaafkan aku.” Senyuman terus terukir di wajah Syafi. Membuat Dirga semakin tidak berdaya menatap senyuman itu berlama-lama.
“Alhamdulillah, bahagia selalu Fiy. Kau tau kebahagiaanmu adalah keinginan terakhir paman Ardhin.”
Seketika senyuman yang menghiasi wajah Syafi lenyap. “Alhamdulillah kak, aku bahagia, bisa bertemu Mayfa dan Athan di tempat asing ini. Saatnya kakak meraih kebahagiaan kakak, jangan Cuma fokus padaku, Paman juga pastinya sangat berharap kakak Bahagia.”
“Bagaimana tentang perasaan cintamu pada lawan jenis?”
“Aku tidak tau kak, dari dulu aku susah jatuh cinta pada orang lain, makanya aku tidak pernah pacaran.”
“Kita pribadi yang berlawanan Fiy, kamu susah jatuh cinta, sedang aku malah jatuh cinta pada pandangan pertama.”
“Kakak sudah jatuh cinta? Sama siapa? Ingat janji kita, disaat antara kita berdua tidak ada perasaan apa-apa—”
“Tapi aku jatuh cintanya sama kamu.” Dirga memotong kata-kata Syafi, dia meraih gelas minumannya, dia langsung meninggalkan Syafi,tanpa menoleh kearah gadis itu Dirga terus melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.
Dirga menghentikan langkah kakinya, dia memandang kearah Syafi. “Ternyata nilaiku saja tidak bisa melebihi perasaanku, kalau perasaanku padamu 10, seperti perasaanku padamu, seluruh hatiku hanya di isi oleh kamu.”
“Hilih, kalau kakak bagi aku, 99,99.”
“Kenapa begitu?” Dirga bingung dengan jawaban Syafi.
“99,99 itu ada pada kakak, dan sisa nol koma satunya ada padaku, bagaimana bisa sempurna, kau dan aku belum bersatu.”
“Ya sudah, sini kita sempurnakan.” Dirga kembali melangkah menuruni anak tangga.
“Ya salam ….” Syafi langsung berlari menuju kamarnya.
Dirga terus tersenyum, seperti ini saja dia sangat Bahagia, Syafi sudah menghilang di balik pintu kamarnya. Dirga kembali melanjutkan langkah kakinya menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
***
Pagi masih sama seperti biasa, Dirga maupun Syafi sama-sama sibuk di kamar mereka masing-masing. Sedang di dapur sana bi Masri sudah menyiapkan sarapan pagi untuk kedua manjikannya. Dirga dan Syafi sampai di meja makan di saat yang bersamaan.
__ADS_1
“Pagi kak Dirga.” Syafi menyapa lebih dulu.
“Pagi juga tayank ….”
“Maaf kak, kakak tidak pantas ah sok imut begitu,” protes Syafi.
“Kenapa tidak pantas?”
“Karena di sini yang imut Cuma aku.” Syafi tersenyum sendiri, andai ada Mayfa, maka gadis itu paling depan protes kalau Syafi mengaku manis seperti saat ini.
“Yaaa ya yaa ….” Dirga langsung meraih kursinya, duduk dengan nyaman di sana, langsung menikmati sarapan paginya. Syafi juga demikian, mereka bertiga langsung sarapan bersama.
“Kamu pagi ini saya antar saja, kan kita satu arah,” ucap Dirga.
Syafi mengacungkan satu jempol keudara, menanggapi ucapan Dirga. Mulutnya masih mengunyah sarapannya, dia tidak mau tergesa-gesa menikmati sedapnya masakan bi Masri, lebih baik menjawab Dirga dengan bahasa isyarat.
Selesai sarapan, keduanya langsung memasuki mobil yang sama, perlahan mobil yang Dirga kemudikan mulai meninggalkan halaman rumahnya. Pemandangan pagi yang indah, semua orang fokus dengan tujuan mereka masing-masing. Syafi dan Dirga tidak saling bicara. Mulut Dirga seakan terkunci, melihat Syafi Bahagia seperti ini adalah kebahagiaannya juga.
Mobil itu terus melaju, hingga jarak dengan Sekolahan Syafi semakin dekat. “Kak, berhenti di dekat bangku itu, aku suka turun di sana kak.” Jari telunjuk Syafi menujuk kearah bangku yang mulai terlihat. Perlahan Dirga menurunkan laju mobilnya, menepikan mobilnya, tidak jauh dari bangku yang Syafi maksud.
“Kenapa turun di sini, kenapa tidak langsung di depan gerbang Sekolah saja?” protes Dirga.
“Aku merasa tidak pantas kak, orang sepertiku turun naik mobil mewah, ini berlebihan.” Syafi meraih tasnya, bersiap untuk turun. Melakukan kebiasaan rutin mencium punggung telapak tangan Dirga.
“Jangan minder begitu.”
“Bukan minder kak, aku hanya sadar diri saja, sudah banyak hal-hal yang terlimpat batas yang telah aku lakukan, ah … biar saja itu, Hanya saja aku merasa tidak pantas menerima semua ini, seperti jadi istri kakak, aku sama sekali tidak pantas. Siapalah aku, kak.” Syafi langsung turun dari mobil Dirga.
Berulang kali Dirga menarik napas dalam dan membuangnya perlahan. Matanya terus memandangi punggung Syafi yang kian menjauh dari pandangan matanya. “Permudah jalanku untuk memenangkan hatinya, ya rabb. Munajat Dirga. Dirga segera meneruskan perjalannya menuju kantor.
Seperti kemaren, satpan yang sama menyambut Syafi dengan senyuman ramahnya. “Selamat pagi, miss Aurel,” sapa Pak Yudis, satpam penjaga gerbang sekolah.
“Pagi juga Pak.”
“Ini miss, ada titipan lagi.” Pak Yudis memberikan bingkisan dan bunga, sama seperti kemaren.
“Maaf Pak, ini dari siapa?”
“Maaf miss, dari siapa ini, nanti identitasnya akan terkuak bersama kiriman yang lain, akan menyusul untuk besok dan besoknya lagi.
Syafi masih bengong. Saat Pak Yudis izin pamit, Syafi hanya menganggukkan kepalanya, merespon perkataan Pak Yudis.
__ADS_1
*****
Untuk beberapa hari kedepan, aku tidak bisa update, mohon maaf ya, insya Allah aku up lagi, setelah pekerjaan RL aku selesai. Terima kasih.