
Di dalam ruang perawatan Romi, hanya boleh di masuki 2 orang tamu saja. Dirga dan Lala memasuki ruangan itu bersama. Di tempat tidur itu terlihat sosok Romi yang memejamkan matanya begitu rapat. Bermacam suara dari mesin monitor yang memantau perkembangan Romi jelas terdengar di ruangan itu.
"Romi …." Dirga menyentuh telapak tangan Romi. "Ini aku sahabatmu, Dirga. Tebak aku datang dengan siapa?" Dirga berusaha memancing semangat Romi
Mengingat cerita Lala sebelumnya, Dirga tidak berani mengatakan siapa Lala. Dirga mendekatkan mulutnya ke sisi telinga Romi. "Romi … putra kamu sudah lahir, dia sangat tampan dan gagah sepertimu, bangun sob. Kasian Lala selalu menunggumu," bisik Dirga.
Tidak ada tanggapan apapun dari Romi.
Dirga mundur beberapa langkah. Bayangan Dirga kini adalah Syafi, melihat keadaan Romi seperti ini, bagaimana hubungannya dengan Lala kalau laki-laki ini meninggal, bagaimana dia melepaskan Lala tanpa rasa bersalah? Dirinya ingin semua kembali normal.
Dirga segera keluar dari sana, dia sangat putus asa melihat keadaan Romi saat ini. Sedang Lala masih berada dalam ruangan itu.
"Maaf tante, saya tidak kuat melihat keadaan Romi," kilah Dirga. Dia menyandarkan punggungnya di tembok Rumah Sakit itu.
"Terima kasih Dirga, karena telah datang menjenguk Romi di detik-detik terakhirnya. Tante ke dalam dulu, menemani istrimu di sana." Karla memasuki ruangan Romi untuk menemani Lala.
Dalam ruangan itu hanya ada Lala, Karla dan Romi yang belum sadarkan diri.
"Ayu sudah cerita sama tante, terima kasih karena kamu salah satu orang yang memberi kebahagiaan buat Romi, tapi saat ini keselamatan anakmu dan dirimu penting." Mata Karla hanya tertuju pada Romi.
"Ayu sudah cerita juga kepada saya, tentang apa yang terjadi pada Romi," sahut Lala.
Karla menceritakan keadaan Romi saat ini, sampai kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada Romi.
Karla mengambil handphonenya, dan mengetik pesan di sana.
"Huh …." Karla hanya bisa menghempas kasar napasnya.
"Besok Ayu akan datang ke rumahmu, dia akan mengambil sampel, kita akan tes DNA Romi dan putramu."
"Tante meragukan anakku?"
"Bukan, tapi kita harus punya bukti kuat kalau putramu adalah cucu kandungku?"
"Maafkan saya tante." Lala merasa bersalah, karena sangkaannya keliru.
"Kita harus pikirkan kemungkinan terburuk, La. Bagaimana kalau Romi tidak bisa bangun lagi?"
"Saya sangat berharap Romi bisa bangun lagi tante. Kalau Romi tidak bangun, kasian kak Dirga, melepaskan saya akan membuka identitas anak saya, tapi mempertahankan pernikahan semu ini, hanya membuat rumah tangganya yang berdiri diatas dasar cinta, runtuh."
__ADS_1
Karla menatap sayu kearah Lala. "Inilah yang membuat saya menjadi pribadi yang masa bodoh! Karena saat kita perduli, keperdulian kita malah disalah gunakan, dan kita seperti orang bodoh!"
"Tidak semua orang begitu tante."
"Iya tidak semua, hanya saja saya jera. Kalian yang berbuat baik, teruslah berbuat baik, jangan mengikuti jejakku, kalau semua orang mengikuti jejakku, yang ada orang baik hilang dari muka bumi ini."
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukkan pintu terdengar.
"Masuk saja," sahut Karla.
Satu orang yang mengenakan seragam kesehatan memasuki kamar perawatan Romi.
"Ibu memanggil saya?"
"Iya, tolong kamu ambil sample DNA Romi, dan simpan dulu, untuk jaga-jaga, aku takut Romi pergi meninggalkan kita." Karla sangat terluka, tapi dia berusaha menahan tangisnya agar tidak terlepas. "Hanya kamu yang aku percaya Yudha, orang-orang terdekatku banyak yang mengkhianatiku."
"Terima kasih atas kepercayaan tante untuk saya. Untuk sampel DNA, saya akan ambil sekarang dan akan saya rahasiakan."
Yudha segera melakukan tugasnya, mengambil sampel DNA pada Romi. Selesai dengan tugasnya, Yudha segera pergi dari ruangan itu.
"Tante, saya boleh keluar sebentar?" tanya Lala.
"Silakan, nak."
Lala melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Romi, saat dirinya berada di luar ruangan, matanya melihat wajah Dirga yang penuh keputus-asaan.
Melihat Lala keluar dari ruangan Romi, Dirga segera menegakkan punggungnya, dia bisa melihat kalau wanita itu ingin sekali menumpahkan air matanya.
"La, ikut aku." Dirga melangkah lebih dulu.
Lala pun segera mengikuti langkah kaki Dirga. Hingga mereka sampai di salah satu sudut ruangan yang sepi.
"Tumpahin segalanya La," ucap Dirga.
Tangis Lala pun pecah di pojokan itu. Disela tangisnya, Lala menceritakan segala kemungkinan yang terjadi. "Kalau kita jujur kalau anakku bukan anak kakak, keselamatan kami terancam, tapi kalau tidak jujur, rumah tangga kakak dipertaruhkan, oke saat ini kita bisa menutupi pernikahan ini dari Syafi, sampai kapan kita bisa menutupi pernikahan semu ini?" Lala semakin terisak dalam tangisnya.
"Itu kita pikirkan nanti, saat ini kita berdo'a, semoga Allah memberi kesembuhan bagi Romi, agar ada yang melindungi kamu La."
__ADS_1
Lala hanya terus menangis. Dia sangat takut Fattah kenapa-napa, baginya saat ini dunianya adalah Fattah. "Sebelum dia lahir, Fattah sudah diincar orang, aku nggak siap kalau mereka menemukan anakku dan--" Lala tidak sanggup memikirkan kemungkinan terburuk jika orang jahat tahu kalau anaknya adalah anak Romi.
Dirga merasa sesak melihat Lala menangis seperti itu, dia menarik Lala kedalam pelukannya.
"Aku takut kak …." Ringis Lala.
"Berdo'a La, semoga Romi bisa selamat." Kedua tangan Dirga mendarat di punggung Lala.
Lala terus menumpahkan air matanya dalam dekapan Dirga.
******
Flash Back Syafi dan Mayfa.
Hampir 30 menit keduanya berada dalam mobil taksi, Syafi merasa tidak enak dengan supir taksinya, walau mereka memberi ongkos lebih, tetap saja tidak enak.
Pemandangan di luar menyita perhatian Syafi, beberapa orang yang Syafi kenal berjalan bersama memasuki gedung Rumah Sakit.
"May, bukannya itu guru-guru SD T.A School?" Telunjuk Syafi mengarah pada sekelompok wanita yang mengenakan kebaya dengan warna yang sama seperti yang Mayfa dan Syafi kenakan.
"Kita ikut mereka." Mayfa turun lebih dulu dari taksi yang mereka tumpangi.
Sedang Syafi memberikan ongkos lebih untuk supir taksi itu.
"Terima kasih bu, semoga keluarga yang sakit segera disembuhkan." Supir taksi itu sangat bahagia mendapat ongkos lebih dari penumpangnya. Andai seharian tidak narik penumpang lagi, sudah lebih dari cukup uang yang dia terima dari wanita barusan.
"Bu Fuzah …." Mayfa berlari sambil memanggil salah satu nama guru yang ada di sana.
Salah satu wanita yang ada di rombongan itu menghentikan langkahnya, dan menoleh kearah suara yang memanggil namanya. "Nah ini dia Mayfa, Syafi mana May?"
"Saya di sini bu." Syafi berjalan tepat di belakang Mayfa.
"Dari tadi kami mencari kalian, tapi tidak ketemu, hayuk barengan kita jenguk bayinya bu Tria," ajak salah satunya.
Syafi dan Mayfa segera mengikuti rombongan itu, hingga mereka sampai di depan salah satu ruangan ibu dan anak. Karena jumlah mereka yang banyak, perawat meminta agar mereka masuk bergiliran.
Mayfa membaca pesan yang baru masuk ke handphonenya, terlihat pesan dari Athan, memberi tahu di mana posisi Dirga saat ini.
Fokus Mayfa pada Athan buyar, karena suara berisik yang ada di sekitarnya, karena berebut ingin mendapat giliran awal untuk masuk kedalam ruangan menjenguk rekan guru yang baru melahirkan. "Kalian duluan saja, yang paling manis belakangan," sela Mayfa. Sedang kedua matanya fokus membaca pesan dari Athan.
__ADS_1