Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 18, Mengapa Kau Lupakan


__ADS_3

Aku tidak tau apa yang terjadi, tidak punya alasan yang jelas, entah kenapa saat melihat fotonya saja hati ini sangat benci. ‘Arnaff’


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dirga tidak menyangka akan mendapat keberuntungan lagi, dari kejauhan dia melihat Syafi berada diatas panggung bersama para pemain musik. Dirga mengambil tempat yang agak jauh, agar Syafi tidak menyadari kehadirannya. Sedang di depan sana, Arnaff masih memandang tajam kearah Syafi.


“Kesialan apa yang menghampiriku hari ini, dua kali aku bertemu wanita itu!” gerutu Alvita.


Arnaff menoleh kearah Alvita. “Apa maksud kamu?”


“Wanita di depan sana—” Raut wajan Alvi menampakkan kekesalan dan kemarahannya.


“Rasa kita sama, aku sangat benci wanita itu.” Tatapan tajam maya Arnaff masih tertuju kearah Syafi. “Dia wanita yang berani menolakku sebelum melihatku.”


“Dasar keluarga Drama. Pantas saja mereka memenangkan kasus, drama mereka sungguh memuakkan!” Kemarahan seakan semakin menyala di wajah Alvita.


 Di bagian panggung hiburan.


“Mimpi apa saya semalam, Saya bertemu dengan wanita yang sangat special di hati saya.” Tatapan sendu dari mata Athan mengarah pada wanita yang duduk di sampingnya.


“Laki-laki mah begini, kemaren saat saya sendiri. Kak Athan mana menanggapi cinta saya, saya berjuang keras memperjuangkan cinta saya buat kakak, tapi kakak mengabaikan saya,” ucap Syafi.


“Kemaren ….” Athan memetik gitar yang dia pegang, mulai bernyannyi lagu ‘Kemaren’


Para pengunjung sangat terhibur dengan pertunjukan Athan. Riuh gemuruh suara tepukan tangan menggema di ruangan itu.


“Aku masih hidup, kak. Yang mati hanya cintaku yang  dulu tertuju buat kakak,” ucap Syafi.


“Kamu ini bilangnya cinta, tapi kamu malah memilih dengan yang lain.” Athan memasang wajah sedih.


“Salah siapa? Saat aku sendiri, kakak cuek sama aku. Aku bagai layang-layang yang terbang di udara, kakak tidak perduli dengan layang-layang yang sudah kakak terbangkan tinggi di udara, saat benang yang kakak pegang putus, kakak ikut berlari mengejar layangan putus, saat layangan itu sudah di tangan orang, kakak baru bilang itu punya kakak, telat kak!”

__ADS_1


“Putuslah harapanku untuk bersanding Fiy-ku tersayang.” Masih dengan raut wajah sedih. “Nyanyi Fiy, lagu yang tepat buat aku,” pinta Athan.


“Menepi ….” Syafi mulai bernyanyi lagu menepi.


“Apa bagusnya suara wanita itu.” Alvi geram, karena pengunjung lain malah sangat menikmati pertujukan yang berlangsung.


“Kau benci padanya karena punya masalah dengannya, sedang aku, aku sama sekali tidak punya masalah dengannya. Melihat fotonya saja aku benci. Sekarang aku malah harus melihat wajahnya.” Ungkap Arnaff.


“Kamu orang baik Arnaff, wajar kamu peka,” puji Alvita.


Hidup selalu mengantarkan pada dua sisi, ada orang yang suka padamu ada juga orang yang benci padamu. Di sudut sana, Dirga sangat Bahagia menikmati pertunjukan Syafi, sambil menikmati kopi yang dia pesan. Selesai menyanyikan lagu menepi, Syafi segera izin pergi. Syafi berlalu saja melewati Arnaff, karena dia tidak mengenali calon suaminya. Sedang Dirga segera menyembunyikan wajahnya saat menyadari Syafi akan berlalu di dekatnya.


*


Rasa takut itu semakin menguat, membuat Ardhin semakin gelisah. Entah perasaan apa ini, seakan dia merasakan firasat yang aneh Melihat Syafi memasuki pekarangannya perasaan sedikit tenang.


 “Kenapa Bah ….” Usapan tangan mendarat di punggungnya.


“Entahlah ma. Rasanya perasaan Abah sungguh tidak nyaman.”


“Bagaiman Aul?” Kamal langsung menyambutnya dengan pertanyaan. Sedang Syafi memberikan senyuman manis, memberikan salam pada Paman dan bibinya.


“Alhamdulillah, semua beres.”


Merasa urusan hari ini selesai, mereka semua segera masuk ke dalam rumah, untuk merehatkan tubuh mereka yang Lelah.


*


Jam baru menunjukkan jam 9 pagi. Acara Bajapin yang sengaja diadakan di siang hari sungguh sangat menghibur. Suara riuh penonton tertawa sungguh mewarnai pagi di sekitar rumah Ardhin. Ardhin tidak bisa melarang Syafi bernyanyi. Anak itu semakin dilarang yang ada dia semakin iseng dengan kehebohannya. Izin bernyanyi di dapat, Syafi dan Mayfa sudah berkumpul bersama pemain Japin dan warga sekitar yang menonton hiburan hari ini.


Sedang di hotel, Dirga tengah bersiap untuk ke rumah Ardhin bersama Arnaff. Setelah semua selesai, mereka berdua segera menuju rumah Ardhin.

__ADS_1


Mobil yang tadi melaju cepat perlahan menurunkan kecepatannya. Terlihat kerumunan begitu banyak. Mereka asyik dengan acara yang mereka tonton. Sehingga petugas yang di percaya mengatur lalau lintas, harus turun tangan untuk membuka jalan, agar mobil bisa lewat. Mobil tidak bisa menuju rumah Ardhin langsung. Mau tidak mau mereka turun. Sopir yang mengantar Dirga dan Arnaff, selesai memarkirkan mobil, dia juga menyusul dua pemuda itu.


“Ayo Arnaff, kita jalan kaki dari sini. Rumah Paman Ardhin tidak jauh lagi,” ajak Dirga.


“Waw, sangat Ramai di sini, pantas saja kau betah di sini.” Mata Arnaff memandangi keadaan sekitar.


Mengapa lupakan__


Suara lantunan asal-asallan itu sukses menarik perhatian orang yang ada. Syafi tersenyum.  Melanjutkan Kembali nyanyiannya.


🎶🎶🎶🎶


Mengapa kau lupakan, janji yang kau berikan, janji yang ku harapkan siang kunantikan dan malam aku impikan. Mengapa lupakan ….” Lagu ‘Janji’ Syafi bawakan.


Keadaan menjadi lebih ramai. Para penari Japin mulai ujuk kebolehan menari mengikuti irama lagu, Syafi juga ikut menari asal-asalan mengikuti irama musik sambil bernyanyi. Dirga yang terlanjur suka atau apa. Dirga meminta salah satu warga mengantar Arnaff ke rumah Ardhin, sedang dirinya menikmati hiburan yang Syafi ciptakan. Arnaff mempercepat langkahnya, dia membuang wajahnya, entah kenapa mual sendiri menyaksikan langsung pertunjukan Syafi. Sesampai di rumah Ardhin Arnaff langsung menyalami Ardhin dan Kamal. Ardhin segera mengajak calon suami keponakannya itu masuk. Terlihat dalam rumah Ardhin keluarga besar Pak Said juga sudah ada. Sekilas Arnaff melirik kearah lima anak-anak Pak Said yang ada dalam ruangan itu.


“Akhirnya kita bisa bertemu langsung dengan calon imam kak Syafi,” ucap Nazwa.


Terlihat Arnaff tengah mencari sosok yang tidak ada diantara mereka. Membuat yang ada di ruangan itu tersenyum.


“Cari calon bidadari sorganya, ya kak? Nggak ada di sini kak, dia asyik berbaur sama warga sekitar di hiburan Bajapin sana,” ucap Asti.


Arnaff hanya mengukir senyuman wajahnya. Dia segera bergabung dengan orang-orang yang ada di ruangan itu. Seketika kedua mata Arnaff membulat melihat foto seorang wanita yang bersanding dengan fotonya. “Itu ….” Arnaff menunjuk kearah foto yang ber ukuran besar, di mana foto iti ada seorang wanita yang sangat dia benci bersanding dengan dirinya.


“Iya nak, maaf kami terpaksa mengedit foto kalian saja, karena tidak  mungkin mengadakan foto prewedding, karena waktu yang mepet,” terang Ardhin.


Lagu ‘Janji’ yang Syafi nyanyikan sudah selesai, kini musik bermain dengan lagu lain lagi dengan lagu lain. Lagu ‘Nirmala’ terdengar mulai terdengar.


“Wah … si Syafi beneran suka bernyanyi, tadi lagu janji, sekarang bernyanyi lagu ‘Nirmala’ kagum aku dengan semangat anak itu,” ucap Rosalina.


“Aku mau lihat menyusul kak Mayfa, ya bunda.” Shofia memberi hormat dengan menundukkan sedikit kepalanya sebelum pergi.

__ADS_1


“Aku juga ikut!” serentak empat anak Pak Said yang lain juga mengikuti Shofia untuk menonton pertujukan Syafi.


Arnaff masih mematung, sangat tidak percaya dengan kenyataan yang ada di depan matanya. Dasar mata-mata bobrok! Mereka salah mencari informasi! Maki Arnaff dalam hati.


__ADS_2