Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bonchap 7


__ADS_3

Sepanjang acara berlangsung, Mayfa terus dibakar oleh kemarahan yang terus menerus berkobar membakar hatinya. Kemarahan Mayfa bukan karena Athan membagi nomornya tanpa izin, namun marah karena Athan tidak peduli ada orang lain yang mendekati dirinya, bahkan memberi orang itu kesempatan untuk mendekatinya. Mayfa berjalan cepat menuju toilet, di sana dia berdiri memandangi cermin.


Than, apa lu nggak ada usaha ingin memperjuangkan hati gue gitu? Kita sudah dekat Than, mudah bagimu menundukan hatiku jika kamu mau.


Suara pintu terbuka, dan diiringi masuknya beberapa tamu undangan membuat lamunan Mayfa buyar. Dia berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya yang menguap.


"Ya ampun ... penyanyi cowok tadi ganteng banget ...." rengek salah satu wanita yang berdiri di dekat Mayfa.


Tiga orang wanita itu terlihat asyik membenahi dandanan mereka.


"Iya, sayang orangnya dingin banget!"


"Cowok impian gue banget Athan itu ...." rengek yang lain.


Mayfa tersenyum kecil, tiga wanita yang berdiri di dekatnya begitu cantik, mereka bertiga saja diabaikan Athan, apalagi dirinya yang biasa-biasa saja.


Ya ampun May ... Turunin kepercayaan diri lu! Lama bersama bukan berarti bisa mengikat hati kalian, lu aja baper parah! Mayfa emarahi dirinya sendiri.


Sudah stop, memang lu siapa?


Selesai membenahi dandanannya, Mayfa segera keluar dari toilet, dia kembali bergabung bersama kedua orang tuanya.


"Kemana aja kamu Fa ...." ucap Rosalina.


"Panggilan alam, bunda."


"Ya sudah, ayo duduk sini, kedua orang tua laki-laki yang melamarmu ternyata sudah dari tadi di sini, dan mereka ingin berkenalan langsung denganmu, nah itu mereka." Pak Said menunjuk kearah kanannya, terlihat di sana tiga orang berjalan kearah mereka.


Yang membuat Mayfa tertegun, sepasang paruh baya itu berjalan bersama Syafi.


"Ternyata Syafi nggak cuma kenal anaknya, dia juga kenal kedua orang tuanya," ucap Rosalina.


"Assalamu alaikum," salam perempuan paruh baya.


Mayfa dan kedua orang tuanya menjawab salam.


"Terima kasih bu Hafsya dan Pak Imron, kalian bersedia datang ke resepsi keluarga kami," ucap Pak Said.


"Karena ingin bertemu langsung perempuan yang menjatuhkan hati anak kami, sejauh apapun jarak tidak masalah," ucap Hafsya.


Mayfa merasa canggung, dia belum siap membahas jodoh, tapi saat ini kedua orang tua laki-laki yang melamarnya malah ada di depan matanya.


"Aku nggak nyangka tante, kalau anak tante yang melamar Mayfa," ucap Syafi.


"Siapa pun pilihan anak tante, tante sangat mendukung," sahut Hafsya.


"Harapan kami sebagai orang tua ya ... ingin anak kami segera menikah, apalagi jika anak itu sudah mapan, memiliki pekerjaan," sela Imron.


"Mayfa sudah punya jawaban?" tanya Hafsya.


"Maaf tante, saya butuh waktu."


"Jangan terlalu lama May ...." goda Syafi.


"Pernikahan adalah momen sakral fiy, pernikahan bukan puncak segalanya, tapi awal meniti kehidupan baru," jawab Mayfa.


"Iya, kami faham sayang ...." sahut Hafsya.


Waktu terus berjalan, banyak hal yang dilewati, namun Mayfa lebih banyak diam. Hari semakin sore, Syafi dan Dirga izin undur diri dari tempat acara.

__ADS_1


Mayfa berdiri di depan pintu masuk hotel, memandangi kearah kedua orang tuanya yang mengantar Hafsya dan Pak Imron menuju taksi mereka.


"May ...."


Panggilan itu menyita perhatian Mayfa.


"Eh Frans ...." Mayfa terkejut melihat keberadaan Frans.


"Boleh aku minta izinmu untuk menemui kedua orang tua kamu?" tanya Frans.


"Buat apa?" Kedua alis Mayfa tertaut, batinnya bukankah Frans sudah melamarnya.


"Ingin melamar kamu May, aku minta bantuan sama Dirga, kata dia minta izin langsung sama kamu dulu."


"Ha? Bukannya sudah ya?"


"Sudah apanya?" Frans balik bertanya.


"Sudah ...." Pandangan Mayfa tertuju kearah kedua orang tuanya lagi, pemandangan di sana membuat jantung Mayfa lompat dari tempatnya.


Di saja Athan berdiri diantara bu Hafsya dan Pak Imron. Yang membuat Mayfa semakin syok, dia salim pada Ayahnya, dan seolah keduanya sangat dekat.


"Kalau jatuh cinta padamu, memang sudah, makanya aku ingin menghalalkan kamu untukku May ...."


Jadi ... Yang Ayah maksud tadi adalah Athan? batin Mayfa.


Mayfa terbayang, saat Ayahnya menunjuk kearah Athan dan Frans.


Mayfa kembali menoleh kearah kedua orang tuanya, terlihat mobil taksi itu sudah pergi, hanya ada Athan yang bebicara dengan Ayah Said.


"Bagaimana May?"


"Maaf jika keolenganku membuat hati kamu oleng, jujur semua rayuan yang aku ucapkan hanyalah candaan. Maaf ... Ternyata aku bercanda dengan orang yang salah."


Frans terlihat sedih, namun dia berusaha tersenyum. "Jadi yang Athan ucapkan terjadi padaku, di mana ada kata wkwkwkk sedang yang mengucapkan tidak tertawa sama sekali, kamu merayuku tapi tidak ada rasa sama sekali."


"Maaf ...." sesal Mayfa.


"Aku yang harusnya minta maaf." Frans segera pergi meninggalkan Mayfa.


Bercanda juga harus hati-hati May, bercanda dengan orang yang salah hanya menimbulkan masalah.


Ucapan Athan kembali terngiang di benak Mayfa.


"Mikirin apa Fa?"


Pertanyaan itu kembali menyadarkan Mayfa.


"Paling mikirin saya bu," ledek Athan.


"Kalian ini loh, sudah dekat lama, alasan Mayfa tidak menjawab perjodohan, masa ingin lebih kenal lagi," ucap Pak Said.


"Pengen lebih kenal bagian mana lagi May? 4 tahun kita sama-sama di kota ini," sahut Athan.


"Ya aku lagi mikir, mikirin bagaimana bisa nolak kamu, karena saat aku tau yang lamar itu kamu, ya aku tidak punya alasan untuk menolak." Mayfa langsung pergi begitu saja meninggalkan kedua orang tuanya dan Athan.


"Alhamdulillah, selamat Nak ... anak kami menerima kamu." Pak Said langsung menarik Athan kepelukanya.


"Beneran diterima Pak?" Athan masih tidak percaya.

__ADS_1


"Mayfa bilang, dia tidak punya alasan untuk menolak, ya dia menerima kamu."


"Tunggu, berarti Mayfa sejak tadi belum tahu kalau yang lamar adalah temannya sendiri?" sela Rosalina.


Athan dan Pak Said melepaskan pelukan mereka.


"Mungkin Mayfa berpikir yang melamarnya adalah Frans," sahut Athan


"Frans teman bisnis Dirga?" tanya Pak Said.


"Iya, Frans juga terlihat mendekati Mayfa, mungkin Mayfa menduga Frans yang melamarnya.


Di sisi lain.


Mayfa berlari cepat menuju toilet, sesampai di sana dia tidak melakukan setor alam, tapi segera menghubungi Syafi.


"Fiy ... lu sudah tau kalau Athan yang lamar gue?" cecar Mayfa kala telepon diangkat Syafi.


"Baru tau malah aku, aku kira Frans yang lamar, pas tadi ketemu kedua orang tua Athan, baru aku tahu siapa yang lamar kamu."


"Ya ampun, sesat kita sama, kalau aku baru tau pas Frans bilang mau lamar." Mayfa menceritakan obrolannya dengan Frans.


"Suamiku malah ketawa terus, ternyata dia sama Athan kerjasama merahasiakan ini, tolak aja May biar tau rasa!"


"Masalahnya gue nggak mampu nolak." Ingin rasanya Mayfa menenggelamkan wajahnya ketempat tidur setelah mengucapkan pengakuan itu, namun saat ini hanya ada toilet duduk, membuatnya tidak bisa melakukan apa yang dia inginkan.


"Tie tieee ...." ledek Syafi.


"Sejak kapan lu sadar hati lu terikat pada Athan?" tanya Syafi.


"Sejak lagu Rhoma Irama."


"Maksudlu, kalau sudah tiada baru terasa ...."


"Yup! Sejak Athan nggak ada di sisi gue, hidup gue hampa Fiy ...."


"Hampa terasa, hidupku tanpamu, jiwaku terasa mati bila kau tak bersamaku." Syafi menyanyikan sebagian lirik lagu ku pinang kau dengan bismillah.


"Tepat, hidupku seketika hampa saat Athan nggak ada, dan aku tadi sangat marah saat Athan membuka jalan pada Frans untuk dekat denganku, aku marah kecewa, apa dia nggak mau berjuang gitu."


Dung! Dung! Dung!


Gedoran pintu membuat Mayfa tersentak.


"Lu di mana May?"


"Gue di toilet, kayakanya udah dulu ya Fiy ...."


Syafi dan Mayfa menyudahi pembicaraan mereka.


Mayfa perlahan keluar dari toilet, terlihat antrian yang cukup banyak. "Maaf ya bu, saya kelamaan." Mayfa perlahan meninggalkan tempat itu.


*


Bersambung.


*


Cerita ini hanya sedikit, jadi nggak ada konflik gimana-gimana, nggak kuat mikir aku🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2