
Dirga POV
Ingin sekali menghilangkan perasaan yang terus mengatakan kalau ini mimpi. Andai ini mimpi ‘pun sungguh ini terlalu indah. Suara adzan subuh yang berkumandang dari segala penjuru, mengharuskan mata yang masih ingin berpejam agar segera terbuka. Menyadari siapa yang masih lelap dalam dekapanku,
rasanya tidak rela melepaskan tangan ini. Apa daya, kewajiban subuh harus segera di tunaikan. Bibir ini terasa kaku, saat awal membuka mata, melihat sosok Aurelia Syafitri di depan mata, membuat senyuman terukir begitu permanen di wajahku.
Sepanjang mandi ritual pun bibir ini masih betah saling tarik-menarik mengukir sebuah senyuman. Kelu rasanya rahang, karena terus tersenyum seperti ini. Mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa berhenti untuk tersenyum. Saat keluar dari kamar mandi, ternyata Aul ku sudah bangun. Bingung harus bagaimana, biasanya mata ini sangat betah memandangi wajahnya. Tapi pagi ini, aku merasa malu sendiri saat kedua bola mata ini bertemu dengan kedua bola matanya.
“Pagi ….” Sapanya lebih dulu, senyuman yang begitu manis juga menghiasi wajahnya.
“Pagi.” Aku masih belum kuat memandangnya berlama-lama.
Dia berlalu begitu saja, terlihat tangannya memegang pakaian yang masih berlipat. Ku tengok kearah sudut kamar, terlihat kopernya ada di sana. Tidak ambil pusing, aku harus segera menunaikan kewajiban rutin.
Matahari kian menampakkan sinarnya, setelah selesai
kewajiban subuhnya, Syafi langsung turun. Pastinya dia menuju dapur, karena saat ini bi Masri sakit. Apa yang terjadi padaku? Kenapa lidah ini terasa kelu, tidak mampu menyapanya atau mengajaknya bicara.
Sambil memakai setelan kerja, otak ini terus bekerja
memikirkan bagaimana menyapanya, mulai dari mana mengajaknya bicara nanti. Ya salam … Tuhan sudah memberikan segalanya, kenapa aku menjadi orang bimbang dan bodoh seperti ini. Apa hal tadi membuatku kehilangan akal sehatku? Kalau iya, pantas saja Sam begitu bodoh saat dia tergila-gila pada Vania dulu. Seorang CEO yang benar-benar bodoh, jatuh cinta pada wanita seperti Vania.
Hei, Syafi ku berbeda dia istimewa, andai aku seperti orang gila dalam mencintainya, itu wajar.
Saat sampai di lantai bawah, terlihat sarapan pagi sudah tertata diatas meja makan. Dia masih saja tersenyum, apa dia tidak tau keadaanku saat ini? Rasanya diri ini oleng melihat senyuman manis itu.
“Kak, sarapan dulu,” ucapnya.
Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku, meraih kursi dan duduk di sana. Tiba-tiba dia malah menarik kursi yang ada di seblahku, dengan nyamannya dia duduk di sana.
“Kenapa?”
“Tidak kenapa-napa.” Aku berusaha tersenyum.
“kak, surat pengunduran diri aku, sudah di kirim?”
“Sepertinya belum, karena Tuan Sam masih sibuk.”
“Terus izin sakitku, sampai kapan?”
“Belum tau, nanti kakak tanya sama Tuan Sam, selama kamu sakit, dia yang mengurus semuanya.
Dia Nampak menganggukkan kepalanya setelah mendengar jawabanku. Kami segera melanjutkan sarapan kami. Selesai sarapan, dia meraih tanganku, seperti biasa ciumannya mendarat di punggung telapak tanganku. Kali ini beda, dia berani mendaratkan ciumannya di pipi kiriku. “Semangat kakak ….” ucapnya.
__ADS_1
Aneh, aku tidak bisa berkata, lagi-lagi hanya mampu
tersenyum. Dia hanya diam melepas kepergianku. Rasanya ini tidak adil baginya. Aku menghentikan langkah kaki, dan kembali mendekatinya.
“Aul ….”
“Hemm ….”
“Aku ingin jujur padamu.”
“Silahkan, kak.”
“Kau tau bagaimana perasaanku setelah mengucap akad? Saat itu kamu mencium punggung telapak tanganku. Titik terindah dalam hidupku.” Terlihat dia terus memandangiku.
“Yah, walau hari itu juga titik paling menyakitkan.” Dia masih terus memandangiku.
“Saat kau mencium ini.” Ku perlihatkan punggung telapak tanganku. “Aku sangat ingin melakukan hal ini padamu.” Ku dekatkan wajahku ke wajahnya, hingga bibir ini mendarat diatas alisnya.
“Maafkan kebutaanku, kak,” ucapnya.
“Lupakan, kita mulai semua dari awal.”
“Bismillah kak.”
tersenyum.
***
Author POV
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Dirga terus bersenandung, tadi malam susah untuk dia perumpamakan kebahagiaan yang sudah dia rasa. Tidak terasa perjalanannya menuju kantor sudah sampai. Dengan langkah kaki yang begitu cepat Dirga terus melangkah. Saat sampai di lift, dia bertemu Sam.
“Pagi Tuan.”
Sam menautkan kedua alisnya, wajah Dirga masih sama seperti sebelumnya, entah kenapa ada aura yang berbeda. “Kamu masih waras? Apa perlu ku panggilan psikiater buatmu?” Sam khawatir sahabatnya ini jadi gila, karena gagal memperjuangkan cintanya.
“Terima kasih, Tuan. Rasanya tidak perlu.”
“Sepertinya kamu terlihat bahagia, aku tidak meragukan kebahagiaanmu, tapi … aku takut kamu miring karena kepergian Syafi.”
“Syafi tidak akan pernah pergi Tuan.”
“Aku tau, kalau Syafi tidak akan pernah pergi dari hatimu. Saat kau belum merasakan jatuh cinta, aku sudah merasakannya lebih dulu. Aku seperti orang gila, kehilangan akal sehatku saat dekat dengan Resa. Bedanya hubungan kamu dan Syafi sekarang sudah berakhir.”
__ADS_1
“Tuan benar, hubungan aku dan Syafi sudah berakhir.” Dirga membuang napasnya begitu deras.
“Menangislah, jika kamu ingin menangis.” Sam menepuk punggung Dirga.
“Hubungan sebatas pendampin antara aku dan Syafi yang berakhir, Tuan.”
Tling!
Suara pintu lift terbuka, Dirga segera memacu langkahnya keluar dari dalam lift. Sedang Sam masih mematung mendengar ucapan Dirga barusan.
“Apa maksudmu weih!” Teriakan Sam membuat dua Sekretaris Sam terperanjat. Mereka langsung berdiri menyambut Sam. Sedang yang Sam panggil tidak tahu-menahu, dia terus melangkahkan kakinya menuju ruangannya. Sam mengalah, dia segera mengejar Dirga.
Brukkk!
Pintu ruangan kerja, Dirga Sam banting bengitu saja saat menutupnya. Wajah Sam terlihat kesal karena di permainkan oleh Dirga. “Apa maksudmu tadi?”
“Iya, hubunganku dengan Syafi yang sebatas pendamping berakhir. Kami memulai segalanya, semuanya dari awal.”
Sam ingin tidak percaya, tapi senyuman itu benar-benar tulus. “Syafi tidak jadi pulang ke Kalimantan?”
“Mana bisa dia kembali, separuh jiwanya sudah bersamaku.”
Sam langsung memeluk sahabatnya. “Selamat, aku sangat bahagia.”
“Aku apalagi Tuan.”
Keduanya melepaskan pelukan mereka. “Selamat!” ucap Sam.
“Terima kasih.” Dirga tersenyum, sedang tangannya memjiat tengkuknya yang sama sekali tidak pegal.
“Saat peresmian acara kantor nanti, perkenalkan Syafi, biar dunia tahu sosok perempuan yang menjadi pendampingmu.”
“Siap, Tuan.”
Keduanya menyudahi obrolan pagi mereka. Banyak pekerjaan yang menanti keduanya.
****
Di sudut kota yang lain.
Arnaff hanya bisa menunduk, saat berkas yang dia kerjakan di lempar begitu saja oleh atasannya. Ingin protes tapi siapa dia? Arnaff hanya bisa menghela napas, teringat akan perasaan anak buahnya saat di maki-maki seperti dirinya saat ini, saat pekerjaan yang dikerjakan tidak sesuai harapan bos.
“Karena kamu baru, oke saya beri kamu kelonggaran, kalau kamu masih tidak becus seperti ini, saya tidak segan memecat kamu, walaupun kamu rekomendasi dari Pak Rinto. Aku menjunjung tinggi profesinalitas, siapapun kamu, kalau kamu tidak becus, saya pecat kamu!”
__ADS_1
Arnaff hanya diam. Kehidupan menjadi seorang pemimpin tiba-tiba langsung turun menjadi bawahan. “Baik Pak.” Arnaff langsung memungut berkas yang ada di lantai, dan segera kembali ke kubikelnya untuk memperbaiki perkerjaan yang belum memuaskan bagi bos-nya. Arnaff menghempas kasar napasnya, hidupnya yang biasa memerintah, sekarang dirinya di perintah.