Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 44 ice Coffe


__ADS_3

Selesai menegerjakan kewajiban sorenya. Mayfa segera bersiap ketempat yang Athan janjikan. Bukan Athan yang membuat Mayfa semangat, tapi janji Syafi. Kalau temannya itu akan menceritakan semuanya, antara dia dan Dirga. Mayfa sudah rapi dengan setelan santainya. Segera melangkahkan kakinya meninggalkan kamar kost-nya. Sesampai di depan kost-an, ojek online sudah menunggunya. Tidak membuang waktu lagi, Mayfa segera naik, agar sampai lebih cepat di tempat yang dituju.


Mayfa sampai di sebuah lapangan. Di sana terlihat panggung hiburan. Di sekitar panggung itu banyak stand yang menjual bermacam makanan juga minuman. Stand yang menjual ice coffe menjadi pusat perhatian Mayfa, dia mempercepat langkah kakinya menuju stand yang menjual minuman dingin kesukaannya. Sesampai di depan stand itu, Mayfa segera memesan pesanannya.


Salah satu pelayan stand itu menyita perhatian Mayfa. Walau dia mengenakan kacamata seperti Afgan, juga mengenakan masker, dan topi yang sama dengan beberapa pelayan lain. Tetap saja Mayfa merasa mengenali orang itu. Pelayan itu terlihat salah tingkah saat pandangan mata Mayfa terus tertuju padanya. Pelayan yang lain memberikan pesanan Mayfa. Setelah membayar pesananya, Mayfa langsung menyedot segarnya minuman dingin yang baru dia beli. Tapi matanya masih ter-arah pada pelayan yang mengenakan kacamata dan masker.


“Kak Dirga,” panggil Mayfa.


Pelayan itu pura-pura tidak mendengar. Dia terus sibuk mencatat. Entah apa yang di tulis.


Mayfa mendekati pelayan itu, dia menarik pelayan yang dia panggil Dirga menuju samping Stand. “Kak, percuma kakak pura-pura nggak kenal, aku kenal kakak!” oceh Mayfa.


Pelayan itu membuka masker dan melepas topi, masker, dan kacamatanya. Mayfa tersenyum, ternyata jiwa intelegennya masih aktif.


“Kau mengenaliku, ya salam … bagaimana nanti kalau Syafi juga mengenaliku,” keluh Dirga.


“Kenapa kakak menyamar?”


“Aku ingin melihat Syafi bernyanyi.”


Mayfa menatap tajam pada Dirga. “Ingin melihat bernyanyi apa bernyanyi?” Mayfa menaik turunkan kedua alisnya, seakan memojokkan lawan bicaranya.


“Aku tengah memperjuangkan cintaku sambil melihat dia bernyanyi, aku suka kalau lihat dia bernyanyi.” Dirga menundukkan wajahnya. Membayangkan Syafi saja perasaannya sungguh aneh.


“Mawar putih yang Syafi terima pagi tadi dari kakak?”


Dirga mengusap wajahnya, kenapa wanita di depannya ini begitu tajam perkiraanya. Dirga memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Mayfa. “May—”


Ponsel Mayfa berdering, Dirga terpaksa  menghentikan ucapannya. Terlihat Mayfa nampak repot mencari benda yang terus berdering. Akhirnya benda pipih persegi Panjang itu dia temukan. “Syafi?” Mayfa memperlihatkan layar ponselnya kearah Dirga. Dirga langsung mengenakan masker, kacamata, dan topinya kembali. Sedang Mayfa langsung mengangkat panggilan teleponnya.


“Untung gua pasang kartu lama,” dumel Mayfa. Dia langsung menaruh benda pipih persegi Panjang itu ke sisi telinganya. “Iya thayank ….”


“Kamu di mana? Katanya mau minta aku cerita,” ucap Syafi di ujung telepon sana.


“Aku sudah di lapangan tempat acara, kamu di mana?” Mayfa balik bertanya.

__ADS_1


“Kamu di bagian mana? Aku sedang antre beli ice coffe, kamu mau?”


“Nggak usah, aku sudah beli, kamu tunggu di sana, biar aku mudah cari kamu thayank ….” Mayfa langsung memutus sambungan teleponnya.


Mayfa menoleh kearah Dirga. “Dia di sini, dia sedang beli ini ….” Mayfa menggoyangkan cup ice coffe yang dia pegang.


Mayfa dan Dirga langsung mengintip kearah Stand. Seingat Mayfa hanya ada satu stand yang menjual ice coffe. Benar saja dari arah sana, terlihat Syafi berdiri di deretan pelanggan ice coffe, menunggu giliran mereka. Syafi terlihat terus memandangi layar handphone-nya.


“Kamu sangat mudah mengenaliku, bagaimana kalau dia juga mengenaliku?” Dirga terlihat cemas.


“Tenang Bang, Syafi gak secerdas gua.” Mayfa menyemangati Dirga. “Ayo sana bang, semangat! Aku bantu, tapi lewat do’a.”


Dirga memberanikan diri untuk melanjutkan rencananya. Berusaha nampak santai walau tubuhnya mulai gemetaran. Dirga langsung melanjutkan pekerjaannya di stand ice coffe. Dirga terus melayani pembeli. Beruntung Syafi tidak memerhatikan kearahnya, Syafi hanya fokus dengan pesanannya saja.


“Thayank ….” Terlihat Syafi dan Mayfa saling berpelukan, keduanya terlihat berjalan kearah bangku, mereka berdua duduk di bangku. Dirga hanya bisa memandangi mereka saja. Pemilik stand sahabat Dirga, meminta Dirga untuk berhenti dengan pekerjaan pura-pura ini. Dirga segera istirahat, pekerjaan ini dia lakukan hanya saat Syafi ada di sekitarnya saja.


*


Syafi dan Mayfa masih menikmati minuman mereka, keduanya menatap kearah panggung hiburan. “Fiy … apa maksud kamu dengan sebatas pendamping?” Mayfa langsung mengutarakan pertanyaanya.


Rasanya Mayfa tidak bisa bernapas lagi, sesak membayangkan keadaan Dirga. “Bagaimana kalau kak Dirga suka sama kamu, kamu kan cantik dan manis.”


Senyuman terukir di wajah Syafi. “Tumben kamu mengakui kemanisanku.”


“Pengen mual, tapi ini ice coffe ini baru saja masuk menyegarkan tenggorokkan gua. Sayang kalau dikeluarkan.” Keduanya tersenyum.


“Fiy, aku serius. Kalau kak Dirga suka sama kamu sebagai pasangan, bagaimana?”


“Nggak mungkin, andai nanti iya. Itu sudah kami bicarakan juga sebelum menikah dulu. Tapi kami lebih nyaman seperti ini May.”


Ya Tuhan … mudahkan jalan Dirga untuk menunjukkan cintanya. Kalau aku mengatakan kalau Dirga sudah jatuh cinta padanya, yang ada hanya mengacaukan semuanya. Ringis hati Mayfa.


“Untuk cinta, aku tidak tahu dan aku tidak mengerti, bagaimana aku, aku akan memberikan tanganku pada dia yang mengulurkannya secara ihklas padaku, bukan karena terpaksa oleh keadaan. Jujur, aku sakit May. Aku kasihan sama Kak Dirga, dia laki-laki yang tampan, mapan dan baik, kenapa dia harus menolongku, hingga dia terjebak dalam ikatan pernikahan denganku. Aku tau, kalau kak Dirga menerima pernikahan ini hanya karena permintaan terakhir paman. Sakit May … menikah karena keadaan seperti kemaren. Bukan bebanku hilang, tapi bertambah.” Syafi mengusap air matanya yang terlanjur menetes.


“Sok tau lu! Bagaimana kalau kak Dirga yang lamar kamu sama

__ADS_1


Paman waktu itu?”


“Andai dia melamar ‘pun, semua itu demi paman.”


“Ya salam, otak lu beneran kotor!”


“Sudah May, aku bahagia seperti ini, andai nanti kak Dirga jatuh cinta pada seorang wanita, aku sendiri yang akan melamar wanita itu buat kak Dirga.”


“Wah, bidadari sorga impianku ….”


Sontak perhatian Mayfa dan Syafi menoleh kearah yang sama.


“Hai ratunya bidadariku.” Athan langsung duduk di samping Syafi.


Syafi langsung berdiri dan menjauh dari Athan. “Kak, tolong hormati statusku,” pintanya.


“Ayo langsung saja kita ke panggung, sekarang saatnya kamu nyanyi, 1 lagu saja, setelah itu biar aku yang lanjut,” ucap Athan.


Mereka bertiga langsung melangkah menuju panggung, di sana masih terlihat hiburan lainnya. Mayfa dan Syafi berdiri di dekat panggung, sedang Athan bersiap mengambil gitarnya, dia memberikan satu mic pada Syafi.


“Setelah aku bilang judul, kamu langsung benyanyi ya, terus kamu naik aja ke panggung susul aku,” ucap Athan.  Athan langsung naik keatas panggung. Musik dari lagu menari dan menyanyi ost kartun upin dan ipin, bermain. Athan begitu semangat memaikan gitarnya, matanya terus memandang kearah Syafi dan Mayfa.


Athan memulai nyanyian ost Upin Ipin, dengan lirik ala-ala dirinya.


🎶🎶🎶🎶


Upin dan ipin kujuluki mereka, kemana-mana slalu bersama


Upin dan Ipin kalah kompak mereka, kalau dou somplak bersama.


Namun ku Bahagia jika bertemu mereka, salah satunya di hatiku selamanya ….


🎶🎶🎶


“Di hatiku slamanya, Aurelie ….” Athan mengarahkan tangannya kearah Syafi.

__ADS_1


__ADS_2