
Mayfa masih berdiri pada posisinya. Bingung dengan keputusan Athan saat ini. Kemaren laki-laki itu sangat bahagia, sedang pagi ini laki-laki
itu terlihat sebal. Pikirannya belum kembali dalam keadaan tenang.
Brukkkk!
Seseorang memeluknya dari belakang.
“Kenapa kamu jahat!” ucapan orang yang memeluknya tidak asing di telinga Mayfa. Jantung Mayfa berdetak hebat, perasaannya sangat yakin, kalau yang memeluknya ini orang yang sangat dia rindukan. Perlahan Mayfa melepaskan pelukan orang itu, memutar arah tubuhnya.
Deggggg!
Napas memburu begitu cepat, air mata juga mengalir deras saat melihat siapa sosok yang memeluk
dirinya. “Ini nyata ‘kan?” Mayfa mencubit pipi Syafi.
“Awhh ….” Ringisan lolos dari mulut Syafi. “Memastikan ini mimpi atau bukan, cubit pipi kamu sendiri,” protes Syafi.
“Lo cinta banget ma gua, sampai ke seberang lautan gua merantau, lo juga nyusul.” Mayfa langsung
menarik Syafi ke dalam pelukannya.
“Ya salam, ternyata kalian ini tidak terpisahkan ya.”
Ucapan orang barusan membuat Syafi dan Mayfa menoleh kearah
yang sama. Terlihat dari arah itu Athan berjalan kearah mereka.
Athan menghentikan langkahnya, berdiri tidak jauh dari dua wanita yang sangat dia kenal. “Kemana aku pergi, selalu ada kalian. Kalian selalu bersama, rasanya upin dan ipin saja kalah sama kalian.”
Senyuman terukir di wajah Syafi dan Mayfa mendengar ucapan Athan barusan. Rasanya ini hari paling indah, bisa bertemu dengan teman akrab di tempat yang asing.
“Upin-Ipin, aku pergi dulu ya, papai.” Athan langsung pergi meninggalkan dua gadis itu.
Syafi melirik jam tangannya, tidak ada waktu lagi untuk menyusul Athan. Mayfa izin untuk kembali pada tugasnya, sedang Syafi kembali ke ruangan di mana para guru-guru berkumpul.
Syafi memulai hari baru menjadi guru, anak-anak yang selalu ceria membuat Syafi juga larut dalam keceriaan mereka. Waktu terus berjalan. Akhirnya jam istirahat tiba. Semua anak-anak berlarian menyusul orang tua atau pengasuh yang menunggu mereka, beberapa anak yang tidak di tunggu oleh
pengasuh, memilih menghabiskan waktu bermain di taman, setelah selesai menyantap bekal yang mereka bawa.
Syafi dan Mayfa duduk di salah satu bangku taman, sambil memandangi anak-anak yang asyik bermain di sekitar mereka.
__ADS_1
“Kak Athan aneh, kemaren dia bilang sangat berharap bisa mengajar di sini, saat sudah bisa masuk, tiba-tiba hari ini, dia bilang mau mengundurkan diri,” keluh Mayfa.
Rasa bersalah Syafi semakin besar, Athan mengundurkan diri dari sini, pasti karena malas jika bertemu dengan dirinya. Syafi berusaha tegar. “Kamu tau, di mana kak Athan tinggal?”
“Tau, beberapa hari lalu dia kasih alamat dia sama aku.” Mayfa menyebutkan di mana Athan nge-kost.
“Wah … kalian bisa berhubungan, sedang sama aku, kalian putus semua komunikasi denganku.”
“Aku selalu merindukan kamu, jalan ku untuk kuat, aku mengganti nomor telepon, agar aku bisa berhenti kepo tentang kamu.”
“Wah Fiy, kamu lupa sama aku setelah kamu punya teman baru.”
Sapaan itu berhasil menyita perhatian Syafi dan Mayfa.
“Kak Resa, kenalkan, dia Mayfa teman aku. Aku sama sekali tidak menyangka kalau bertemu teman lama, di sini,” ucap Syafi.
Mayfa menyenggol lengan Syafi, dia menyapa wanita yang baru datang ini saja, dia tidak berani. Sedang Syafi tampak akrab dengan istri
pemilik Sekolahan ini.
“May, sejak kapan kamu jadi normal begini?” goda Syafi.
“Kalian berdua sepertinya sangat heboh kalau di luar, di sini karena tuntutan tugas hingga kalian manis begini,” sela Resa.
“Sebenarnya saya selalu manis, Nona. Saya somplak karena tertular makhluk yang di samping saya ini.” Mayfa meng-isyarat pada Syafi.
“Aku berusaha jadi orang normal, May. Kasihan kak Dirga kalau aku Somplak. Tercemar nama dia kalau pasangan dia Syafi yang dulu.” Syafi
memandang kearah lain.
Senyuman yang tadi menghiasi wajah Mayfa mendadak lenyap.
“Memangnya kenapa kalau somplak?” Pertanyaan Mayfa membuat Syafi menoleh kearahnya.
Gurat kesedihan terlihat di wajah Mayfa. “Memangnya somplak
suatu aib? Hanya seorang Arnaff yang membenci gadis Somplak, apa harus semua orang yang suka gesrek dan somplak harus berubah?”
Syafi bingung harus menjawab apa, seketika tenggorokkannya terasa tercekat, kata-kata yang ingin dia lontarkan tidak bisa ia ucapkan.
Syafi merasa bersalah akan perkataannya.
__ADS_1
“Somplak bukan suatu aib, May. Itu kelebihan, tidak semua orang bisa.” Hanya kata ini yang mampu Syafi ucapkan.
“Jika itu bukan suatu aib, kenapa kamu berubah?” Resa menyela.
“Aku tidak ingin ada korban lagi, karena kelakuanku,” jawab Syafi.
“Siapa yang jadi korban?” tegas Mayfa.
“Yang menjadi korban adalah orang-orang yang kehilangan
Syafi yang lama,” Resa menambahi.
“Mana Syafi ku yang selalu ceria? Dia terus ceria walau orang-orang menghujatnya dengan cacian dan hinaan. Dulu Syafi temanku selalu berkata: Aku memang rendah, di rendahin orang wajar. Aku enggak sedih. Kita tidak bisa memaksa orang agar suka sama kita, biar saja orang ber agumen dengan pikiran
mereka masing-masing.” Mayfa menatap tajam kearah Syafi. “Biar saja orang menilai dengan pandangan apa saja, aku memilih menikmati hidup dengan senyuman dan kebahagiaan. Ogah kalau galau-galau dan sedih-sedihan. Itu kata Syafi temanku. Sedang ini?" Mayfa menatap tajam kearah Syafi. "Kau bukan temanku, aku salah orang. Jangan mendekatiku kalau kamu belum bisa bahagia. Permisi Nona.” Mayfa langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Resa juga langsung berdiri. “Kamu berduka karena Paman dan bibimu meninggal, apa karena ditinggal Arnaff? Jangan di jawab sekarang, jawab oleh hatimu sendiri. Kamu hanya menyakiti diri sendiri, Ingat Fiy, orang-orang banyak jatuh cinta dengan Syafi yang lama, Syafi yang baru, bagai orang asing bagi mereka.” Resa juga pergi. Tinggal Syafi seorang diri di sana.
Syafi merenungi segala ucapan Mayfa dan Resa. Dirinya juga tidak mengerti, entah kenapa dia seketika merasa terpuruk begitu saja, dan tidak bisa bangkit lagi. Suara bel
menyadarkan Syafi dari lamunannya. Dia segera menuju ruangan di mana para guru berkumpul.
Waktu terus berjalan, tidak terasa anak-anak manis itu sudah pulang. Satu per satu guru-guru yang mengajar juga meninggalkan sekolahan itu. Mayfa berlalu begitu saja melewati Syafi, seakan mereka tidak kenal. Melihat Mayfa seperti itu, hatinya begitu perih.
Syafi mengejar Mayfa yang terus berlalu. “May … jangan kayak
gini, aku sakit May ….” teriaknya.
Mayfa memutar arah tubuhnya, memandang sinis kearah Syafi. “Terus … kamu pikir, orang-orang yang sayang sama kamu, tidak sakit melihat perubahan kamu?” Mayfa
meneruskan langkahnya, meninggalkan Syafi begitu saja. Terlihat di ujung sana, Mayfa menaiki ojek online. Dia langsung pergi meninggalkan area Sekolahan itu.
Syafi masih memandang ke ujung sana, sebuah tepukkan mendarat di pundaknya, seketika menyadarkan Syafi dari lamunanannya. “Kak
Dirga?” Syafi memeriksa jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Baru menunjukkan jam 1 siang.
“Kita makan siang bareng, setelah itu kita pulang,” ajak Dirga.
“Tapi, ini masih jam kerja kakak.”
Dirga tidak menyahut, dia berjalan lebih dulu, mau tidak mau Syafi juga mengikutinya.
__ADS_1