Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 90


__ADS_3

Di depan sana Athan masih menunjukkan penampilannya, menghipnotis tamu-tamu undangan yang ada dalam ruangan itu. Dirga melirik kearah Syafi, pandangan Wanita itu lurus kedepan. Tangan dirga pun menyambar handphonenya. Gerakkan Dirga diketahui Syafi, Wanita itu tau kalau Dirga akan mengirim pesan untuk istri keduanya, namun saat ini dirinya sudah terlanjur bersikap masa bodoh, hanya menunggu segala ketegaran yang dia bangun selama ini runtuh.


Fokus Dirga kini hanya tertuju pada layar handphone-nya. Rasa bersalah menyelimuti hati Dirga, dia tidak memberi tahu Lala kalau hari ini ulang tahunnya, dan Wanita itu malah ada di tengah acara ulang tahunnya. Dirga mengetik pesan di handphone-nya.


La, maaf aku tidak memberi tahumu tentang ulang tahunku.


Tlink! Samar terdengar suara notifikasi pesan dari arah belakang. Senyuman Syafi semakin lebar mendengar hal itu, walau rasanya bunyi notifikasi itu lebih sakit dari tembakkan anak panah yang meluncur dan mendarat tepat di hatinya.


Nggak apa-apa kak, santai saja.


Balasan pesan Lala.


“Mbak, matikan saja notifikasinya, kasian tamu yang lain kalau-kalau merasa terganggu dengan suara handphone mbak.” tegur salah satu tamu undangan yang lain.


“Maaf, teman saya punya bayi yang di urus pengasuhnya, jadi memantau pesan yang masuk sangat penting.”


Hati Syafi semakin merasa ter-iris, dugaanya tepat, itu adalah pesan dari Dirga buat Lala. Syafi tidak kuat lagi berada di sana, diam-diam dia menarik Mayfa untuk pergi dari sana.


“Terima kasih semua.” Athan baru selesai membawakan sebuah lagu, dia kembali menyapa penonton. “Satu tahun yang lalu, saya belajar memainkan alat musik yang satu ini.” Athan melangkah kebagian tengah panggung, dan mengambil biola di sana.


“Ini pertama kali saya tampil memainkan alat musik ini di depan umum, jadi kalau ada kesalahan, saya mohon maaf.”


“Kali ini, saya akan duet dengan sahabat saya yang selalu mendukung saya, juga seseorang yang sangat berarti dalam kehidupan yang tengah berulang tahun.”


Perhatian Dirga pada layar handphonenya terhenti, dia menoleh kearah panggung, merasa dirinya disebut, karena dirinya yang berulang tahun malam ini.


“Dia adalah ….” Athan berjalan kearah sisi panggung. Agar tidak ada apapun yang menghalangi layar monitor yang ada di belakang panggung.


“Yank, kamu tahu siapa yang dimaks—” ucapan Dirga terhenti saat menyadari Syafi sudah tidak ada disisinya lagi.


Saat yang sama, layar monitor besar itu menyala, menampilkan tanyangan seorang Wanita yang sangat Dirga cintai.


“Selamat ulang tahun suamiku. Aku tidak bisa mengucapkan banyak kata-kata untukmu, karena engkaulah sumber kata-kataku, kau lah kekuatanku, dan inspirasiku.” Senyuman Syafi begitu manis, membuat Dirga mematung memandangi layar monitor besar itu.


“Selama ini, yang ada di sini.” Syafi meletakkan sebelah telapak tangannya di dada kirinya. “Hanya ada Abah, mama, kemudian ada si ratu somplak yang sesungguhnya. Sahabatku, temanku, kembaranku, tapi juga kadang bisa jadi guru spritualku, kamu pasti tahu siapa dia bukan?”


Senyuman Dirga mengambang menyimak ucapan Syafi.


“Dan sekarang di sini.” Syafi masih meng-isyarat pada dada kirinya. “Selama 3 tahun terakhir ini. Kakak jadi penguasa di sini. Pikiranku, hatiku, perasaanku, hanya ada kakak. I love you so much kak.”

__ADS_1


Video yang menampilkan sosok Syafi terhenti. Tapi senyuman Dirga tidak berhenti.


“I love you tu Aul-ku.” Gumam Dirga.


Athan mulai memainkan alat musik yang sedari tadi dia pegang.


“Andaikan kabut, tak menyulam hari hingga berlarut-larut. Andaikan hidup ada harapan ….”


Semua orang yang ada di ruangan itu dibuat bingung, karena tidak tau siapa yang menyanyi. Rasa penasaran mereka tentang siapa yang menyanyi terjawab, ketika sosok Aurelia Syafitri ada diatas, perlahan ayunan itu semakin turun, namun berhenti di tengah-tengah ketinggian. Syafi begitu santai berada di ayunan yang bergantung di tengah-tengah panggung.


“Mencintaimu, adalah bagian terindah dihidupku, tak kubiarkan, kau tak bahagia ….” Mata Syafi hanya tertuju pada Dirga, namun sesekali juga ter-arah pada Lala.


Dirga mematung melihat penampilan Syafi yang berbeda dari biasanya, namun dibalik kekagumannya ada kekhawatiran Dirga, karena Sayfi berada di ketinggian. Syafi terus menyanyikan lagu Rossa, Bulan Dikekang Malam.


Penampilan Syafi membuat semua yang hadir terpana, tidak terkecuali Lala. Wanita itu mematung melihat penampilan seorang Syafi.


“Berjuta fatwa cinta yang ada, mengantarku pada kenyataan, merelakanmu aku merasa, bagai … bulan dikekang malam ….”


Bulan di kekang malam, bulan di kekang malam. {suara backing


vocal}


“Mencintaimu … adalah bagian terindah dihidupku, tak ku biarkan kau tak bahagia ….” Suara Syafi meninggi. Sepasang mata milik Syafi menatap sendu kearah Dirga, terlihat mata itu tampak berkaca-kaca.


Melihat Syafi memandanginya dengan pandangan kesedihan, membuat Dirga terbawa suasana, di luar kendali Dirga, air matanya juga menetes melihat Syafi menangis sambil membawakan lagu tersebut.


Musik kembali menggelegar.


“Aku ikhlaskan segalanya … walau hatiku lebam membiru, sakittt namun aku bahagia, ku teerima segala takdir kita ….”


“Bulan dikekang … ma-lam ….”


Ayunan yang menahan bobot tubuh Syafi perlahan semakin turun ke bawah, melihat Syafi sudah menapakkan kakinya diatas panggung, Dirga segera belari kearah panggung dan langsung memeluk istrinya.


“Kenapa bernyanyi lagu sedih yank?” tanya Dirga.


Namun semua orang yang berada di ruangan itu bisa mendengar pertanyaan Dirga, karena tepat di mik kecil yang menempel di sisi telinga Syafi, mik itu masih menyala.


Syafi melepaskan pelukan Dirga, perlahan jemarinya mengusap air mata yang membasahi pipinya. Dirga membantu Syafi, dia juga mengusap air mata Syafi.

__ADS_1


“Kenapa laguku?” tanya Syafi.


“Rasanya aku melihat kesedihanmu dalam lagu itu," ucap Dirga.


“Sedih?” Syafi balik bertanya.


“Banyak kata-kata yang matamu pancarkan, hanya saja mulutmu tidak mau mengutarakannya. Bagaimana aku bisa memahaminya?”


Syafi berusaha mengukir senyuman di wajahnya. “Lagu ini lagu yang mencerminkan perasaan cintaku buat kakak.”


Syafi menangkup wajah Dirga dengan kedua tangannya. “Mencintaimu, adalah bagian terindah dihidupku, tak ku biarkan, kau tak bahagia.” Syafi kembali menyanyikan Sebagian lagu itu. “Aku sangat mencintai kakak. Dan kakak adalah anugrah terindah dalam hidupku.” Air mata kembali membasahi pipi Syafi.


“Jangan menangis sayang.” Dirga mengusap air mata Syafi yang tidak mau berhenti menetes, hingga matanya juga ikut bocor. “Aku juga sangat mencintai kamu.” Dirga meraih kedua tangan Syafi yang menangkup wajahnya, dan menciumi kedua punggung telapak tangan itu.


Para undangan yang ada di ruangan itu terharu melihat momen diatas panggung, bahkan beberapa ikut menangis.


“Kalau aku harus menyanyikan lagu yang menggambarkan tepat seperti apa perasaan cintaku pada kakak, maka tidak ada satupun lagu yang ada, yang bisa aku nyanyikan untuk kakak, karena aku harus menciptakan lagu itu sendiri."


Dirga sangat tersentuh oleh kata-kata Syafi, dia langsung menarik Syafi kedalam pelukannya. Suara riuh tepuk tangan pun menggema di ruangan itu, mereka sangat bahagia melihat pasangan yang berada diatas panggung tersebut.


Sedang di bawah sana, Lala mematung melihat adegan di atas panggung itu. Melihat seperti apa rasa cinta Dirga untuk Syafi, juga cinta Syafi untuk Dirga, rasanya dia ingin menenggelamkan dirinya ke dasar lautan. Lala membayangkan bagaimana hancurnya Syafi kalau mengetahui apa hubungan dia denganDirga. Air mata Lala mengalir deras, menyadari dirinya adalah duri yang begitu beracun dalam ikatan rumah tangga Dirga dan Syafi.


"Bu Miya, boleh saya pulang duluan?" ucap Lala.


"Sebentar lagi ya La, jarang-jarang aku melihat Tuan Dirga bersama istrinya."


"Ibu di sini saja, saya pulang sendiri mumpung belum terlalu malam."


Bu Miya menyetujui kemauan Lala. Di tengah riuhnya tepuk tangan para penonton, Lala berlalu begitu saja meninggalkan acara yang tengah berlangsung.


Arnaff sedari tadi susah berhenti untuk melihat kearah panggung, tapi melihat seorang perempuan asing ada di tengah-tengah mereka, membuat Arnaff bertanya pada orang yang ada di dekatnya. "Wanita itu siapa?" Arnaff menunjuk kearah Lala yang terus berjalan menuju pintu utama.


"Entahlah, dia datang bersama bu Miya."


Mata Arnaff terus memandangi Lala, hingga punggung wanita cantik itu menghilang dibalik pintu. Setahu Arnaff malam ini hanya acara orang-orang terdekat Dirga dan TAG, sedang dirinya tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya.


****


Segini aja ya, nanti kita sambung lagi, pegel jempol ma mataku 😅😅😅😅😅

__ADS_1


__ADS_2