
Setelah selesai menunaikan tugas Isya di kamarnya, Syafi melangkah mendekati figura besar yang menempel di dinding kamar itu. Foto pernikahan dirinya dengan Dirga, yang diambil saat Dirga selesai meng ikrarkan Akad.
Foto-foto berukuran kecil yang diambil 3 tahun terakhir ini juga terpajang di sana, mengihiasi setiap sudut pada tembok kamar mereka.
...Kebahagiaan aku itu kamu, sayang. Aku ikhlas selamanya tidak memiliki buah hati, asal kamu selamanya berada di sisiku....
Ucapan Dirga itu selalu terngiang dalam benak Syafi.
Shetttsss
...Ayah .......
Seketika Syafi terbayang kejadian di rumah wanita itu.
Sakit!
Dada Syafi seakan di-ikat begitu kuat oleh seutas tali. Air mata pun mulai merembes dan membasahi pipi mulusnya. Berulang kali Syafi mengatur napasnya yang terasa sulit untuk dihirup maupun dihembuskan.
Syafi terus berusaha menguatkan dirinya, keyakinannya kalau hanya ada dirinya dan Dirga dalam kehidupannya, semua itu musnah. Kini ada wanita lain dalam hidup Dirga, bahkan wanita itu sudah memberikan anak untuk Dirga.
Air mata terus mengalir membasahi pipi Syafi. Kenangan indah bersama Dirga masih terpatri jelas, tapi kenyataan lain membuat kenangan itu tidak lagi terasa indah.
"Aku ingin berpegang kuat pada janji-janji mu, kalau hanya ada aku dalam hatimu, kalau hanya ada kita dalam sebuah ikatan pernikahan, tapi kenyataan telah menampar wajahku begitu keras, kini juga ada orang lain di hatimu, dan ada ikatan lain dalam pernikahan ini."
Tangis Syafi semakin dalam.
"Apa kamu menikahiku karena Paman?"
"Apa kamu menikahiku karena kasian padaku?"
"Apa karena Amanah paman?"
Syafi terus menerus berbicara dengan foto Dirga.
Lelah menumpahkan air matanya, Syafi segera berbaring di tempat tidur dan menyelimuti dirinya. Dia belum siap melihat wajah Dirga, setelah tau di mana Dirga sepanjang siang ini berada.
"Ternyata sorga yang aku rindukan tidak semudah khayalanku, aku pikir melihat kak Dirga bahagia, aku juga bisa bahagia. Tapi ...." Syafi terisak semakin dalam, hingga tangisannya itu mengantarnya sampai alam bawah sadarnya.
****
Jam menunjukkan pukul 21:30, Dirga sudah menyelesaikan semua tugasnya di ruangannya. Dia menyimpan semua berkas penting ke dalam brangkas yang ada dalam ruangannya. Rasanya ingin sekali cepat pulang. Sebentar saja berpisah dengan wanita itu, rasanya seluruh beban permasalahan bertumpu pada pundaknya.
Selesai. Saatnya pulang menemui permata hatinya, belahan jiwanya dan separuh jiwanya, Aurelia Syafitri.
Dengan semangat Dirga menuju mobilnya, sepanjang perjalanan menuju ke rumahnya, senyuman terus terukir di wajah Dirga.
Perjalan panjang Dirga kini berakhir sudah, mobilnya sudah terparkir di parkiran rumahnya. Harapannya bertemu wanita pujaannya sedikit lagi tercapai. Dirga menurunkan kopernya dan segera mempercepat langkahnya memasuki rumah itu.
Tok! Tok! Tok!
Kali ini Syafi terlambat membukakan pintu, biasanya wanita itu mendengar suara mesin mobil Dirga saja, pintu rumah sudah terbuka lebar.
Ceklak!
Pintu rumah itu terbuka, tapi bukan wanita yang selalu menghuni hati Dirga yang membukakan pintu tersebut. Melainkan pelayan yang bekerja di rumahnya.
__ADS_1
"Mbak Adah?" Senyuman manis yang menghiasi wajah Dirga perlahan memudar saat menyadari siapa yang membukakan pintu untuknya.
"Maaf Tuan, Non Syafi sakit. Tadi dia izin istirahat duluan." Adah mundur sedikit dan berdiri di samping pintu, mempersilakan majikannya masuk ke dalam rumah.
"Sakit?" Dirga terlihat cemas.
"Saya cek obat yang Nona Syafi minum, sepertinya itu resep dari Rumah Sakit," adu Adah.
Dirga melepaskan kopernya, dia berjalan cepat menuju meja makan Biasanya obat yang rutin Syafi minum ada di sana.
Melihat beberapa macam obat dan satu botol syrup, Dirga segera membaca label pada obat-obat tersebut.
"Mbak benar, sepertinya dia berobat ke Rumah Sakit."
"Nona jadi pendiam, dan wajahnya pucat," lapor Adah.
"Syafi pulang sama siapa?"
"Sore tadi dia diantar dua temannya, Mayfa dan Athan."
"Owh ...." Dirga segera meraih handphone-nya, tujuannya saat ini ingin bertanya banyak hal pada Mayfa.
Jemari Dirga mencari kontak teman Syafi yang bernama Mayfa. Setelah ketemu, dia langsung menekan tombol panggil.
Tuttttt .....
Bunyi itu terus berulang, tapi Dirga belum juga mendapatkan jawaban dari orang yang dia telepon.
"Bagaimana Tuan?" tanya Adah.
"Mungkin teman Non Syafi sudah tidur. Karena katanya besok pagi-pagi ada pertemuan dewan guru lagi."
Dirga masih memandangi layar handphonenya, tidak seperti biasanya Mayfa mengabaikan panggilan teleponnya, biasanya kapan saja dia menelepon, gadis itu langsung mengangkat panggilannya.
"Tuan mau makan malam?" tawar Adah.
"Siapkan saja, tolong antar ke kamar ya. Tapi sekitar 20 menit lagi, saya mau mandi dulu."
"Baik Tuan."
Dirga segera melangkahkan kakinya menuju singgasanana bersama Syafi. Setelah membuka pintu kamar tersebut, hanya cahaya lampu temaram yang menerangi kamar itu, di sana terlihat sosok yang sangat Dirga Rindukan berbaring diatas tempat tidur.
"Huh ...." Dirga menghempaskan napasnya, rasanya kerinduannya melebur saat melihat sosok Syafi. Matanya terus memandangi Syafi.
Dia melangkahkan kaki mendekati Syafi, lalu duduk di sisi tempat tidur Syafi. Dirga memandangi jeli wajah cantik itu, menepiskan helaian rambut panjang yang menutupi wajah cantik Syafi. Dirga merasa aneh, walau kedua mata itu terpejam rapat, tapi Dirga melihat ada yang berbeda.
"Mata kamu bengkak ...." Dirga memerosotkan tubuhnya, hingga dia duduk leseh di lantai, agar jelas memandangi wajah Syafi.
"Maafkan aku sayang, kamu sakit tapi aku tidak ada di sampingmu." Ciuman lembut mendarat di antara kedua alis Syafi.
"Pantas saja seharian ini tidak ada pesan iseng darimu, kau tau Fiy, chat asal, yang tidak ada arahnya darimu, itu adalah hal yang paling menyenangkan." Tangan Dirga berulang kali membelai lembut kepala Syafi.
Dirga menghentikan kegiatannya, dia teringat dirinya belum mandi, sedang sebentar lagi mbak Adah akan mengantarkan makan malamnya. Dirga pun segera beranjak menuju kamar mandi.
Selesai membersihkan tubuhnya, Dirga mengenakan piyama tidurnya. Dia kembali duduk di sofa, memainkan handphone-nya mengisi waktu kosong selagi menunggu makanannya datang.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukkan pintu itu membuat fokus Dirga pada layar handphone teralih. Dia segera melangkah menuju pintu dan membukakan pintu tersebut. Terlihat mbak Adah membawakan nampan yang berisi makanan dan minuman.
"Terima kasih mbak." Dirga menerima nampan itu, dan segera membawanya masuk ke dalam kamar.
Makan bersama Syafi tidak bisa, tapi makan sambil memandangi wanita yang paling dia cinta, itulah yang dia bisa.
Dirga menyalakan lampu terang di kamarnya, hal itu sedikit pun tidak mengusik tidur Syafi, wanita itu masih terlelap di alam mimpinya.
Dirga tersenyum, dia senang karena tidak mengganggu tidur Syafi. Dia segera menikmati makan malamnya, rasanya kerinduannya semakin menggebu dan ingin menghabiskan malam dengan memeluk erat wanita itu.
Tidak butuh waktu lama, isi piring itu berpindah ke dalam perut Dirga. Dia segera membawa nampan yang berisi wadah bekas makannya menuju dapur. Selesai kegiatan itu, Dirga segera kembali ke kamarnya.
Dirga naik keatas tempat tidur dan menarik selimut yang menutupi tubuh Syafi.
Kecewa.
Karena kali ini Syafi tidak mengenakan seragam kesukaannya. Wanita itu tidur dengan piyama tidur yang normal, yang menutup semua bagian-bagian lekukan tubuh indahnya.
Dirga berusaha tersenyum.
...Mungkin dia masih sakit, dia tidak mau menyiksa diriku, karena menahan segalanya jika melihat setiap lekuk tubuh indahnya....
Dirga merebahkan diri di samping Syafi, dan langsung memeluk erat istrinya. Dengan gemasnya dia berulang kali menciumi ceruk leher Syafi, dan menenggelamkan wajahnya di sana.
"I Love You so much Aul ku." Dirga semakin mengencangkan pelukannya.
Perlahan pemilik mata itu memejamkan matanya.
Perasaan Syafi.
Rasa sakit itu tidak hanya menggerogoti hatinya saat matanya terbuka, bahkan saat matanya terpejam rapat, rasa sakit itu tetap menjajah jiwanya.
Menangis, hanya itu yang dia bisa. Di alam bawah sadarnya, Syafi melihat Dirga menggandeng wanita lain, dan mereka berjalan bersama sambil mendorong kereta bayi.
Senyuman kebahagiaan terpancar dari wajah Dirga.
"Ternyata ikut bahagia saat kau bahagia itu hanya bisa ku ucap, tapi hatiku tidak bisa, dan aku sakit kak."
Tangisan Syafi di alam mimpi terbawa sampai alam nyata. Air mata kembali membanjiri pipi mulus Syafi.
...Ayah .......
Panggilan seorang wanita yang tertuju pada Dirga.
"Heuhhhhh!"
Napas Syafi begitu deras berhembus, ingin sekali mengeluarkan rasa sakit yang menyiksa batinnya. Deraan napas yang begitu jelas terdengar membuat orang yang berada di dekatnya bisa merasakan wanita itu seakan sulit bernapas.
Dirga terbangun. "Sayang ... masih sakit?"
Tangan Dirga mengusap lembut bagian perut Syafi yang rata.
Sedang wanita itu masih tenggelam oleh rasa sakit dari mimpinya.
__ADS_1