Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bonchap 1


__ADS_3

Hari bahagia itu telah tiba, semua rasa sakit yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, semua seakan lenyap kala indera pendengarannya mendengar lengkingan suara tangisan bayi.


2 bayi perempuan yang begitu cantik, membuat mata Dirga berkaca-kaca melihat anugrah dari pernikagannya.


Dirga berulang kali menghujani wajah Syafi dengan ciuman. Sepanjang perjuangan istrinya, rasanya dunia ini begitu sempit, oksigen seakan tidak mencukupi suplai untuk paru-parunya. Walau Syafi berusaha tersenyum untuk menguatkannya, tapi Dirga yakin rasa sakit yang dialami istrinya begitu hebat. Ingin sekali dia mengalihkan rasa sakit itu padanya.


"Anak kita ...." Kedua mata Dirga kembali menatap nanar dua bayi yang digendong perawat.


Pandangan Dirga kembali tertuju pada Syafi. "Terima kasih atas segala kebahagiaan yang kamu beri." Ciuman hangat pun kembali mendarat diantara alis Syafi, Dirga melupakan keberadaan tim medis yang membantu perjuangan istrinya. Di ruangan itu rasanya hanya ada dia Syafi.


"Mohon maaf mengganggu sebentar, silakan Tuan, bayi kembarnya di adzankan dulu."


Dirga segera mendekati kedua bayinya. Adzan dan Iqamah yang Dirga lafazkan pun membuat suasana menjadi haru. Syafi menangis melihat momen ini. Dia merasa ini sebuah mimpi, mendapatkan seorang laki-laki yang begitu mencintainya, dan diberi sang pencipta sepasang anak kembar hadiah dalam rumah tangganya.


Setelah melakukan tugasnya, Dirga kembali mendekati Syafi.


"Ini pertama kalinya aku Adzan di depan orang."


Syafi tersenyum, dia meraih tangan Dirga dan mencium tangan yang penuh cinta itu. Sesaat pikiran Syafi teringat pada 2 teman yang selalu menemaninya.


"May sama Athan."


Dirga menepuk jidadnya. "Aku lupa sama mereka."


"Aku tinggal dulu, aku mau menemui mereka, dan memberikan kabar bahagia ini." Dirga sangat mengerti maksud istrinya, dia segera meninggalkan ruang bersalin.


Di luar ruang bersalin.


"Nah ... kayaknya bayi kedua fotocoppy Syafi," celoteh Mayfa.


"Hilih, ngadi-ngadi kau," protes Athan.


"Tangis bayi yang pertama, biasa aja, seperti tangisan bayi pada umumnya, yah anggap dia kek Bapaknya gitu, nah tangisan kedua kayak ada cengkok sama desah ah manja gitu persis maknya kalau lagi demah ah ah." Mayfa mengomentari suara tangisan bayi yang kedua.


"Ya ampun, miss May dan Pak Athan sudah di sini."


Mendengar suara yang sangat familiar, Mayfa dan Athan kompak menoleh kearah suara itu berasal.


Mayfa tersenyum melihat kedatangan Resa bersama suaminya.


Ya ampun ....pelakor idola gue makin cakep dah. Batin Mayfa, kala sepasang matanya tertuju pada Resa.


"Selamat siang Nona Resa," sapa Athan sopan.


"Bagaimana May? Syafi sudah lahiran?"


Lamunan kekaguman Mayfa pada Resa buyar. Dia berusaha mengumpulkan kesadarannya yang sempat terberai. "Sepertinya sudah Nona, tadi terdengar dua suara tangisan yang berbeda," sahut Mayfa.


"Untung kamu cewek May, kalau laki-laki yang memandangi istriku seperti itu, ku congkel matanya." Komentar Sam.


"Maaf Tuan, Nona Resa makin cantik setiap harinya, padahal punya bontot tiga, tapi anak perawan aja kalah mempesona rasanya," sahut Mayfa.


Sam sangat bahagia, dia semakin merapatkan tubuh Resa pada tubuhnya.


"Hedehh ... Kalau udah gini pen nikah gue," oceh Mayfa.


"Ya nikah sana. Tuh ada Athan yang masih sendiri," ucap Sam.


"Hah? Saya sama dia?" raut wajah Mayfa seketika masam.

__ADS_1


"Kenapa May? Ya menurut kacamata ku, kalian berdua cocok," ucap Sam.


"Kacamata? Seingat saya Tuan Sam belum pakai kacamata," ucap Mayfa.


Resa tertawa mendengar sahutan Mayfa. "Maksud suamiku, dari segi pandang dia, kalian berdua cocok menjadi sepasang kekasih, hemm ... bahkan sepertinya saling melengkapi menjadi pasangan suami istri," sela Resa.


"Ha? Saya sama dia nikah? Enggak deh!"


Mayfa dan Athan mengucapkan kalimat yang sama.


"Nah kan bener jodoh mereka," goda Sam.


"Eh Than, lu jaga jarak dah, kaga redho gua dibilang jodoh elu!" omel Mayfa.


"Sama!"


Sontak keduanya sama-sama menjauh.


"Jadi kalian berdua memang tidak ada niat untuk lebih dekat gitu?"


Pertanyaan itu menyita perhatian 4 orang tersebut, keempatnya serentak menoleh kearah yang sama. Terlihat sosok Dirga keluar dari ruang bersalin.


"Bagaimana Dirga?" Melihat Dirga Sam langsung melempar pertanyaan dan melupakan obrolan sebelumnya.


"Semuanya lancar Tuan, Syafi melahirkan 2 anak kembar, perempuan."


"Selamat Dirga." Sam menarik Dirga kedalam pelukannya.


"Maaf, bukan mau ganggu momen romantisnya, tapi kapan ya kita semua bisa lihat bidadari kecilnya?" ucap Mayfa.


"Nanti ya May, setelah Syafi dipindahkan ke ruangan."


"May, obrolan kita di luar tadi bagaimana?" goda Sam.


Fokus Mayfa pada dua bayi Syafi buyar karena mendapat pertanyaan dari Sam. "Maaf Tuan, bukan saya tidak menghormati Anda karena mengabaikan ide brilian dari seorang Tuan Sam, tapi saya dan Athan hanya sebatas teman."


"Yakin May?" goda Syafi.


"Yakin lah."


"Ya ... Aku sama Dirga yang hanya sebatas pendamping saja status kami bisa berubah, apalagi sebatas teman," goda Syafi.


"Ya wajar berubah Fiy, Tuhan itu enggak tidur, perjuangan Dirga mencintai lu dalam diam berbuah manis." Mayfa membayangkan perjuangan Dirga untuk Syafi.


Sesaat Mayfa melirik kearah Athan. "Jangan bilang lu juga mencintai gue dalam diam?!"


"Kepedean lu May!" sahut Athan.


"Nah, dengar Fiy. Antara elu ma Dirga dan gue ma Athan ya beda jauh, jadi hubungan aku dan Athan enggak akan berubah!" ucap Mayfa.


"Kalau emang enggak ada niat lebih dari teman, ya aku nggak akan merasa bersalah jika aku mengenalkan Mayfa pada rekan bisnisku," ucap Dirga.


"Lu jangan main jodoh-jodohan! Bapak gue aja gue tinggal minggat kalau berani jodohin gue, apalagi lu. Tau sendiri kalau istri lu nggak bisa jauh dari gue!" omel Mayfa.


"Siapa yang jodohin sih, ada yang nanya tentang kamu May. Ingat nggak saat resepsi Lala? Nah salah satu temen aku kepincut sama kamu," sahut Dirga.


"Owh, itu wajar, kan aku manis." Mayfa bergaya sambil membenahi kerudungnya.


"Jangan sok manis May, gue mual liatnya," omel Athan.

__ADS_1


"Hilih, lu ganggu kebahagiaan gue aja." Perhatian Mayfa kembali tertuju pada Dirga. "Eh terus-terus bagaimana?"


"Yang pengen tahu tentang kamu, ya aku beri aja alamat rumah kedua orang tua kamu, biar dia datang sendiri kalau ingin kenal lebih dekat," sahut Dirga.


"Keputusan yang tepat Dirga, laki-laki yang baik itu langsung datangi kedua orang tuanya, bukan nyulik anaknya," ucap Sam.


"Ngomong-ngomong tampan nggak orangnya?" tanya Mayfa pada Dirga.


"Tampan, seumuran aku."


"Kalau tampan ya bisa diatur lah, kan aku mau ikhtiar perbaiki keturunan."


Athan terdiam mendengar ada laki-laki yang ingin melamar Mayfa.


"Kenapa diam Than?" goda Syafi.


"Am ... Aku hanya berpikir, apakah jodohku salah satunya ada di ranjang itu?" ucap Athan.


"Ihhh, amit-amit Than aku anakku nikah ma Kakek-kakek, kalau jodohmu salah satu yang ada di ranjang itu. Tapi kalau jodohmu salah satu yang ada di ruangan ini ya semoga." Syafi mengisyarat pada Mayfa.


"Heleh kalian ngarep banget gue ma Athan! Kek nggak ada laki-laki single lain aja!" omel Mayfa.


Siang itu ruang perawatan Syafi ramai, beberapa rekan guru dan keluarga Sam mengunjungi Syafi, orang tua Sam, dan ibu Resa berkunjung dengan membawa 3 anak Sam. Suasana pun semakin berwarna.


Waktu terus berjalan, malam menyapa, hanya tinggal Mayfa dan Syafi di ruangan itu. Dirga dan Athan tengah keluar mencari menu makan malam yang mereka inginkan.


Ruangan terasa sepi, Mayfa duduk di kursi yang ada di sisi ranjang Syafi.


"Sakit ya?" tanya Mayfa.


"Apanya?"


"Lahiran lah, masa nanya yang lain."


"Enggak, enak malah."


"Masa sih? Kata orang lahiran itu rasa sakit yang di luar batas kemampuan manusia menahan rasa sakit, apa sih di gogel biasa yang ada rumus itu." Mayfa berusaha mengingat kata-kata dari video singkat yang pernah dia lihat.


"Ga sakit ah, kalau sakit semua orang bakal jera, buktinya banyak yang hamil lagi kan, karena rasa bahagianya lebih besar dari rasa sakitnya," ucap Syafi.


"Oh iya, kamu benar-benar tidak ingin melangkah ke jenjang yang lebih serius sama Athan?" tanya Syafi.


"Aku merasa lebih nyaman temenan aja sama Athan fi."


"Yakin kamu hanya nyaman sebatas teman?"


"Sangat yakin!"


"Lebih dari 4 tahun loh kalian selalu bersama, misal Athan sama wanita lain, yakin kamu kuat?"


"Kuatlah, yang gue nggak kuat kalau Athan sama laki-laki Fiy," sahut Mayfa.


**


Bersambung.


**


Hai aku datang nih bawa ceritanya Mayfa. Tapi update ku nggak bisa rutin, lagi ngebangun mood buat nulis.

__ADS_1


Cerita ini nggak panjang, makanya aku masukin di sini sebagai bonus Chapter. Niatnya mau bikin 1 judul khusus, karena sudah di perkirakan cuma sedikit, ya masukin di sini aja😅😅


__ADS_2