Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 50 Kita Selesaikan


__ADS_3

Sorotan mata semua orang terus tertuju kearah dua orang, yang kompak terus melangkah menuju pintu keluar. Semua diam, tidak berani berkomentar apa-apa. Sam terlihat sebal melihat Dirga pergi begitu saja tanpa menunggu jawabannya.


“Dirga! Tunggu. Kita selesaikan semuanya!” tegas Sam.


Seketika dua orang terus melangkah itu, kompak menghentikan langkah kakinya. Bersamaan memutar arah tubuh mereka menghadap kearah Sam dan beberapa tamu lain.


“Dirga, ayok kita selesaikan semua ini,” ucap Sam.


Mau tidak mau Dirga segera kembali melangkahkan kaki menuju meja makan itu. Dirga meraih kursi yang agak jauh dari Arnaff, dia mempersilakan Syafi untuk duduk di sana, sedang dia langsung meraih kursi tepat di samping Syafi, juga segera duduk di sana. Semuanya masih betah membisu.


Sam menatap tajam kearah orang tua Anaff. “Maaf om, saya baru bisa memenuhi ajakan om tempo hari, karena banyak yang saya persiapkan untuk wajah baru perusahaan saya,” ucap Sam.


Rinto dan Leti masih fokus dengan wanita cantik yang duduk di samping Dirga. Nampak anggun dengan hijab pasminanya. Tidak mendengari perkataan Sam. Wanita yang mereka pandangi terus menundukkan wajahnya.


“Tante, om ....” Seketika fokus mereka pada wanita cantik itu buyar.


“Iya Sam.” Leti dan Rinto kompak menjawab panggilan Sam.


“Kenapa? Kalian merasa kenal dengan wanita ini?”


Pertanyaan Sam biasa saja. Entah kenapa itu lebih menakutkan dari pertanyaan penyidik. Rinto dan Leti sama-sama bungkam.

__ADS_1


“Baiklah, langsung saja pada intinya. Saya tidak bisa meneruskan kerja sama dengan perusahaan yang di pimpin seorang pembunuh.” Sorot mata Sam tajam, ter-arah pada Arnaff.


“Nak Sam, bisakah Anda tidak menyalahkan Arnaff atas kematian Ardhin dan Kamal?” sela Rinto.


Sam malas banyak bicara, dia memberi isyarat pada beberapa orang yang berdiri di dekat layar. Tidak lama, suara rekaman terdengar. Layar monitor besar itu juga menunjukkan gambar, tapi buram. Suara seorang wanita bernyanyi jelas terdengar, menggambarkan kalau yang bernyanyi sedang bahagia. Posisi Syafi membelakangi layar, seketika air matanya mengalir deras, dia bisa menebak rekaman apa yang di putar oleh Sam.


Dirga tidak tahan melihat pujaan hatinya sehancur ini. Dirga meraih tangan Syafi, menggenggamnya erat, berharap wanita yang berada tepat di sampingnya ini tetap tegar. “Tuan ....” Tatapan mata Dirga sendu, berharap Sam berhenti memutar rekaman ini.


Tidak lama, terdengar percakapan Arnaff dan Ardhin. Membuat yang mendengar ikut geram dengan kata-kata Arnaff. Tidak ada yang berani berbicara, semuanya masih fokus mendengarkan rekaman yang Sam putar. Suara jeritan dan tangisan mulai terdengar dari rekaman itu, menyebutkan kalau Kamal meninggal. Sedang Ardhin di bawa ke Rumah Sakit.


Rasanya Arnaff ingin sekali kabur dari sini, dia tidak bisa, sedari tadi sorotan mata papanya selalu tertuju padanya.


Sam menatap kearah Leti dan Rinto. "Aku tidak menyalahkan Arnaff atas kematian Paman Ardhin dan bibi Kamal. Tapi Arnaff memang bersalah, lebih tepatnya, Arnaff membunuh mereka, dan aku tidak bisa menjalin kerja sama dengan seorang pembunuh," Kini tatapan mata Sam tertuju pada Arnaff.  “Apa salah gadis itu, hingga dia kau tinggal begitu saja, apa hak mu mencampakkan dia menjelang akad?” Gadis yang Sam maksud masih setia menundukkan wajahnya, tangannya masih di genggam erat oleh Dirga.


Leti tidak bisa berkata-kata, sedari tadi dia terus menangis, sebelumnya Arnaff bilang kalau semua berakhir baik-baik saja. Apa yang dia dengar barusan, tidak ada yang baik-baik saja.


“Uang denda, tidak akan bisa menyelamatkan perusahaan kami. Seperti halnya uang yang diberikan Arnaff pada Ardhin, tidak bisa menyembuhkan luka hati Ardhin. Saya pasrah nak Sam. Mau bagaimana perusahaan saya, saya pasrah.” Raut kekecewaan terpancar dari wajah Rinto.


“Papa ….” Arnaff mencoba protes. Heran dengan reaksi papanya yang terlihat pasrah. Biasanya papanya akan melakukan apa saja  demi memperjuangkan perusahaan mereka. Hanya tatapan yang begitu tajam dan dingin yang Arnaff dapat dari sang papa. Rinto berjalan mendekati puteranya.


“Papa, kenapa papa—”

__ADS_1


Bouuggggt!


Kepalan tangan melayang dan mendarat telak di wajah Arnaff. Tidak sekali tapi berkali-kali. Arnaff pasrah menerima hujan bogeman mentah dari papanya. Ada kekecewaan yang mendalam terpancar jelas dari papanya.  Rinto terlihat Lelah, tenaganya hampir habis dia arahkan, wajah puteranya seakan jadi samsak tinju, tempatnya melampiaskan kekuatan tinjunya. Tidak ada rasa kasihan walau wajah Arnaff terlihat lebam, sisi bibirnya juga mengeluarkan darah. Rinto kembali duduk ketempatnya semula. Mereka yang melihat kejadian itu juga hanya diam. Tidak ada yang simpatik pada Arnaff. Arnaff berusaha bangkit sendiri, menatap kearah Syafi dengan tatapan penuh


kebencian. Dasar wanita sialan, apa hubunganmu dengan Dirga dan Sam? Aku akan memberi perhitungan denganmu. Jerit hati Arnaff. Masih memandang kearah Syafi. Tapi yang dia pandang sama sekali tidak menoleh kearahnya. Arnaff langsung pergi dari Restoran itu.


“Karena om dan tante adalah keluarga kami, saya tidak sekejam itu. Perusahaan kita memang tidak akan menjalin kerja sama lagi, jika pemimpin perusahaan itu masih Arnaff. Maaf om, Dirga sempat ingin mengundurkan diri karena malas bertemu Arnaff, Dirga sangat menyayangi paman Ardhin dan bi Kamal. Perbuatan Arnaff sungguh keterlaluan. Maafkan saya.” Ucapan Sam barusan membuat Syafi menegakkan wajahnya, Sam sangat menyayangi Dirga.


Hati Syafi terasa sesak, semua kekacauan ini terjadi karena dirinya. Syafi berusaha kuat agar tidak menangis lagi.


“Apapun itu, akan saya turuti, mengenai pimpinan perusahaan, saya akan kembali bertugas, saya akan mengirim Arnaff ke perusahaan teman saya, saya pastikan kalian tidak akan bertemu dengannya,karena dia hanya pegawai biasa, di perusahaan itu,” janji Rinto.


Pembicaraan tentang perusahaan terus berlanjut, disepakati kerja sama akan di lanjutkan, kalau pemimpin perusahaan Rinto, bukan Arnaff. Sam memberi isyarat pada pelayan, seketika para pelayan berdatangan menyajikan menu-menu makanan. Dirga baru melepaskan genggaman tangannya pada tangan Syafi, karena tangan itu harus bertugas mengantar makanan. Mereka segera memulai makan malam mereka. Mereka menikmati makan malam ini dihibur artis band. Tanpa menoleh kearah panggung Syafi terus menikmati makan malamnya, berharap semua ini cepat selesai, dia ingin sekali pergi dari tempat ini.


Dirga merasa tidak nyaman,walau wajah Syafi di poles make-up tipis, tetap saja wajah itu seakan kehilangan cahayanya. Dirga selalu menoleh kearah Syafi, berharap wanita itu masih baik-baik saja.


“Kalian semua harus berhadir pada malam peresmian wajah baru perusahaan saya, sekian lama saya ingin merubah wajah perusahaan ini, baru sekarang terwujud, di sana akan saya umumkan, kalau Ohoana Group masih menjalin kerja sama dengan The Alvaro Group. Saat itu, saya harap Om sudah memeruskan tampuk kepemimpinan, mengganti Arnaff.” Ucapan Sam santai, tapi penuh penekanan.


Makan malam santai, tapi menegangkan baru saja di lewati, Syafi bisa diajak bicara, ketakutan Dirga tidak terbukti. Tadinya dia mengira Syafi akan berubah seperti awal pernikahan mereka. Sesampai rumah, Syafi dan Dirga segera menuju kamar mereka masing-masing.


Setelah membersihkan tubuhnya, Syafi segera membaringkan tubuhnya ketempat tidur. Melihat kehancuran yang menimpa Arnaff, entah kenapa Syafi merasa ini berlebihan. Ingin protes, tapi apa hak dia. Syafi berusaha memejamkan matanya yang enggan untuk berpejam. Syafi merasa dirinya berada di tempat yang salah, harusnya Dirga menjadikanya pembantu, atau cukup memberinya pekerjaan maka masalah selesai. Sekarang beda, dirinya adalah istri sah Dirga yang sah di mata agama dan di mata negara.

__ADS_1


__ADS_2