
Mengetahui Romi tiba di Bandara yang ada di kota mereka jam 9 pagi, pukul 08.30 Dirga sudah berdiri di depan pintu kedatangan, harapannya Syafi akan datang bersama Romi.
45 menit berlalu, akhirnya pintu kedatangan mulai ramai. Terlihat dari kejauhan Romi berjalan begitu lemas.
Pupus sudah harapan Dirga, ternyata seperti dugaannya itu hanya Alibi Syafi, wanita itu tidak datang ke kota ini, walau hatinya merasakan Syafi sudah berada di kota ini.
"Maafkan aku Dirga," ucap Romi.
Dirga menepuk punggung Romi. "Kamu tidak bersalah sob, terima kasih sudah berjuang untukku."
"Kamu menjemputku, apa karena menjemputku saja atau apa?" tanya Romi.
"Kata mata-mataku, Syafi mau kembali, ternyata itu hanya alasan dia saja supaya warga desa tidak curiga dengan kepergian dia, dari rumahnya."
"Dia tidak perduli dengan ceritaku," ucap Romi.
"Iya, aku tahu itu. Tapi anak buah Sam akan selalu berjaga di pintu kedatangan, entah mengapa hatiku mengatakan Syafi benar-benar akan kembali, bahkan saat ini aku merasakan dirinya ada di dekatku."
"Kita pulang saja, perasaan cintaku yang terlalu besar padanya, membuatku menjadi gila seperti ini." Dirga langsung berbalik, tanpa sengaja dia menyenggol troli seorang wanita yang mengenakan pakaian serba hitam, wajahnya tertutup oleh kain panjang dari lapisan bagian kerungnya yang sangat lebar.
"Maaf mbak, saya tidak sengaja." Dirga membantu menstabilkan troli tersebut.
Wanita itu hanya mengangguk, dan melanjutkan tujuannya dengan laki-laki yang mengenakan gamis putih yang berjalan di sampingnya.
"Untung tu ukhty jalan sama suaminya, kalau sendiri, otak kotorku pasti mengira dia Syafi, karena berpakaian tertutup banget seperti itu," gerutu Dirga.
"Kalau kamu paksa wanita itu buka penutup wajahnya, yang ada kamu dikira mau khitbah tu cewek," ucap Romi.
****
Bagaimanapun Dirga berusaha bersikap normal, namun hatinya masih kecewa karena Syafi benar-benar belum kembali.
Dirga yang rajin bekerja, semangat itu seakan menguap hari ini. Dirga memilih mengelilingi kota tanpa tujuan.
Mobil Dirga terus membelah jalanan, kecepatan mobil itu perlahan menurun saat mata pengemudinya melihat seorang gadis yang berpakaian serba hitam, persis seperti perempuan yang dia lihat di Bandara sebelumnya, tengah berpelukan dengan Mayfa di seberang jalan yang dia lintasi, kemudian dua wanita itu memasuki sebuah restoran.
"Tidak salah lagi, dia Syafi!" Dirga segera mencari tempat parkir.
Setelah berhasil memarkirkan mobilnya, Dirga langsung berlari memasuki restoran yang Mayfa dan wanita itu masuki.
__ADS_1
Terlihat di salah satu kursi, Mayfa dan wanita itu sangar asyik berbicara, sesekali Mayfa mengusap air mata yang terlanjur menetes di pipinya. Dirga semakin yakin, kalau itu Syafi.
Dirga semakin semangat untuk medekat, sesampainya di meja Mayfa dan temannya, Dirga begitu santai menarik salah satu kursi dan duduk di sana tanpa izin.
"Kak Dirga? Mau ngapain?" tanya Mayfa.
"Nggak usah pura-pura May, aku tau kalau wanita ini adalah sahabatmu dan kembaranmu." Dirga menatap tajam pada wanita yang berada tepat di depan matanya, mengenakan berpakaian serba hitam.
"Sahabat, kembaran? Maksud lu Syafi?" Mayfa berusaha menahan tawanya. "Dia Rena, teman bernyanyi Athan yang baru, mendengar dia bernyanyi, kerinduan gue pada Syafi terasa sedikit terobati."
"Aku tidak percaya, sebelum melihat wajahnya." Tatapan Dirga begitu tajam tertuju pada wanita itu.
"Ren, kan gue udah bilang, di sini mah kagak asa Fans elu, ngapain lu pakai penutup wajah begini!" Protes Mayfa.
Perlahan wanita itu melepaskan penutup wajahnya. "Tadi gue mau latihan May, siapa tahu nanti laki gue sultan gitu, yang sukanya sama cewek pakai cadar, nah gue ini mau latihan, andai suami gue maunya ane begini, ane sudah siap lahir batin.
Dirga terdiam, ternyata wanita yang dia pikir adalah Syafi bukan Syafi, tapi orang lain.
"Sudah percaya?"
Pertanyaan Mayfa mengejutkan Dirga dari lamunannya.
"Kangen susulin sono!" Ucap Mayfa.
"Dia sudah pergi lagi, kemaren Romi datang ke sana, seperti dugaan aku, kalau ada yang mencoba membujuknya, yang ada dia kabur dan kabur lagi." Dirga segera berdiri dan mengembalikan posisi kursi pada semula. "Aku pamit dulu May."
"Gue faham sama perasaan lu, karena gue juga merasakan rindu pada sosok yang sama, hanya saja kerinduan gue ada sedikit penawar, dengan dengarin ini nyanyi." Mayfa meng-isyarat pada Rena.
"Gue nyanyi di taman kota bareng Athan," ucap Rena.
"Tempat Syafi nyanyi 2 tahun lalu," gumam Dirga.
"Hooh, makanya saat berada di sana, gue ngerasa dia ada di samping gue."
Dirga segera pergi dari sana, keyakinan hatinya saat ini sangat menyiksanya, tapi dia tidak bisa membuktikan kalau Syafi kembali ke kota ini.
Dirga mengirim pesan pada Vita, menanyakan perkembangan kabar Syafi di desa.
Kata bibinya, Syafi masih berada di desa kakeknya, belum kembali.
__ADS_1
Dirga membuang kasar napasnya. 'Syafi memang tidak kembali,' Dirga mencoba melawan kata hatinya yang terus mengatakan Syafi kembali dengan kata itu
****
Sore yang suram, melakukan apa saja rasanya sangat malas. Dirga terbayang cerita Mayfa kalau Mayfa mengobati rindunya dengan mendengarkan Rena bernyanyi di taman kota setiap sorenya.
Dirga meraih kunci mobilnya, dia segera keluar dari Apartemen dengan langkah kaki yang begitu cepat. Saat dirinya keluar dari pintu, saat yang sama dia melihat penghuni Apartemen seberang kamarnya jug keluar.
Akhir-akhir ini mataku sering melihat para ukhty yang mengenakan cadar. Gerutu hati Dirga.
Wanita itu mengenakan gamis panjang berwarna biru muda, berkerudung warna merah muda dan penutup wajah dengan warna yang sama dengan warna baju yang ia kenakan.
"Perasaan kemaren Apartemen ini kosong, berarti mbaknya baru menempati ya?" tanya Dirga.
Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya, dan berjalan lebih dulu dari Dirga.
Dirga terdiam melihat wanita itu terus menjauh dari pandangan matanya.
"Bisa gila beneran ini aku, setiap wanita bercadar aku berpikir itu Syafi yang bersembunyi." Dirga menepuk jidadnya karena pemikiran sesat yang terus mencuat.
"Lebih baik aku ke taman kota, mengikuti jejak Mayfa mengobati rindu pada Syafi sambil mengenang tempat sejarah itu."
****
...Sepantasnya … dan akulah pemilik hatimu, kau kan rasa cinta yang terdalam, bersamaku kamu bisa bahagia, selamanya …....
Alunan lagu itu sudah menyambut telinga Dirga, saat dirinya sampai di area parkir.
Mendengar warna suara penyanyi itu, rasanya kesadaran Dirga hilang. Dia bergegas turun dari mobil dan berlari cepat menuju panggung hiburan.
Saat dirinya sampai di depan panggung, benar saja itu Rena. Dirga membuang kasar napasnya. "Aku harus menekan sedikit perasaan ini. Fiy … baru sebulan kamu pergi, kenapa aku jadi gila begini!" Gerutu Dirga.
"Sepertinya ada yang senasib sama gue waktu 2 minggu yang lalu."
Tiba-tiba Mayfa berdiri di samping Dirga, mulutnya kembali sibuk menikmati ice coffee kesukaan Syafi.
"2 minggu yang lalu, gue hampir maki-maki Athan, gue pikir dia sembunyiin Syafi, ternyata yang bernyanyi bukan Syafi. Kecewa! Harapan gue gak jadi nyata, tapi bahagia ada yg bisa melebur sedikit kerinduan gue." Mata Mayfa terus tertuju kearah panggung hiburan.
"Kalau kerinduanku bukan melebur May, tapi malah semakin menyiksa, mendengar suara ini, aku sangat ingin memeluk Syafi, tapi--" Dirga pergi begitu saja dari tempat itu.
__ADS_1