Sebatas Pendamping

Sebatas Pendamping
Bab 43 Tunggu Thayank


__ADS_3

Syafi meneruskan langkah kakinya memasuki area Sekolah. Suara teriakkan anak-anak menghiasi pagi ini. Senyuman terus tersungging di wajah cantik itu.


Seorang gadis yang berjalan di belakang Syafi tersenyum begitu lebar, pesan yang dia terima dari Athan, kalau Syafi yang lama sudah kembali membuatnya sangat bahagia. "Brukkk!" Dia sengaja menabrak Syafi. Melingkarkan tangannya di Pundak Syafi.  “Kalau dari aromanya, Syafi si somplak sudah kembali,” ocehnya.


“May … kamu nggak mandi ya? Bau acem kamu masih … emmm!” Syafi menutup hidungnya.


“Fitnah!” Mayfa semakin men-eratkan gandengannya.


“Upin dan Ipin, kalah mereka … sama si somplak yang tak seiras dan tak seirama ….” Senandung asal-asalan itu menyita perhatian Syafi dan Mayfa.


“Pagi calon imamku ….” goda Mayfa.


Athan berjalan tepat di samping Syafi. “Pagi juga, jodohku yang tersesat di buku nikah orang,” sahut Athan. Pandangannya melirik kearah Syafi, terlihat senyuman menghiasi wajah cantik itu.


“Bang … yang ngomong si May yang cantik, bukan Syafi yang somplak!” omel Mayfa.


Athan tidak menggubris omelan Mayfa, dia berjalan mendahului dua wanita yang berjalan di sampingnya. Syafi menoleh kearah Mayfa, dia tersenyum melihat kekesalan menyelimuti wajah Mayfa.


“Seneng banget lu, lihat gua kesel,” dumel Mayfa.


“Begini ya rasanya mual,” Syafi menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangannya.


“Lu hamil?”


“Ngaco!” Pukulan dari telapak tangan Syafi mendarat di bahu


Mayfa. “Aku mual dengar gombalan kamu sama kak Athan.”


Mayfa tersenyum, entah kenapa malah dia yang suka melancarkan jurus mukidi. Mayfa teringat kata mual. “Ngaco apaan maksud lo? ‘Kan kalau orang nikah jika hamil ya wajar.”


“Kamu kelamaan normal, May.”


“Lah … kata-kata aku juga normal. Wajar kalau kamu hamil secara kamu sudah punya suami.”


“Iya, normal … tapi antara aku dan kak Dirga tidak ada apa-apa, bahkan hubungan kami seperti adik kakak saja.”


Langkah kaki Mayfa terhenti mendengar perkataan Syafi barusan. Sedang Syafi terus melangkah di depan sana. Mayfa terbayang bagaimana perasaan Dirga. Gadis yang berjalan di depannya itu masih tidak menyadari akan perasaan Dirga yang tertuju padanya.


“May ….”

__ADS_1


Panggilan dari Syafi menyadarkan Mayfa. Banyak yang ingin Mayfa bahas, tapi tugas utamanya di tempat ini tengah menunggunya. Mayfa segera meneruskan langkah kakinya memasuki kantor, di mana para guru berkumpul. Mayfa baru menyadari apa yang ada di tangan Syafi, ingin bertanya tapi banyak guru-guru lain yang ada di ruangan itu. Mayfa segera menuju mejanya. Sesekali matanya melirik kearah Syafi. Wanita itu terlihat menunduk, entah apa yang dia lakukan.


Syafi sudah duduk di tempat yang di khususkan untuknya, melihat ada vas bunga di depannya, Syafi menaruh bunga mawar putih di vas itu. Kini matanya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, memperhitungkan waktu mengajarnya, merasa masih tidak mepet, perlahan Syafi mengeluarkan bingkisan yang dia terima tadi. Setelah bingkisan terbuka, terlihat boneka beruang kecil warna cokelat yang lucu, sangat pas dalam genggaman tangan. Terlihat sebuah kertas yang terselip di sana. Perlahan Syafi membuka lipatan kertas itu.


🎶🎶🎶🎶


Aku mengerti, perjalanan hidup yang kini kau lalui.


Ku berharap meski berat kau 'tak merasa sendiri.


Kau 'tlah berjuang, menaklukkan hari-harimu yang tak mudah ...


biar 'ku menemanimu, membasuh lelahmu.


Izinkan ku lukis senja,


Mengukir namamu di sana, Mendengar kamu bercerita, menangis tertawa.


Biar ku lukis malam, bawa kamu bintang-bintang ‘tuk temanimu yang terluka hingga kau Bahagia.


🎶🎶🎶🎶🎶


I love You Aurelia Syafitri.


Kedua alis Syafi tertaut setelah membaca isi surat itu. Dia segera menyimpan kertas kecil tersebut, masih memaksa otaknya bekerja, berusaha mengingat, untuk siapa saja dia pernah bernyanyi lagu Melukis Senja. Susah, karena dia sering bernyanyi untuk semua orang.


“Sudah ada, mawar putih, jangan cari yang merah ….” Athan bersenandung sambil berlalu di depan Syafi.


Tidak mungkin dia, ya salam Syafi … kenapa penyakit pikiran kotormu belum sembuh juga! Syafi memaki dirinya sendiri.


Melihat saatnya dia mengajar, Syafi segera meraih keperluannya dan segera menuju kelas tempatnya mengajar.


Tidak ada cerita khusus saat dia menjadi guru di kelas, mengawasi anak-anak mengerjakan tugas mereka, dan bercerita beberapa hal, kadang gelak tawa lolos begitu saja dari mulut mungil anak-anak itu, kecuali satu orang, anak perempuan itu terlihat menyindiri, berulang kali Syafi mencoba mendekati, tetap saja anak itu terlihat murung. Syafi harus memikirkan cara jitu untuk mendekati anak perempuan yang satu itu.


Saat jam istirahat, Syafi hanya menghabiskan waktu bersama Mayfa, hanya pembicaraan santai tentang aktivitas keduanya mengajar di sini. Waktu terus berjalan tidak terasa bel tanda jam sekolah ber-akhir sudah terdengar suara teriakkan jika bel itu berbunyi, tidak lama anak-anak penerus masa depan itu berlarian menuju orang tua atau pengasuh mereka.


Di kantor itu hanya terlihat Syafi, Athan dan Mayfa. Mereka sibuk merapikan barang-barang mereka. Athan berjalan mendekati Mayfa. “Hai calon istri keduaku, jangan lupa, sore ini ya ….” Ucap Athan.


“Aku ini yang pertama dan terakhir buat Abang, enak saja mau jadiin aku yang kedua,” omel Mayfa.

__ADS_1


“Sungkeman dulu sama istri pertama Abang, itu di sana.” Athan menunjuk kearah Syafi.


Syafi membuang kasar napasnya. Athan sungguh bernafsu mencicil hutang gombalannya. “Aku duluan ya May,” ucap Syafi.


“Tunggu Thayank … kita bareng!” Mayfa berlari menyusul Syafi. Athan segera melangkahkan kakinya, berjalan mengikuti dua wanita cantik yang berjalan di depannya.


“May, kamu pulang naik apa?” tanya Athan.


“Biasa bang, jetpri … 'kan aku calon istri sultan yang berjalan di belakang aku,” goda Mayfa.


Athan bergeser, dia berjalan tepat di belakang Syafi. “Di belakang kamu nggak ada calon suami kamu, May … adanya laki-laki yang paling beruntung, yang sedang memperjuangkan cintanya yang nyangkut di buku nikah orang,” oceh Athan.


“Dosa Bang ngerebut bini orang, masih ada yang halal untuk Abang perjuangkan, ngapain Abang berjuang merebut punya orang,” omel Mayfa.


“Andai dia bahagia sama suaminya, aku tidak akan memperjuangkan dia, May. Tapi dia hanya sebatas pendamping dalam singgasana emas itu.” Athan mempercepat langkah kakinya, hingga dia meninggalkan dua wanita itu.


Mendengar perkataan Athan barusan, Mayfa dan Syafi sama-sama kompak menghentikan langkah kaki mereka. Mayfa memutar arah tubuhnya menghadap kearah Syafi. “Sebatas pendamping? Apa maksudnya?” Mayfa bingung harus apa, marah, kecewa, tapi juga bingung harus bagaimana.


“Aku dan kak Dirga—” Syafi tidak bisa meneruskan perkataanya. “Kamu hari ini nonton pertunjukan kak Athan?”


“Iya, memnagnya kenapa?”


“Kalau ada waktu, aku akan jelaskan di sana, semoga kita bisa datang lebih cepat, agar aku bisa menjawab semua pertanyaan kamu.” Syafi menepuk bahu Mayfa. Dia melangkah lebih dulu.


Sesampai di depan gerbang sekolah, tukang ojek yang di order Mayfa sudah menunggu. “Kamu bagaimana?” Mayfa ragu meninggalkan Syafi sendirian.


“Aku sudah di tunggu di sana.” Syafi menunjuk kerah di mana dia turun pagi tadi, di sana terlihat mobil mewah terparkir.


“Dirga?”


“Bukan, tapi supirnya.”


Bibir Mayfa terlihat membulat. “Owh  ….” Kata itu lolos dari mulut Mayfa.


Setelah Mayfa pergi menaiki ojek online, Syafi segera meneruskan langkahnya menuju arah di mana mobil Pak Ajah menunggunya. Ada pemandangan yang menyita perhatian Syafi, melihat gadis kecil yang pendiam itu terlihat menangis sambil masuk kedalam mobil yang berhenti di dekatnya. Melihat gadis kecil itu masuk sendiri, Syafi segera menepis semua pikiran kotornya, yang mengira anak itu di culik. Lebih baik mempercepat langkah kakinya, terbayang masakan Bi Masri, rasanya Syafi ingin cepat-cepat sampai di rumah.


****


Bersambung Thayank ...

__ADS_1


Maaf ... hanya bisa 1 bab.


__ADS_2